NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Syahrul Mulia

Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.

Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?

Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.

Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Angka di Ambang Batas

*Bip. Bip. Bip.*

Suara alarm penghitungan mundur itu terdengar seperti detak jarum jam malaikat maut yang mengalun konstan di dalam keheningan makam yang hancur. Waktu lima detik terasa begitu abstrak, namun di saat yang sama, angka digital yang menyala merah di saku pakaian taktis Alexei Volkov adalah kepastian dari akhir sebuah garis takdir. Getaran hebat mulai merambat dari fondasi beton bawah tanah kompleks pemakaman faksi Valentino, membuat nisan-nisan marmer putih berguncang hebat hingga beberapa di antaranya retak dan runtuh menimpa tanah basah.

"Tuan Arsen! Jalur evakuasi pipa air! Sekarang!" teriak Marco, suaranya parau, pecah oleh kepanikan yang tak lagi bisa dia bendung di tengah cedera lengannya yang parah.

Namun, Arsen Valentino seolah-olah telah menulikan pendengarannya dari ancaman ledakan massal tersebut. Sepasang mata elangnya yang merah menyala oleh kobaran dendam sepuluh tahun tetap terkunci mati pada sosok Katarina Vane yang berdiri pasrah di depannya. Moncong senapan serbunya tidak bergeser satu milimeter pun dari dahi wanita paruh baya itu. Bagi Arsen, jika dia harus mati dan membusuk di atas makam ibunya malam ini, dia harus memastikan nyawa wanita yang menarik pelatuk sepuluh tahun lalu ikut terenggut bersamanya.

"Arsen, kumohon lihat aku! Kita harus pergi!" jerit Arunika histeris.

Emosi gadis itu campur aduk hingga ke titik nadir. Dia baru saja mengetahui bahwa wanita di depan Arsen adalah ibu kandungnya yang asli—seorang penembak jitu legendaris yang selama ini dia tangisi kepergiannya. Namun di saat yang sama, kenyataan bahwa ibunya adalah pembantai keluarga Arsen membuat dadanya terasa seperti dihantam palu godam berulang kali. Rasa bersalah yang amat sangat meremukkan hatinya, beradu dengan insting liarnya yang ingin melihat semua orang di ruangan ini—termasuk dirinya sendiri—selamat dari maut yang menghitung mundur.

*Tiga detik.*

Katarina Vane perlahan menjatuhkan sepasang pistol semi-otomatisnya ke atas tanah. Wanita itu menatap Arsen dengan senyuman tipis yang sarat akan kepasrahan dan penyesalan mendalam. "Tembak aku, Arsen. Biarkan darahku membasahi pusara ibumu untuk melunasi utang masa lalu. Tapi kubur dendammu di sini. Jangan biarkan Arunika... putri kecilku yang bersih dari dunia hitam ini... ikut menanggung dosa yang aku perbuat."

Mendengar nama Arunika disebut, kilatan aneh melintas di sudut mata Arsen. Detik itu juga, ego sang penguasa mafia dan perhitungan bisnisnya yang dingin bergejolak hebat di dalam kepalanya. Membunuh Katarina di sini adalah kemenangan yang murah, namun kehilangan aset dan umpan berharga seperti Arunika di tengah pusaran konspirasi faksi Volkov internasional adalah kerugian yang tidak bisa dimaafkan dalam hukum perang dunia bawah tanah.

*Dua detik.*

Arsen tiba-tiba memutar tubuhnya dengan gerakan kilat yang nyaris tak kasatmata. Alih-alih menarik pelatuk senapannya ke arah Katarina, dia menggunakan popor senjatanya untuk menghantam telak rahang Alexei Volkov yang sedang menyeringai gila di atas tanah. Hantaman keras itu membuat pria raksasa Rusia itu tersungkur pingsan, memutuskan jalur komunikasi mekanik pada detonator daruratnya untuk sekejap.

Di saat yang bersamaan, Valeria memanfaatkan momen pengalihan krusial tersebut. Dengan kelincahan seorang pembunuh bayaran murni yang terlatih sejak kecil, dia berguling di atas tanah abu, menyambar tabung perekam suara digital di dekat reruntuhan pilar, lalu melesat lari menembus tirai kabut tebal ke arah gerbang sayap timur kompleks makam—jalur pelarian rahasia yang telah disiapkan oleh sisa-sisa pasukannya.

"Sialan! Dia lolos!" umpat Marco yang mencoba membidik dari balik pilar, namun pandangannya terhalang oleh kepulan asap hitam baru yang mendadak meledak dari saluran pipa pembuangan gas.

"Jangan kejar dia! Keluar dari sini sekarang!" bentak Arsen.

Pria itu tidak membuang waktu. Dia menyambar pergelangan tangan Arunika dengan cengkeraman besinya yang kokoh, lalu menarik tubuh gadis itu dengan kasar menuju ke arah pintu besi pipa air bawah tanah tempat Marco dan Arunika keluar tadi. Katarina Vane mengikuti dari belakang dengan langkah yang agak pincang akibat dampak ledakan termobarik pertama.

