"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Barikade Hukum dan Sandiwara yang Berbalik
Pagi hari di halaman Pengadilan Agama Jakarta Selatan tampak begitu riuh. Kendaraan roda empat dan roda dua saling berebut ruang parkir, sementara orang-orang dengan berbagai macam berkas di tangan berjalan terburu-buru melintasi selasar gedung. Di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan lobi utama.
Adrian turun terlebih dahulu, merapikan jas abu-abu mahalnya dengan gerakan yang kentara sekali dipaksakan untuk terlihat tenang. Dari pintu sebelah kiri, Aruna melangkah keluar. Wanita itu mengenakan kemeja katun polos berkerah tinggi—sebuah pilihan pakaian yang sengaja ia pilih untuk menutupi bekas lebam samar di lehernya, sekaligus memberikan kesan bersahaja namun rapuh. Wajahnya menunduk, tangannya meremas ujung tas jinjing lamanya dengan ritme yang teratur.
"Ingat kata-kataku semalam, Aruna," bisik Adrian setengah menunduk, suaranya sarat akan penekanan yang tajam tepat di samping telinga sang istri. "Begitu di depan hakim, katakan saja kau mencintaiku dan ingin mempertahankan rumah tangga ini demi wasiat ayahmu. Jangan mengatakan hal-hal di luar skenario jika kau masih ingin menginjakkan kaki di rumah Adiwangsa."
"Iya, Mas..." jawab Aruna, suaranya begitu tipis, nyaris tenggelam oleh deru mesin kendaraan di sekitar mereka.
Adrian tersenyum puas. Ia merasa hari ini adalah hari di mana ia berhasil mengunci kembali rantai di leher Aruna. Dengan langkah tegap dan penuh percaya diri, ia membimbing—atau lebih tepatnya mencengkeram—lengan Aruna untuk melangkah naik menuju tangga lobi pengadilan.
Namun, baru saja kaki mereka melewati pintu kaca otomatis, dua orang pria bertubuh tegap dengan kemeja batik rapi dan sebuah lencana yang tergantung di saku dada mereka melangkah maju, langsung memotong jalur berjalan Adrian dan Aruna.
"Selamat pagi. Apakah benar ini dengan Ibu Aruna Adiwangsa?" tanya salah satu pria yang memiliki sorot mata tajam namun pembawaannya sangat tenang.
Langkah Adrian terhenti seketika. Cengkeramannya di lengan Aruna mengencang secara refleks. "Benar, saya suaminya. Ada urusan apa ya? Kami sedang terburu-buru ada jadwal sidang pembatalan," potong Adrian dengan nada ketus, mencoba menegakkan wibawanya sebagai seorang pengusaha kelas atas.
Pria berbanyumas itu tidak memedulikan arogansi Adrian. Ia mengeluarkan sebuah kartu identitas resmi dan menunjukkannya tepat di depan wajah Adrian. "Perkenalkan, nama saya Bramantyo. Kami dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), bagian divisi perlindungan perempuan dan saksi korban. Mulai detik ini, Ibu Aruna secara resmi berada di bawah pengawasan dan perlindungan lembaga kami."
Deg!
Jantung Adrian rasanya seperti berhenti berdetak sesaat. Darah di dalam tubuhnya mendadak berdesir dingin hingga ke ujung jari. Seluruh bulu kuduknya berdiri. Kilasan kepanikan yang sempat ia rasakan beberapa hari lalu kini kembali menghantam otaknya dengan kekuatan sepuluh kali lipat.
Rupanya, di balik status "tahanan rumah" yang ia terapkan pada Aruna sejak kemarin, Aruna telah bergerak jauh lebih cerdik di bawah tanah. Memanfaatkan jaringan telepon rahasianya dengan Paman Aldo, Aruna telah menyusun barikade hukum ini dengan sangat rapi tanpa meninggalkan jejak digital sedikit pun di rumah.
"M... Maaf, Pak? Perlindungan apa maksudnya?" Adrian terbata-bata, mencoba memaksakan sebuah senyuman di wajahnya yang kini mulai memucat. "Saya dan Aruna ke sini justru mau membatalkan perceraian kami. Kami sudah berdamai di rumah. Sengketa rumah tangga kami sudah selesai secara kekeluargaan."
