"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis
Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan
Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
happy reading guys
-------------------------
Bab 25: Jebakan di Koridor VIP
Kesunyian di dalam ruang ICU terisolasi itu mendadak berganti menjadi ketegangan yang teramat pekat.
Suara deru napas tertahan dari empat pengawal unit taktis Wijaya Corps yang bersiaga di balik pintu menjadi satu-satunya melodi yang membelah kegelapan.
Di luar, koridor lantai VIP Rumah Sakit Pusat Jakarta telah berubah menjadi medan pertempuran senyap yang mematikan.
"Mami... Arka takut..."
bisik Arka yang mendadak terbangun akibat kegaduhan, tubuh mungilnya bergetar hebat sembari memeluk erat pinggang Anastasia.
Anastasia merangkul erat putra bungsunya, namun sepasang netra indahnya menatap lurus ke arah Alta yang justru melangkah mendekati sisi ranjang Devan tanpa sepeser pun rasa takut.
Dari balik kegelapan yang redup oleh pendaran baterai darurat monitor medis, Alta menarik jam tangan pintar merahnya ke depan wajah.
Jemari kecil bocah berusia empat tahun itu bergerak dengan kecepatan luar biasa, menembus lapisan enkripsi siber cetak biru bangunan rumah sakit yang sempat ia retas subuh tadi.
"Ayah,"
suara Alta terdengar begitu datar namun sarat akan kedewasaan taktis yang matang.
"Mereka menggunakan kacamata pengintai malam (night vision) generasi ketiga. Jika pengawal Mami langsung melepaskan tembakan di koridor yang gelap, siluet kilatan moncong senjata justru akan mempermudah musuh mendeteksi posisi kita."
Devan Mahendra, yang masih terbaring lemah dengan luka operasi yang berdenyut nyeri di perut kirinya, menyipitkan netra elangnya. Rasa bangga yang teramat besar kembali membuncah di dalam dadanya melihat ketenangan putra sulungnya.
"Alta... apa yang bisa kamu lakukan dengan sistem bangunan ini?"
"Saya bisa mengakses katup pipa hidran darurat dan sistem penyiram air (sprinkler) di langit-langit koridor luar, Ayah," jawab Alta,
seulas senyuman tipis yang sarat akan kecerdasan dingin terukir di bibir mungilnya.
"Namun, saya butuh umpan agar mereka berkumpul tepat di bawah sensor suhu zona empat, tepat di depan belokan lift VIP."
Devan menyunggingkan senyum kelam, insting seorang singa bisnis yang biasa mengunci pergerakan lawan seketika bangkit seutuhnya.
Pria itu menoleh ke arah Rian yang berjaga di dekat interkom radio.
"Rian... perintahkan dua pengawal Mahendra Group di sektor depan untuk melepaskan dua tembakan umpan ke arah langit-langit koridor, lalu mundur perlahan menuju pintu baja ICU. Giring mereka masuk ke zona empat!"
"Baik, Tuan Besar! Eksekusi dimulai!" Hendra dan Rian berbisik serentak melalui perangkat nirkabel mereka.
Papp! Papp!
Dua suara desingan senjata peredam suara terdengar menggema samar dari arah luar, disusul oleh derap langkah kaki bersepatu bot yang terburu-buru mendekat.
Jaringan tentara bayaran Siska yang mengira pertahanan lantai VIP telah bobol, langsung merangsek maju dalam formasi melingkar ketat, tepat memasuki koridor zona empat yang lantainya dilapisi karpet tebal.
"Sekarang, Alta!"
perintah Devan dengan suara baritonnya yang mantap penuh otoritas.
Jemari Alta mengetuk tombol eksekusi terakhir pada layar jam tangannya.
Bzzz... Klik!
Dalam satu hentikan instruksi digital, sistem keamanan siber rumah sakit mengalami korsleting buatan.
Seluruh katup pipa hidran darurat di langit-langit koridor zona empat mendadak terbuka secara paksa, menyemburkan air bertekanan tinggi laksana air terjun buatan yang meluncur deras menembus kegelapan.
