"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."
Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.
Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Kepulangan Tengah Malam
Deru mesin Mercedes-Benz Maybach itu terdengar sangat halus saat memasuki pelataran parkir privat lantai dasar Pradipta Tower tempat penthouse Arka berada. Jam digital di dasbor mobil menunjukkan pukul sebelas malam lewat empat puluh lima menit. Perjalanan kembali dari Megamendung memakan waktu lebih lama karena kabut tebal yang sempat turun di jalur puncak.
Ayana turun dari mobil setelah salah satu pengawal membukakan pintu. Tubuhnya terasa cukup lelah, namun pikirannya masih sangat aktif, terus berputar memikirkan bobot dokumen otoritas medis yang kini resmi berada di dalam tas jinjingnya.
"Terima kasih atas antarannya," ucap Ayana ramah kepada tim pengaman Hermawan sebelum melangkah masuk menuju lift privat yang akan membawanya langsung ke lantai teratas.
Begitu pintu lift terbuka di dalam penthouse, suasana sunyi langsung menyambutnya. Namun, berbeda dari malam-malam biasanya di mana ruangan itu cenderung gelap gulita, malam ini seluruh lampu di ruang tengah menyala dengan terang benderang.
Dan di sana, di atas sofa kulit hitam tempat mereka melakukan terapi kemarin, Arkananta duduk tegap dengan melipat kedua tangannya di dada. Kemeja kerjanya sudah kusut, dasinya sudah terlempar entah ke mana, dan sebuah laptop yang layarnya menampilkan grafik koordinat GPS diletakkan begitu saja di atas meja marmer.
Begitu mendengar suara denting lift, Arka langsung berdiri. Langkah kakinya yang panjang dan lebar berderap cepat mendekati Ayana. Wajah pria itu tampak sangat mengeras, rahangnya mengetat, dan sepasang mata elangnya memancarkan kilat amarah sekaligus kecemasan yang mendalam.
"Dari mana saja kamu, Ayana?!" suara berat Arka menggelegar di dalam ruangan yang luas itu, memecah keheningan malam dengan intensitas yang sanggup membuat karyawan biasa langsung gemetar ketakutan. "Saya kehilangan sinyal pelacak ponselmu begitu mobil kakek saya memasuki wilayah Megamendung! Dua jam penuh saya tidak bisa menghubungimu! Apa yang pria tua itu lakukan kepadamu?!"
Arka berhenti tepat satu langkah di depan Ayana, dadanya naik-turun dengan ritme yang cepat karena emosi yang tertahan sejak beberapa jam lalu. Tangannya bergerak mencengkeram kedua bahu Ayana—tidak terlalu keras hingga menyakiti, namun cukup kuat untuk memastikan bahwa wanita di hadapannya ini benar-benar nyata dan dalam kondisi utuh tanpa luka.
Ayana yang mendadak disergap dengan rentetan pertanyaan bernada tinggi itu tidak membalas dengan omelan rewelnya yang biasa. Ia justru menatap lekat-lekat ke dalam mata Arka. Di balik amarah yang meledak-ledak itu, Ayana bisa membaca dengan sangat jelas adanya rasa takut yang teramat besar. Arka tidak sedang marah karena dikhianati; ia sedang didera kepanikan hebat karena takut kehilangan satu-satunya orang yang berani berdiri di sisinya.
Dengan gerakan yang sangat lembut, Ayana menaikkan kedua tangannya, lalu menyentuh punggung tangan Arka yang masih mencengkeram bahunya. "Pak Arka... tenang. Lepaskan dulu tangannya, ini sakit."
Mendengar kata 'sakit', Arka tersentak kecil. Ia seolah baru tersadar dari mode protektifnya yang impulsif. Pria itu menarik kembali kedua tangannya dengan canggung, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain, mencoba menyembunyikan rasa bersalahnya. "Maaf. Saya... saya hanya tidak suka jika ada orang di bawah kontrak saya yang bertindak ceroboh tanpa persetujuan saya."
Ayana mengembuskan napas pendek, meletakkan tas jinjingnya di atas meja konsol dekat lift, lalu berjalan santai menuju dapur bersih. "Sinyal di Megamendung itu sengaja diacak pakai teknologi militer, Pak Arka. Kakek Anda sendiri yang bilang kalau tim IT kantor Anda tidak ada apa-apanya dibanding sistem keamanan vilanya. Jadi jangan salahkan ponsel saya."
