NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Malam perjamuan berdarah itu berlalu, meninggalkan luka yang tak kasat mata di dalam dada Millyanita. Di dalam mobil sport hitam milik Arkan yang membelah jalanan ibu kota yang sepi, Milly hanya diam menatap keluar jendela. Genggaman tangan Arkan di jemarinya terasa begitu hangat, namun pikiran Milly justru melayang ke tempat yang sangat dingin.

“Kontrak pernikahan bawah tangan kalian... aku sudah tahu semuanya. Begitu proyek Mahendra selesai, Arkan akan membuangmu kembali ke tempat sampahmu di panti asuhan itu.”

Kalimat Clarissa malam itu terus berputar seperti kaset rusak di kepala Milly. Benar, Arkan memang membelanya habis-habisan. Arkan bahkan memutus hubungan bisnis dengan keluarga Gunarto demi dirinya. Namun, logika sederhana Milly yang biasanya lambat berpikir, kali ini bekerja dengan sangat jernih. Semua kemarahan Arkan malam itu adalah tentang harga diri. Sebagai seorang Mahendra, Arkan tidak akan membiarkan miliknya diinjak-injak orang lain.

Tapi milik tetaplah milik yang terikat kontrak. Suatu hari, kontrak itu akan selesai.

Daripada aku harus menunggu hari di mana aku dibuang dan diseret kembali ke panti dengan status janda yang menyedihkan, bukankah lebih baik aku yang melangkah mundur duluan? batin Milly pahit. Tangannya yang bebas perlahan meraba cincin pernikahan di jari manisnya. Keputusan itu mulai mengkristal di dalam hatinya ia harus pergi, kembali ke kehidupannya yang tenang bersama anak-anak panti sebelum ia kehilangan seluruh hatinya untuk pria dingin di sampingnya ini.

Sejak malam itu, atmosfer di dalam mansion pribadi Arkan berubah total. Perubahan yang paling mencolok ada pada diri Arkananta Mahendra. Ketakutan akan hampir kehilangan Milly di mansion utama malam itu memicu insting protektif dan posesifnya ke tingkat yang ekstrem sesuatu yang bahkan tidak disadari oleh Arkan sendiri.

"Mulai hari ini, jadwal keluarmu harus dilaporkan langsung ke ponselku, Milly," ucap Arkan pagi itu di meja makan, suaranya terdengar mutlak sembari memotong omeletnya dengan presisi tinggi. "Dua pengawal pribadi dari tim elit Bara akan mengikutimu ke mana pun, termasuk saat kamu pergi ke pasar swalayan."

Milly yang sedang mengunyah rotinya tersedak kecil. "Pak Suami, itu terlalu berlebihan. Saya cuma mau beli popok dan susu untuk anak-anak panti, bukan mau transaksi pasar gelap."

"Tidak ada bantahan, Nyonya Mahendra," potong Arkan, matanya menatap Milly dengan binar tajam yang mengunci pergerakan wanita itu. "Siapa pun yang berani membuatmu menangis lagi, harus berhadapan dengan hukumanku dulu. Dan itu artinya, aku harus tahu setiap jengkal pergerakanmu."

Milly hanya bisa mengangguk pasrah dengan senyum kaku. Di luar, Arkan tampak seperti suami siaga yang teramat mencintai istrinya. Namun bagi Milly, perhatian yang berlebihan ini perlahan terasa seperti jeruji emas yang siap mengurungnya. Arkan semakin posesif, memeluknya lebih erat setiap malam, dan menatapnya seolah Milly bisa menghilang kapan saja. Dan ironisnya, ketakutan Arkan justru mempercepat rencana yang sedang disusun Milly di balik punggungnya.

Milly tahu, melarikan diri dari seorang Arkananta Mahendra adalah hal yang mustahil jika dilakukan dengan cara amatir. Pria itu memiliki mata dan telinga di seluruh penjuru kota. Oleh karena itu, Milly mulai memanfaatkan celah dari sifat asli dirinya yang terkenal ceroboh dan loading lama.

