"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS. 1. Pindah Rumah.
Kamis, 26 Februari 2020.
Di sebuah kota kecil yang berada di sebuah kabupaten yang terletak di jawa.
Seorang gadis dengan rambut panjang di gerai memakai cardigan rajut warna cokelat tengah duduk di kamar nya sambil melipat - lipat pakaian nya. Wajah nya sedih dan sesekali dia menghapus air matanya sambil memasukan pakaian yang di lipat nya tadi kedalam koper.
"Hiks! hiks!" Isak nya pelan.
Tak lama kemudian masuklah seorang laki yang di perkirakan berusia sekitar 48 tahunan, laki - laki itu menghampiri gadis yang sedang menangis tadi lalu mengusap kepala nya.
"Maafin ayah ya, dek." Ucap nya pada gadis yang sedang menangis itu.
"Aku mau ikut ibu sama mbak, yah.." Ucap gadis itu, wajah nya sembab dan menatap ayah nya dengan mata yang berlinang.
Mendengar ucapan anak perempuan nya, sang ayah terlihat sedih tapi masih menunjukan senyum kecil nya sambil mengusap kepala putrinya dengan lembut lalu memeluk nya.
"Kalo kamu ikut sama ibu.. ayah sama siapa, Kara?" Ucap nya, air matanya menetes..
Mendengar ayah nya menangis.. gadis yang di panggil Kara itu kemudian mendongak menatap ayah nya, itu adalah kali pertama gadis bernama Kara itu melihat ayah nya menangis sampai sesenggukan.
"Ayah ndak mau kamu pergi, nduk.. kamu ndak sayang ayah?''
Kara Nareswari, atau lebih akrab di panggil dengan Kara.. adalah gadis berusia 17 tahun yang tinggal di pusat kota kecil di sebuah kabupaten di Jawa. Dia memiliki ayah bernama Narendra, yaitu laki - laki yang sedang menangis sesenggukan tadi dan memiliki ibu bernama Hesti juga seorang kakak perempuan bernama Kayra, sementara Kara sendiri adalah anak kedua sekaligus bungsu.
Kara tidak pernah membayangkan sama sekali kehidupan ideal nya bersama keluarga nya berakhir berantakan, Kara pikir keluarganya adalah keluarga yang sangat hangat dan bahagia selama ini, tapi ternyata ada luka yang tidak pernah Kara tau yang memang sudah menghantui keluarga nya, sejak dulu..
Ibunya, Hesti.. sudah berselingkuh dari ayah nya Kara sudah sejak Kara kecil bahkan sejak Kara masih berusia 2 tahun. Tapi ayah Kara tidak mau menceraikan ibunya Kara karena memikirkan nasib anak - anak nya dan tidak mau kalau sampai nanti anak - anak mereka menjadi kekurangan kasih sayang.
Akhirnya selama belasan tahun itu ibu dan ayah nya Kara masih bertahan tinggal satu atap dan membesarkan anak - anak mereka sampai cukup dewasa, dalam catatan.. setelah Kara sudah berusia setidak nya 15 tahun.. baru ayah nya Kara akan setuju untuk bercerai dengan ibunya Kara..
"Ayah sudah berusaha agar ibumu ndak pergi, tapi ibumu tetap dengan keinginan nya.. sekarang kamu juga mau meninggalkan ayah?" Tanya ayah nya Kara masih di posisi yang sama.
Seharus nya mereka sudah bercerai dua tahun yang lalu saat Kara berusia 15 tahun sesuai perjanjian, tapi ayah Kara yang memang sangat mencintai istri nya itu terus mengundur dan tak kunjung mau mengurus surat perceraian mereka sampai dua tahun lama nya. Dan akhir nya.. baru lah sebulan yang lalu setelah Kara merayakan ulang tahun nya yang ke 17 tahun.. ibu nya melayangkan gugatan cerai dan akhir nya mereka resmi bercerai.
"Ayah.." Gumam Kara, dia lalu memeluk pinggang ayah nya sambil menangis.
"Jangan pergi ya.. kalo kamu pergi ayah sama siapa.." Lagi dan lagi ayah nya mengucapkan hal yang sama.
Tapi kali ini akhir nya Kara pun luluh dan dia mengangguk.. Kara berpikir meski memang dia sangat menyayangi ibunya dan ingin tinggal bersama ibu dan kakak nya tapi Kara juga sangat menyayangi ayah nya, melihat ayah nya yang sampai menangis sesenggukan itu.. Kara ikut sakit melihat nya.
Tapi.. yang Kara tidak tahu, saat dia memeluk pinggang ayah nya, tangan kanan ayah nya yang semula sedang mengusap kepala nya itu tiba - tiba mengambil sesuatu dari saku depan baju nya dan membuka nya.. dia memegang belati lipat kecil warna perak dan membuka belati itu, terlihatlah ujung belati yang terlihat ada corak merah seperti noda darah yang sudah mengering tapi belum terlalu kering.