*Satu detik.*

Tepat ketika kaki Arsen dan Arunika melompat masuk ke dalam lorong beton bawah tanah yang sempit, gelombang ledakan sekunder dari detonator darurat Alexei pecah di permukaan makam.

*Blar!!!*

Hantaman getaran masif meruntuhkan pintu besi masif di atas kepala mereka, menyegel total jalur masuk lorong bawah tanah tersebut dengan tumpukan tonan batu granit dan tanah.

Gelombang kejutnya meluncur melewati lorong beton seperti angin topan berhawa panas, mendorong tubuh Arsen, Arunika, dan Marco terpelanting ke depan, berguling-guling di atas saluran air yang kotor sebelum akhirnya semuanya menjadi sunyi di dalam kegelapan total bawah tanah.

Suasana di dalam lorong pipa air itu seketika menjadi begitu sunyi, hanya diiringi oleh suara tetesan air yang jatuh dari celah langit-langit beton yang retak.

Arunika terbatuk-batuk, dadanya terasa sangat sesak akibat debu dan sisa gas yang terhirup. Dia mencoba menggerakkan kedua kakinya yang dibalut sepatu bot taktis milik pengawal faksi Valentino. Untungnya, meskipun tubuhnya dipenuhi memar akibat hantaman ledakan, tidak ada tulang yang patah. Dia meraba-raba kegelapan di sekelilingnya, mencari-cari keberadaan orang lain.

"Arsen... Marco... Ibu..." panggil Arunika, suaranya bergetar hebat di dalam kegelapan yang mencekam.

Sebuah korek api zippo perak mendadak menyala di kegelapan, memunculkan percikan api kecil yang menerangi wajah dingin Arsen Valentino.

Pria itu berdiri tegak tidak jauh dari tempat Arunika terduduk, kemeja putihnya kini sudah sepenuhnya hitam oleh jelaga, dan darah dari pelipis kirinya telah mengering membentuk pola garis yang menyeramkan di rahang tegasnya. Di sampingnya, Marco tampak bersandar di dinding beton sambil memegangi dadanya yang memar, napasnya terdengar pendek dan berat.

Namun, ketika sorot lampu pemantik api Arsen bergerak memindai sudut lorong di belakang mereka, jantung Arunika kembali mencelos ke dasar perutnya.

Katarina Vane tidak ada di sana.

Pintu masuk lorong bawah tanah yang tertimbun total oleh batu granit raksasa di belakang mereka menunjukkan satu kenyataan pahit: wanita paruh baya itu tidak sempat melompat masuk sebelum ledakan sekunder menghancurkan permukaan makam. Dia telah tertimbun di bawah reruntuhan pusara suci keluarga Valentino, atau mungkin... sengaja membiarkan dirinya tertinggal di atas untuk memastikan pintu besi itu runtuh menutupi jalur pelarian mereka dari kejaran sisa pasukan Rusia.

"Ibu..." bisik Arunika, air matanya kembali mengalir tanpa suara di dalam kegelapan. Rasa kehilangan yang aneh merayapi hatinya. Dia baru saja menemukan sepotong cermin identitas aslinya dari wanita itu, namun takdir langsung merenggutnya kembali sebelum dia sempat mendengar seluruh kebenaran secara utuh.

"Dia sudah memilih jalannya sendiri, 'Valeria'," ucap Arsen dingin, sengaja menggunakan nama palsu itu dengan nada sinis untuk mengingatkan Arunika akan sandiwara berdarah yang kini mengikat mereka secara permanen. Arsen mematikan pemantiknya, menggantinya dengan senter kecil yang terpasang di bawah laras senapan serbunya. "Dan kematiannya tidak mengubah fakta bahwa kita harus menyelesaikan sisa permainan yang ditinggalkan oleh kakak tiri Volkov-mu di kota ini."

Arsen melangkah maju, mencengkeram dagu Arunika dengan jemarinya yang kuat, memaksa gadis itu menatap sorot lampu senternya yang menyilaukan. "Kau dengar aku? Sandiwara identitas ini tidak berhenti di sini. Di mata aliansi faksi barat yang selamat dari pesta pernikahan malam ini, kau adalah Valeria Baskoro—anak kandung Katarina Vane yang memegang rahasia faksi Volkov. Kita akan menggunakan nama itu untuk memburu kakakmu hingga ke Paris."

Arunika menatap sepasang mata elang Arsen dari balik pendar lampu senter. Ketakutan yang selama ini mendominasi psikologisnya perlahan-lahan mulai menguap, berganti dengan kekosongan emosi yang luar biasa dingin. Kehidupannya sebagai Arunika telah mati di atas tanah makam itu. Jika dia harus hidup sebagai monster bernama Valeria untuk menghancurkan orang-orang yang telah menjadikannya boneka pajangan, maka dia tidak akan ragu untuk melangkah lebih dalam ke dalam neraka dunia bawah tanah.

"Aku mengerti, Arsen," jawab Arunika, suaranya kini terdengar begitu datar, luwes, dan tanpa riak emosi sedikit pun—sebuah transformasi karakter yang membuat Marco yang menyaksikannya dari sudut lorong bergidik ngeri. "Bawa aku ke Paris. Aku akan menjadi Valeria-mu, dan aku akan memastikan kakakku merasakan bagaimana rasanya dikuliti oleh kebohongannya sendiri."