Di depan Arkan, Milly tetap menjadi istri yang penurut, sesekali bertingkah tulalit yang membuat suaminya itu gemas dan tertawa rendah. Namun di balik itu, otaknya yang terbiasa memutar otak demi kelangsungan hidup panti asuhan mulai bekerja secara taktis di bawah radar.

Setiap kali ia meminta izin mengunjungi panti asuhan dengan pengawalan ketat, Milly diam-diam mulai memindahkan barang-barang pribadinya yang paling penting bukan perhiasan mewah dari Arkan atau baju-baju desainer mahal, melainkan dokumen asli miliknya, beberapa potong baju lamanya yang usang, dan tabungan dari sisa uang sakunya sendiri yang sengaja ia ambil tunai secara bertahap agar tidak memicu kecurigaan di laporan rekening bank Mahendra Group.

Suatu malam, saat Arkan sudah tertidur lelap di sampingnya dengan satu lengan kokoh mengunci pinggang Milly posesif, Milly perlahan membuka matanya. Ia menatap wajah tampan suaminya yang tampak begitu tenang tanpa ekspresi dinginnya yang biasa.

Milly mengulurkan tangan, jemarinya menggantung beberapa sentimeter di atas pipi Arkan, tidak berani menyentuhnya karena takut membangunkan sang singa.

"Terima kasih untuk semuanya, Pak Suami," bisik Milly teramat lirih, hampir tak terdengar di antara deru napas teratur Arkan. "Terima kasih sudah menjadi pahlawanku berkali-kali. Tapi tempatku bukan di sini. Kontrak kita akan segera berakhir, dan aku memilih untuk mengakhirinya sekarang, sebelum aku benar-benar tidak bisa pergi lagi karena terlanjur mencintaimu."

Dengan hati-hati, Milly kembali memejamkan mata, mematangkan rencana pelariannya yang akan dieksekusi tepat tiga hari lagi, saat Arkan harus menghadiri rapat pemegang saham tahunan di Singapura.

Tiga hari berlalu dalam ketegangan yang tersembunyi rapat di balik rutinitas pagi yang biasa. Milly sengaja bertingkah lebih ceroboh dari biasanya menjatuhkan sendok, salah menuangkan gula ke kopi Arkan, hingga berpura-pura kebingungan mencari kacamata bulatnya yang padahal ada di atas kepalanya. Semua itu ia lakukan demi satu tujuan memastikan Arkan mengira pikirannya masih "lambat loading" seperti biasa, sehingga sang mafia bisnis itu tidak akan mencium adanya anomali.

"Kamu yakin tidak mau ikut ke Singapura?" tanya Arkan sembari merapikan jam tangan kronografnya di depan cermin mansion, sesaat sebelum berangkat ke bandara. Sorot matanya memancarkan keengganan yang mendalam untuk meninggalkan Milly, meski hanya untuk dua hari.

Milly menggeleng cepat dengan cengiran khasnya. "Aduh, Pak Suami... naik pesawat dua jam saja bisa membuat otak saya makin blank. Lebih baik saya di rumah, menjaga mansion, atau menengok anak-anak panti. Lagipula, kan ada pengawal elit pilihan kamu yang menjaga saya."

Arkan menatap Milly lama, lalu mengembus napas pendek. Ia berjalan mendekat, menangkup wajah Milly dengan kedua tangan kokohnya, lalu mendaratkan kecupan lama yang hangat di kening istrinya. "Dua hari saja. Jangan matikan ponselmu, jangan pergi ke tempat sepi tanpa Bara atau pengawal, dan ingat... kamu adalah milikku, Milly."

"Iya, Pak Suami. Semoga rapatnya sukses," jawab Milly manis, meski di dalam hatinya ada rasa perih yang teramat sangat. Itu adalah salam perpisahan terakhirnya.

Begitu jet pribadi Arkan lepas landas menuju Singapura, mode "Gadis Panti Taktis" di dalam diri Milly langsung menyala penuh. Ia tahu ia hanya memiliki waktu beberapa jam sebelum sistem pelacak internal mansion menyadari ketidakhadirannya.

