NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Berikut deskripsi novel singkatnya.

Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 — Jawaban yang Datang dalam Mimpi

Malam itu, setelah keluarga Kalandra pulang, kediaman Nirankara kembali sunyi.

Lampu-lampu utama perlahan dipadamkan. Para pekerja rumah sudah kembali ke kamar masing-masing. Ruang tamu yang beberapa jam lalu dipenuhi percakapan dua keluarga kini tinggal menyisakan aroma teh hangat dan bunga segar di vas tengah meja.

Namun di kamar Jenna, sunyi itu terasa berbeda.

Jennaira Hanania Mecca duduk di atas sajadahnya cukup lama.

Ia sudah menunaikan salat istikharah. Kedua tangannya terangkat, sementara kepalanya tertunduk dalam-dalam. Di balik cadarnya yang sudah ia lepas karena berada di kamar sendiri, wajahnya tampak tenang, tetapi matanya menyimpan banyak pertanyaan.

“Ya Allah,” bisiknya pelan, “jika Arshaka Zayd Kalandra adalah jalan yang baik untuk agama, hidup, dan masa depan Jenna, maka dekatkanlah dengan cara yang baik. Tapi jika dia bukan yang terbaik, jauhkanlah tanpa menyakiti siapa pun.”

Doa itu ia ulang beberapa kali.

Bukan karena ia berharap mimpi indah seperti kisah-kisah yang sering orang ceritakan. Jenna tidak ingin memaksa tanda. Ia hanya ingin hatinya ditenangkan. Ia ingin keputusan yang diambil bukan karena desakan keluarga, bukan karena nama besar Kalandra, bukan pula karena rasa penasaran sesaat setelah mengetahui bahwa Shaka adalah laki-laki yang membeli buket bunga di kafenya.

Pernikahan terlalu besar untuk diputuskan hanya dengan perasaan yang belum selesai.

Namun malam itu, setelah lama berdoa, Jenna merasa hatinya perlahan lebih ringan.

Ia merebahkan diri menjelang tengah malam.

Dan dalam tidurnya, Jenna bermimpi.

Ia berada di sebuah taman yang sangat luas. Langitnya berwarna keemasan, seperti senja yang tidak pernah benar-benar pergi. Di sekelilingnya tumbuh banyak bunga putih. Lily. Mawar. Baby’s breath. Semua bergerak lembut tertiup angin.

Di tengah taman itu, Jenna melihat sebuah jalan setapak.

Awalnya ia berdiri sendirian.

Lalu dari ujung jalan, seseorang datang.

Seorang laki-laki berjalan pelan ke arahnya. Wajahnya tidak sepenuhnya jelas, tetapi Jenna mengenali sikap tubuhnya. Tegap. Tenang. Dingin di permukaan, tetapi tidak terasa mengancam.

Laki-laki itu berhenti beberapa langkah di hadapannya.

Di tangannya ada buket bunga putih gading.

Buket yang sama seperti yang ia rangkai sore tadi.

Jenna menatapnya tanpa takut.

Laki-laki itu tidak banyak bicara. Ia hanya mengulurkan buket itu ke arah Jenna, seolah meminta izin untuk mendekat.

Dan anehnya, dalam mimpi itu, Jenna menerima.

Saat jemarinya menyentuh buket tersebut, bunga-bunga putih di sekitar mereka mekar bersamaan. Tidak ada suara besar. Tidak ada cahaya menyilaukan. Hanya rasa damai yang perlahan memenuhi dadanya.

Lalu Jenna mendengar suara yang sangat lembut.

Bukan suara laki-laki itu.

Bukan pula suara siapa pun yang ia kenal.

Hanya bisikan yang terasa langsung sampai ke hatinya.

Jalan yang baik tidak selalu datang dengan debar yang keras. Kadang ia datang dengan tenang, seperti bunga yang mekar tanpa suara.

Jenna terbangun sebelum azan Subuh.

Matanya terbuka perlahan.

Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar.

Dadanya terasa lapang.

Ia tidak bisa menjelaskan semuanya dengan logika. Ia juga tidak ingin bersikap seolah-olah mimpinya adalah keputusan mutlak yang tidak boleh diuji. Namun satu hal jelas baginya: kegelisahan yang sejak kemarin memenuhi hatinya sudah banyak berkurang.

