NovelToon NovelToon
BOBON PENDEKAR TERKUAT

BOBON PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:944
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.

Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 - Nenek Mira dan Rahasia Tahu

Perjalanan menuju Kerajaan Kencana memakan waktu tiga hari. Bobon dan Nenek Mira melewati hutan, bukit, dan sungai. Mereka beristirahat di desa-desa kecil dan bertemu dengan berbagai orang. Ada yang ramah, ada yang curiga, ada yang hanya diam memperhatikan.

Tapi sepanjang perjalanan, Bobon terus memegang kain biru yang ditemukannya. Kain itu memberinya rasa tenang yang aneh. Seperti ada kenangan yang tersembunyi di balik benang-benangnya.

Pada hari ketiga, mereka tiba di kaki sebuah gunung besar. Gunung itu tertutup bunga-bunga merah dan putih yang bermekaran sepanjang tahun. Bobon terpana melihat keindahannya.

"Nek, gunung apa itu?"

"Itu Gunung Berbunga, Bobon. Wilayah Sekte Gunung Berbunga."

"Sekte Gunung Berbunga? Nenek sering menyebut nama-nama sekte. Apa itu sebenarnya?"

Nenek Mira berhenti berjalan. Dia menatap Bobon dengan mata serius. "Sudah waktunya kau tahu, Bobon. Dunia ini tidak sesederhana yang kau lihat. Ada dunia persilatan di luar kehidupan sehari-hari. Dunia para pendekar, sekte, dan kekuatan luar biasa."

"Aku pernah dengar tentang pendekar. Guru Mulya bercerita."

"Guru Mulya hanya tahu sedikit. Dunia persilatan jauh lebih besar dan lebih berbahaya. Ada 10 Sekte Besar yang menguasai berbagai wilayah. Ada kerajaan yang memerintah dengan adil. Dan ada..."

Nenek Mira berhenti. Matanya tampak gelap.

"Ada apa, Nek?"

"Ada Sekte Iblis. Mereka adalah kekuatan jahat yang ingin menghancurkan segalanya. Dan mereka... mereka mencari seseorang."

"Siapa?"

Nenek Mira menatap Bobon dalam-dalam. "Kau, Bobon. Mereka mencari kau."

Bobon menggaruk kepalanya. "Kenapa mereka mencariku? Aku hanya Bobon."

"Kau bukan hanya Bobon, Nak. Kau adalah seseorang yang sangat penting. Tubuhmu menyimpan kekuatan besar yang tersegel. Jika segel itu terbuka sepenuhnya, kau bisa mengubah dunia."

Bobon diam. Pikirannya berputar mencoba memahami. Tapi seperti biasa, pikirannya kosong. Dia tidak bisa mengingat apa pun tentang masa lalu.

"Aku tidak mengerti, Nek."

Nenek Mira menghela napas. "Kau tidak perlu mengerti sekarang. Tapi kau harus percaya padaku. Kita harus sampai ke Kerajaan Kencana. Di sana, ada orang yang bisa menjelaskan semuanya."

Mereka melanjutkan perjalanan. Bobon berjalan di samping Nenek Mira dengan pikiran penuh pertanyaan. Tapi ada satu pertanyaan yang selalu muncul.

"Nek, kalau aku menyimpan kekuatan besar, kenapa aku bodoh?"

Nenek Mira tersenyum. "Kau tidak bodoh, Bobon. Pikiranmu tersegel bersama kekuatanmu. Ketika segel terbuka, kau akan mengingat semuanya. Termasuk ilmu dan kebijaksanaan yang kau miliki dulu."

"Dulu? Jadi aku sudah pernah hidup sebelumnya?"

"Bukan hidup sebelumnya. Kau masih hidup yang sama, tapi sepuluh tahun lalu, sesuatu terjadi. Kau mencoba meningkatkan kekuatanmu ke level tertinggi. Tapi sesuatu gagal. Tubuhmu berubah menjadi bocah dan kekuatanmu tersegel. Kau kehilangan ingatan tentang siapa dirimu."

Bobon mengerutkan kening. "Jadi umurku sebenarnya berapa?"

Nenek Mira tersenyum lembut. "Lebih dari seratus tahun, Bobon."

Bobon terkejut. "Seratus tahun? Tapi aku baru sepuluh tahun!"

"Tubuhmu berubah, tapi jiwamu tetap tua. Itulah sebabnya kadang kau merasakan kesedihan yang tidak kau mengerti. Itu adalah kenangan lama yang mencoba muncul."

Bobon diam. Dia merasakan dadanya sesak. Ada banyak hal yang tidak dia mengerti. Tapi ada sesuatu yang terasa benar dalam kata-kata Nenek Mira. Seperti teka-teki yang perlahan terpecahkan.

Malam harinya, mereka beristirahat di sebuah desa kecil di kaki Gunung Berbunga. Seorang petani tua mengizinkan mereka menginap di gudang jerami. Bobon berbaring di atas jerami yang harum dan menatap langit malam.

"Bobon, kau tidak bisa tidur?" tanya Nenek Mira.

"Aku memikirkan apa yang Nenek katakan. Kalau aku dulu hebat, kenapa aku gagal? Kenapa aku berubah jadi bocah?"

Nenek Mira terdiam beberapa saat. "Aku tidak tahu persisnya, Bobon. Tapi aku pernah mendengar cerita dari orang yang menemukanmu. Katanya, kau melakukan peningkatan kekuatan untuk melindungi seseorang. Seseorang yang sangat kau cintai."

