Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.
Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.
Namun, kematian itu hanyalah awal.
Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.
Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?
Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Beban yang Sama
#
Beberapa hari setelah Rendra tau soal Herman Kusuma, dia nggak bisa berenti mikirin itu. Tiap malem, sebelum tidur, bayangan wajah pria itu, wajah yang dia liat dingin dan nggak bergerak di reruntuhan pabrik tujuh tahun lalu, terus muncul, dan dia mulai ngerasa, ada sesuatu yang lebih dari sekedar strategi balas dendam yang perlu dia lakuin di sini.
"Kirana," Rendra bilang, suatu malem, waktu mereka lagi rapat kecil di penthouse, "saya mau bantu Wulan."
Kirana ngangkat alis, "bantu gimana maksudnya?"
"Penyelidikan dia soal ledakan pabrik. Dia udah kerja sendirian bertahun tahun, dengan sumber daya yang terbatas, sementara saya punya akses ke info yang mungkin dia butuhin banget."
"Rendra," Kirana bilang, hati hati, "kamu tau resikonya kan? Kalo kamu terlalu deket bantuin dia, dan dia mulai nyambungin titik titiknya, itu bisa bahaya banget buat penyamaran kamu."
"Saya tau," Rendra jawab, "makanya saya nggak akan bantu langsung. Kita bisa pake pihak ketiga, sumber anonim, yang nggak bisa dilacak balik ke saya."
Kirana diem sebentar, mikirin itu, dan akhirnya ngangguk, "oke, tapi kita harus super hati hati. Bara harus bikin jalur yang bener bener aman, nggak bisa dilacak."
Malem malem berikutnya, Rendra mulai kerja bareng Bara, nyusun cara buat ngirim info ke Wulan tanpa ketauan siapa sumbernya. Mereka pake email terenkripsi yang dikirim lewat server server yang tersebar di berbagai negara, susah dilacak, dan Rendra mulai ngirim potongan potongan bukti yang udah dia kumpulin selama bertahun tahun, termasuk salinan laporan investigasi lama dari kantor pelabuhan soal kematian Ariel Wijaya, meski dia sengaja nggak ngirim bagian yang nyebut nama ayahnya sendiri, dia cuma fokus ngirim bukti bukti soal pola kejadian yang mirip antara kematian Ariel dan ledakan pabrik tujuh tahun lalu.
"Kepada Ibu Wulandari Kusuma," Rendra ngetik, di layar laptopnya, mikirin kata kata dengan hati hati banget, "saya seorang yang punya akses ke dokumen dokumen lama terkait kasus kasus di Hartono Group. Saya percaya Ibu adalah orang yang tepat buat ngungkap kebenaran ini. Terlampir beberapa bukti yang mungkin berguna buat penyelidikan Ibu."
Dia lampirin beberapa dokumen, foto foto hasil salinan, dan catetan catetan yang udah dia susun rapi biar keliatan kayak dokumen investigasi profesional, bukan catetan pribadi seseorang yang lagi cari balas dendam.
Beberapa hari kemudian, Wulan nerima email itu, dan begitu dia baca isinya, dia langsung berdiri dari kursinya, jantungnya berdebar kenceng.
"Ini... ini dia," dia bisikin ke diri sendiri, matanya nggak lepas dari layar, "ini bukti yang selama ini saya cari."
Dia langsung telfon temennya lagi, temen yang kerja di media besar itu, "kamu harus liat ini, ada yang ngirim dokumen ke saya, dokumen yang nunjukin ada pola kematian mencurigakan yang berulang di sekitar Hartono Group, bertahun tahun sebelum ledakan pabrik!"
"Serius? Dari siapa?"
"Nggak tau, sumbernya anonim. Tapi dokumennya keliatan asli, formatnya sesuai standar laporan resmi lama, ada tanda tangan pejabat yang bisa dicek keasliannya."
