NovelToon NovelToon
Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:75.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.

Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.

Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.

"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Malam itu, hujan rintik-rintik membasahi halaman rumah.

Pintu utama terbuka perlahan.

Evan melangkah masuk dengan wajah yang tampak jauh lebih lelah dari biasanya. Jas yang dikenakannya masih rapi, tetapi sorot matanya menyiratkan beban pikiran yang begitu berat.

Sejak pagi hingga malam, berbagai masalah perusahaan datang silih berganti. Ia bahkan belum sempat menikmati makan malam.

"Lelah sekali..." Gumamnya pelan sambil memijat pelipis.

Saat itulah terdengar suara langkah kaki dari arah ruang keluarga. Laras muncul sambil mendorong box bayi. Aurora yang baru saja bangun tampak menggerak-gerakkan tangan mungilnya ketika melihat Evan.

"Malam, Tuan." Laras menyapanya dengan senyum hangat.

"Selamat datang."

Evan mengangkat wajahnya. Entah mengapa, setiap kali melihat senyum Laras, rasa penat di kepalanya sedikit berkurang.

"Malam, Aurora belum tidur?"

"Baru bangun sebentar. Lagi minta digendong tadi." Laras menatap wajah Evan beberapa saat.

"Tuan kelihatan sangat lelah."

Evan tersenyum tipis. "Kelihatan, ya?"

"Iya, wajah Tuan tidak seperti biasanya. Kalau boleh tahu ... di kantor ada masalah?"

Evan mengembuskan napas panjang. "Sedikit."

Laras mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lebih jauh.

"Kalau begitu, Tuan duduk dulu. Saya buatkan sesuatu."

Evan mengernyit. "Apa?"

"Lihat saja." Laras tersenyum kecil, lalu berjalan menuju dapur.

Tak sampai sepuluh menit kemudian, ia kembali membawa secangkir teh susu hangat. Aroma susunya langsung memenuhi ruang tamu.

Laras meletakkan cangkir itu di atas meja.

"Silakan diminum, masih hangat."

Evan menatap cangkir itu, lalu menatap Laras.

"Kamu membuat ini untukku?"

"Iya, kalau sedang banyak pikiran, minuman hangat biasanya bisa membuat badan lebih rileks. Saya tidak tahu apakah rasanya cocok atau tidak. Tapi semoga bisa sedikit mengurangi lelah Tuan."

Evan meraih cangkir itu. Setelah meniup pelan, ia menyesap sedikit. Beberapa detik kemudian, senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Enak."

Laras ikut tersenyum lega. "Syukurlah."

Aurora yang berada di dalam box tiba-tiba mengeluarkan suara kecil.

"Eee..."

Laras langsung menghampiri dan mengusap lembut pipi bayi itu. "Iya, Sayang..."

"Ibu ... eh ..." Laras spontan menghentikan ucapannya. Ia buru-buru tersenyum canggung.

"Maksud saya ... Mbak di sini."

Evan yang sedang menikmati teh susu tidak menyadari kekeliruan kecil itu. Tatapannya justru tertuju pada Laras yang dengan sabar menenangkan Aurora. Untuk beberapa saat, rumah itu terasa damai.

Hanya suara tawa kecil Aurora dan aroma teh susu hangat yang memenuhi ruangan. Tanpa disadari Evan mulai merasakan sesuatu yang telah lama hilang dari hidupnya. Kehangatan sebuah rumah.

Evan meletakkan cangkir teh susu yang hampir habis. Tatapannya tidak lepas dari Laras yang sedang mengayun perlahan box bayi Aurora.

Aurora tertidur dengan damai, sementara Laras mengusap selimut mungil itu agar tidak bergeser. Beberapa saat, ruangan dipenuhi keheningan.

"Laras..." Panggilan itu membuat wanita tersebut menoleh.

"Iya, Tuan?" Evan berdiri dari sofa, lalu melangkah mendekatinya.

Entah karena rasa lelah yang selama ini dipendam atau karena suasana rumah yang mendadak terasa hangat, ia memandang Laras dengan sorot mata yang berbeda.

"Kamu tahu..."

"Apa, Tuan?"

"Kamu cocok menjadi ibunya Aurora." Kalimat itu membuat jantung Laras berdegup keras.

Wanita yang sedang berdiri di hadapan Evan memang ibu kandung Aurora. Hanya saja, pria itu tidak pernah mengetahuinya. Sebelum Laras sempat menjawab, Evan perlahan meraih kedua tangannya.

"Laras ... sejak kamu datang. Rumah ini berubah. Aurora lebih bahagia. Aku juga ... lebih tenang."

Laras refleks ingin menarik tangannya. Bahkan, dalam hati ia ingin mendorong Evan sejauh mungkin. Namun, ia menahan diri. Wajahnya tetap menunjukkan ekspresi bingung dan canggung.