Nama Arshaka Zayd Kalandra tidak lagi terasa seperti pintu asing yang menakutkan.

Ia tetap belum mengenal Shaka sepenuhnya.

Ia tetap tahu bahwa pernikahan mereka, jika benar terjadi, tidak akan langsung mudah.

Namun hatinya kini memberi ruang.

Dan bagi Jenna, itu cukup untuk mulai melangkah.

 

Pagi di rumah Nirankara berjalan seperti biasa.

Meja makan sudah tertata rapi. Zahra duduk di sisi kanan Reza, sementara Abizar baru saja datang dengan rambut yang masih sedikit basah setelah mandi. Reza membaca beberapa berkas ringan di tabletnya, tetapi segera meletakkannya ketika Jenna masuk.

“Assalamu’alaikum,” ucap Jenna lembut.

“Wa’alaikumussalam,” jawab keluarganya hampir bersamaan.

Jenna duduk di kursinya.

Zahra memperhatikan wajah putrinya. Sebagai ibu, ia bisa menangkap perubahan kecil yang mungkin luput dari orang lain. Jenna tampak lebih tenang pagi itu. Matanya tidak lagi menyimpan kegelisahan seperti semalam.

“Kamu tidur nyenyak, Nak?” tanya Zahra.

Jenna menatap ibunya, lalu mengangguk pelan.

“Alhamdulillah, Bu.”

Abizar mengambil roti panggang, lalu melirik adiknya dengan curiga.

“Kok tenang sekali pagi ini?”

Jenna tidak langsung menjawab.

Reza yang duduk di kursi kepala meja menatap putrinya.

“Jenna,” panggilnya lembut. “Ada yang ingin kamu sampaikan?”

Jenna menunduk sebentar.

Lalu ia mengangkat wajah, menatap ayahnya dengan mata yang lebih mantap.

“Ayah,” ucapnya pelan, “Jenna sudah mendapatkan jawaban.”

Gerakan tangan Abizar yang hendak mengoles selai langsung berhenti.

Zahra ikut terdiam.

Reza menatap putrinya lebih serius.

“Jawaban tentang lamaran keluarga Kalandra?”

Jenna mengangguk.

Hening menyelimuti meja makan.

Abizar tidak lagi menggoda. Untuk urusan sebesar ini, ia tahu kapan harus diam dan mendengarkan.

Reza bertanya dengan suara tenang, “Apa jawabanmu, Nak?”

Jenna menarik napas perlahan.

“Jenna menerima lamaran keluarga Kalandra.”

Zahra menutup mulutnya perlahan. Matanya langsung berkaca-kaca, antara haru dan terkejut.

Abizar menatap adiknya beberapa saat, seolah ingin memastikan Jenna tidak sedang terburu-buru.

Reza juga diam. Namun dari cara ia menatap Jenna, terlihat bahwa ia sedang membaca keteguhan hati putrinya.

“Kamu yakin?” tanya Reza.

Jenna mengangguk.

“Insyaallah, Ayah. Jenna sudah shalat istikharah. Semalam Jenna mendapat mimpi yang membuat hati Jenna lebih tenang. Jenna belum bisa mengatakan sudah mengenal Mas Shaka sepenuhnya, tapi Jenna merasa tidak ada alasan untuk menutup jalan ini jika kedua keluarga berniat baik.”

Zahra menatap putrinya dengan lembut.

“Nak, menerima lamaran bukan berarti kamu harus menanggung semuanya sendiri. Setelah ini tetap ada proses. Kalau ada yang membuatmu ragu, katakan kepada Ibu dan Ayah.”

“Iya, Bu.”

Reza menghela napas pelan.

Lalu senyum kecil muncul di wajahnya.

“Baik. Kalau itu jawabanmu, Ayah akan menghormatinya.”

Jenna merasakan matanya menghangat.

“Terima kasih, Ayah.”

Abizar akhirnya bersuara.

“Dek.”

Jenna menoleh.

Kali ini, tidak ada nada menggoda dalam suara kakaknya.

“Kamu benar-benar yakin?”

Jenna menatap Abizar cukup lama.

“Kak Abi pernah bilang, kalau apa pun yang terjadi, Jenna tidak sendirian.”

Abizar diam.