Ayana menuangkan air putih hangat ke dalam dua gelas kaca, lalu berjalan kembali ke ruang tengah dan menyodorkan salah satu gelas ke depan wajah Arka yang masih cemberut masam. "Minum dulu. Wajah Anda sudah seperti koruptor yang ditangkap polisi, jelek sekali."
Arka meraih gelas itu dengan gusar, meminumnya hingga setengah, lalu meletakkannya kembali ke meja dengan ketukan keras. "Jangan mengalihkan pembicaraan, Ayana. Apa yang kakek saya katakan kepadamu? Beliau mengancam kariermu? Atau beliau menawarkan sejumlah uang agar kamu mundur dari posisi dokter pribadi saya? Katakan!"
Ayana mendudukkan dirinya di sofa dengan santai, meluruskan kakinya yang terasa agak kaku karena perjalanan jauh. Ia menopang dagunya dengan tangan kanan, menatap Arka dengan pandangan jahil yang menggemaskan. "Kakek Anda... ternyata pria tua yang sangat menarik, Pak Arka. Beliau tidak menawari saya uang, dan beliau juga tidak mengancam akan menghancurkan izin praktik saya... setidaknya tidak untuk tiga bulan ke depan."
Arka mengerutkan keningnya, berjalan mendekat dan berdiri di hadapan Ayana dengan tatapan penuh selidik. "Maksudmu?"
Ayana membuka ritsleting tas jinjingnya, mengeluarkan dokumen tebal berstempel lilin merah yang tadi ia tandatangani di Megamendung, lalu melemparkannya ke atas meja marmer dengan gerakan dramatis. "Baca saja sendiri, Pak Kapitalis."
Arka meraih kertas tersebut. Begitu matanya membaca judul dokumen—Surat Otoritas Medis Penuh—dan melihat tanda tangan serta stempel resmi Hermawan Pradipta, ekspresi wajah sang CEO seketika berubah drastis. Matanya melebar sempurna, menatap deretan pasal yang memberikan hak veto medis mutlak kepada Ayana atas dirinya sendiri.
"Ini... bagaimana bisa kakek saya mengeluarkan dokumen seperti ini?" bisik Arka, suaranya dipenuhi rasa tidak percaya yang amat sangat. "Beliau tidak pernah menyerahkan kendali atas diri saya kepada pihak luar mana pun sejak belasan tahun lalu. Apa yang kamu lakukan pada pria tua keras kepala itu, Ayana?"
Ayana tersenyum bangga, menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa dengan gaya yang sangat angkuh, meniru pose kebesaran Arka jika sedang berada di ruang rapat. "Saya hanya melakukan tugas saya sebagai dokter yang profesional, Pak Bos. Saya menceritakan kepada beliau tentang apa itu PTSD, bagaimana obat penenang Swiss Anda itu justru merusak syaraf Anda secara perlahan, dan saya menantang beliau bahwa di bawah perawatan saya... Anda akan sembuh total dalam waktu tiga bulan."
Arka menurunkan lembaran kertas itu, menatap Ayana dengan tatapan yang sangat kompleks—perpaduan antara rasa tidak percaya, rasa hangat yang mendalam, sekaligus rasa cemas yang baru. "Tiga bulan? Ayana, kamu gila?! Kamu tahu apa taruhannya jika dalam tiga bulan saya tidak menunjukkan kemajuan? Kakek saya akan benar-benar menghancurkan kariermu di Asia! Beliau tidak pernah bermain-main dengan ucapannya!"
"Dan saya juga tidak pernah bermain-main dengan janji sumpah medis saya, Arkananta!" sahut Ayana, mendadak mengubah nada suaranya menjadi sangat serius dan berwibawa, menghilangkan unsur candaannya. Ia berdiri dari sofa, membuat jarak di antara mereka kembali memendek.