Bramantyo menatap Adrian dengan tatapan menyelidik yang sangat menekan, membuat Adrian merasa seolah-olah seluruh kebohongannya sedang dikuliti hidup-hidup.
"Kami menerima laporan yang sangat kredibel mengenai adanya dugaan intimidasi fisik, penyekapan secara psikologis, dan manipulasi hak asasi individu terhadap Ibu Aruna di dalam kediaman Anda," ujar Bramantyo dengan intonasi suara yang datar namun bertenaga. "Pembatalan perceraian yang dilakukan di bawah tekanan atau ancaman adalah sebuah pelanggaran hukum serius. Oleh karena itu, sebelum proses administrasi di persidangan dilanjutkan... saya akan mengajukan permohonan resmi ke pengadilan untuk melakukan inspeksi langsung ke rumah Anda. Kami harus memeriksa seluruh sudut rumah dan memastikan lingkungan tempat tinggal Ibu Aruna benar-benar aman tanpa ada paksaan dari pihak mana pun."
Mendengar kata "inspeksi rumah", lutut Adrian mendadak terasa lemas. Otaknya berputar liar memikirkan setiap jengkal rumahnya. Kamar pembantu yang kumuh tempat Aruna dikurung, sisa kuah soto yang mungkin belum bersih total di marmer ruang tengah, hingga keberadaan Valerie yang selama ini memperlakukan Aruna seperti budak. Jika Komnas HAM masuk dan melakukan investigasi, ditambah dengan tekanan media, reputasi Adiwangsa Logistik di mata investor asing akan hancur dalam semalam.
"Ba... Baik, Pak... Tentu saja rumah saya selalu terbuka," jawab Adrian, suaranya bergetar menahan ketakutan yang luar biasa.
Sejak kapan Aruna bertemu mereka? Jangan-jangan diam-diam selama ini dia terus menghubungi orang-orang ini di belakangku?! jerit Adrian dalam hati, matanya melirik tajam ke arah Aruna. Namun, Aruna tetap diam, berdiri dengan bahu yang merosot seolah-olah dia adalah seorang korban yang tidak tahu apa-apa dan hanya pasrah mengikuti prosedur.
Ketakutan Adrian mencapai puncaknya. Ia tidak boleh membiarkan persidangan atau inspeksi ini terjadi hari ini. Ia butuh waktu untuk membersihkan rumahnya, menyingkirkan Valerie, dan menyusun strategi baru bersama tim pengacaranya.
"Ah... begini, Pak Bramantyo," Adrian tiba-tiba memegang dahinya, berpura-pura memeriksa jam tangannya dengan wajah panik yang dibuat-buat. "Saya baru ingat, sekretaris saya baru saja mengirim pesan bahwa ada rapat darurat dengan investor dari Singapura yang tidak bisa ditunda di kantor. Sangat krusial bagi kelangsungan perusahaan. Bagaimana kalau proses pembatalan dan pertemuan ini kita tunda dulu? Aruna, ayo kita pulang sekarang."
Adrian menarik lengan Aruna, berniat membawa istrinya kembali ke mobil secepat mungkin. Namun, sebelum Aruna melangkah, tangan tegap rekan Bramantyo langsung memegang pundak Adrian dengan tegas, sementara Bramantyo berdiri di depan Aruna.
"Maaf, Pak Adrian. Anda silakan pergi ke kantor untuk urusan bisnis Anda," ujar Bramantyo dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Namun, Ibu Aruna tidak akan ikut pulang bersama Anda sekarang. Biarkan Ibu Aruna pulang bersama kami dengan kendaraan dinas Komnas HAM setelah kami mengurus beberapa berkas pratinjau di dalam. Ini adalah prosedur standar untuk memastikan keamanan fisik dan mental korban dari segala bentuk tekanan luar."
Adrian menatap tangan petugas yang memegang pundaknya, lalu menatap Aruna yang memberikan anggukan lemah kepada petugas Komnas HAM tersebut—sebuah konfirmasi bisu bahwa wanita itu memilih berlindung di balik lembaga negara daripada ikut bersamanya.