Jenna melanjutkan, “Jenna memegang itu.”

Ekspresi Abizar melembut.

Ia mengangguk pelan.

“Kalau begitu, Kakak dukung. Tapi kalau dia macam-macam, Kakak yang pertama turun tangan.”

Zahra menegur lembut, “Abi.”

Abizar mengangkat bahu. “Itu bentuk restu versi kakak laki-laki.”

Jenna tertawa kecil.

Suasana meja makan yang tegang perlahan mencair.

Reza mengambil ponselnya dari meja.

“Ayah akan mengabari Aditya pagi ini.”

Jenna menunduk. Dadanya berdebar, tetapi tidak lagi karena takut. Lebih seperti seseorang yang sadar bahwa jalan hidupnya baru saja berubah arah.

Reza mencari kontak Aditya, lalu menekan tombol panggil.

Tidak lama, panggilan tersambung.

“Assalamu’alaikum, Ditya.”

Suara Aditya terdengar dari seberang. “Wa’alaikumussalam, Reza. Pagi sekali menelepon. Ada kabar?”

Reza melirik Jenna sebentar, lalu tersenyum.

“Ada. Jenna sudah memberikan jawaban.”

Di seberang sana, Aditya terdiam sesaat.

“Bagaimana jawabannya?”

“Alhamdulillah, putriku menerima lamaran keluargamu.”

Zahra menggenggam tangan Jenna di bawah meja.

Abizar menatap adiknya dengan senyum tipis.

Dari seberang telepon, suara Aditya terdengar lega.

“Alhamdulillah. Terima kasih, Reza. Sampaikan terima kasih kami kepada Jenna.”

“Nanti kusampaikan.”

Mereka berbicara beberapa saat. Awalnya hanya membicarakan rasa syukur dan rencana pertemuan keluarga berikutnya. Namun karena keduanya sudah lama saling mengenal dan sama-sama memiliki cara berpikir yang lugas, pembahasan itu bergerak lebih cepat dari dugaan.

“Menurutku, kalau anak-anak sudah setuju dan keluarga juga baik, tidak perlu ditunda terlalu lama,” ujar Aditya.

Reza melirik Zahra, meminta pendapat tanpa suara.

Zahra tampak terkejut, tetapi tidak menolak. Ia hanya menatap Jenna.

Jenna menunduk, namun tidak menunjukkan keberatan.

Reza kembali bicara ke telepon.

“Kami juga berpikir begitu. Tapi tetap perlu disiapkan dengan baik.”

“Bagaimana kalau minggu depan?” tanya Aditya.

Reza terdiam sebentar.

Minggu depan.

Cepat.

Sangat cepat.

Namun dalam keluarga seperti mereka, persiapan pernikahan besar bukan sesuatu yang mustahil dilakukan dalam waktu singkat. Yang lebih penting bukan pesta, melainkan kesepakatan dan kesiapan hati anak-anak mereka.

Reza menatap Jenna.

“Nak,” panggilnya pelan, menutup mikrofon ponsel sebentar. “Aditya mengusulkan pernikahan minggu depan. Bagaimana menurutmu?”

Zahra menatap putrinya penuh perhatian.

Abizar langsung mengernyit. “Minggu depan?”

Jenna diam.

Minggu depan berarti hidupnya akan berubah dalam hitungan hari.

Dari Jennaira Hanania Mecca Nirankara, putri bungsu keluarga Nirankara dan pemilik Jenna’s Bloom Café, ia akan menjadi istri Arshaka Zayd Kalandra. Laki-laki yang baru ia temui dua kali. Laki-laki yang matanya dingin, tetapi membelikan bunga untuk ibunya. Laki-laki yang belum ia pahami.

Jenna menelan pelan.

Cepat bukan berarti salah.

Tapi cepat juga tidak boleh dianggap ringan.

Ia menatap ayah dan ibunya.

“Kalau Ayah dan Ibu merasa ini baik, dan keluarga Kalandra juga menjaga prosesnya dengan baik, Jenna tidak keberatan.”

Abizar menatap adiknya, masih terlihat berat menerima kecepatan itu. Namun ia tidak membantah.

Reza membuka kembali mikrofon ponselnya.

“Ditya, Jenna tidak keberatan. Kita bicarakan detailnya hari ini. Insyaallah minggu depan.”