"Tuan ... jangan seperti ini. Saya hanya menjalankan pekerjaan."

"Tidak." Evan menggeleng pelan. "Kamu lebih dari itu."

Laras menundukkan wajah agar Evan tidak melihat sorot matanya.

Di balik ketenangan yang ia tunjukkan. Pikirannya justru berputar cepat.

'Sebentar lagi ... semua ini akan berakhir.'

Ia teringat pada teh susu yang beberapa menit lalu diminum Evan.

Sesuai rencananya, minuman itu telah ia campurkan dengan sesuatu yang ia yakini akan membuat Evan mengantuk dan kehilangan kewaspadaan. Ia tidak berniat mencelakainya, tetapi ingin menciptakan situasi yang akan membantunya menjalankan langkah terakhir dari rencana yang telah ia susun.

'Maaf, Evan. Ini bukan tentang cinta. Ini tentang semua yang sudah kamu rampas dariku.'

Perlahan, Laras melepaskan tangannya dari genggaman Evan.

"Tuan ... sudah malam. Lebih baik Tuan beristirahat."

Evan mengangguk pelan.Anehnya, kepalanya mulai terasa berat. Pandangannya sedikit berkunang.

"Aneh ... kenapa tiba-tiba..." Ia memegang pelipisnya. "Badan saya rasanya lemas."

Laras segera berpura-pura khawatir.

"Tuan tidak apa-apa? Mungkin Tuan terlalu lelah karena pekerjaan. Biar saya bantu ke kamar."

Evan tidak menolak. Dengan langkah yang mulai goyah, ia mengikuti Laras. Sementara itu, sorot mata Laras perlahan berubah menjadi penuh tekad.

'Ini langkah terakhir ... setelah malam ini. Permainan yang selama ini kamu ciptakan akan berbalik menghancurkanmu sendiri."

1
merry
laras peka dikit napa jgn minder lgian elang bantu kmu dr awal,,, kshn loh ayo lang ungkapin donk perasaan mu jgn diem ajjj,,
Pjjmakkem
mau dong kisah elang yg udah move on genre komedi, biar ga sedih2 amat..
jd pas ketemu laras lg, elang da bs tersenyum tanpa rasa cinta sendirian, krn dia da merasa dunia nya gong dicintai ugal2an sm wanita lain
Pjjmakkem: trus laras ttp jd wanita kuat tanpa rasa pelakor 😍
total 1 replies
Nurjannah Rajja
Hancurin juga perusahaan bagaskara dong, dia kan bersekongkol pada waktu itu.
Runi Mayantri
suka critany
Runi Mayantri
buat jodoh elang yg badas ya thor,biar mkin seru,gak usah ma laras gpp thor,yg pntg elang bsa move on n bhgia
vania larasati
lanjut
Ita rahmawati
kok ya nyesek amat sih Lang nasib cintamu 😔
kasih jodoh elang dong thor
Ita rahmawati
sidangnya masih berlanjut
Ita rahmawati
gimana hubungan antara Amelia dn Evan dulu ya saat jd suami istri 🤔
apakah aurora bener bener bibitnya Evan SM Caroline,, kasian Amelia ya ya😔 tp mau bagaimanapun dia yg mengandung jd ttep kasih sayangnya GK main main
May Satibi Satibi
yuhuuu Thor ku tunggu jlanya mau maju mundur kiri atau kanan🤭🤭🤭🤭💪💪💪💪💪💪💪
Les Tary
Laras ga peka
Jaya Fandi
elang,,,luar biasa sekali kamu,,semoga mendapatkan jodoh yg luar biasa juga elanh
Aysah Meta
Bener sih apa kata elang,kenapa gak test DNA.
Takutnya emang bukan anak Caroline tapi anak Evan dan Amelia..tapi bener² di rahasiakan sama si Evan.
wihhh..jadi penasaran.
Masih ada yg janggal dr sekian episode ini
SasSya
kasihan sekali anak sulung Bu Araaa
kisah cintanya mengsediiihh 🥲
SasSya
Laras 🫂🫂🫂
semoga menemukan kebahagiaan dan tidak trauma untuk menjalin hubungan baru
bersama siapapun
Elang atau yg lain
SasSya
paiiiiittttt kisah mu Eeelllll
SasSya
😔🥺🥺🥺🥺🥺😭😭😭😭
sampai akhir jadi Sad boy Eeellll
sini peluk siniiiii🫂🫂🫂🫂
SasSya
Sampai Akhir persidangan Rahasia Amelia yg berubah jdi Laras tidak di ungkap
memang sebaiknya begitu
SasSya
wawwwww
seumur hidup Za iniii
👍👍👍👍
SasSya
persidangan ternyata melelahkan memakan waktu lama sekali zaa
ber bulan2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!