"Sial... kenapa bisa begini?!" gerutu Adrian dalam hati. Ia terpaksa melepaskan cengkeramannya pada Aruna, memaksakan diri mengangguk sopan kepada para petugas, lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan lobi pengadilan dengan langkah kaki yang limbung akibat kepanikan yang mendalam.
Begitu sampai di dalam mobil sedannya, Adrian langsung membanting pintu dengan keras. Ia mencengkeram kemudi dengan tangan yang gemetar hebat, napasnya memburu bagai orang yang dikejar setan. Tanpa membuang waktu, ia mengambil ponselnya dan mendial nomor Valerie.
Panggilan diangkat pada dering kedua. "Halo, Adrian Sayang? Bagaimana? Apakah berkas pembatalannya sudah beres—"
"Rencana pembatalan gagal total, Valerie!" potong Adrian dengan setengah berteriak, suaranya melengking karena frustrasi.
Di seberang telepon, Valerie yang sedang duduk di kafe mewah langsung menegakkan punggungnya, matanya menyipit penuh intrik. "Gagal? Bagaimana bisa gagal? Bukankah wanita mandul itu sudah setuju untuk patuh?"
"Rupanya Aruna sudah menghubungi Komnas HAM diam-diam selama ini! Mereka sudah menunggu di pengadilan!" seru Adrian sambil memijat pelipisnya yang berdenyut menyakitkan. "Mereka tahu tentang intimidasi di rumah. Mereka bahkan mengancam akan melakukan inspeksi resmi ke rumah kita untuk memastikan Aruna aman! Sekarang Aruna ditahan oleh mereka untuk sementara!"
Valerie tertegun. Otak manipulatifnya langsung berputar cepat. Rencana suaminya di luar sana untuk mengeksekusi akuisisi perusahaan Adiwangsa melalui dokumen mahar bisa berantakan jika Adrian justru tersangkut kasus hukum dan diawasi oleh lembaga negara. Valerie harus berpura-pura panik demi menjaga kepercayaan Adrian.
"Ya Tuhan... Lalu... bagaimana dengan hubungan kita, Mas?" tanya Valerie dengan suara yang dibuat bergetar, seolah-olah dia adalah wanita yang sangat ketakutan akan kehilangan masa depannya. "Kalau mereka sampai menginvestigasi rumah dan menemukan barang-barangku di sana, aku bisa dituduh sebagai penyebab kekerasan psikologis pada Aruna! Aku bisa ikut terseret!"
"Maka dari itu, dengarkan aku baik-baik, Valerie," perintah Adrian dengan nada mendesak. "Kamu jangan dulu datang ke rumah untuk beberapa hari ini. Ambil semua barang pribadimu yang ada di kamar utama, kosongkan semuanya. Mulai nanti sore, biarkan Aruna tidur kembali ke ranjang utama... ke kamar lamanya."
"Apa?! Kamu menyuruhku pergi dan membiarkan wanita dekil itu kembali ke kamar utama?" Valerie memprotes, kali ini rasa kesalnya bukan akting karena dia tidak sudi posisinya digeser kembali.
"Ini hanya sementara, Valerie! Tolong mengertilah!" bentak Adrian, kehilangan kesabarannya. "Aku takut mereka akan membuat berita heboh di media. Kita tidak akan bisa melawan mereka jika opini publik sudah berbalik. Komnas HAM punya massa dan kepercayaan publik yang besar. Sekali nama Adiwangsa Logistik tercoreng sebagai perusahaan perusak hak perempuan, saham kita akan anjlok dan proses pengalihan saham untuk maharmu nanti bisa diblokir oleh otoritas hukum! Kita harus bermain cantik!"
Mendengar kata "pengalihan saham" yang terancam gagal, Valerie langsung meredam amarahnya. "Baik... jika memang harus begitu demi kebaikan perusahaan kita, aku akan mengalah, Mas. Aku akan mengosongkan kamar sekarang juga."
