Sebuah kecelakaan mengubah hidup Nara Anindya selamanya. Saat membuka mata, dia terbangun di tubuh Bianca Ardhana, istri CEO tempatnya bekerja, sementara tubuhnya sendiri telah dimakamkan. Di balik rumah tangga yang tampak sempurna, tersimpan pengkhianatan, ancaman, dan rahasia yang belum terungkap. Mampukah Nara mengembalikan kebahagiaan keluarga itu tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Jangan lupa like dan votenya ya. terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Terakhir Bianca
Nara menatap layar laptop tanpa berkedip. Tulisan itu masih terpampang jelas di sana.
"Kalau kau sedang melihat video ini, berarti Damian sudah mulai mencari mu."
Tangannya perlahan menggerakkan kursor itu. Dengan nafas yang tertahan, dia akhirnya menekan tombol putar.
Beberapa detik pertama, layar hanya menampilkan gambar yang bergoyang. Lalu perlahan muncul sosok seorang wanita.
Itu Bianca. Wajahnya tampak pucat. Matanya sembab seperti habis menangis. wanita itu mengenakan switer abu-abu sederhana, jauh berbeda dari penampilannya yang selalu elegan di depan publik.
Bianca menarik napas panjang sebelum mulai berbicara. "Aku tidak tahu siapa yang sedang menonton video ini. Mungkin Elvano ataupun polisi."
Ada jeda sesaat.
"Atau mungkin seseorang yang bahkan tidak pernah kukenal."
Nara menggigit bibirnya. Jantungnya berdetak tidak karuan. Ada firasat aneh di dalam hatinya. Seolah video ini memang ditujukan untuknya.
"Kalau aku sudah tidak bisa lagi menjelaskan semuanya, tolong jangan salahkan Elvano."
Air mata Bianca kembali jatuh.
"Dia memang terlihat dingin. Tapi dia selalu menjadi ayah yang baik." wanita itu tersenyum miris. Matanya terlihat sayu. Seolah memang dia sudah lelah untuk melanjutkan hidupnya.
"Yang gagal adalah aku." sambung wanita itu yang membuat Nara menggeleng pelan.
"Tidak. Kamu juga korban." gumamnya lirih, dia tidak setuju dengan ucapan Bianca. Wanita itu tidak gagal, mungkin caranya saja yang salah.
Sayangnya Bianca di dalam video tentu tidak bisa mendengarnya.
"Aku terlalu takut meminta bantuan. Aku pikir aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Nyatanya, aku justru menghancurkan keluargaku." ucap Bianca yang terdengar sangat menyedihkan. Wanita itu menunduk dalam lalu menyeka air matanya dengan tangan. Wanita itu kembali menatap ke depan.
Video berhenti beberapa detik. Kemudian Bianca kembali berbicara. Kali ini suaranya jauh lebih pelan.
"Kalau suatu hari nanti ada seseorang yang bisa membuat Elvano tersenyum lagi, jangan biarkan dia pergi."
Nara membeku. Kalimat itu terasa begitu mengusik hatinya.
Apa Bianca. Sudah mengetahui sesuatu? Atau hanya berharap suaminya bisa bahagia lagi?. Dia bingung dengan kalimat terakhir wanita itu.
Tok... tok...
Ketukan di pintu membuat Nara buru-buru menutup laptop.
"Masuk." ucapnya sambil mengatur nafasnya. Dia mencoba bersikap seperti biasa.
Klek...
Elvano membuka pintu kamar. "Kamu belum tidur?" tanya pria itu heran saat mendapati istrinya yang belum tidur.
Nara menggeleng. "Tidak bisa tidur." ucapnya jujur. Karena rasa penasarannya, dia melewatkan jam tidurnya m
Elvano memperhatikan wajah istrinya, mata Bianca terlihat sembab. "Kamu menangis?" tanyanya memastikan.
Refleks Nara mengusap sudut matanya. "Mungkin terlalu capek."
Elvano tidak bertanya lagi. Seperti biasa, dia meletakkan segelas susu hangat untuk wanita itu di atas meja.
"Di minum ya."
"Terima kasih."
Saat Elvano hendak keluar, Nara tanpa sadar memanggilnya.
"Pak, eh maksudnya Elvano."
Pria itu berhenti. "Iya?"
Nara ragu beberapa saat. "Em tidak jadi." ucapnya plin plan
Elvano tersenyum tipis. "Kalau kamu mau bercerita, aku akan mendengarkan."
Nara terdiam. "Mungkin lain kali." ucapnya sambil memainkan jemarinya.
