Tidak semua pertemuan adalah kebetulan. Sebagian adalah janji yang menolak dilupakan waktu. Aruna menjalani hidup biasa hingga sebuah kecelakaan membuatnya mulai mengalami mimpi aneh yang terasa terlalu nyata. Dalam mimpinya, ia selalu menjadi perempuan yang berbeda… di kehidupan yang berbeda… tetapi dengan satu kesamaan: selalu ada seorang pria yang mencarinya. Pria itu adalah Adrian Mahesa, CEO muda, dingin, perfeksionis, dan dikenal publik sebagai sosok yang tak punya ruang untuk cinta. Saat Aruna tanpa sengaja bertemu Adrian di dunia nyata, sesuatu yang tak masuk akal terjadi. Tatapan pertama mereka bukan terasa seperti perkenalan… melainkan pertemuan kembali. Sejak hari itu, Adrian mulai muncul di setiap sudut hidup Aruna. Membantunya, mengawasinya, bahkan seolah mengetahui ketakutan dan kebiasaannya sebelum Aruna sendiri menyadarinya. Namun yang paling mengganggu adalah kalimat yang terus diucapkan Adrian “Kali ini aku tidak akan kehilanganmu lagi.” Aruna mengira itu hanya obsesi seorang CEO yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkan. Sampai perlahan ia menemukan rahasia yang mengubah segalanya: Dalam setiap kehidupan sebelumnya… mereka selalu saling mencintai. Dan di setiap akhir cerita… Aruna selalu mati. Kini garis reinkarnasi kembali berputar. Pertanyaannya bukan lagi apakah Adrian mencintainya. Tetapi.. apakah cinta yang bertahan melintasi banyak kehidupan akan menjadi penyelamat… atau justru obsesi yang menghancurkan mereka sekali lagi? ✨ Satu cinta. Banyak kehidupan. Dan dia… selalu menjadi obsesiku. Karya: Sarin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sharinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aturan Baru Dari Sang CEO
Senin pagi.
Biasanya kantor selalu gaduh.
Suara mesin kopi, obrolan sebelum mulai kerja, langkah orang yang terburu-buru mengejar absensi.
Tapi pagi ini berbeda.
Begitu Aruna masuk ke area kerja—
suasananya terlalu tenang.
Beberapa orang berkumpul di depan layar monitor besar.
Ada yang berbisik.
Ada yang terlihat bingung.
Aruna meletakkan tas.
“Ada apa?”
Rekan sebelah menoleh.
Ekspresinya aneh.
“Belum lihat email?”
Aruna membuka laptop.
Kotak masuk penuh.
Paling atas—
Pengumuman Internal — Kebijakan Baru dari CEO
Aruna membuka.
Matanya membaca cepat.
Lalu berhenti.
⸻
Mulai hari ini berlaku penyesuaian operasional:
Semua lembur harus mendapat persetujuan langsung.
Tidak diperbolehkan bekerja sendiri setelah pukul 20.00.
Perpindahan divisi sementara akan dilakukan sesuai kebutuhan.
Beberapa staf akan menerima jadwal dan pendampingan khusus.
⸻
Aruna mengerutkan dahi.
Aneh.
Kebijakan nomor satu dan dua cukup masuk akal.
Tapi nomor tiga dan empat?
Ia scroll lagi.
Lalu diam.
Ada lampiran daftar.
Namanya ada di sana.
Aruna — Pendampingan khusus / laporan harian.
Aruna berkedip.
Apa?
Ia membuka detail.
Tertulis:
Koordinator: Kantor CEO
Ruangan tiba-tiba terasa lebih dingin.
—
Belum sempat mencerna—
telepon meja berbunyi.
Semua orang refleks menoleh.
Aruna mengangkat.
“Ya?”
Suara sekretaris.
“Pak Adrian meminta Anda ke lantai dua puluh.”
Beberapa kepala langsung berputar.
Aruna menutup telepon pelan.
Salah satu rekan mendekat.
“Na…”
Aruna memaksa senyum.
“…aku juga nggak tahu.”
Padahal di dalam hati—
ia mulai kesal.
Kemarin belum selesai.
Hari ini mulai lagi?
—
Lantai dua puluh terasa sama seperti biasanya.
Tapi hari ini Aruna tidak gugup.
Ia hanya ingin jawaban.
Sekretaris membukakan pintu.
Adrian sedang membaca dokumen.
Tanpa melihat—
ia berkata—
“Duduk.”
Aruna tetap berdiri.
“Apa maksud aturan baru?”
Adrian menutup map.
Mengangkat kepala.
“Yang mana?”
Aruna mengangkat email.
“Yang ini.”
Adrian melihat sebentar.
Lalu kembali tenang.
“Oh.”