“Alhamdulillah,” jawab Aditya.

Panggilan itu berakhir beberapa menit kemudian dengan kesepakatan awal: pernikahan akan diadakan minggu depan. Detail tempat, akad, dan resepsi akan dibicarakan bersama keluarga besar pada hari yang sama.

Setelah Reza meletakkan ponsel, meja makan kembali hening.

Abizar bersandar di kursinya.

“Jadi adik Abi benar-benar akan menikah minggu depan?”

Jenna menunduk malu.

Zahra menggenggam tangan putrinya lebih erat.

Reza menatap kedua anaknya dengan wajah tenang, tetapi matanya menyimpan haru.

“Mulai hari ini, kita siapkan semuanya. Tapi ingat, Jenna,” ucap Reza, “kalau kapan pun kamu merasa ragu, pintu untuk bicara tetap terbuka.”

Jenna mengangguk.

“Iya, Ayah.”

Di dalam hatinya, Jenna kembali mengulang doa yang sama.

Ya Allah, jika ini jalan yang Engkau ridai, lembutkanlah langkah kami.

 

Di tempat lain, pagi itu Shaka sudah berada di ruang kerjanya.

Tidak seperti biasanya, fokusnya sedikit pecah. Beberapa laporan sudah terbuka di layar laptop, tetapi matanya tidak benar-benar membaca angka-angka di sana.

Pikirannya sesekali kembali ke malam sebelumnya.

Rumah Nirankara.

Makan malam.

Suara Reza yang tenang.

Dan Jenna yang menjawab lamaran itu dengan kalimat yang tidak ia duga.

“Jenna ingin sholat istikharah dulu.”

Shaka tidak tahu kenapa kalimat itu terus menempel di pikirannya. Mungkin karena Jenna tidak terburu-buru. Mungkin karena ia tidak terlihat silau oleh nama Kalandra. Atau mungkin karena untuk pertama kalinya, Shaka bertemu perempuan yang membuat keputusan dengan tenang, bukan dengan ambisi atau sandiwara.

Pintu ruang kerjanya terbuka setelah dua ketukan.

Rafa masuk sambil membawa tablet dan segelas kopi.

Wajahnya langsung menunjukkan rasa ingin tahu yang tidak ditutup-tutupi.

“Pagi, calon pengantin.”

Shaka mengangkat wajah perlahan.

“Jangan mulai.”

Rafa meletakkan kopi di meja Shaka, lalu duduk di kursi depan tanpa diminta.

“Gue sudah menahan diri sejak tadi malam. Sekarang gue berhak tahu. Gimana pertemuan keluarga semalam?”

“Biasa.”

Rafa menatapnya datar.

“Biasa itu jawaban orang yang malas cerita, bukan jawaban orang yang baru dilamar atas nama keluarga.”

Shaka membuka dokumen di laptopnya. “Kerja.”

“Nanti. Ini lebih penting.”

“Tidak.”

“Ka, gue sekretaris lo. Gue harus tahu jadwal hidup lo. Termasuk kalau mendadak lo akan menikah.”

Shaka berhenti mengetik.

Rafa menangkap perubahan kecil itu.

Matanya langsung membesar.

“Sebentar.” Ia mencondongkan tubuh ke depan. “Jangan bilang…”

Shaka menatapnya dengan ekspresi datar.

“Jenna setuju.”

Rafa membeku.

Lalu dalam hitungan detik, wajahnya berubah heboh.

“Anjir.”

“Jaga bahasa.”

“Lo serius?” Rafa hampir berdiri dari kursinya. “Jenna setuju menikah sama lo?”

Shaka menyipitkan mata. “Kenapa nada lo seperti itu?”

“Karena gue kaget ada perempuan sebaik dia yang langsung setuju sama manusia sedingin freezer dua pintu.”

“Rafa.”

“Maaf, calon suami.”

Shaka menghela napas tajam.

Rafa justru semakin bersemangat.

“Tunggu, tunggu. Dia jawab kapan? Semalam? Setelah kalian pulang? Apa dia nelepon? Apa keluarga lo dikabarin pagi ini?”

“Pagi ini. Reza menghubungi Papa.”

“Dan?”

“Pernikahan minggu depan.”

Rafa benar-benar berdiri kali ini.

“Minggu depan?!”

