"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
[DARK ROMANCE]
[OBSESI]
[CEO]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CBD 1 : Prolog
Sejak suaminya meninggal, Layla seperti memikul seluruh beban hidup seorang diri. Demi kedua anaknya dan keluarga di kampung, ia terpaksa mengadu nasib di negeri orang. Ia terpaksa mengadu nasib di negara orang.
Ia tak pernah tau suatu hari ia akan bertemu seseorang yang akan mengubah hidup dan perasaanya. Tantangan telah menanti Layla.
Dapatkah ia bertahan dan menang menghadapi semua ujian yang menerpa?
Permasalahan ekonomi membuatnya terpaksa menjalani ikatan pernikahan kontrak dengan seseorang yang sulit di tebak. Malam itu Layla baru selesai bekerja di toko bunga milik sahabat sekaligus bosnya. Wajah lelahnya terlihat jelas.
Telepon Layla berdering..
Panggilan masuk dari seseorang yang sangat ia ingin hindari. Layla menggenggam ujung bajunya erat-erat. Kemudian menghela nafas panjang sebelum ia mengangkat telepon itu.
"Hallo, Tuan."
Terdengar suara laki-laki di seberang telepon.
Dengan tenang ia berkata,
"Supir pribadi saya, pak Yang akan menjemput mu. Kita akan bertemu sebentar lagi,"
Layla terdiam sejenak....
"Baik," jawab Layla singkat
Layla tertunduk, ia mengigit bibir bawahnya serta mengepal tangan erat-erat.Ia merasa kesal pada diri sendiri karena ketidakberdayaannya.
Beberapa menit kemudian mobil mewah berhenti tepat di depannya.
Seorang pria paruh baya turun dari mobil dengan wajah yang dingin.
Kemudian ia membukakan pintu mobil untuk Layla...
Sebelum itu ia memperkenalkan diri sebagai supir Yang.
"Silahkan masuk Nyonya," ucap supir Yang.
Kesetiaan dan dedikasinya terhadap pekerjaan terlihat dari cara ia bersikap dan memperlakukan Layla.
Layla merasa sedikit cemas.
Ia tak tau mau di bawa kemana.
Pak Yang melihat raut wajah itu menyuruh Layla minum.
"Silahkan minum air yang ada di sebelah anda, Nyonya,"
Layla melirik ke arah yang di tunjuk...
"Terimakasih Pak," ucap Layla.
Layla mengambil dan menghabiskannya sekaligus.
Supir Yang tersenyum tipis.
Dengan sopan ia menawarkan kembali.
"Anda mau minum lagi, Nyonya?"
Layla diam beberapa detik...
"Tidak. Ini sudah cukup," ucap Layla singkat
Pak Yang menjawab,
"Baik."
Layla tidak terbiasa di panggil Nyonya, ia meminta supir itu memanggil namanya saja.
"Bisakah jangan panggil Nyonya? Cukup Layla saja. Lagi pula anda jauh lebih tua dari pada saya,"
Mendengar itu supir Yang mencoba menolak dengan sopan.
''Maaf tidak bisa. Tuan akan marah," ucap Pak Yang.
Dengan dingin Layla berkata,
"Tidak akan. Baginya aku hanya mainan yang bisa ia ganti kapan saja," ucap Layla.
Supir Yang hanya diam dan melirik kaca belakang.
Nampak wajah kesal Layla terpantul di sana.
Layla melihat ke arah luar jendela mobil.
Ia melihat pemandangan jalanan di malam hari yang tampak suram baginya.
Layla menghela nafas, seolah beban di pundaknya kian bertambah.
Beberapa menit berlalu...
Tenggorokannya kembali kering, disusul rasa panas yang perlahan menjalar dari dada hingga ke seluruh tubuh.
Ia mengeryit....
Tangannya mencengkram dada yang terasa sakit.
Ekspresi Layla yang semula tenang berubah menjadi gelisah tak menentu seperti ikan yang baru keluar dari aquarium.
Jantungya berdegub semakin kencang.
Perasaan yang tidak normal membuncah muncul secara tiba-tiba, tubuhnya mulai lemas pandangannya mulai kabur.
Namun respon dari Pak Yang yang santai membuat Layla semakin gelisah.
Dengan ekspresi dingin supir Yang berkata...
"Maaf Nyonya saya hanya menjalankan perintah,"
Supir Yang kembali fokus dan memacu mobilnya lebih cepat.
Semakin lama Layla semakin merasa gelisah.
Ia mencoba merogoh tasnya dalam-dalam untuk mencari tumbler miliknya.
Tapi tak menemukannya.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di tempat tujuan.
Sebuah hotel bintang lima milik perusahaan Z Group.