Oh?
Aruna menarik napas.
“Kenapa nama saya ada di situ?”
Adrian diam.
Lalu menjawab—
“Karena aku yang memasukkan.”
Aruna tertawa kecil.
Tidak percaya.
“Boleh tahu alasannya?”
Adrian menatapnya beberapa detik.
Lalu menjawab—
“Keselamatan.”
Aruna menahan diri.
“Keselamatan dari apa?”
Adrian diam.
Lalu berkata—
“Belum perlu dijelaskan.”
Aruna mulai kehilangan sabar.
“Semua jawaban Anda selalu begitu.”
Adrian menatapnya.
Tidak tersinggung.
Tidak marah.
Hanya diam.
Lalu bertanya—
“Kau tidur semalam?”
Aruna langsung diam.
Pria itu melanjutkan—
“Berapa kali bangun?”
Jantung Aruna berdetak pelan.
Ia tidak menjawab.
Adrian melihat wajahnya.
Lalu berkata—
“Dua kali.”
Aruna membeku.
Semalam ia memang terbangun dua kali.
Sekali setelah mimpi.
Sekali karena lampu mati.
Adrian menunduk sebentar.
Lalu berkata pelan—
“Berarti lebih cepat dari sebelumnya.”
Aruna langsung berdiri.
“Sebelumnya apa?”
Sunyi.
Adrian tidak menjawab.
Sebaliknya—
ia membuka laci.
Mengeluarkan map.
Mendorong ke depan.
“Lihat.”
Aruna ragu.
Namun akhirnya membuka.
Isinya—
dokumen.
Data.
Catatan.
Tanggal.
Dan semuanya tentang—
dirinya.
Jadwal masuk kerja.
Riwayat sekolah.
Alamat lama.
Data perpindahan.
Hal-hal kecil.
Terlalu lengkap.
Aruna mengangkat kepala.
Wajahnya berubah.
“Kenapa Anda punya semua ini?”
Adrian diam.
Lalu menjawab—
“Karena aku mencarimu.”
Ruangan hening.
Aruna menutup map.
Pelan.
“Sejak kapan?”
Adrian menatapnya.
Lama.
Lalu berkata—
“Lebih lama dari yang bisa kau percaya.”
Aruna tidak bergerak.
Ada sesuatu di wajah Adrian.
Bukan bangga.
Bukan posesif.
Tapi—
lelah.
Sangat lelah.
Seperti seseorang yang sudah berjalan jauh.
Dan masih belum selesai.
Aruna meletakkan map.
Lalu bertanya—
“Kalau saya menolak aturan ini?”
Adrian menjawab cepat.
“Boleh.”
Aruna sedikit terkejut.
Adrian melanjutkan—
“Tapi jangan pulang sendiri.”
Sunyi.
Aruna menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya—
ia tidak mendengar nada memerintah.
Terdengar seperti…
permintaan.
Ia menggenggam tangan.
Lalu bertanya pelan—
“Kenapa?”
Adrian diam cukup lama.
Lalu mengangkat mata.
Tatapan mereka bertemu.
Dan ia berkata—
“Karena waktu terakhir aku membiarkanmu pergi sendirian…”
Jeda.
Suaranya lebih rendah.
“…aku kehilanganmu.”
Aruna tidak bisa menjawab.
Ruangan terasa sesak.
Ia berdiri.
Berbalik.
Namun sebelum keluar—
ia berhenti.
Tanpa menoleh.
“…apa saya pernah bahagia?”
Sunyi.
Adrian tidak langsung menjawab.
Lalu—
dengan suara sangat pelan—
ia berkata—
“Ya.”
Aruna menunggu.
Adrian tersenyum kecil.
Sangat kecil.
“Dan itu alasan aku mencoba lagi.”
Aruna keluar.
Pintu tertutup.
Tapi langkahnya melambat.
Karena untuk pertama kalinya—
ia mulai bertanya.
Bagaimana kalau…
bagaimana kalau sebagian dari semua ini—
bukan kebohongan?
—
Sore.
Hari mulai hujan.
Aruna membereskan meja.
Ia menolak memikirkan semua itu.
Sampai—
ponselnya menyala.
Nomor tidak dikenal.
Pesan masuk.
Jangan percaya dia.
Aruna diam.
Pesan kedua.
Dia belum cerita siapa yang menyebabkan semuanya dimulai.
Pesan ketiga.
Dan dia belum bilang…
siapa yang memilih mati.
Tangan Aruna dingin.
Lalu—
pesan terakhir masuk.
Malam ini jangan pulang sendirian.
Aruna langsung menatap layar.
Karena—
untuk pertama kalinya—
pesan itu sama…
dengan yang dikatakan Adrian.
Bersambung...