Elvano mengangguk, dia segera keluar dari kamar itu. Ah iya, mereka sejak awal memang tidak tidur satu kamar karena Bianca meminta agar mereka punya kamar sendiri sendiri.
Nara menatap gelas susu itu cukup lama. Hatinya semakin dipenuhi rasa bersalah. Elvano terlalu baik. Dan anehnya, Bianca malah tidak mau jujur pada suaminya.
....
Keesokan paginya...
Nara mengantar Elora bermain di taman belakang. Balita itu sibuk mengejar kupu-kupu.
Sementara Nara duduk di bangku taman sambil memikirkan isi video Bianca.
"Mama!" Elora berlari ke arahnya sambil membawa bunga kecil.
"Lihat." anak itu menunjukan sebuah bunga yang baru saja dia petik.
"Cantik." pujinya. Nara menerima bunga itu dengan antusias.
"Terima kasih."
"Mama jangan sedih." ujar Elora yang seakan tahu jika mama nya sedang banyak pikiran.
Nara terkejut. "Memangnya Mama sedih?" tanyanya sedikit gugup.
Elora mengangguk. "Mama memang senyum, tapi mata mama terlihat sedih, Elora tidak suka." ucap anak itu.
Ucapan polos itu membuat mata Nara kembali berkaca-kaca. Dia langsung memeluk Elora erat. "Maaf membuat Elora khawatir. Mama hanya sedang banyak berpikir."
Elora mengusap pipi Nara dengan tangan mungilnya. "Kalau mama sedih, mama bisa peluk Elora." ucapnya polos.
Nara tertawa pelan di sela air matanya. "Iya, mama akan peluk Elora terus." ucapnya sambil tersenyum.
Elora ikut tersenyum lalu mencium pipi mama nya sayang. Satu tindakan kecil itu membuat perasaan Nara menghangat. Dia bersyukur karena hadirnya Elora membuatnya menjadi lebih tenang.
.....
Di kantor Ardhana Group. Raka masuk ke ruang kerja CEO membawa sebuah map.
"Pak. Ada yang ingin bertemu Bapak."
"Siapa?" tanya Elvano tanpa melepaskan tatapannya pada layar laptopnya.
"Bu Siska." Elvano sedikit mengernyit.
"Suruh dia masuk."
Tidak lama kemudian, Siska melangkah masuk. Wanita itu tidak banyak berbasa-basi.
"Aku hanya ingin bertanya satu hal." ucap Siska tanpa basa-basi.
"Apa itu?" tanya Elvano yang membuat Siska menatap nya dengan serius.
"Menurutmu, apa Bianca benar-benar masih menjadi Bianca?" Ruangan itu mendadak sunyi.
Elvano menatap Siska tanpa berkedip. Pertanyaan macam apa itu?.
"Apa maksudmu?" jujur dia tidak paham dengan kalimat terakhir Siska.
Siska menghela napas pelan. "Aku sedang menyelidiki kecelakaan itu. Dan semakin banyak hal yang terasa janggal. Aku memang belum punya bukti. Tapi firasatku mengatakan jika wanita yang sekarang tinggal bersamamu bukan Bianca yang dulu."
Elvano terdiam cukup lama. Lalu perlahan ia menjawab.
"Kalau yang kamu maksud adalah perubahan sikapnya, aku juga menyadarinya, tapi jika kau mengatakan istriku sekarang bukan Bianca itu yang tidak masuk akal, karena aku langsung menemuinya saat dia di bawa ke rumah sakit."
Siska terdiam. Untuk yang satu itu dia belum menemukan jawabannya. "Jika wanita itu bukanlah Bianca, apa yang akan kau lakukan?" terdengar tidak masuk akal, tapi hal itu tentunya bisa saja terjadi kan.
Elvano berdiri dari kursinya. "Aku tidak peduli."
Siska membelalak.
"Selama wanita itu menyayangi Elora, dan tidak berniat menyakiti kami. Aku tidak ingin mengusik hidupnya." Elvano tidak bisa mengiyakan ucapan Siska karena itu terdengar tidak masuk akal. Meskipun hatinya mulai gusar. Karena perubahan Bianca terlalu berbeda, wanita itu memang bertingkah seperti bukan istrinya.
Jawaban itu membuat Siska benar-benar terdiam. Dia tidak menyangka. Elvano memilih melihat siapa Bianca saat ini, bukan siapa Bianca di masa lalu.
Namun di balik pintu ruang CEO, tanpa disadari oleh mereka berdua. Seseorang baru saja berdiri beberapa detik.
Damian.
Dia tersenyum tipis sebelum berbalik meninggalkan kantor milik Elvano.
"Menarik. Kalau begitu sudah waktunya permainan ini memasuki babak berikutnya."