"Siapa?"

"Aku tidak tahu. Tapi aku yakin kau akan mengingatnya suatu hari."

Bobon menggenggam kain biru di tangannya. Kain itu terasa hangat. "Nek, kenapa kain ini membuatku tenang?"

"Karena itu milik Sekte Selendang Biru. Dan aku tahu... dulu kau sangat dekat dengan sekte itu. Mungkin ada seseorang di sana yang sangat berarti bagimu."

"Apakah kau mengenalnya?"

Nenek Mira menggeleng. "Aku hanya mendengar cerita. Tapi satu hal yang aku tahu, Bobon. Setiap kali kau menyentuh kain biru, kau tersenyum. Kau tidak pernah tersenyum seperti itu saat memegang benda lain."

Bobon memperhatikan kain biru itu. Dia mengusap permukaannya yang halus. Di dalam hatinya, ada perasaan aneh. Rindu.

"Besok kita akan tiba di Kerajaan Kencana," kata Nenek Mira. "Kau akan bertemu dengan raja dan para bangsawan. Mereka akan membantumu."

"Apakah mereka baik?"

"Raja Arya Kencana adalah pemimpin yang adil. Putra mahkota, Pangeran Bima, adalah pemuda yang bijaksana. Dan..."

Nenek Mira berhenti. Matanya tampak ragu.

"Ada apa, Nek?"

"Ada Putri Laras. Dia putri bungsu raja. Gadis yang baik hati. Aku dengar dia sangat menyukai cerita tentang pendekar. Mungkin kalian akan berteman."

Bobon tersenyum. "Aku suka berteman. Aku punya Tono. Sayang dia tidak ikut."

"Kau akan bertemu Tono lagi. Suatu hari nanti."

Malam semakin larut. Bobon mulai mengantuk. Matanya terpejam perlahan.

"Bobon, ada satu hal lagi," kata Nenek Mira pelan.

"Apa, Nek?"

"Jangan percaya pada semua orang. Di istana, ada banyak intrik. Ada yang ingin memanfaatkanmu. Ada yang ingin membunuhmu. Kau harus waspada."

"Aku hanya Bobon, Nek. Siapa yang mau memanfaatkanku?"

Nenek Mira tersenyum sedih. "Kau bukan hanya Bobon. Kau adalah Pendekar Dewata yang Terlupakan. Dan kekuatanmu adalah hal yang paling dicari di dunia ini."

Bobon tidak menjawab. Dia sudah tertidur dengan kain biru di tangannya.

Nenek Mira duduk di sampingnya dan memperhatikan cucu angkatnya itu. Dia mengusap rambut Bobon dengan lembut. Air mata mengalir di pipinya.

"Maafkan Nenek, Bobon. Nenek tidak bisa melindungimu lebih lama. Tapi kau harus kuat. Kau harus mengingat siapa dirimu. Karena hanya kau yang bisa menghentikan kehancuran yang akan datang."

Di kejauhan, suara seruling terdengar samar. Nenek Mira mengerutkan dahi. Seruling itu bukan seruling biasa. Itu adalah nada dari Sekte Iblis.

Mereka sudah dekat.

Nenek Mira bangkit dan melihat ke luar gudang. Di balik pepohonan, ada bayangan-bayangan gelap yang bergerak. Mereka datang lebih cepat dari yang dia perkirakan.

"Bobon! Bangun!" teriak Nenek Mira.

Bobon terbangun dengan kaget. "Apa, Nek?"

"Kita harus pergi sekarang. Mereka datang."

Mereka berdua melarikan diri dari gudang. Di belakang mereka, bayangan-bayangan itu semakin dekat. Ada yang berjubah hitam, ada yang bertopeng, ada yang membawa senjata berkilau.

"Lari ke arah gunung, Bobon! Ke Sekte Gunung Berbunga! Mereka akan melindungimu!"

"Tapi Nenek..."

"Pergi! Nenek akan menahan mereka!"

Bobon tidak mau pergi. Tapi Nenek Mira mendorongnya dengan keras. "Pergi! Jangan lihat ke belakang!"

Bobon berlari. Tubuhnya yang gemuk bergerak dengan kecepatan luar biasa. Pohon-pohon melintas di sampingnya seperti bayangan. Angin berdesing di telinganya.

Dia berlari dan berlari sampai tidak mendengar apa-apa lagi. Sampai dia tiba di kaki Gunung Berbunga. Di sana, seorang wanita cantik dengan selendang biru menyambutnya.

"Kau selamat," kata wanita itu. "Nenek Mira... dia sudah pergi."

Bobon menangis. Untuk pertama kalinya, dia menangis sejadi-jadinya. Wanita itu memeluknya dan mengusap punggungnya.

"Jangan menangis, Bobon. Kau harus kuat. Nenek Mira mengorbankan dirinya untukmu. Jangan sia-siakan."

"Aku... aku hanya Bobon..." isak Bobon.

Wanita itu tersenyum. "Kau bukan hanya Bobon. Kau adalah Pendekar Dewata. Dan kau akan menyelamatkan dunia."

Bobon terisak di pelukan wanita itu. Di dadanya, segel keempat mulai retak. Dan untuk pertama kalinya, dia merasakan kekuatan yang luar biasa mengalir di dalam tubuhnya.

Kekuatan yang telah lama tertidur.

Kekuatan yang akan mengubah segalanya.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Tak kira judulnya Babon, jebule Bobon🗿👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!