Wulan kerja sepanjang malem, nyocokin data yang dia terima sama data data yang udah dia kumpulin sendiri bertahun tahun, dan makin dia cocokin, makin dia yakin, dia lagi berdiri di depan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangin, sebuah pola kejahatan yang udah berjalan puluhan tahun, dilindungi oleh kekuasaan dan uang yang cukup besar buat nutupin semuanya.
Dia mutusin buat cari narasumber tambahan, orang orang yang mungkin punya info langsung soal masa lalu keluarga Hartono, dan salah satu nama yang muncul dari riset lamanya adalah seorang pengacara tua, Made Surya, yang katanya dulu pernah jadi kuasa hukum keluarga Wijaya, keluarga kandung Damar Aditya Wijaya, tersangka ledakan pabrik yang udah lama dinyatakan hilang.
Wulan janjian ketemu Om Made di sebuah kafe kecil, siang hari, dan pria tua itu, meski awalnya ragu ragu, akhirnya mau ngobrol, soalnya dia juga, selama bertahun tahun, nyimpen rasa nggak tenang soal kasus itu, soal Damar yang menurutnya, sampe sekarang, dia yakin banget nggak bersalah.
"Saya lagi nyelidikin ulang kasus ledakan pabrik Hartono," Wulan mulai, nyodorin recorder kecilnya ke meja, "dan saya dapet dokumen dokumen dari sumber anonim yang nunjukin ada pola kejahatan yang lebih lama dari kasus ini."
Om Made ngangguk, "saya juga selalu curiga soal itu. Damar, klien saya dulu, saya yakin dia cuma korban."
Wulan mulai baca beberapa potongan dari dokumen yang dia terima, ngutip beberapa kalimat kalimat yang khas dari cara si "sumber anonim" itu nyusun argumennya, cara pemilihan kata yang lumayan formal tapi juga ada nada personal yang kesamar di baliknya, dan Om Made, yang lagi dengerin sambil minum kopinya, tiba tiba berenti gerak, tangannya yang megang cangkir kopi itu diem di udara.
"Bisa diulang bagian itu?" Om Made nanya, suaranya berubah, lebih tegang.
Wulan ngulang bagian itu, membacakan kalimat yang katanya, "pola kejadian ini bukan sekedar kebetulan, ada tangan yang sama yang mengatur, sengaja atau tidak, kebenaran akan selalu meninggalkan jejak, sekecil apapun usaha untuk menghapusnya."
Om Made duduk diem lama banget, matanya menerawang, dan dia inget, dia inget banget, ada seseorang yang dulu, waktu dia masih sering nemenin Damar di kamar hotel murah setelah semua kejadian ledakan itu, sering ngomong kalimat kalimat kayak gitu, cara ngomong yang khas, cara mikir yang khas, cara nyusun kalimat yang formal tapi tetep ada kesedihan yang kesamar di baliknya.
"Bu Wulan," Om Made bilang, suaranya bergetar, matanya sekarang natap lurus ke perempuan di depannya, "boleh saya tau, gimana persisnya kalimat kalimat di dokumen itu ditulis? Formatnya, gaya bahasanya?"
Wulan, agak bingung sama pertanyaan itu, tetep nyodorin salinan cetak dokumen itu ke Om Made, dan pria tua itu baca, pelan pelan, matanya makin lama makin berkaca kaca, tangannya mulai gemeteran megangin kertas itu.
"Ya Tuhan," dia bisikin, suaranya nyaris nggak kedengeran, "ini... ini gaya bicara yang saya kenal."
"Bapak kenal siapa yang nulis ini?" Wulan nanya, penasaran banget sekarang, condong ke depan.
Om Made ngeliatin kertas itu lama banget, terus ngeliatin Wulan, matanya penuh sesuatu yang campur aduk antara syok, harap, dan takut buat percaya, dan dia bilang, pelan, dengan suara yang bener bener bergetar,
"Ini gaya bicara orang yang seharusnya udah meninggal tujuh tahun lalu."