Milly meminta izin kepada pengawal elit untuk mengunjungi panti asuhan dengan alasan ingin merayakan ulang tahun salah satu adik pantinya. Sesuai instruksi Arkan, dua pengawal berbadan tegap itu mengikutinya hingga ke dalam panti. Namun, mansion Mahendra boleh saja canggih, tapi mereka tidak tahu seluk-beluk bangunan panti asuhan tua itu seperti Milly.

"Pak Pengawal, saya mau ke dapur belakang sebentar untuk memotong kue, ya. Tolong jaga pintu depan, anak-anak sering lari keluar ke jalan raya," ucap Milly polos dengan wajah tanpa dosa.

Kedua pengawal itu mengangguk patuh, berjaga ketat di area ruang tamu panti. Begitu lepas dari pandangan mereka, Milly langsung bergerak cepat tanpa suara. Di dapur belakang, sebuah tas ransel usang berisi dokumen asli dan pakaian lamanya sudah disiapkan oleh salah satu pengasuh senior yang ia percayai.

Milly tidak melarikan diri lewat pintu belakang yang biasa, karena ia tahu anak buah Arkan pasti sudah berjaga di radius luar. Sebaliknya, ia memanjat jendela kecil di area gudang yang terhubung langsung dengan lorong sempit di antara pemukiman padat penduduk jalur tikus yang mustahil dilewati oleh mobil-mobil mewah pengawal Mahendra.

Dengan air mata yang mulai merebak di pelupuk matanya, Milly melompat turun, menyampirkan ranselnya, dan berlari secepat mungkin membelah gang-gang sempit Jakarta, meninggalkan seluruh kemewahan, kontrak, dan pria dingin yang terlanjur mencuri hatinya.

Dua jam kemudian, di dalam ruang rapat eksekutif salah satu hotel bintang lima di Marina Bay, Singapura, atmosfer mendadak berubah mencekam. Rapat pemegang saham tahunan yang krusial itu baru berjalan setengah jalan saat ponsel pribadi Arkan yang diletakkan di atas meja bergetar hebat.

Arkan mengangkat ponselnya, melihat nama "Bara" di layar. Ia menggeser tombol hijau dengan dahi berkerut. "Ada apa, Bara? Aku sedang rapat."

"Presdir... Nyonya muda... Nyonya muda menghilang dari panti asuhan dua puluh menit yang lalu," suara Bara di seberang telepon bergetar hebat karena ketakutan. " Nyonya mengelabui pengawal di dapur belakang. Seluruh sinyal GPS dari ponsel dan cincin pernikahan yang nyonya tinggalkan di meja panti... mati total."

BRAK!

Arkan berdiri dengan sentakan yang begitu keras hingga kursi kerjanya terlempar ke belakang, menghantam dinding kaca ruang rapat. Seluruh jajaran direksi internasional dan pemegang saham seketika membeku, wajah mereka pucat pasi melihat transformasi instan sang CEO muda yang mendadak mengeluarkan aura membunuh yang teramat pekat.

Napas Arkan memburu, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol tebal. Matanya berkilat merah, memancarkan kemarahan murni yang sanggup meruntuhkan mansion Mahendra dalam sekejap. Milly-nya... gadis ceroboh yang ia sangka tidak tahu apa-apa, ternyata telah merencanakan pelarian ini dengan sangat rapi tepat di balik punggungnya.

"Batalkan rapatnya. Siapkan jet pribadi sekarang juga," perintah Arkan dengan suara rendah yang bergetar menahan amarah yang meledak-ledak kepada Benny.

Arkan mencengkeram ponselnya begitu erat hingga layarnya retak. 'Kamu pikir kamu bisa lari dariku, Milly?'batin Arkan dengan kegelapan yang mendominasi seluruh akal sehatnya. 'Bahkan jika aku harus membalikkan seluruh isi negara ini, aku akan menyeretmu kembali ke pelukanku. Dan kali ini... aku tidak akan membiarkanmu melihat pintu luar lagi.'

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!