Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.
Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.
Namun, takdir berkata lain.
Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:
[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]
Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....
#kehidupandidesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Penolakan yang Tak Dianggap
[ Ding ]
[ Sistem Mendeteksi Fluktuasi Sosial, Benturan Kultural, dan Krisis Asmara Tingkat Tinggi! ]
[ Misi Darurat Tersembunyi Resmi Diaktifkan: 'Pernikahan Megah atau Likuidasi Finansial Abadi' ]
[ Deskripsi Misi: Sebagai calon penguasa ekosistem retail nomor satu di dunia, Anda dilarang keras berstatus lajang tanpa adanya aliansi strategis yang kokoh! Sistem mendeteksi adanya peluang emas untuk penyatuan modal berskala raksasa. ]
[ Pilihan Opsi Misi yang Tersedia:
1. Menerima Lamaran Vilmey (Aliansi Tionghoa-Minang): Sistem akan otomatis mengucurkan dana hibah aliansi sebesar Rp100.000.000.000,00 (Seratus Miliar Rupiah) langsung ke rekening utama Budiman Mart sebagai modal pesta pernikahan adat megah selama 7 hari 7 malam!
2. Menerima Perjodohan Etek-Etek Tarusan (Konsolidasi Adat): Sistem akan menghibahkan aset tanah ulayat gratis seluas 50 hektar di pesisir pantai Tarusan untuk pembangunan proyek Megamall Budiman pertama di Sumatera Barat!
Hukuman Jika Menolak Kedua Opsi (Gagal Mengambil Keputusan dalam Waktu 24 Jam): Sistem akan membekukan seluruh aset operasional, membatalkan semua kontrak barang, dan otomatis mengosongkan seluruh isi rekening utama Anda menjadi Rp0,00 (BANGKRUT TOTAL DAN LIKUIDASI SEKETIKA)!
Membaca deretan teks hologram emas yang berkedip-kedip di depan wajahnya, jantung Budiman mendadak berhenti berdetak selama beberapa detik. Matanya yang sayu dan mengantuk langsung melebar sempurna, terkunci rapat pada poin hukuman di bagian paling bawah.
'Rekening menjadi nol rupiah? Bangkrut total? Likuidasi seketika?!'
'Ini dia! Demi Tuhan, ini dia kesempatan emas yang sudah awak tunggu-tunggu, diimpikan, dan dia perjuangkan mati-matian selama ini!'
Hukuman Sistem yang selama ini meleset dan mustahil dia gapai karena kreativitas bawahan dan rekan kerja yang kelewat batas, malah saat ini tersaji di depan mata dengan syarat yang teramat sangat mudah.
Budiman tidak perlu repot-repot memikirkan strategi rugi, tidak perlu pusing memikirkan boikot Jakarta, dan tidak perlu ekspansi di mana pun dan gak usah lagi membakar uang dengan cara yang tak normal. Cukup dengan satu langkah saja: Dengan cara tetap menjadi jomblo abadi, menolak semua perempuan ini, dan biarkan waktu dua puluh empat jam itu habis begitu saja!
Sudut bibir Budiman yang tadinya melengkung ke bawah penuh kesedihan, perlahan-laman mulai bergetar hebat. Rasa sesak yang memenuhi dadanya mendadak menguap, berganti dengan senyuman misterius yang sangat lebar.
‘Hahaha! Akhirnya! Akhirnya kau melakukan blunder terbesar dalam sejarahmu, Sistem gilo! Kau pikir kau bisa menakut-nakuti awak dengan ancaman kebangkrutan dan rekening kosong itu?! Sumpah demi apa pun, justru itu yang awak cari selama ini, tahu kau?!'
'Berani-beraninya kau memberiku hukuman seindah ini! Bagus, silakan kosongkan rekening awak besok pagi! Biarkan awak kembali jadi orang miskin yang bisa tidur nyenyak!’ jerit Budiman dalam hati dengan kegembiraan yang meledak-ledak mengalahkan kembang api saat tahun baru.
Dengan semangat membara yang baru, Budiman langsung menarik napas dalam-dalam. Ia menegakkan punggungnya yang tadinya lesu, merapikan sedikit kaus oblongnya yang awut-awutan, lalu menatap kerumunan emak-emak para tetangganya dan rombongan menyilaukan pihak Vilmey dengan tatapan yang penuh keyakinan dan kemenangan.
"Etek-etek sekalian ... Uni Linda ... Mila ... dan juga Saudari Vilmey ... Ambo harap, semuanya tenang! Tolong dengarkan ucapan Ambo dengan baik!" suara Budiman menggema dengan sangat tegas dan lantang di pelataran parkir.
Dengan seketika membuat seluruh orang yang tadinya riuh, langsung terbungkam, menahan napas menunggu keputusan final dari sang miliarder muda nomor satu di Pesisir Selatan tersebut.
