Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 3 Awal Pertemuan Dengan Gadis Pembawa Takdir|
...|Legacy of Soryu|...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Sementara diluar gadis muda itu tidak menyadari kalau Bara mendekatinya sampai sebuah suara membuatnya tersentak.
"Hei, kamu."
Ia membalikkan tubuhnya lalu mundur selangkah. Di hadapannya berdiri seorang pria tinggi berjas hitam. Sayangnya wajahnya terlalu tampan untuk ekspresi seseorang sejudes itu.
"Ke mana keluargamu?" tanyanya langsung.
Gadis itu mengerjap. "S-saya... saya tersesat, Om. Tadi bilang ke Mama mau ke toilet, tapi saya lihat toko aksesoris lalu saya—" suaranya patah di tengah kalimat. Ia menelan ludahnya.
"Ponsel saya juga ketinggalan di mobil. Saya tidak tahu harus—"
"Ayo ikut."
Gadis itu tidak bergerak. "...Ke mana?"
"Makan dulu." Katanya tanpa menoleh ke arah gadis itu, Bara sudah berjalan kembali ke dalam gerai. "Tidak ada gunanya mencari siapa pun dalam kondisi seperti ini."
Gadis itu ragu sejenak, sekitar dua detik. Karena bingung dan takut, ia akhirnya menurut mengikuti pria asing didepannya.
...***...
Di dalam, Davian sudah menyambut mereka di meja dengan ekspresi seseorang yang baru saja menunggu majikannya menjemput seorang gadis yang tersesat di mall.
"Nah," katanya, melihat gadis itu masuk di belakang Bara. "Jadi ini yang bikin Wakadannaku sampai meninggalkan makanan panasnya?"
"Pergi ke pusat informasi," kata Bara tanpa menoleh. "Laporkan kepada petugas di sana kalau ada orang hilang."
"Sekarang banget nih?"
"Sekarang."
Davian melirik piringnya yang masih setengah penuh. "Tapi makanan saya—"
"Nanti dihangatkan."
"Tapi pangsitnya sudah—"
"Davian."
Davian menghela napas panjang. Dia meletakkan sumpitnya dengan pasrah dan menatap langit-langit sebentar, seperti meminta kekuatan kepada sang pencipta.
"Baik, Wakadanna." Dia menoleh ke gadis itu. "Nama kamu siapa, Neng?"
"Nabhila Hera Adama," kata gadis itu pelan. "Tapi biasanya dipanggil Nana."
"Nana. Nama orang tuamu?"
Nana menyebutkan nama kedua orang tuanya dan Davian mengetiknya cepat di ponselnya.
"Oke." Davian menaikkan kacamatanya. "Nanti diumumkan lewat pengeras suara. Kamu duduk dulu, ya. Makan kalau mau." Dia menoleh ke Bara. "Aku pergi dulu, Wakadanna. Tolong jangan biarkan pangsit saya dimakan."
"Tidak ada yang akan memakan pangsitmu."
"Saya cuma bilang jangan sampai!"
"Pergi, Davian."
Davian menghilang keluar dengan langkah yang sedikit terlalu cepat untuk orang yang baru saja dipaksa meninggalkan makan sorenya.
...***...
Bara kembali duduk di tempatnya, lalu mendorong piring pangsit miliknya ke sisi meja-tepat ke arah Nana yang kini sudah duduk di kursi seberang. Gadis itu tampak malu-malu dan melipat kedua tangannya di pangkuannya, sementara kepalanya menunduk.
"Makan."
Nana mengangkat kepala. "Tapi ini kan punya Om tadi."
"Bukan punya dia, ini punya saya belum saya makan sama sekali. Kamu makan saja."
Nana meraih sumpit dengan tangannya. Dia mengambil satu pangsit, mulai menggigitnya kecil-kecil.
"Terima kasih," bisiknya.
Bara tidak menjawab. Dia melanjutkan makan bakmi-nya.
Untuk beberapa menit, hanya ada suara sendok, sumpit, dan percakapan samar dari arah meja lain.
Nana makan dengan perlahan. Matanya sesekali melirik ke arah pria di hadapannya, lalu cepat-cepat turun ke piring lagi setiap kali mereka hampir bertatap mata.
"Nama Bapak siapa?" tanyanya akhirnya, dengan suara yang sedikit lebih stabil.
"Bukan Bapak."
Nana mengedipkan mata. "Eh?"
"Aku masih dua puluh tiga tahun."
"O-oh." Wajah Nana sedikit memerah. "Maaf. Aku kira—"
"Bara."
Nana mengerjap. "Iya?"
"Maksudnya namaku. Bara."
"Oh!" Nana mengangguk cepat. "Bara. Oke. Makasih ya, Bara..." Dia berhenti dan refleks menurut mulutnya. "Eh, boleh panggil nama langsung emangnya?"
