Tersedak boba membawa petaka! Alara, cewek modern bermulut pedas, mendadak isekai jadi Selir Alara Villin—selir terbuang Dinasti Ruelle yang lemah dan ditindas di Istana Dingin. Tragisnya lagi, dia diberi makan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi.
Sebagai pencinta makanan sejati, Alara menolak mati kelaparan. Dia pun nekat menyelinap ke paviliun pribadi Kaisar Kaivan dan mencuri paha ayam panggang sang penguasa.
Sialnya, aksi Alara tertangkap basah. Bukannya bersujud ketakutan menghadapi sang Kaisar yang terkenal kejam dan sedingin es, Alara malah menodongnya:
"Anda kurung saya tanpa makanan layak. Baru ambil satu paha ayam, Anda masih utang sembilan puluh sembilan ayam lagi sama saya. Sini bayar!"
Kaisar Kaivan yang gengsian setengah mati mendadak dibuat jantungan oleh logika absurd selir bar-barnya ini. Siapa sangka, di balik wajah esnya, sang Kaisar aslinya jago lawak, gampang panik, dan takut kecoa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Api di Bukit Naga (Alara Menggoreng Pasukan Gajah) {2}
Atmosfer di puncak Bukit Naga Merah terasa begitu mencekam. Angin berembus kencang, mengibarkan jubah hitam milik Kaisar Kaivan yang berkilau di bawah terik matahari.
Di bawah bukit, seratus ribu gajah perang Kekaisaran Wu mulai bergerak maju. Langkah kaki mamalia raksasa berselimut zirah besi itu membuat tanah yang dipijak pasukan Ruelle bergetar hebat seperti diguncang gempa lokal.
Kaisar Xiang di atas gajah putihnya tertawa menggelegar. "Serang! Hancurkan barisan depan mereka! Biarkan kavaleri berkuda Ruelle tahu rasanya dilumat di bawah kaki-kaki dewa perangku!"
"Pasukan pelempar... SIAP!" teriak Jenderal Qin, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
Di belakangnya, barisan ketapel raksasa dan ratusan prajurit dengan ketapel tangan mekanis modifikasi Alara sudah bersiap dengan botol tanah liat berisi minyak bumi.
"Bakar sumbunya!" seru Alara dari atas keledainya, membetulkan letak helm kuningan uniknya yang kebesaran.
*WUSS! WUSS! WUSS!
Ratusan helai kain perca di ujung botol menyala serentak, menciptakan parade titik api yang berkobar di sepanjang garis perbukitan.
"TEMBAKKK!!!" perintah Kaivan, suaranya yang bariton dan penuh otoritas menggelegar membelah langit.
*SREEEETTT
*BOOOM! BOOOM! BOOOM!
Ratusan botol tanah liat melesat di udara, membentuk garis parabola berapi yang sangat indah sekaligus mematikan.
Botol-botol itu jatuh menghujani barisan terdepan gajah perang Kekaisaran Wu. Begitu menyentuh zirah besi dan tanah, botol-botol itu pecah, menyemburkan cairan hitam kental yang langsung meledak menjadi lautan api yang agresif.
*HIIIAAAAAAKKKK!!!
Gajah-gajah terdepan langsung memekik histeris. Kulit mereka yang tebal tidak mempan terhadap panah, tapi api adalah teror psikologis instan bagi semua hewan liar. Belum sempat Kaisar Xiang menenangkan pasukannya, Alara kembali berteriak,
"Sekarang, beri mereka backsound konser rock! Lemparkan tabung petasan kejut!"
*DOR! PLTAK! DUAARRR! DUAARRR!*
Ribuan tabung bambu berisi bubuk mesiu rumahan racikan Alara meledak bertubi-tubi tepat di sekitar telinga lebar para gajah. Suara dentuman yang memekakkan telinga berpadu dengan kilatan cahaya yang membutakan mata dalam sekejap menghancurkan sitem syaraf ketenangan hewan-hewan tersebut.
Efeknya instan dan brutal. Seratus ribu gajah perang itu dilanda kepanikan masif mass hysteria. Gajah-gajah itu kehilangan kendali, mengabaikan teriakan panik para pawangnya, lalu berbalik arah secara serentak. Mereka berlari kencang ke belakang, menerjang, menggilas, dan menginjak-injak barisan infanteri militer Kekaisaran Wu sendiri yang berada di belakang mereka!
"T-TIDAK MUNGKIN!!! Sihir apa ini?! Tahan posisiiiii!" jerit Kaisar Xiang panik dari atas gajah putihnya yang kini ikut berputar-putar stres seperti gasing.
Hanya dalam waktu lima belas menit, formasi legendaris yang ditakuti di seluruh daratan itu hancur lebur tanpa sisa oleh taktik sains abad ke-21. Pasukan Wu kocar-kacir, melarikan diri dari medan perang sembari dikejar oleh gajah-gajah mereka sendiri.