Budiman menyunggingkan senyuman paling manis sepanjang hidupnya, sudah bersiap-siap di dalam kepala untuk mengucapkan kalimat penolakan paling estetik demi menghancurkan bisnis raksasanya selama 24 jam kemudian.
"Ambo sudah memikirkan ini dengan matang," ujar Budiman dengan sedramatis mungkin, menatap satu per satu wajah yang ada di hadapannya.
"Demi kebaikan Budiman Mart, demi ketenangan kampung kita, dan demi menjaga kehormatan masing-masing pihak ... Ambo memutuskan untuk MENOLAK semua tawaran perjodohan dan lamaran ini. Ambo tidak akan menikahi siapa pun di antara kalian!"
Budiman hampir saja bersorak kegirangan di dalam hati. Diliriknya jam dinding digital di dalam rukonya. Hitung mundur 24 jam menuju rekening kosong dan kebangkrutan total resmi dimulai!
'Hahaha, mampus kau Sistem gilo! Awak jomblo, awak miskin, awak bebas!' jerit batinnya penuh kemenangan.
Namun, Budiman lupa satu hal. Di sampingnya ada Hartanto kedua, yaitu Anto.
Anto yang mendengar keputusan tegas Budiman langsung terperangah. Matanya berkaca-kaca penuh haru. Dengan cepat, manajer jamet itu maju dan merebut mikrophone yang ada.
"Luar biasa! Dengarkan itu, semuanya!" teriak Anto dengan suara bergetar karena rasa bangga.
"Uda Budiman sengaja menolak kalian semua! Mengapa? Karena beliau adalah pria sejati yang tidak bisa dibeli dengan uang, dan tidak mau memanfaatkan kedekatan keluarga dari kampung ini! Beliau ingin melihat ... siapa di antara kalian yang benar-benar tulus mendukung perjuangan Budiman Mart dari nol tanpa melihat status kekayaannya saat ini!"
Budiman menoleh patah-patah ke arah Anto. Rahangnya hampir lepas karena tindakan spontan adik ipar yang diangkat menjadi GM ini.
"Anto ... kau ngomong apa, setan ..." desis Budiman dengan suara tertahan.
Tapi suara Budiman tenggelam oleh gemuruh heboh dari kerumunan emak-emak.
"Onde mande! Sungguh mulia kali hati kau, Diman!" pekik Etek Nur langsung terisak.
"Mimi! Kau dengar itu? Pria spek gadiang sanyao seperti Diman ini tidak butuh harta! Kau punya peluang besar untuk ini. Nanti siang, kau antarkan rantang nasi goreng buatan kau ke kedai ini, biar Diman tahu ketulusanmu dan betapa lezat masakanmu!"
Mila si akuntan juga langsung mengepalkan tangannya. "Uda Diman sengaja menguji mentalitas akuntan sepertiku! Baik, Uda! Mulai besok, Mila akan magang gratis di sini tanpa digaji sepeser pun untuk membuktikan ketulusanku menjadi pendamping Uda!"
Melihat kubu lokal semakin agresif karena provokasi Anto, Paman tertua Vilmey panik setengah mati. Dia mengira aliansi bisnis bernilai ratusan miliar ini akan gagal hanya karena masalah "ketulusan".
"Cepat buka koper kedua! Sekarang juga!" perintah sang Paman pada tim pengacaranya.
Klik!
Koper hitam kedua dibuka di depan umum, memancarkan kilau lembaran sertifikat tanah berlogo Garuda emas.
"Nak Budiman! Jangan salah paham! Kami tidak berniat menyuap ketulusanmu! Jika mahar dari kami, terasa terlalu transaksional, akan saya tambahkan sertifikat kepemilikan saham lima belas persen atas mall terbesar di Kota Padang sebagai jaminan cinta keponakan saya, Vilmey! Tolong terima aliansi ini!"
Vilmey sendiri langsung menunduk dengan pipi yang merona sempurna, menatap gaun Cheongsam merahnya dengan malu-malu. 'Uda Budiman ... kamu bahkan menolak seluruh wanita di kampungmu hanya untuk menjaga perasaanku agar tidak merasa bersaing dengan mereka? Kamu sungguh pria yang sangat menjaga kehormatan wanita ...' batin Vilmey, semakin terharu.
Budiman yang melihat situasi justru berbalik menjadi kompetisi "pamer ketulusan" langsung menekan dadanya yang tersengal-sengal. Efek keblunderan Sistem malah membuat orang-orang ini semakin nekat mempersulit hidupnya.
Dan yang paling mengerikan ... warna biru keemasan sialan itu kembali bersinar menandakan hal buruk akan terjadi kembali.
[ Ding! ]
[ bersambung ]