Ayah Kara angkat tangan kanan nya yang sedang memegang belati itu seolah siap menikam Kara yang sedang memeluk pinggan nya, sampai..
"Kara tinggal sama ayah saja." Ucap Kara, barulah gerakan ayah Kara itu terhenyak seketika setelah mendengar ucapan putrinya.
"Kara ndak akan pergi ikut ibu, yah.." Ucap Kara, ayah Kara yang semula siap menikam Kara itu kemudian melipat kembali belati perak nya yang semula sudah siap dia layangkan untuk menikam Kara.
Kara mendongak menatap ayah nya sambil menghapus air matanya dan kemudian tersenyum, ayah nya pun tersenyum dna menyembunyikan belati nya ke belakang tubuh nya. Kara yang tidak tahu apapun hanya tersenyum saja, dia tidak tahu bahwa jawaban dan keputusan nya tadi itu telah menyelamatkan nyawa nya dari belati sang ayah.
"Janji ya, dek.. kamu ndak bohongin ayah, kan?" Ucap ayah Kara, Kara pun mengangguk.
AYah nya akhir nya kembali memeluk Kara sambil menangis bahagia, kali ini dia tidak mengeluarkan lagi belati di tangan nya dan memeluk Kara dengan penuh kasih sayang sambil mengecup pucuk kepala Kara berulang kali.
"Ayah sayang sekali sama Kara." Ucap ayah nya.. Kara mengangguk - angguk.
"Lanjutkan beberes nya ya, besok kita pindah dari sini." Ucap ayah Kara, dan lagi - lagi Kara pun mengangguk.
Setelah mengucapkan itu, ayah Kara kemudian berjalan keluar dari kamar Kara, sebelum benar - benar keluar.. ayah Kara sempat berbalik badan dan menatap putrinya itu sambil tersenyum. Sementara Kara, akhir nya dia kembali membereskan barang - barang nya dan di masukan nya kedalam koper.
Rencana nya memang besok dia dan ayah nya akan pindah dari rumah itu, itu di lakukan karena ayah nya tidak mau berlarut - larut sedih karena perceraian nya dengan ibunya Kara. Rumah itu memuat terlalu banyak kenangan dan harapan ayah nya selama belasan tahun berjuang agar bisa merubah pikiran ibunya Kara supaya tidak jadi bercerai.
Tapi usaha ayah Kara tidak berhasil karena bahkan setelah belasan tahun lama nya mereka menjalani pernikahan dingin tanpa cinta tapi harus selalu terlihat baik - baik saja di hadapan anak anak mereka itu.. ibunya Kara tetap memilih pergi.
KE ESOKAN HARINYA.
"Total kasus positif corona sembilan belas terus meningkat mejadi lebih banyak, pemerintah menghimbau warga untuk tidak keluar rumah tanpa menggunakan masker.."
[Suara berita di tv]
"SLUUURP!!"
''Ahh!" Ayah Kara baru saja menyeruput kopi paginya sambil melihat berita di tv.
"Ayah, ngomong - ngomong kita mau pindah kemana?" Tanya Kara, Kara baru saja datang sambil membawa ransel nya yang sudah dia isi dengan beberapa elektronik nya.
"Coba Kara tebak?" Ucap ayah nya, wajah ayah nya terlihat sudah sumringah dan tidak sedih seperti semalam.
"Ke Jakarta?" Tanya Kara dengan wajah berbinar..
"Kara mau ke Jakarta?" Tanya ayah nya balik, sambil kembali menyesap kopinya.
"Pengen tapi di sana lagi banyak orang yang meninggal." Ucap Kara, ayah nya terkekeh..
"Kalo mau ke Jakarta, nanti kita kesana juga boleh. Tapi..." Ucap ayah nya menggantung, Kara pun penasaran.
"Tapi apa, yah?" Tanya Kara.
"Ya kalo pandemi ini sudah berakhir, nanti kita pindah kesana sekalian supaya kamu bisa kuliah di universitas yang bagus dan ternama." Ucap ayah nya, mendengar itu Kara tentu tersenyum lebar..
"Horee.. janji ya, ayah?!" Ucap Kara, ayah nya terkekeh sambil mengangguk.
"Iya.. iya.. ayah janji." Ucap ayah Kara, Kara pun makin semangat lagi.. tapi sesaat kemudian dia pun kembali teringat dengan pertanyaan utamanya.
"Jadi kita mau pindah kemana?" Tanya Kara, barulah ayah nya Kara itu menatap Kara sambil meletakan cangkir kopinya di meja sambil lalu menjawab..
"Ke rumah almarhum kakek." Jawab ayah nya..
BERSAMBUNG!
di aku g ada notif lho kk