"Saya tahu risikonya," lanjut Ayana, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Arka dengan binar keteguhan yang murni. "Tapi saya juga tahu... kalau saya tidak mengambil risiko ini, Anda akan selamanya menjadi tawanan dari ketakutan Anda sendiri. Anda akan terus meminum obat-obatan sialan itu setiap kali mendengar suara sirine, dan Anda akan terus hidup dengan topeng CEO tanpa celah yang kesepian di atas penthouse megah ini."
Ayana melangkah satu kaki lebih dekat, hingga ia bisa mencium aroma parfum maskulin berkayu milik Arka yang bercampur dengan sisa wangi teh krisan dari bajunya sendiri. "Kemarin sore, saat Anda mencengkeram tangan saya di tengah suara sirine volume lima persen itu... saya melihat seorang pria yang sangat ingin bebas dari penderitaannya. Dan sebagai dokter Anda... saya memilih untuk bertaruh demi kebebasan Anda, meskipun taruhannya adalah karier saya sendiri."
Ruangan tengah itu kembali dilingkupi keheningan, namun kali ini bukan keheningan yang mencekam atau dingin. Itu adalah keheningan yang dipenuhi oleh getaran emosi yang teramat kuat di antara dua manusia yang berasal dari dunia yang sangat berbeda, namun kini takdir mereka telah terkunci rapat di dalam selembar dokumen medis.
Arka menatap wajah polos Ayana yang berada begitu dekat dengannya. Amarah, kecemasan, dan keangkuhan yang sejak sore tadi membakar dadanya perlahan-lahan mencair, runtuh tak bersisa, digantikan oleh sebuah rasa kagum dan kehangatan yang teramat masif yang belum pernah ia rasakan sejak kematian ibunya.
Tangan kanan Arka perlahan terangkat. Ibu jarinya yang kekar bergerak ragu-ragu selama beberapa detik, sebelum akhirnya dengan sangat lembut menyentuh helai rambut cokelat Ayana yang terlepas dari sanggulnya, menyelipkannya ke belakang telinga wanita itu. Sentuhan kulit mereka mengirimkan getaran elektrik yang membuat jantung Ayana mendadak berdegup dua kali lebih cepat.
"Kamu... benar-benar dokter paling bodoh sekaligus paling berani yang pernah saya temui, Ayana Sheenaz," bisik Arka, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah, serak, dan sarat akan kelembutan yang tersembunyi.
Ayana menahan napasnya selama sejenak, pipinya mendadak merona merah di bawah pendar lampu ruangan. Ia mencoba mengembalikan mode rewelnya untuk menutupi kegugupannya yang mendadak melanda. "Heh... memuji dokter dengan sebutan 'bodoh' itu bisa mengurangi poin penilaian pasien, ya, Pak Bos!"
Arka tertawa pelan—sebuah tawa hangat yang membuat kerutan di dahinya hilang sepenuhnya, menampilkan pesona ketampanan yang sanggup membuat wanita mana pun terpaku. Pria itu menurunkan tangannya dari telinga Ayana, lalu berjalan kembali menuju mejanya untuk merapikan laptopnya.
"Pergilah tidur, Dokter Ayana. Kamarmu sudah disiapkan oleh pelayan harian tadi sore," perintah Arka tanpa menoleh, namun ada nada perhatian yang nyata di dalam kalimatnya. "Mulai besok... sesi terapi kita akan naik ke volume sepuluh persen. Dan karena kamu sudah memegang hak veto medis penuh atas diri saya... pastikan kamu tidak tumbang duluan sebelum mengobati saya."
Ayana meraih kembali tas jinjingnya dari meja konsol dengan hati yang mendadak terasa dipenuhi oleh bunga-bunga krisan yang mekar. "Siap, Pak Kapitalis! Jangan lupa matikan lampunya sebelum tidur, hemat energi!" seru Ayana sembari melangkah riang menuju koridor kamar tamu.
Arka menatap punggung Ayana yang menghilang di balik pintu kamar dengan seulas senyuman yang enggan hilang dari wajahnya. Malam ini, di bawah langit Jakarta yang tenang, Arkananta Pradipta tahu bahwa dinding es yang membekukan hatinya selama belasan tahun... telah runtuh sepenuhnya oleh keberanian seorang dokter muda bernama Ayana. Dan pertempuran mereka yang sesungguhnya melawan badai masa lalu baru saja akan dimulai esok hari.
Bersambung.
💪💪