"Terserah."
Nana mempertimbangkan ini. "Om Bara?"
"Hmm."
"Itu 'hmm' boleh atau tidak boleh?"
Bara tidak menjawab.
"Aku anggap boleh ya!"
Bara hanya menghela napas, tak ingin menjawab pertanyaan konyol dari gadis aneh didepanya.
...***...
Davian kembali dua belas menit kemudian. Wajahnya masih menyiratkan trauma ringan dari perjalanan ke pusat informasi yang ternyata ada di ujung lantai dasar.
Begitu sampai, hal pertama yang dia lirik adalah piringnya.
"Fiuh...syukurlah masih ada," gumamnya, ia kembali duduk dan memanggil pelayan untuk menghangatkan makanannya.
"Sudah beres?" tanya Bara.
"Sudah, Wakadanna. Lima sampai sepuluh menit seharusnya sih diumumkan." Davian menoleh ke Nana. "Orang tua kamu punya nomor telepon yang aktif?"
"Ada, tapi..."
"Tapi kamu tidak tahu nomornya di luar kepala?" potong Bara.
Nana menunduk sedikit. "Aku biasanya tinggal klik dari kontak..."
Davian melirik Bara dengan ekspresi 'lihat ini'. Sementara Bara menyesap tehnya tanpa ekspresi.
"Generasi sekarang," kata Davian, tidak ke siapa-siapa.
"Memang," balas Bara datar.
Nana mendongak. "Om Bara emangnya juga hafal nomor telepon keluarga?"
"Cuma empat nomor."
"Wah." Nana sedikit terkesan. "Nomor siapa saja?"
"Nomor kedua Adik tiriku, Ibuku, dan nomor Davian."
Davian tersipu. "Wah, Wakadanna bisa romantis juga ya?"
"Apa maksudmu?" ujar Bara sambil melirik sinis ke Davian.
Davian langsung mengangkat kedua tangan. "Saya tidak mengatakan apa-apa, Wakadanna."
"Kalau bukan karena kau terlalu sering meneleponku, aku juga tidak akan hafal nomormu, sialan."
Davian berdeham pelan. "Itu karena pekerjaan, Wakadanna. Saya hanya menjalankan tugas."
"Jam dua pagi termasuk tugas? Apa kau waras?"
Davian terdiam beberapa detik sambil menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal.
"Situasi darurat kadang tidak mengenal waktu, Wakadanna."
Nana menahan tawa kecil melihat ekspresi kesal Bara. "Tapi serius," lanjut Nana polos, "Om Bara nggak punya pacar emangnya?"
Suasana mendadak hening sesaat.
Davian langsung menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan senyumnya.
Bara menyipitkan mata ke arah Nana. "Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"
"Soalnya Om hafal nomor orang-orang penting, tapi nggak ada tuh nomor pacar, Om." Nana memiringkan kepala penasaran. "Aneh aja sih menurutku."
"Itu tidak aneh."
"Berarti emang nggak punya pacar ya?"
Bara menghela napas pendek. "Tidak."
Nana tampak benar-benar kaget. "Seriusan? Padahal Om Bara ganteng loh."
Davian kali ini gagal menahan senyum. "Saya juga cukup terkejut waktu mendengarnya pertama kali."
Bara melirik tajam. "Davian."
"Saya diam, Wakadanna ampuni saya."
Suasana di meja itu perlahan menghangat. Bara kembali menyesap tehnya dengan tenang, sementara Nana beberapa kali tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia mengurungkannya.
Keheningan pun kembali menggantung di antara mereka. Bukan hening yang terasa nyaman, melainkan canggung—karena ketiganya sama-sama diam tanpa tahu harus memulai dari mana.
Davian yang akhirnya menyelamatkan situasi yang hampir terasa canggung itu. "Jadi, Nana," katanya, sambil menunggu makanannya kembali.
"Kamu sendirian tadi? Tidak ada teman, saudara gitu?"
"Ada kok! Kakakku. Tapi dia pergi ke toko lain duluan." Nana memainkan ujung tasnya.
"Kakakku namanya Shu Hades. Dia yang paling panik kalau aku hilang, biasanya."
"Kakak kamu juga di sini?" tanya Davian.
"Iya, tapi kami pisah dari tadi. Kami memang sering pisah waktu jalan di mall, Om Bara bilang—" Nana berhenti. Pipinya memerah. "M-maksudnya kakak saya yang bilang, bukan Om Bara."
Davian menahan tawa dengan senyuman.
"Nama lengkap kamu siapa, Nana? Tadi aku lupa." tanya Davian lagi.
"Nabhila Hera Adama."
Davian tidak langsung menjawab.