Shaka menatapnya datar.

“Lo terlalu berisik.”

“Berisik gimana? Sahabat gue yang selama ini anti cinta, anti nikah, anti basa-basi romantis, tiba-tiba mau nikah minggu depan. Gue berhak mengalami gangguan emosional.”

“Aku belum bilang mau.”

Rafa berhenti.

Wajahnya sedikit berubah serius.

“Tapi keluargamu sudah sepakat?”

Shaka diam.

Itu jawaban yang cukup.

Rafa duduk kembali, kali ini tidak lagi terlalu jahil.

“Ka,” katanya pelan, “lo keberatan?”

Shaka memandang layar laptopnya, tetapi tidak membaca apa pun.

“Aku tidak tahu.”

Itu jawaban paling jujur yang bisa ia berikan.

Rafa menatap sahabatnya lebih lama.

“Lo masih takut?”

Shaka langsung menatap Rafa tajam.

“Gue tanya baik-baik,” ujar Rafa, kali ini tanpa bercanda. “Lo nggak harus jawab kalau nggak mau. Tapi lo tahu sendiri, luka lama lo masih ada. Jangan sampai Jenna jadi korban perang lo dengan masa lalu.”

Shaka terdiam.

Nama Jenna membuat kalimat itu terasa lebih berat.

“Aku tidak akan menyakitinya,” ucap Shaka rendah.

Rafa mengamati wajahnya, lalu tersenyum kecil.

“Nah. Itu kalimat pertama yang cukup meyakinkan.”

Shaka mendengus.

“Jangan sok bijak.”

“Gue memang bijak kalau menyangkut kebodohan emosional lo.”

“Keluar.”

“Belum.” Rafa kembali tersenyum jahil. “Gue mau tanya satu hal.”

“Apa?”

“Lo senang nggak?”

Shaka diam.

Terlalu lama.

Rafa menunjuk wajahnya.

“Itu. Diam lo itu mencurigakan.”

“Tidak ada yang perlu disenangi.”

“Bohong.”

“Rafa.”

“Ka, lo boleh pura-pura dingin ke semua orang. Tapi jangan lupa, gue lihat sendiri muka lo waktu di kafe kemarin. Lo ngeliatin Jenna kayak orang baru pertama kali sadar bunga bisa hidup.”

Shaka mengambil pulpen dari meja, tampak siap melemparnya.

Rafa langsung berdiri.

“Oke, oke. Gue keluar.” Ia berjalan ke pintu, tetapi masih sempat menoleh. “Tapi selamat, bro. Serius.”

Shaka tidak menjawab.

Rafa tersenyum lebih lembut.

“Semoga kali ini lo nggak lari dari sesuatu yang sebenarnya bisa bikin lo sembuh.”

Setelah mengatakan itu, Rafa keluar dan menutup pintu.

Ruangan kembali hening.

Shaka bersandar di kursinya.

Pernikahan minggu depan.

Kalimat itu terasa besar, cepat, dan sulit dipercaya.

Ia belum mengenal Jenna.

Jenna belum mengenalnya.

Mereka hanya bertemu dalam beberapa percakapan singkat. Di kafe. Di rumah Nirankara. Di antara buket bunga dan lamaran keluarga.

Namun sekarang, perempuan bermata cokelat terang itu akan menjadi istrinya.

Shaka menatap map profil Jenna yang masih tersimpan di salah satu sisi mejanya.

Dulu ia membaca file itu untuk mencari alasan menolak.

Kini, setelah Jenna menerima, ia justru merasa file itu tidak cukup.

Ia tidak ingin hanya tahu nama, usia, keluarga, dan reputasinya.

Ia ingin tahu bagaimana Jenna tertawa. Apa yang membuatnya marah. Bagaimana ia menghadapi kesedihan. Apa yang ia takutkan. Apa yang ia simpan di balik kelembutan matanya.

Shaka mengusap wajahnya pelan.

Rafa benar.

Ini berbahaya.

Bukan karena Jenna mengancam hidupnya.

Tetapi karena untuk pertama kalinya setelah lama sekali, Shaka merasa ada seseorang yang mungkin bisa masuk ke ruang yang selama ini ia kunci.

Dan yang paling mengganggunya, ia tidak sepenuhnya ingin menutup pintu itu lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!