Karena terjebak utang keluarga yang menumpuk, Anya terpaksa menerima tawaran menjadi istri kontrak Arga, seorang pewaris perusahaan terkaya yang dikenal dingin dan tak pernah percaya pada cinta. Perjanjian mereka hanya berlaku satu tahun: tidak ada ikatan batin, tidak ada rasa sayang, dan akan berakhir begitu waktunya habis. Namun seiring berjalannya hari, kehadiran Anya perlahan mencairkan hati yang sudah lama membeku. Akankah hubungan yang diawali dengan perjanjian ini berakhir dengan perpisahan, atau justru tumbuh menjadi cinta yang tak terpisahkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Maysha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Kejadian Malam Pertama
Malam mulai turun, menggantikan terangnya siang dengan cahaya lampu-lampu taman yang menyala perlahan. Suasana di dalam rumah utama terasa semakin hening, hanya sesekali terdengar suara detak jam dinding yang berirama teratur. Anya duduk di kursi dekat jendela kamarnya, memegang secangkir teh hangat yang dibawakan pembantu tadi. Pikirannya melayang memikirkan hari pertamanya yang penuh ketegangan dan perasaan campur aduk.
Ia baru saja mengunjungi ibunya dan memastikan wanita itu merasa nyaman di tempat tinggal barunya. Melihat ibunya bisa beristirahat dengan tenang tanpa rasa takut lagi membuat hati Anya sedikit lebih lega. Semua pengorbanan yang ia lakukan rasanya terbayar hanya dengan melihat senyum di wajah ibunya.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar pelan namun tegas. Anya terkejut, meletakkan cangkir tehnya dengan hati-hati. “Silakan masuk,” jawabnya sambil berdiri.
Pintu terbuka perlahan, dan terlihat Pak Haris berdiri di ambang pintu dengan ekspresi sopan namun sedikit ragu. “Maaf mengganggu, Nona Anya. Tuan Arga memanggil Anda ke ruang tamu utama. Beliau ingin menyampaikan sesuatu sebelum beristirahat.”
Jantung Anya berdegup kencang mendengarnya. “Baik, Pak. Saya segera menyusul.”
Ia merapikan pakaiannya sejenak, lalu berjalan mengikuti Pak Haris menuju ruang tamu di lantai dasar. Jalanannya terasa lebih lambat dari biasanya, rasa gugup kembali menyelimuti hatinya. Apa lagi yang akan disampaikan Arga? Apakah ia melakukan kesalahan hari ini tanpa sadar?
Sesampainya di ruang tamu, Arga sudah duduk di sofa besar sambil memegang segelas minuman berwarna cokelat. Ia sudah berganti pakaian santai berwarna hitam polos, namun tetap memancarkan wibawa yang membuat orang lain merasa segan. Cahaya lampu yang redup membuat wajahnya terlihat lebih tajam dan misterius.
“Silakan duduk,” ucap Arga singkat, menunjuk sofa yang berada di seberangnya.
Anya duduk dengan sopan, menjaga jarak yang cukup jauh darinya. “Ada yang bisa Bapak sampaikan?” tanyanya dengan suara pelan namun jelas.
Arga menatapnya dalam-dalam selama beberapa detik, seolah mengamati setiap ekspresi di wajah Anya. “Besok pagi kita akan mengikuti undangan makan malam dari keluarga rekan bisnis saya. Ini acara resmi, jadi kamu harus bersiap dari sekarang.”
Mendengar itu, Anya tertegun sejenak. Ia baru saja menginjakkan kaki di rumah ini, tapi sudah harus menghadiri acara yang melibatkan banyak orang asing. “Baik, saya mengerti. Apa saja yang harus saya persiapkan?”
“Besok pagi penata rias dan penjahit akan datang ke sini. Mereka akan menyiapkan pakaian dan penampilanmu agar sesuai dengan acara malam itu. Kamu hanya perlu mengikuti apa yang mereka minta,” jelas Arga tanpa nada emosi. “Ingat, di depan orang lain kita adalah pasangan suami istri yang harmonis. Kamu harus bisa memerankan peran itu dengan baik. Jangan sampai ada yang curiga bahwa ini hanyalah perjanjian semata.”
Anya mengangguk paham. “Saya mengerti, Tuan. Saya akan berusaha semaksimal mungkin.”
“Bagus. Satu hal lagi,” lanjut Arga, suaranya sedikit lebih rendah namun tetap tegas. “Selama masa pernikahan ini, kita akan tidur di kamar masing-masing. Tidak ada keharusan untuk berbagi kamar atau tempat tidur. Kamu punya ruang sendiri, saya punya ruang sendiri. Jangan pernah berharap lebih dari itu, dan jangan mencoba mendekati saya secara berlebihan. Itu hanya akan membuat saya marah.”
Kata-kata itu terasa seperti pisau yang menyayat hati Anya, meskipun ia sudah menduganya. Ia menarik napas panjang, menahan rasa sakit yang mulai muncul. “Saya sudah paham batasan kita, Tuan. Saya tidak akan melampaui garis yang sudah ditentukan. Saya hanya akan menjalankan peran saya sebagai istri di depan umum, dan selebihnya kita tetap hidup seperti dua orang asing.”
