Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.
Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.
Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.
Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.
Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.
Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Suara di Balik Keheningan
Kamar pengobatan di dalam kabin utama The Sky Leviathan berbau tajam, antara bau campuran minyak min dan kelopak bunga matahari langit yang dikeringkan.
Clara duduk di tepi ranjang periksa, membiarkan Bernet membalut telapak tangan kanannya dengan kain kasa putih yang bersih.
Kepala pelayan itu bekerja dengan sangat hati-hati, seolah-olah tangan Clara terbuat dari kaca rapuh yang bisa pecah kapan saja.
"Anda sangat nekat, Nyonya Clara," ujar Bernet, suaranya bergetar pelan antara rasa kagum dan cemas. "Selama lima tahun saya mengabdi pada Kapten Alden, saya belum pernah melihat ada orang yang berani memeluk Tuan Muda Leo dalam kondisi seperti itu. Bahkan para prajurit elite kapal pun memilih mundur."
Clara meringis sedikit saat kain kasa itu menekan bagian kulitnya yang melepuh. "Dia hanya seorang anak kecil yang ketakutan, Bernet. Jika tidak ada yang berani mendekat, apinya akan terus membakar hatinya sampai tidak ada yang tersisa."
Bernet menghela napas panjang, lalu membungkuk hormat setelah selesai mengikat perban. "Kapten Alden sedang mengawasi perbaikan dek sayap kiri. Beliau berpesan agar Anda beristirahat total hari ini. Namun...." Bernet ragu-ragu sejenak, melirik ke arah pintu kayu kamar. "Ada seseorang yang sejak tadi berdiri di koridor luar."
Clara mengernyitkan dahi. "Siapa?"
"Nona Rin," bisik Bernet dengan nada suara yang mendadak turun, seolah takut terdengar oleh dinding-dinding kapal. "Anak kedua Kapten. Dia... berbeda dari Tuan Muda Leo."
Mendengar nama itu, rasa ingin tahu Clara langsung terusik. Berdasarkan catatan militer yang sempat ia baca, Rin adalah anak perempuan berusia sembilan tahun yang memiliki darah blasteran Sirene, makhluk laut mistis yang terkenal dengan suara hipnotis yang mematikan.
Tanpa mempedulikan rasa perih di tangannya, Clara segera turun dari ranjang dan melangkah menuju pintu.
Saat pintu kayu itu bergeser terbuka, Clara langsung menangkap sosok kecil yang berdiri menyandarkan punggungnya di dinding seberang koridor.
Rin memiliki rambut biru gelap bak warna samudra dalam yang dikepang dua, dengan kulit putih pucat yang kontras. Sepasang matanya yang besar berwarna indigo menatap Clara dengan tatapan waspada, namun ada binar rasa bersalah yang tersirat di sana.
Di leher anak perempuan itu, melingkar sebuah kalung perak tebal dengan segel sihir penahan suara yang berkilau redup. Rin memegang sebuah papan tulis kayu kecil dan sebatang kapur di tangannya.
Clara tersenyum lembut, berusaha tidak membuat anak itu merasa terintimidasi. "Halo, Rin. Apakah kau sedang menungguku?"
Rin tidak bergerak. Ia menatap telapak tangan Clara yang terbalut perban putih tebal, lalu dengan cepat jemari kecilnya menuliskan sesuatu di atas papan tulis kayu dengan gerakan tergesa-gesa.
’Apakah tanganmu sangat sakit? Apakah Leo akan dihukum?’ tulis Rin, lalu mengangkat papan itu ke depan dadanya.
Clara membaca tulisan itu dengan hati yang menghangat. Ternyata, meski anak-anak ini terlihat liar dan menolak kehadirannya, mereka saling menyayangi. "Tanganku sudah jauh lebih baik berkat ramuan dari Bernet. Dan jangan khawatir, Ayahmu tidak akan menghukum Leo. Itu adalah kecelakaan."
Rin menurunkan papan tulisnya. Ia tampak menghembuskan napas lega, namun sedetik kemudian wajahnya kembali murung. Ia memandangi ujung sepatu bot kecilnya, seolah-olah lantai kapal terbang itu jauh lebih menarik daripada menatap ibu tiri barunya.
Clara berlutut dengan satu kaki di atas lantai koridor, menyamakan tinggi pandangannya dengan Rin. "Bernet bilang kau tidak pernah berbicara. Apakah karena kalung segel itu?"
Rin mengangguk pelan. Ia kembali menulis di papannya, ’Suaraku berbahaya. Ayah memasang ini agar aku tidak mencelakai kru kapal. Aku adalah monster yang mengutuk orang.’