Melihat musuh sudah lari terbirit-birit, Kaivan menarik pedang naganya, mengarahkannya ke depan. "Pasukan Ruelle! Kejar sisa musuh dan amankan perbatasan!"
"SIAP, YANG MULIA!" sorak ratusan ribu prajurit Ruelle dengan semangat membara yang membubung ke langit. Mereka menatap Alara dengan pandangan penyembahan yang luar biasa Permaisuri mereka bukan lagi sekadar wanita, tapi dewi kemenangan yang nyata.
Sore harinya, tenda militer agung didirikan di area perbatasan yang baru saja dimenangkan. Kaisar Xiang secara resmi mengirimkan utusan darurat pembawa bendera putih untuk meminta gencatan senjata total, berjanji akan membayar upeti tahunan berupa emas dan wilayah perkebunan kelapa sawit selatan kepada Ruelle.
Di dalam tenda utama, Alara sedang selonjoran di atas karpet bulu domba, melepas helm kuningannya yang bikin lehernya pegal.
"Aduh, encok juga ya perang zaman kuno begini. Tuan Kai, jatah pijat refleksi saya yang kemarin tertunda harus ditambah tiga puluh menit!"
Kaivan melangkah masuk ke dalam tenda. Dia melepaskan zirah besi beratnya, menyisakan kemeja sutra hitamnya yang pas di tubuh kekarnya. Tatapan mata elangnya tidak lagi memancarkan hawa pembunuh, melainkan dipenuhi oleh binar cinta, kekaguman, dan gairah yang begitu pekat.
Dia berjalan mendekati Alara, berlutut di depannya, lalu tanpa ragu meraih kedua kaki Alara yang kelelahan dan mulai memijatnya dengan gerakan lembut namun bertenaga.
"Alara Villin," bisik Kaivan dengan suara baritonnya yang serak dan penuh kehangatan yang bikin meleleh.
"Kau baru saja memenangkan perang terbesar abad ini tanpa meneteskan setitik pun darah prajurit kita. Katakan... hadiah apa yang kau inginkan dari suamimu ini? Seluruh isi brankas kekaisaran pun akan kuberikan jika kau memintanya."
Alara merasakan sensasi hangat dari pijatan tangan kekar Kaivan, wajahnya mendadak agak memerah alami.
Dia tersenyum licik, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung tegas Kaivan.
"Brankas emas? Gak tertarik, Tuan Kai," goda Alara dengan kerlingan mata usilnya.
"Karena kita sekarang punya wilayah perkebunan kelapa sawit di selatan, saya mau Anda menemani saya bikin proyek hilirisasi minyak goreng lokal, lalu kita bikin kedai Cemilan Gorengan Krispi pertama di ibu kota! Gimana, deal?"
Kaivan terkekeh pendek, sebuah tawa hangat yang meruntuhkan sisa-sisa wajah esnya. Dia memajukan wajahnya, menangkup tengkuk Alara, lalu mengecup bibir ranum istrinya itu dengan lumatan lembut yang penuh kepemilikan mutlak. "Deal, Permaisuriku... Apapun maumu."
Namun, saat mereka sedang menikmati momen romantis di tengah kemenangan tersebut, sebuah merpati pos dengan tali pita berwarna hitam legam hinggap di ventilasi tenda.
Kaivan melepaskan ciumannya dengan dahi berkerut, mengambil surat dari kaki merpati tersebut, lalu membacanya.
Seketika itu juga, wajah tampan Kaivan kembali membeku sempurna, sepasang mata elangnya berkilat tajam memancarkan bahaya tingkat tinggi.
"Ada apa, Tuan Kai?" tanya Alara heran melihat perubahan ekspresi suaminya.
Kaivan meremas surat itu hingga hancur menjadi serpihan. "Ini dari ibu kota. Ibu Suri diam-diam melarikan diri dari tahanan rumahnya.
Beliau membawa sisa-sisa pengikut setianya dan dikabarkan telah bersekutu dengan 'Sekte Teratai Hitam', sebuah organisasi pembunuh bayaran mistis kuno yang berniat melakukan kudeta berdarah di istana saat kita kembali nanti!"
Alara menaikkan sebelah alisnya, tidak ada rasa takut sedikit pun di wajahnya, melainkan senyuman taktis yang sangat membara.
'Wah... nenek-nenek lampir satu ini beneran gak kapok ya kena mental jilid satu dan dua. Sekarang malah bawa sekte mistis ninja? Sini maju! Mari kita perkenalkan mereka pada teknologi jebakan kawat laser dan kembang api bom asap bermotif kimia!' batin Alara tertawa jahat.
---
Bersambung~
makasih Thor cerita menghibur bgt ttp semangat ya💪💪💪