Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!
Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.
Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Sukses
Namun, Khatyr tidak panik sedikit pun. Sebaliknya, ia justru tertawa kecil, sebuah tawa renyah yang terdengar sangat meremehkan di dalam ruangan yang tegang itu.
Ia perlahan bangkit dari kursi kulitnya, merapikan kerah jas biru dongkernya, lalu berjalan mendekati layar proyektor dengan langkah tegap yang dipenuhi karisma kepemimpinan yang mendominasi.
"Vania, Vania..." gumam Khatyr dengan nada suara yang sangat tenang namun sarat akan wibawa yang dingin. "Analisis risetmu sangat emosional dan... luar biasa bodoh."
Khatyr menunjuk diagram alur pada draf dokumen di layar proyektor.
"Kamu mengklaim dokumen ini sebagai bukti bahwa Aulia mendikte keputusanku karena sistem operasional kita berjalan seiring dengan draf ini. Tapi, apakah kamu yang memimpin divisi analis selama lima tahun ini sama sekali tidak mendeteksi adanya kesalahan logika matematika fatal di dalam draf yang kamu bawa ini?"
Vania mengerutkan dahinya, mendadak merasa tidak nyaman. "Kesalahan logika? Apa maksud Anda? Dokumen ini sangat sempurna secara akademis!"
"Sempurna secara akademis untuk mahasiswa tingkat satu, tapi bencana besar bagi konglomerasi bernilai triliunan rupiah," potong Khatyr tajam, suaranya naik satu oktav penuh dominasi.
"Perhatikan kolom estimasi biaya lindung nilai valuta asing di halaman tiga. Formula regresi linier di sana mengabaikan integrasi sistem otomatisasi inti Kalumperri, menciptakan overlapping perhitungan bunga majemuk fiktif. Jika draf yang kamu anggap 'sempurna' ini diterapkan dalam sistem operasional nyata, Kalumperri Corp akan mengalami defisit anggaran sebesar lima ratus miliar rupiah pada tahun ketiga!"
Khatyr menatap Vania dengan pandangan elang yang sangat dingin.
"Faktanya, sistem logistik laut kita yang asli yang sudah kuuji sendiri tadi malam di server utama menggunakan formula estimasi dinamis yang sepenuhnya berbeda, yang mengeliminasi defisit tersebut dan menghasilkan proyeksi keuntungan bersih sebesar dua puluh persen. Keberhasilan operasional kita di lapangan membuktikan satu hal, aku sama sekali tidak pernah mengikuti atau menggunakan draf sampah yang kamu bawa ini!"
Vania langsung memucat. Tubuhnya gemetar hebat saat ia menyadari arah argumen Khatyr. "Itu... tapi bagaimana dengan keberadaan dokumen ini di meja sekretaris Anda?!"
"Pertanyaan yang sangat bagus, Kepala Divisi Vania Larasati," sahut Khatyr dengan seulas senyum dingin yang mematikan.
"Dokumen itu adalah draf uji kompetensi internal yang sengaja kubuat dan kuberikan kepada Aulia Putri kemarin sore untuk menguji kemampuannya dalam mendeteksi kesalahan sistem. Dokumen itu bersifat sangat rahasia dan hanya berada di meja kerja pribadi sekretaris eksekutifku."
Khatyr memotong jarak di antara mereka, menatap Vania dengan tatapan menghakimi yang menakutkan.
"Jadi, pertanyaanku untukmu adalah, bagaimana bisa seorang Kepala Divisi Analis Riset memiliki dokumen draf uji kompetensi internal yang sangat rahasia dari meja kerja sekretaris pribadi CEO-nya? Siapa yang memberikan otoritas padamu untuk melakukan spionase dokumen internal dan mencuri berkas dari lantai eksekutif?!"
"Ini... saya... saya hanya menemukannya di mesin fotokopi!" teriak Vania panik, suaranya melengking tinggi karena ketakutan yang luar biasa. Wajah cantiknya kini sepenuhnya memutih dengan keringat dingin yang membanjiri dahinya.
"Kebohongan yang sangat amatir, Vania," potong Aulia Putri dengan tenang dari belakang meja. Ia menggeser layar tabletnya, menghubungkannya ke sistem proyektor ruang rapat, menampilkan sebuah rekaman video CCTV yang sangat jernih.
"Ini adalah rekaman kamera pengawas lorong lantai empat puluh dua pagi ini pukul sembilan lewat delapan belas menit. Rekaman ini memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana Anda menyelinap ke meja kerja saya saat saya sedang berada di pantry, membuka map merah pribadi saya, dan mencuri dokumen draf tersebut tanpa izin."
