Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.
Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:
punya rumah sendiri.
Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.
Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.
Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.
Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.
Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.
Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan yang Tertahan di Dasar Kardus
Kadang petunjuk paling penting bukan yang paling sulit ditemukan. Justru sering kali ia sudah berada di depan mata sejak lama. Hanya saja... kita baru menyadarinya setelah seseorang mengingatkan untuk melihatnya kembali.
Malam itu aku kembali duduk di kamar yang dulu ditempati Amira.
Rumah sudah sepi.
Lala dan Andi akhirnya bisa tidur lebih nyenyak setelah Mbok Diyah memasang ikhtiar yang beliau berikan di atas pintu kamar mereka.
Sementara aku...
Masih belum mampu menenangkan isi kepalaku sendiri.
Ucapan Mbok Diyah siang tadi terus terngiang.
"Periksa lagi barang peninggalan Amira."
Aku mengembuskan napas panjang.
Sebenarnya aku sudah membuka kardus itu kemarin malam.
Saat itu aku menemukan buku catatan harian Amira.
Dari sanalah aku pertama kali mengetahui bahwa sebelum sakit, istriku beberapa kali menulis tentang Anggun, ancaman yang pernah diterimanya, dan rasa takut yang selama ini dipendam sendirian.
Namun pencarianku terhenti malam itu.
Tangisan Lala dan Andi membuyarkan semuanya.
Sejak saat itu, kardus itu kembali kututup begitu saja.
Kini...
Aku merasa ada sesuatu yang masih tertinggal.
Belum sempat kusadari apa, tiba-tiba ingatanku melayang ke hari pemakaman Amira.
Di tengah ramainya para pelayat yang datang silih berganti, Marni pernah menghampiriku.
Wajahnya saat itu terlihat gelisah.
Sebelum pulang, dia berbisik pelan agar tidak didengar orang lain.
"Kang Anto... nanti kalau njenengan sudah kuat... coba buka HP-nya Amira."
Hanya itu.
Saat itu aku terlalu larut dalam duka hingga tidak sempat menanyakan maksudnya.
Sekarang...
Aku merasa inilah yang dimaksud Mbok Diyah.
Aku kembali membuka kardus yang masih berada di sudut kamar.
Kali ini aku tidak mengacak-acak seluruh isinya.
Tanganku langsung mencari sebuah benda yang sejak tadi memenuhi pikiranku.
Tak butuh waktu lama.
Ponsel Amira akhirnya kutemukan, terselip di bawah beberapa helai pakaian.
Layarnya retak.
Sudut casingnya pecah.
Aku mengambil charger lalu menyambungkannya ke stop kontak.
Beberapa menit berlalu.
Layar yang semula gelap perlahan menyala.
Logo ponsel muncul.
Disusul bunyi notifikasi yang bertubi-tubi.
Puluhan pesan masuk.
Sebagian besar berasal dari satu nama.
Marni.
Dadaku mulai berdebar.
Aku membuka ruang percakapan mereka.
Pesan-pesan itu ternyata sudah berbulan-bulan tidak pernah dibaca.
"Mir, kamu di mana?"
"Tolong balas kalau sudah baca."
"Aku serius. Hati-hati sama Anggun."
Keningku mulai berkerut.
Aku terus menggulir layar.
Semakin ke bawah...
Nada pesan Marni semakin panik.
"Dia masih dendam sama kamu."
"Aku takut dia nekat."
"Kalau bisa jangan pulang sendirian."
Tanganku mulai terasa dingin.
Lalu mataku berhenti pada sebuah pesan suara yang belum pernah diputar.
Aku menarik napas panjang.
Kemudian menekan tombol putar.
Suara Marni terdengar lirih.
Namun jelas.
"Mir... kalau kamu dengar pesan ini, tolong jangan anggap aku nakut-nakutin."
Aku memejamkan mata.
"Tadi aku gak sengaja ketemu Anggun."
"Dia bilang hidupmu gak bakal tenang."
Suara Marni mulai bergetar.
"Aku juga lihat dia beberapa kali pergi sama seorang laki-laki tua."
"Orang-orang di sekitar kontrakan bilang... dia dukun dari Kalimantan."
Jantungku langsung berdegup keras.
Kalimantan...
Entah kenapa aku langsung teringat ucapan Mbok Diyah.
"Gangguan itu tidak datang sendiri."
Voice note itu masih berlanjut.
"Aku gak tahu mereka mau ngapain."
"Tapi firasatku gak enak, Mir."
"Kalau kamu dengar pesan ini... segera hubungi aku."
Pesan itu berakhir.
Ruangan kembali sunyi.
Aku memutarnya sekali lagi.
Lalu sekali lagi.
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Marni terasa seperti kepingan-kepingan yang mulai menyusun jawaban.
Ancaman Anggun.
Catatan harian Amira.
Penyakit aneh yang menyerangnya.
Dan kini...
Peringatan dari Marni.
Aku menutup kedua mata.
Air mata kembali mengalir tanpa bisa kutahan.
"Kenapa kamu gak pernah cerita semua ini, Mir..."
Suaraku lirih.
Bukan menyalahkannya.
Aku hanya berharap...
Seandainya waktu bisa diputar kembali.
Mungkin aku tidak akan membiarkannya menghadapi semuanya sendirian.
Namun penyesalan selalu datang paling akhir.
Dan saat itu...
Yang tersisa hanyalah kenyataan.
Jika memang ada seseorang yang sengaja menghancurkan hidup istriku...
Maka aku harus menemukan orang itu.
Bukan demi balas dendam.
Melainkan agar Lala dan Andi tidak menjadi korban berikutnya.
Aku mematikan layar ponsel.
Lalu menatap foto kecil keluarga kami yang menjadi wallpaper di sana.
Untuk pertama kalinya sejak pemakaman Amira...
Aku merasa memiliki arah yang harus kutuju.
Jakarta.
Di sanalah semua pertanyaan ini harus mulai kucari jawabannya.
(Bersambung)