Semburan air yang masif itu seketika memicu ledakan percikan arus pendek (korsleting) pada sisa lampu indikator darurat di langit-langit.
Kilatan listrik yang menyambar di tengah air langsung membutakan sistem lensa kacamata pengintai malam (night vision) yang dikenakan oleh para tentara bayaran Siska.
"Argh! Mataku! Sialan, kacamatanya korsleting!"
umpat pemimpin tentara bayaran dari luar ruangan, disusul oleh suara hantaman tubuh mereka yang panik melepaskan kacamata pengintai di tengah kebutaan total dan hantaman air yang deras.
"Pengawal Wijaya Corps! Tembak mereka sekarang!"
raung Anastasia dengan nada suara yang melengking tinggi, memberikan titah pembunuhan yang mutlak demi melindungi darah dagingnya.
Duar! Duar! Duar!
Empat pengawal unit taktis Anastasia yang sejak awal tidak menggunakan kacamata malam langsung melepaskan tembakan beruntun menembus celah pintu baja ICU yang dibuka sedikit.
Menggunakan kilatan lampu korsleting sebagai pemandu visual, peluru-peluru kaliber tinggi melesat dengan akurasi sempurna, menghantam telak dada dan kaki para tentara bayaran Siska yang sedang kebingungan di tengah semprotan air hidran.
Jeritan kesakitan dan dentuman tubuh yang ambruk di atas karpet basah terdengar bersahutan, mengubah koridor mewah lantai VIP menjadi neraka pembantaian senyap dalam hitungan detik.
Namun, di tengah jalannya pertempuran taktis yang menegangkan itu, sebuah hantaman keras mendadak terdengar dari arah pintu kaca balkon darurat yang berada di sudut kanan belakang ruang ICU—pintu yang sama yang sebulan lalu digunakan untuk menculik Alta.
Pranggg!
Kaca tebal itu hancur berantakan menabrak lantai marmer.
Dari balik kepulan uap air malam yang dingin, sesosok wanita dengan seragam narapidana oranye yang robek merangsek masuk ke dalam ruangan.
Wajahnya yang semula cantik kini tampak begitu mengerikan, dipenuhi oleh luka goresan dan sepasang mata yang memancarkan kegilaan dendam kesumat yang teramat pekat.
Dia adalah Siska Amalia.
Wanita ular itu ternyata tidak ikut bersama pasukannya di koridor depan.
Ia dengan licik menggunakan tangga luar gedung untuk menyusup langsung ke dalam ruang perawatan Devan.
"Anastasia Wijaya! Mati kamu, jalang!"
raung Siska dengan emosi yang telah kehilangan akal sehatnya.
Wanita itu langsung mengacungkan sebilah senjata api otomatis jenis FN langsung ke arah dada Anastasia yang sedang mendekap Arka.
Jarak di antara mereka terlalu dekat, dan para pengawal di pintu depan tidak akan sempat berbalik arah untuk melepaskan tembakan perlindungan.
‘Tidak... anak-anakku...’
batin Anastasia menjerit pekat, refleks membalikkan tubuh tegapnya demi menjadikan punggungnya sendiri sebagai tameng hidup untuk melindungi Arka dan Alta dari terjangan peluru.
Bang!
Satu suara letusan senjata api menggema keras membelah keheningan kamar ICU, memicu kejutan besar yang teramat mengerikan di detik-detik akhir fajar hari itu.
Namun, peluru tersebut tidak menghantam tubuh Anastasia.
Di atas ranjang perawatan, Devan Mahendra—dengan sisa tenaga dari tubuhnya yang sekarat—telah berhasil merampas senjata api taktis milik Rian yang tergeletak di atas nakas medis beberapa detik sebelumnya.
Dengan pergelangan tangan yang gemetar hebat akibat menahan rasa sakit yang luar biasa dari perut kirinya, Devan telah lebih dulu menarik pelatuk senjata, melepaskan satu tembakan jitu yang melesat menembus kegelapan malam.
________
Bersambung