NovelToon NovelToon
My Boss, My Mistake

My Boss, My Mistake

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Kurniasih Paturahman

Shana percaya bahwa diam saat melihat ketidakadilan adalah sebuah kesalahan.

Itulah yang membuat Shana berani menegur pria asing yang sedang memarahi seorang nenek.

Namun, ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia salah paham dengan pria itu.

Beberapa hari kemudian pria itu muncul kembali di kehidupan Shana, sebagai CEO baru di kantornya.

Perlahan kehidupan Shana yang penuh dengan ketenangan, berubah menjadi rumit, panik, rasa malu, dan penuh dengan kejutan yang tak terduga.

Ditengah hubungan bos dan karyawan yang rumit. Keduanya mulai menyadari bahwa terkadang cinta datang dari sebuah kesalahpahaman.

Selamat membaca❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyum Di Ujung Telepon

Shana masih merasakan jantungnya berdetak tidak normal saat pintu apartemennya tertutup. Ia menyandarkan punggung ke pintu. Lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Astaga.."

Bayangan wajah Evan yang berada sangat dekat dengan dirinya kembali muncul. Membuat wajahnya memanas lagi.

"Kenapa aku memikirkan itu sih?"

Ia menggeleng keras, lalu berjalan ke dalam. Baru beberapa langkah, ponselnya bergetar. Nomor tidak dikenal. Shana mengernyit.

"Halo?"

"Selamat malam, Bu Shana."

Suara pria di seberang terdengar sopan.

"Saya dari resepsionis apartemen. Ada pengantaran makanan atas nama Anda."

"Makanan?"

"Betul, Ibu."

"Tapi saya tidak memesan apa-apa."

"Kami juga kurang tahu, Bu. Tapi makanan sudah dibayar juga."

Shana langsung terdiam dan berpikir. Mungkinkah.. ?

Lima menit kemudian, Shana turun ke lobby. Petugas resepsionis menyertakan kantong makanan. Isinya bubur ayam hangat, sup dan jus buah.

Masih hangat.

Bahkan ada catatan kecil yang terselip.

"Makan sebelum tidur. Besok jangan sampai pingsan di kantor."

Tidak ada nama. Namun Shana tahu persis siapa pengirimnya. Sudut bibirnya perlahan terangkat.

"Pak Evan.."

Ia mengambil ponselnya. Jemarinya melayang di atas layar. Bimbang..

Haruskan ia menghubungi Evan? Atau tidak? Kalau tidak mengucapkan terima kasih rasanya tidak sopan. Kalau menghubungi..

Rasanya canggung, sangat canggung. Setelah hampir lima menit berdebat dengan dirinya sendiri, akhirnya Shana memberanikan diri mengetik pesan.

"Terima kasih untuk makanannya, Pak."

Ia menatap layar, lalu menghapusnya. Mengetik lagi lalu menghapus lagi. Sampai akhirnya mengirim pesan sederhana.

Sementara itu di sisi lain kota.

Evan baru saja sampai di rumah. Ia meletakan kunci mobil di meja. Kemudian duduk di sofa. Ponselnya bergetar, ada satu pesan masuk dan itu dari Shana.

"Terima kasih, Pak."

Evan menatap layar, lalu mengetik balasan.

"Sama-sama."

Tidak sampai satu menit, pesan lain masuk.

"Saya tidak pingsan kok."

Evan tersenyum kecil.

"Saya berjaga-jaga."

"Saya tidak selemah itu."

"Benarkah?"

"Tentu."

"Kita lihat besok."

Shana yang membaca pesan itu langsung mendengus kesal. Namun senyumnya tak hilang.

Beberapa menit berlalu. Shana selesai makan. Ia menatap layar ponselnya kembali. Entah kenapa rasanya ingin mengirim pesan lagi. Namun ia bingung harus menulis apa. Belum sempat memutuskan. Ponselnya tiba-tiba berdering.

Nama Evan muncul di layar. Jantungnya langsung melonjak.

"Kenapa menelepon?, biasanya cukup lewat pesan."

Setelah ragu beberapa detik, ia mengangkat panggilan itu.

"Halo, Pak."

"Sudah makan?"

Tidak ada basa basi, tidak ada salam, langsung pertanyaan. Shana tersenyum tampa sadar.

"Sudah, Bapak sudah makan?"

"Ya.."

Hening beberapa detik. Anehnya, tidak terasa canggung. Malah terasa nyaman.

"Bapak belum tidur?"

"Belum."

"Masih bekerja."

"Tidak."

"Lalu sedang apa?"

Evan terdiam beberapa detik.

"Menelepon seseorang."

Shana yang sedang minum langsung tersedak. Untung Evan tidak melihat wajahnya yang memerah saat itu.