Arsen menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sarat akan kepuasan penuh intrik gelap. Pria itu melepaskan cengkeramannya di dagu Arunika, lalu memberikan isyarat kepada Marco untuk memimpin jalan menyusuri sisa lorong pipa air kuno menuju ke arah pelabuhan tikus di ujung selatan kota, tempat sebuah kapal pesiar pribadi faksi Valentino sudah disiapkan untuk evakuasi internasional.

Mereka berjalan dalam keheningan yang kaku selama hampir satu jam menembus labirin bawah tanah yang pengap, hingga akhirnya ujung lorong membawa mereka keluar di sebuah dermaga tua yang terisolasi di balik bukit batu pinggiran pantai. Angin laut yang asin dan dingin langsung menyergap tubuh mereka yang kotor oleh debu ledakan. Sebuah kapal pesiar cepat berwarna hitam legam tampak bersandar di dermaga kayu dengan lampu navigasi yang padam untuk menghindari deteksi radar patroli laut.

Dua orang pengawal elit faksi Valentino yang berjaga di dermaga segera membungkuk hormat saat melihat kehadiran Arsen. "Tuan Arsen, semuanya sudah siap. Rute penerbangan jet pribadi kita dari bandara satelit menuju Eropa telah diamankan dari intervensi faksi Volkov."

"Naik ke kapal," perintah Arsen pada Arunika.

Arunika melangkah tegap menaiki tangga kapal pesiar tanpa menoleh ke belakang lagi. Dia berjalan menuju ke kabin utama yang mewah namun terasa asing, menjatuhkan tubuhnya yang lelah di atas sofa beludru hitam. Dia menatap tangannya sendiri yang dipenuhi memar dan sisa abu tanah makam, menyadari bahwa mulai besok, lembaran baru dari takdirnya sebagai istri sang raja mafia internasional resmi dimulai dengan lumuran darah dan dendam yang tak berujung.

Arsen masuk ke dalam kabin beberapa saat kemudian, meletakkan senapan serbunya di atas meja kerja kayu mahoni, lalu menuangkan cairan wiski ke dalam gelas sloki. Pria itu tidak berbicara, dia hanya menatap Arunika dengan pandangan yang sulit diartikan melalui pantulan kaca jendela kabin yang menampilkan ombak laut malam yang bergulung ganas.

Namun, tepat ketika kapal pesiar itu mulai bergerak meninggalkan dermaga tua membelah lautan gelap, suara dering panggilan dari satelit komunikasi internal kapal berbunyi secara konstan di meja kerja Arsen.

Marco, yang baru saja selesai membalut lukanya dengan bantuan tim medis kapal, berjalan masuk dan mengangkat gagang telepon tersebut.

Setelah mendengarkan suara di seberang saluran selama beberapa detik, wajah tangan kanan Arsen itu mendadak berubah menjadi sangat pucat, dan ponsel di tangannya hampir saja lolos dari genggamannya yang gemetar.

"Ada apa, Marco?" tanya Arsen, menyipitkan matanya melihat reaksi aneh dari orang kepercayaannya.

Marco menelan ludah dengan susah payah, membalikkan tubuhnya perlahan menatap lurus ke arah Arsen dan Arunika dengan pandangan yang dipenuhi oleh ketakutan horor yang baru.

"Tuan Arsen... ada laporan darurat dari tim intelijen kita yang memantau bandara internasional Paris," ucap Marco, suaranya bergetar hebat di dalam kabin yang sunyi. "Pesawat yang ditumpangi oleh Valeria yang asli... baru saja mendarat sepuluh menit yang lalu. Tapi... dia tidak sendirian."

Marco menatap Arunika dengan tatapan yang sarat akan misteri konspirasi yang kian menggila.

"Seseorang dengan otoritas tertinggi dari kementerian pertahanan Rusia baru saja menyambutnya di landasan pacu sebagai... istri sah dari mendiang ayah kandung Anda, Tuan Arsen. Dan wanita itu membawa sebuah dokumen legal yang menyatakan bahwa seluruh aset sah milik faksi Valentino di Eropa... kini telah berpindah kepemilikan atas namanya sejak satu jam lalu."

_____________________________

**Bersambung ke Bab 15...**

*Bagaimanakah mungkin Valeria yang asli bisa memiliki dokumen pernikahan legal dengan mendiang ayah Arsen Valentino dari masa lalu? Konspirasi gila macam apa lagi yang telah dirancang oleh keluarga Baskoro bersama faksi Rusia untuk merampas seluruh kekuasaan sang raja mafia dari balik layar? Dan akankah Arunika mampu mempertahankan perannya sebagai pengantin pengganti di tengah pusaran perang perebutan saham internasional yang akan segera pecah di Eropa? Tunggu kelanjutan kisahnya yang semakin memanas dan penuh intrik luar biasa di bab berikutnya!*

1
lee eun ji
😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!