Hati Clara berdenyut nyeri membaca kata 'monster' yang kembali keluar dari kamus anak-anak Alden. Eksperimen jahat masa lalu yang menimpa ibu kandung mereka pasti telah meninggalkan trauma psikologis yang sangat dalam.
"Kau bukan monster, Rin," kata Clara, meniru kalimat yang ia ucapkan pada Leo sebelumnya. "Suara seorang Sirene bukanlah kutukan. Di buku-buku kuno yang pernah kubaca, lagu Sirene sejati adalah melodi penyembuh yang bisa menenangkan badai samudra. Hanya saja, kekuatanmu terlalu besar untuk tubuhmu yang masih kecil saat ini."
Rin mendongak, matanya membelalak lebar mendengar kata 'melodi penyembuh'. Selama ini, semua orang selalu menyuruhnya diam dan menahan suaranya agar tidak membawa malapetaka. Ini adalah pertama kalinya seseorang menyebut kekuatannya sebagai sesuatu yang bisa menyembuhkan.
Clara meraih kantong kain di pinggangnya dengan tangan kirinya yang sehat. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam dan sebatang pena bulu yang cantik. Ia menyerahkannya kepada Rin.
"Mulai hari ini, mari kita belajar bahasa baru," kata Clara riang. "Aku tahu bahasa isyarat kuno yang sering digunakan oleh para penyembuh bisu di kuil langit. Dengan begitu, kau tidak perlu lelah menulis di papan tulis berat ini lagi untuk berbicara denganku. Mau mencobanya?"
Rin menatap buku catatan baru itu dengan ragu, lalu beralih menatap senyum tulus Clara yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau jijik.
Perlahan, tangan mungil Rin terulur menerima buku tersebut. Ia memeluk buku itu di dadanya, lalu mengangguk pelan dengan sudut bibir yang sedikit terangkat, sebuah senyuman pertama yang sangat tipis.
"Clara...." Suara berat Kapten Alden tiba-tiba menginterupsi dari ujung lorong.
Pria itu berdiri di sana dengan jubah hitamnya yang sedikit kotor karena debu perbaikan kapal. Tatapannya langsung tertuju pada interaksi antara Clara dan anak perempuannya.
Rin yang melihat ayahnya datang, langsung membungkuk sedikit dan berlari kecil menuju kamarnya di sayap kiri, membawa serta buku catatan pemberian Clara.
Alden melangkah mendekati Clara yang kini telah berdiri kembali. "Kau seharusnya beristirahat, bukan malah berkeliaran di koridor dengan tangan terluka seperti itu."
"Aku hanya sedang berkenalan dengan putri Anda, Kapten," jawab Clara tenang, menatap lurus ke dalam sepasang mata abu-abu badai milik suaminya. "Rin adalah anak yang sangat peka. Dia mengkhawatirkan kakaknya."
Alden terdiam sesaat, memandangi pintu kamar Rin yang telah tertutup. "Mereka berdua selalu membawa masalah. Kau tidak perlu memaksakan diri untuk mendekati mereka dalam sehari, Clara. Pernikahan kontrak ini tidak mewajibkanmu bertaruh nyawa seperti tadi sore."
"Saya tidak sedang memaksakan diri, Kapten Alden," potong Clara tegas, melangkah satu langkah lebih dekat hingga ia bisa mencium aroma kayu pinus dan besi dari tubuh Alden. "Saya telah berjanji untuk menjadi bagian dari keluarga ini, walau hanya di atas kertas. Dan bagi saya, seorang anak tidak pernah menjadi masalah. Mereka hanya butuh bimbingan yang tepat, sesuatu yang mungkin terlalu sibuk Anda lakukan di antara peperangan Anda."
Mendengar sindiran halus itu, rahang Alden mengeras. Aura magisnya yang dingin sempat berdesir di udara, membuat koridor terasa lebih mencekam. Namun, melihat tangan Clara yang terbalut perban akibat menyelamatkan putranya sendiri, Alden menahan emosinya.
"Kita lihat saja seberapa lama ketulusanmu ini bertahan, Clara," bisik Alden dengan nada rendah yang penuh tantangan, sebelum akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan Clara dalam keheningan koridor.
Clara hanya tersenyum tipis memandangi punggung tegap suaminya. Tantangan telah diterima. Ia baru saja memenangkan hati Leo dan Rin sedikit demi sedikit.
Sekarang, tinggal si bungsu Toby dan sang Kapten Langit sendiri yang harus ia jinakkan.