Adrian menutup telepon, lalu menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Mobilnya melesat membelah jalanan kota menuju kediamannya. Pikiran Adrian dipenuhi dilema yang luar biasa: di satu sisi dia sangat membenci Aruna, namun di sisi lain dia terpaksa harus memperlakukan wanita itu seperti seorang ratu demi menyelamatkan lehernya sendiri dari jerat hukum.
Sesampainya di rumah, Adrian langsung berlari masuk ke dalam. Ia mengabaikan salam dari beberapa pelayan dan langsung menuju kamar utama. Dengan gerakan panik, ia mulai merapikan pakaian-pakaian Valerie yang tersisa, memasukkannya ke dalam koper, dan memindahkan kembali barang-barang pribadi Aruna yang sempat didepak ke gudang.
Nyonya Adiwangsa yang baru saja turun dari lantai dua berjalan dengan kening berkerut dalam melihat putranya yang tampak berkeringat dan sibuk mondar-mandir mengangkat sprei.
"Kenapa kamu, Adrian?" tanya Nyonya Adiwangsa dengan suara melengking kebingungan. "Tumben-tumbenan kamu pulang jam segini dan sibuk beres-beres kamar? Biar si jelata Aruna itu saja yang membereskannya nanti kalau dia sudah pulang dari pengadilan!"
"Gak bisa, Bu! Jangan sebut dia jelata lagi!" bentak Adrian tanpa menghentikan gerakannya menyeka debu di meja rias. "Sebentar lagi akan ada tamu yang sangat penting datang ke rumah ini!"
Nyonya Adiwangsa mendengus, melipat tangannya di dada dengan angkuh. "Tamu penting? Siapa? Investor dari Singapura? Lalu si pembantu dekil itu sekarang ke mana? Kenapa dia belum pulang untuk memasak makan siang?"
Adrian menghentikan gerakannya. Ia membalikkan tubuh, menatap ibunya dengan wajah yang sangat tegang dan mata yang melebar penuh kepanikan. "Tamu penting itu dari Komnas HAM, Bu! Sekarang mereka sedang menuju ke sini, mengawal Aruna pulang!"
"Apa?! Komnas... Komnas HAM?!" Nyonya Adiwangsa memekik, wajah tuanya seketika kehilangan warna kulitnya. Ingatan tentang kejadian kemarin sore saat ia berpura-pura jatuh setelah menyiramkan kuah soto langsung terbayang di otaknya, memberikan rasa ngeri yang nyata. "Kok bisa mereka ikut campur urusan rumah tangga kita?!"
"Sudah, Ibu jangan banyak tanya lagi sekarang!" potong Adrian, suaranya bergetar menahan frustrasi. "Mulai detik ini, begitu Aruna menginjakkan kaki di rumah ini bersama petugas itu, Ibu jangan sekali-kali membentaknya, jangan membuat dia marah, dan jangan menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang berat! Kita harus bersikap seolah-olah kita sangat menyayangi dan menghormatinya sebagai menantu di rumah ini! Jika tidak, kita berdua bisa masuk penjara!"
Nyonya Adiwangsa meremas pegangan tangga dengan tangan gemetar, hatinya dipenuhi perpaduan antara rasa takut yang mencekam dan kebencian yang mendalam. "Dasar... perempuan dekil kurang ajar! Rupanya dia diam-diam menusuk kita dari belakang!" maki wanita tua itu dengan suara tertahan.
Ting tong... Ting tong...
Suara bel gerbang depan berbunyi nyaring, memotong perdebatan mereka dan menggandakan ketegangan di dalam ruangan yang luas itu.
Adrian menelan ludahnya dengan susah payah, merapikan kembali pakaiannya yang sedikit kusut akibat beres-beres, lalu melirik ke arah ibunya dengan tatapan penuh peringatan.
"Itu mereka, Bu... Jaga mulut Ibu, sandiwara kita dimulai sekarang," bisik Adrian dengan suara tercekat di tenggorokan, bersiap membuka pintu untuk menyambut wanita yang selama lima tahun ini mereka injak-injak, namun kini kembali sebagai sosok yang memegang kendali atas hidup dan matinya dinasti Adiwangsa.