Jawaban itu membuat Arga sedikit terkejut, meskipun ia tidak menampakkannya. Ia mengira gadis di depannya akan memohon perhatian atau setidaknya terlihat sedih, tapi Anya justru menjawab dengan ketegasan dan harga diri yang membuatnya terkesan diam-diam.
“Baik kalau begitu. Besok jam delapan pagi mereka akan tiba. Jangan terlambat bangun,” ucap Arga sambil meletakkan gelasnya di meja. “Kamu boleh kembali ke kamarmu sekarang.”
“Terima kasih atas pemberitahuannya. Selamat beristirahat,” jawab Anya sopan, lalu berdiri dan berjalan keluar ruangan dengan langkah tenang meski hatinya masih berdebar.
Begitu sampai di balik pintu kamarnya, Anya baru bisa menghembuskan napas panjang yang terasa tertahan. Ia bersandar di belakang pintu, menutup matanya sejenak. Rasanya berat harus berpura-pura di depan orang banyak, tapi ia tahu itu adalah bagian dari kesepakatan yang ia tandatangani.
Malam itu, Anya sulit terlelap. Pikirannya terus melayang membayangkan acara besok malam. Ia takut melakukan kesalahan, takut membuat Arga marah, dan takut tidak bisa memerankan perannya dengan baik. Namun di sisi lain, ia berjanji pada dirinya sendiri: apapun yang terjadi, ia akan tetap menjaga harga dirinya dan bertahan sampai masa satu tahun itu berakhir.
Keesokan harinya, tepat pukul delapan pagi, sebuah mobil van mewah berhenti di depan pintu utama. Beberapa orang masuk ke dalam rumah membawa berbagai peralatan, mulai dari kotak rias, kain-kain gaun yang indah, hingga aksesoris yang berkilauan.
Mereka langsung dipandu ke kamar Anya. Di sana, mereka mulai bekerja dengan sigap. Penata rias mulai merapikan wajah Anya, memilih riasan yang lembut namun tetap terlihat anggun. Sementara itu, penjahit mengukur tubuhnya dan memilih gaun yang paling cocok untuk acara malam itu.
Sepanjang proses itu, Anya hanya diam dan mengikuti instruksi mereka. Ia merasa seperti boneka yang sedang diatur sedemikian rupa agar terlihat sempurna. Di dalam hatinya, ia merasa asing dengan penampilan barunya yang terlihat begitu mewah dan berbeda dari kesehariannya.
Siang harinya, setelah semuanya selesai, Pak Haris datang membawa sebuah kotak perhiasan kecil. “Ini titipan dari Tuan Arga. Beliau meminta Anda memakainya malam nanti,” ujarnya sambil menyerahkan kotak itu.
Anya membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat seuntai kalung dengan liontin berlian kecil yang berkilau indah, serta anting-anting yang senada. Meskipun terlihat sangat mahal, rasanya tidak ada kehangatan yang menyertai pemberian itu — hanya sekadar barang yang harus dipakai untuk mendukung perannya malam itu.
“Terima kasih,” jawab Anya singkat, lalu menutup kotak itu kembali.
Sore menjelang malam, suasana di rumah mulai terasa lebih sibuk. Sopir sudah menyiapkan mobil, dan pembantu sibuk memastikan semuanya beres. Anya berdiri di depan cermin, mengenakan gaun berwarna krem yang pas di tubuhnya, dengan riasan yang rapi dan rambut yang disusun anggun. Ia menatap bayangannya sendiri, merasa seperti orang yang berbeda.
Saat ia berjalan turun menuju ruang depan, Arga sudah menunggu di sana. Ia mengenakan jas hitam yang sangat bagus, membuatnya terlihat semakin gagah dan berwibawa. Saat Arga menoleh melihat Anya, matanya tertegun sejenak — tanpa sadar ia mengagumi keindahan gadis itu yang terlihat berbeda dari biasanya, lembut namun tetap memancarkan ketegasan.
Namun perasaan itu hilang seketika saat ia sadar apa yang ia rasakan. Wajahnya kembali berubah dingin seperti biasa. “Sudah siap?” tanyanya singkat.
“Sudah,” jawab Anya dengan tenang, meski jantungnya berdegup kencang melihat tatapan Arga tadi.
“Baik. Ingat apa yang saya katakan. Jangan bicara sembarangan, ikuti saja apa yang saya lakukan, dan senyumlah secukupnya. Kita hanya perlu tampak seperti pasangan bahagia di depan mereka,” pesan Arga sebelum melangkah keluar.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil mewah yang sudah menunggu. Sepanjang perjalanan, tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Suasana di dalam mobil terasa hening, hanya terdengar suara mesin dan lalu lintas jalanan. Anya memandang ke luar jendela, merasakan jantungnya berdegup semakin cepat seiring dengan mendekatnya tempat tujuan.
Ia tahu, malam ini adalah ujian pertamanya. Ia harus bisa memerankan peran sebagai istri Arga Wijaya dengan sempurna, tanpa ada yang curiga bahwa semuanya hanyalah sebuah perjanjian semata.
Bersambung....