Supir Yang turun dari mobil..
Ia membukakan pintu mobil untuk Layla dan membantunya keluar.
"Silahkan nyonya. Kami sudah menyiapkan kejutan untuk anda," ucap supir Yang.
Layla hanya diam dan menuruti perintah yang di berikan.
Mereka memasuki hotel dan langsung menuju kamar yang sudah di siapkan.
Layla memasuki kamar yang membuatnya merasa panas.
Aroma khas hotel mewah menyelimuti atmosfer kamar itu.
Layla di dudukan di tepi kasur yang empuk lalu supir Yang meninggalkannya sendirian di sana.
Supir Yang mengambil ponsel miliknya di saku.
Lalu menelpon Tuannya.
"Perintah anda telah selesai saya laksanakan, Tuan."
Terdengar suara laki-laki di seberang telepon. Ia berkata dengan begitu tenang,
"Good."
Telepon terputus...
Supir Yang cepat-cepat meninggalkan lokasi sebelum Tuannya tiba.
Sementara itu, Layla sedang berjuang mempertahankan kesadarannya.
Ia mencoba mengatur nafas namun belum berhasil.
Dalam hatinya berkata...
"Apa yang terjadi denganku...?" batin Layla. Tubuhnya terasa semakin panas, sementara kesadarannya perlahan mulai memudar.
Layla mencengkram kuat selimut yang terbentang di atas kasur.
Dengan pandangan agak kabur, ia melihat jepit rambut miliknya pemberian dari Zhao Lee tergeletak di atas kasur.
Layla meminta tolong namun tidak ada seorangpun di kamar itu, hanya dia seorang.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar di buka dari arah luar.
Samar-samar Layla melihat seorang pria masuk dengan tenang memakai baju cheongsam modern.
Pria itu membuka sebuah dokumen. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih tangan Layla dan menempelkan ujung jarinya yang telah diberi tinta merah pada lembaran itu.
Pria itu kemudian meletakkan dokumen.
Lalu kembali mendekati Layla dengan aura mengintimidasi.
Ia membisikkan sesuatu ke salah satu telinga Layla...
"Layla..hei Layla, ini aku suamimu,"
Layla yang masih bingung dengan situasi saat ini kembali bertanya kepada siapa sosok yang ada di hadapannya itu,
"Hah, siapa itu?,"
Tubuh Layla akhirnya tumbang dengan sendirinya ke atas kasur.
Pria itu kembali membisikan suaranya ke telinga Layla..
"Suamimu, Zhao Lee."
Layla memggertakan giginya...
Lalu ia berkata..
"Menjauhlah dariku!,"
Zhao Lee tersenyum tipis..
"Dalam kondisi begini kau bisa apa, Layla," ucapnya tenang.
Layla menatap Zhao Lee dengan mata yang dipenuhi ketakutan dan kemarahan.
Layla terdiam sejenak sembari mengatur nafas.
"Apa ini caramu memperlakukan wanita?!"
Zhao Lee menatap Layla dengan. tatapan yang dingin.
"Bukankah ini yang kau mau, Layla?" ucap Zhao Lee.
Layla ingin membalas perkataan itu.
Namun bibirnya terasa begitu berat untuk digerakkan. Tubuhnya tak lagi mampu mengikuti keinginannya sendiri.
Air mata perlahan mengalir di kedua pipinya.
Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, tak seorang pun mendengar tangis dan permohonannya.
Sementara itu, Zhao Lee berdiri memandang wanita di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Obsesi yang selama ini ia pendam akhirnya membawanya melangkah terlalu jauh, tanpa memedulikan luka yang baru saja ia tinggalkan.
Malam itu menjadi awal dari mimpi buruk Layla.
Harga diri yang selama ini ia pertahankan seolah runtuh dalam sekejap. Ia kembali terjebak dalam belenggu kehidupan, tetapi kali ini belenggu itu terasa jauh lebih kejam.
Kesadarannya semakin memudar.
Bayangan masa lalu datang silih berganti—wajah orang-orang yang pernah ia cintai, janji-janji yang pernah ia pegang, hingga impian sederhana untuk hidup tenang bersama keluarganya.
Semuanya perlahan menjauh.
Layla memejamkan mata.
Ia tidak menyadari bahwa malam itu bukan hanya mengubah hidupnya, tetapi juga menjadi awal dari takdir yang akan menyeretnya ke dalam hubungan yang dipenuhi cinta, obsesi, dan luka.
...****************...
Ini novel pertama ku semoga kalian enjoy bacanya ya temen-temen.
Terimakasih yang udah dukung aku
semoga hidup kalian lancar jaya..❤️
Jangan lupa like, komen, share, gift juga boleh, kasih bintang juga boleh...☺️