Bisikan kemarahan langsung membubung tinggi di antara para direktur senior. Pak Haryo berdiri dari kursinya dengan wajah yang dipenuhi kemarahan mutlak.
"Cukup, Vania! Bukti video ini sangat memalukan! Berani-beraninya kamu melakukan pencurian dokumen di lantai eksekutif dan menyebarkan fitnah keji demi ambisi pribadimu?!"
"Pak Haryo, dengarkan penjelasan saya—"
"Penjelasanmu tidak lagi dibutuhkan di Kalumperri Corp, Vania Larasati," potong Khatyr dingin, matanya menatap Vania tanpa ada rasa kasihan sedikit pun.
"Mulai detik ini, kamu resmi dipecat dengan tidak hormat dari jabatanmu atas tindakan spionase korporat, pencurian aset dokumen internal, dan pelanggaran kode etik berat. Tim hukum kami akan segera menyerahkan bukti video ini kepada pihak kepolisian sore ini juga. Silakan tinggalkan ruangan ini sekarang."
Vania berdiri mematung di depan layar proyektor dengan tubuh gemetar, dunianya runtuh sepenuhnya dalam hitungan menit akibat kejeniusan santai Khatyr dan taktik tajam Aulia.
Dengan air mata kehinaan yang mulai membasahi pipinya, ia terpaksa mengemasi dokumennya dan melangkah keluar dari ruang konferensi dengan kekalahan mutlak yang memalukan di depan seluruh jajaran direksi.
Kembali ke lantai 42, keheningan korporat yang menenangkan kembali menyelimuti area eksekutif.
Khatyr menghempaskan tubuhnya ke sofa mewah dengan helaan napas panjang yang sangat lega, melepaskan dasi birunya dan membuka dua kancing teratas kemejanya.
Wajah berwibawa dan dominannya di ruang rapat tadi lenyap dalam sekejap, kembali bertransformasi menjadi sosok CEO pemalas yang sangat santai.
"Aulia..." panggil Khatyr dengan suara manjanya yang khas, meletakkan bantal ayam jagonya di atas dahi.
"Aktingku di depan dewan direksi tadi benar-benar menguras seluruh energi di otakku. Aku merasa seperti baru saja mendaki gunung tertinggi di dunia."
Aulia Putri melangkah mendekati sofa dengan senyum manis yang paling tulus di wajah cantiknya. Ia meletakkan segelas teh chamomile hangat di atas meja kecil di samping sofa.
"Anda melakukan akting itu dengan sangat luar biasa, Khatyr," ujar Aulia lembut, secara tidak sadar memanggil nama pribadi bosnya kembali dengan kehangatan yang manis.
"Ketegasan Anda saat membongkar kebohongan Vania benar-benar membuat seluruh ruangan bungkam."
Khatyr menurunkan bantal ayam jagonya sedikit, menatap wajah cantik sekretarisnya dengan sepasang mata gelap yang memancarkan kasih sayang dan rasa terima kasih yang teramat mendalam.
"Aku melakukan itu semua karena aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyentuh atau merusak reputasi gembala terbaikku, Aulia," bisik Khatyr lembut, suaranya terdengar begitu tulus dan hangat.
"Di dunia korporat ini, aku bisa kehilangan kursi CEO-ku kapan saja... tapi aku tidak akan pernah rela kehilangan kehadiranmu di sisiku."
Mendengar kata-kata tulus yang sarat akan komitmen mendalam itu, Aulia merasakan debaran manis yang luar biasa kencang kembali memenuhi dadanya.
Ia perlahan duduk di pinggiran sofa di samping Khatyr, menatap sepasang mata hangat pria itu dengan binar mata yang dipenuhi oleh cinta yang mulai tumbuh dengan kokoh.
"Terima kasih, Khatyr," bisik Aulia hangat, jemari lentiknya perlahan bergerak menyentuh jemari Khatyr di atas sofa, lalu menggenggamnya dengan lembut.
"Sekarang, pejamkan matamu. Waktu tidur siang satu setengah jam Anda yang sakral resmi dimulai... dan aku akan selalu ada di sini untuk menjagamu dari setiap badai di luar sana."
Khatyr tersenyum lebar, memejamkan sepasang matanya dengan kedamaian murni yang mengalir masuk ke dalam hatinya yang sunyi.
Di tengah hiruk-pikuk KALUMPERRI CORP, aliansi rahasia di antara sang sekretaris galak dan sang CEO pemalas kini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi sebuah ikatan cinta yang tak tertandingi, sebuah petualangan indah yang akan mereka hadapi bersama, selamanya.