"Makanan tadi enak?" tanya Evan kemudian.

"Enak. Bapak sering membeli di sana."

"Tidak sering, tapi saya suka makanan di sana."

Shana mengangguk, sependapat dengan apa yang diucapkan Evan barusan.

"Kenapa Bapak membelikan makanan untuk saya."

"Saya mau melakukan itu."

"Apa setiap karyawan diperlakuan seperti ini. "

"Tidak."

"Maksudnya tidak?"

"Kamu yang pertama."

Hening seketika. Keduanya terdiam. Jawaban Evan membuat wajah Shana memerah kembali.

Obrolan mereka berlanjut, dari pekerjaan, film, makanan, lalu hal-hal yang tidak penting. Namun tidak satu pun yang terasa membosankan.

"Bapak sebenarnya orang yang berbeda ya?"

"Maksudnya?"

"Di kantor terlihat menakutkan."

"Saya menakutkan?"

"Sedikit."

"Sedikit atau sangat?"

"Kadang sangat."

Evan tertawa pelan.

Dan untuk kesekian kalinya malam itu, Shana menyadari bahwa suara tawa pria itu sangat enak di dengar.

"Tapi di luar kantor... "

"Kenapa?"

Shana menggigit bibir bawahnya.

"Lebih baik."

Evan terdiam kembali, Shana berpikir ia salah menjawab saat itu. Padahal Evan tengah berusaha untuk tetap tenang, meski jantungnya berdetak kencang sekali mendengar kata-kata Shana.

Kali ini, mukanya yang memerah. Ia senang sekali dengan ucapan Shana itu.

"Saya senang mendengarnya."

Shana pun senang sekali mendengar jawaban Evan itu.

Waktu berlalu begitu cepat, tanpa mereka sadari empat puluh menit sudah berlalu. Shana melirik jam dinding saat itu, matanya membesar.

"Ya ampun."

"Ada apa?"

"Kita mengobrol hampir satu jam, Pak."

Evan ikut melihat jam tangannya, dan baru menyadarinya juga.

Biasanya ia tidak pernah menghabiskan waktu selama ini untuk menelepon siapapun.

Namun malam ini terasa berbeda. Tidak melelahkan, tidak membosankan, justru terasa singkat.

"Kamu harus tidur."

"Iya."

"Tapi kali ini di kasur. Bukan di meja kantor, atau di mobil orang."

Shana langsung tertawa.

"Ya, Pak."

Hening sesaat, tidak ada yang langsung menutup telepon. Seolah keduanya sama-sama enggan mengakhiri.

"Selamat malam, Shana."

Suara Evan terdengar lebih lembut. Shana tersenyum tanpa sadar. Rasanya ia ingin mendengar sekali lagi ucapan pria itu.

"Selamat malam, Pak."

Masih tak ada yang memulai untuk langsung menutup telepon. Sama-sama menunggu. Seolah berharap yang lain berbicara lagi. Dan akhirnya panggilan itu berakhir. Namun senyum di kedua wajah mereka bertahan lebih lama.

Dan malam itu...

Tanpa mereka sadari. Keduanya menjadi orang terakhir yang saling mereka pikirkan sebelum tidur.

-My Boss, My Mistake-

1
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
tinggal jwb aja saya juga suka sama km
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sudah mampir ketempat tinggal Shana, semoga kedepannya bisa cepat go publik 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Akhirnya jadian juga 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Shana : saya juga suka sama kamu boss🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
jawab iya Shana 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Nena ngapain sih datang segala, merusak suasana saja 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nah kan ketahuan nenek 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kenapa kalian lucu 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kenapa gak duduk di balkon apa ruang tamu aja malah telfonan 🤣
dasar CEO kasmaran namun gengsi 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sudah lah Evan, cepat sat set halalin aja 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
bener ya nenek cuma bilang apa yang terlihat 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
tidak merepotkan, malah senang ya Evan 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nenek menceritakan masa kecil Evan
@M⃠ⁿꫝieʸᵃɴᵉᵉʰʜɪᴀᴛ𓆊🎯™☂⃝⃞⃟ᶜᶠ
Diterima ga ya🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒: terima aja kak 🤭
total 1 replies
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
ngapain sih Nena ada disnaa JD kan ke ganggu
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nenek benar, Evan gak bisa berpaling darimu Shana 🤭
⃟ ⃟🐬🅿!💤©€$™_- 🐟
ehekkk... hayooo Shanaaa😂🤭
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
terus terang aja kalian tuh PD saling memikirkan
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
kalian sudah cocok kayaknya knp gak jadian aja
Maura Ayna
semangat terussss, halalkan hubungan mereka🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!