Bara yang sedang menyesap teh juga ikut berhenti sebentar karena terkejut. Begitu mendengar nama itu tangannya langsung meletakkan gelas diatas meja.
"Adama?" kata Davian.
Nana mengangguk.
Davian melirik Bara dengan satu tatapan singkat. Bara menatap balik dengan tatapan datar, tapi matanya sedikit bergerak seolah memahami maksud dari tatapan Davian.
"Adama Group?" tanya Davian ke Nana.
Nana mengerjap. "Emm... iya? Tapi bukan saya yang urus. Tapi papa yang urus."
Davian menghela napas kecil yang terdengar seperti 'oh, tentu saja'. Dia membuka tab di tabletnya, mengetik sesuatu di sana, lalu memutar layar sedikit ke arah Bara.
Bara melihat layar itu sekilas. Dalam artikel itu terdapat informasi tentang keluarga Adama, Adama Group retail dan grosir terintegrasi. Memiliki tiga puluh dua cabang utama yang tersebar di seluruh Indonesia. Salah satu distributor utama untuk lima provinsi di Indonesia. Menjadi salah satu jaringan distribusi terbesar di kota Jakarta.
Bara menatap gadis yang ada di depannya dengan tatapan yang sulit dibaca.
Gadis itu sedang minum air putih yang tadi diambilkan oleh pelayan. Pipinya sedikit mengembang karena mencoba meneguknya. Bahkan aksesoris di kepalanya sampai sedikit miring ke kiri.
"Kamu tahu Adama Group seberapa besar?" tanya Davian ke Nana, dengan nada yang berusaha terdengar santai.
Nana memiringkan kepala. "Besar sih. Tapi aku tidak terlalu ikut-ikutan urusan bisnis. Papa yang pegang semua."
"Dan kamu tersesat di mall?" Davian tidak bisa menahan dirinya.
Nana menunduk. "Iya..."
"Padahal di mall ini juga ada beberapa gerai milik—"
"Davian," potong Bara.
Davian langsung menunduk dan menutup mulutnya.
Bara menatap Nana sebentar. "Sudah pernah ke mall ini sebelumnya?"
"Belum pernah yang sebesar ini sih. Biasanya aku ke mall yang lebih kecil di dekat rumah." Nana mengangkat bahu kecil. "Orang tua aku agak... protektif. Jadi aku jarang pergi jauh-jauh sendirian."
"Dan hari ini?"
"Mama yang ngajakin." Nana tersenyum tipis. "Katanya mau dibeliin aku tas baru. Tapi malah aku yang hilang duluan sebelum sampai tokonya."
Davian terkikik kecil di balik kacamatanya.
Bara menatap asistennya dengan satu tatapan datar.
Davian langsung menghentikan tawanya. "Bukan menertawakan, Nona muda. Aku cuma... ya gitu, hehehe."
Nana justru ikut tersenyum tipis. "Gak apa-apa. Aku juga sadar ini konyol."
"Sangat konyol," konfirmasi Bara.
Nana menoleh ke Bara. "...Om tidak harus setuju sekencang itu juga."
"Aku hanya menjawab jujur."
"Iya tapi..."
"Kamu yang bilang konyol duluan tadi."
"Tapi beda kalau aku yang bilang sama kalau orang lain yang bilang!"
"Berarti kamu tidak konsisten."
Nana membuka mulutnya. Ingin sekali membantah tapi tak jadi.
Davian menghela napas. "Wakadanna, itu gadis yang baru setengah jam lalu tersesat sendirian di mall."
"Sekarang sudah tidak tersesat."
"Itu bukan—" Davian menghentikan dirinya sendiri. Dia menoleh ke Nana. "Maafkan atasanku. Dia bicara apa adanya, filter mulutnya kemungkinan sudah rusak sejak lahir."
"Filter mulutku tidak rusak," bantah Bara datar.
"Masa, sih?" goda Davian sambil mengangkat kedua alisnya. "Menurut saya, filter Anda itu bukan rusak lagi. Malahan sudah hilang sejak lahir."
"Aku hanya tidak suka mengatakan hal-hal yang tidak relevan, Davian."
"Tetapi Anda sering mengatakan hal-hal yang bisa melukai perasaan orang lain!"
"Itu dua hal yang berbeda."
"Bedanya di mana, Wakadanna?"
"Yang satu jujur. Sementara yang satunya lagi basa-basi."
Davian langsung memijat pelipis. "Lihat? Ini yang saya maksud."
Nana menatap mereka bergantian seperti sedang menonton pertandingan tenis meja.
"Kalian memang selalu kayak gini?" tanyanya pelan.
"Sayangnya, iya," jawab Davian lesu.
"Ini normal," ujar Bara bersamaan.
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