NovelToon NovelToon
Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Anak Haram Sang Istri
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: riena

Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 31. Siksaan termanis.

Setelah malam nasi goreng harum bawang itu, ritme hidup di rumah tua semakin tidak karuan bagi debaran jantung Ubay dan Nadia. Setiap sudut ruangan seolah-olah dipenuhi oleh energi magnet tak kasat mata yang terus-menerus menarik mereka untuk saling mendekat, sekaligus memaksa mereka untuk mengerem diri kuat-kuat.

Sore itu, mendung kembali menggelayut tebal di langit pangkalan pasar. Ubay pulang lebih cepat karena hujan mulai turun rintik-rintik. Begitu melangkahkan kaki masuk melalui pintu samping, indra penciumannya langsung menangkap aroma wangi minyak telon yang hangat.

Di ruang tengah, Nadia sedang sibuk. Gadis itu berdiri di depan meja setrikaan kayu yang rendah. Dengan telaten, ia melicinkan baju-baju kaos hitam milik Ubay dan menyusunnya rapi. Keringat tipis tampak membasahi pelipis Nadia, membuat beberapa helai anak rambutnya menempel di kulit wajahnya yang merona segar. Daster batik hijau yang dikenakannya mencetak jelas lengkungan perut buncitnya yang kini sudah terlihat semakin bulat menggemaskan di usia lima bulan lebih.

Nadia sempat meringis kecil, tangan kirinya refleks bertumpu pada pinggang belakangnya yang mulai sering terasa pegal akibat menopang berat janin.

Melihat pemandangan itu dari ambang pintu, langkah kaki Ubay terhenti. Ada rasa tidak tega yang mendadak menyeruak di dadanya. Pria gondrong itu melempar kunci motornya ke atas meja, lalu berjalan mendekat.

"Udah, biar gue aja yang terusin," ujar Ubay, suaranya berat mengejutkan Nadia.

Nadia menoleh, buru-buru menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan lalu tersenyum manis. "Eh, Mas Ubay udah pulang? Nggak apa-apa, Mas, tinggal tiga potong lagi kok. Tanggung."

"Gue bilang udahan, ya udahan, Nad. Badan lu udah ringkih begitu, pegal-pegal kan?" potong Ubay tegas. Tanpa menunggu jawaban, Ubay mengambil alih setrikaan dari tangan Nadia, lalu meletakkannya dengan posisi berdiri di atas tatakan.

Jarak mereka kini sangat dekat, kurang dari tiga puluh sentimeter. Udara dingin di luar rumah yang berhembus lewat celah jendela seolah lenyap, digantikan oleh hawa hangat yang mendadak mendera tubuh keduanya.

Nadia mendongak, menatap Ubay yang kini berdiri menjulang di depannya. Dari jarak sedekat ini, Nadia bisa mencium aroma maskulin khas Ubay campuran bau matahari, parfum murahan yang maskulin, dan aroma sabun mandi. Mata teduh Nadia bergerak memperhatikan garis rahang Ubay yang tegas, kumis tipis yang terawat, dan rambut gondrongnya yang hari ini diikat asal ke belakang.

Di dalam hatinya, Nadia merasakan dadanya bergemuruh hebat. “Ya Tuhan... kenapa sekarang tiap kali dekat Mas Ubay, rasanya jantung aku nggak bisa tenang?” batin Nadia menjerit, dipenuhi rasa baper yang semakin hari semakin tidak bisa ia sangkal.

Tinggal satu atap dengan pria yang selalu pasang badan melindunginya, yang tangannya kasar tapi perilakunya teramat lembut menjaganya, telah meruntuhkan pertahanan hati Nadia sepenuhnya. Nadia sadar, ia telah jatuh cinta pada suaminya sendiri.

Di sisi lain, Ubay pun sedang mengalami pergolakan batin yang jauh lebih hebat. Mata elangnya menatap lurus ke bawah, tertuju pada perut buncit Nadia yang bergerak naik-turun seiring dengan napas gadis itu yang agak memburu.

Melihat Nadia yang tampak kelelahan dan memegangi pinggangnya, naluri pelindung Ubay meluap hingga ke batas tertinggi. Ada dorongan yang luar biasa kuat dan mendesak di dalam dada Ubay. Pria itu merasakan keinginan yang teramat sangat untuk mengulurkan kedua lengannya yang kekar, menarik tubuh Nadia ke dalam dekapannya, memeluknya erat-erat untuk membagi rasa lelah itu, lalu meletakkan telapak tangannya di atas perut buncit istrinya untuk mengelusnya dengan penuh kasih sayang layaknya seorang suami seutuhnya.

Tangan kanan Ubay perlahan mulai bergerak naik dari sisi celananya. Jemarinya yang penuh kapalan itu bergetar halus di udara, hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari pinggang Nadia. Tinggal sedikit lagi... sedikit lagi lengan Ubay akan melingkari tubuh gadis itu.

Nadia yang menyadari pergerakan tangan Ubay hanya bisa terpaku, matanya berkedip lambat dengan dada yang naik-turun menahan napas, pasrah jika seandainya sang preman jalanan malam ini memutuskan untuk melompati batas kertas di antara mereka.

Namun, tepat saat ujung jari Ubay hampir menyentuh kain daster Nadia...

Dug!

Sebuah tendangan kecil tapi bersemangat dari dalam perut Nadia terasa menyentuh ruang kosong di antara mereka.

Sentakan gaib itu seketika menghantam kesadaran Ubay seperti tamparan keras yang mendarat di wajahnya. Ubay tersentak, matanya melebar sempurna. Ia langsung menarik kembali tangannya dengan sentakan kasar, lalu memundurkan langkah kakinya sejauh dua tindak hingga menciptakan jarak yang lebar di antara mereka.

Napas Ubay memburu, rahangnya mengeras seketika karena rasa bersalah dan kesadaran diri yang mendadak menuntut kembali logikanya. “Gila lu, Bay! Nyaris aja! Lu harus tahu diri! Dia itu Nadia... gadis baik-baik yang nasibnya hancur. Lu di sini cuma tameng hukum buat bayinya, jangan sampai lu lancang memanfaatkan keadaan buat memuaskan perasaan lu sendiri!” bentak Ubay kejam pada hatinya sendiri.

Ubay buru-buru membuang muka, menatap ke arah dinding mading rumah tua dengan guratan wajah kaku. "L-Lu... lu mendingan masuk kamar sekarang. Istirahat. Biar sisa baju ini gue yang beresin," kata Ubay, suaranya mendadak berubah datar dan dingin, berusaha keras menyembunyikan getaran baper yang sempat menguasai dirinya tadi.

Nadia yang melihat perubahan drastis sikap Ubay seketika merasakan hatinya sedikit mencelos kecewa. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya saat melihat Ubay kembali membangun benteng tinggi bernama 'sungkan' itu. Namun, Nadia juga tahu diri, ia tidak ingin membuat Ubay merasa tidak nyaman dengan kehadirannya.

Nadia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan binar matanya yang meredup. "Iya, Mas Ubay... terima kasih. Saya... saya masuk kamar dulu," bisik Nadia lirih.

Nadia berbalik dan melangkah pelan menuju kamarnya, meninggalkan Ubay yang masih berdiri mematung di depan meja setrikaan. Setelah pintu kamar bawah tertutup rapat, Ubay baru berani menghembuskan napas panjang yang sedari tadi ditahannya di dada. Ia meremas rambut gondrongnya frustasi, sadar bahwa tinggal dalam satu atap dengan menyangkal perasaan yang semakin menggila ini adalah bentuk siksaan termanis yang harus ia jalani setiap hari.

**

Hari terus berganti, melarutkan waktu dalam putaran roda nasib yang tak bisa dihentikan. Kandungan Nadia kini telah memasuki bulan kedelapan. Perutnya sudah membuncit sangat besar dan bulat utuh, membuatnya harus berjalan dengan lambat sembari menyangga pinggang belakangnya yang sering kali terasa nyeri luar biasa.

Situasi kampus pun menjadi semakin pelik bagi Nadia. Menjelang hari perkiraan lahir yang semakin dekat, Nadia akhirnya terpaksa mengajukan cuti akademik untuk satu atau dua semester ke depan. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ada kecemasan besar yang terus menghantui. Nadia sadar, setelah bayinya lahir nanti, kemungkinan besar ia tidak akan bisa melanjutkan kuliahnya lagi.

“Kalau aku tetap kuliah, siapa yang akan menjaga anak ini nanti? Mas Ubay harus bekerja, dan aku tidak punya siapa-siapa lagi di kota ini,” batin Nadia pasrah, merelakan impian besarnya demi menyambut nyawa baru.

Siang itu, awan mendung menggantung rendah di langit kota. Ubay setia dengan tugasnya sebagai suami siaga. Menggunakan motor RX-King hitamnya, ia berkendara dengan sangat pelan dan hati-hati untuk menjemput Nadia di depan gerbang kampus.

Nadia turun dari anak tangga koridor, memeluk sisa buku-bukunya dengan kemeja hamil yang longgar. Ubay turun dari motor, membantu Nadia naik ke atas boncengan dengan perlahan, memastikan posisi duduk istrinya benar-benar nyaman sebelum ia menarik tuas gas.

Di saat yang bersamaan, sebuah mobil SUV mewah berwarna putih mengkilap baru saja melambat di persimpangan jalan tepat di depan gerbang kampus. Di balik kemudi, duduklah Axel. Di sebelahnya, ada Larasati, istrinya yang baru ia nikahi sebulan lalu, sedang sibuk memeriksa riasan wajah di balik cermin sun visor.

Axel secara refleks melirik ke arah trotoar kampus. Detik itu juga, pandangan matanya terkunci pada sosok perempuan yang sedang dibantu naik ke atas motor dua tak yang berisik.

Itu Nadia.

Dan pandangan Axel langsung melotot turun, tertuju pada perut Nadia yang menyembul sangat besar di balik kemejanya. Perut yang membuncit tua, menandakan ada kehidupan yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.

DEG!!

Dada Axel seketika berdentum dengan sangat kuat, seolah ada godam tak kasat mata yang menghantam jantungnya sampai lepas. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan tangannya yang mencengkeram setir mobil mendadak gemetar hebat, mengeluarkan keringat dingin dalam sekejap.

****

1
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
tati st🌼🌼
imdahnya jatuh cinta saat halal,...cuman sayang masih ada jarak,di antara mereka,belum pada terus terang😁
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💪
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏😍
Safitri Agus
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
S.R ciplux
🤭 pandangan yg mendebarkan
Susma Wati
menunggu axel dan keluarga nya mendapatkan karma
Anna Annawaliana
benaran ini mah Ubay sama Nadia sudah saling jatuh cinta .

untuk Axel aku tunggu karna untuk keluargamu
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!