Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?
Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.
!!!⚠️!!!
#BL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Suasana kantin dekat gedung Ekonomi siang itu riuh rendah. Meskipun Luca sudah sembuh total dan kembali ceria, ada ganjalan di hatinya karena Brant sedang sangat sibuk menyiapkan keberangkatan tim besok pagi.
Luca menghela napas panjang, menatap kursi kosong di sampingnya. "Kantin sepi banget ..."
"Halah, bilang aja lo kangen kak Brant!" ledek Rose sambil memoles lipstik.
Tiba-tiba Vin datang dari luar kantin langsung menaruh bungkusan besar di meja. "Nih, Double Cheese Burger buat yang lagi galau."
Dalam sekejap, Luca, Elena, dan Rose sudah berebutan dan makan dengan lahap, sampe lupa sebelumnya bilang trimakasi ke Vin. Mulut Luca sampai penuh sesak dengan roti dan daging, pipinya menggelembung lucu.
"O-oi... pelan-pelan, Ca! Kayak nggak dikasih makan setahun," tegur Vin sambil geleng-geleng kepala.
Sambil menikmati burgernya Elena mulai membuka tabletnya—mode intelijen aktif. "Eh, denger ya, ada berita panas. Vania, si flyer baru itu, sekarang dijuluki Princess Cheerleaders. Katanya, anak basket jadi semangat banget latihannya gara-gara dia."
Luca mau protes, tapi mulutnya terlalu penuh. "Mmph... mmmph!"
Vin langsung menyodorkan botol air ke mulut Luca. "Telan...dan minum dulu, baru ngomong."
"Gue nggak suka ya sama itu cewek," sahut Rose pedas. "Sok cantik banget! Ya emang cantik sih, tapi keganjenan. Masa dia terang-terangan caper sama salah satu pemain inti?"
Elena menyambung, matanya melirik Luca. "Dan yang diincar si cewek ganjen itu—"
"Pasti Brant, kan?!" potong Rose cepat.
Vin mendengus. "Akrab sama Brant aja sulit, apalagi mau caper. Brant nggak bakal semudah itu."
Luca terdiam menderngarnya. Nafsu makannya mendadak hilang. Rasa takut itu mulai merayap. Bagaimana kalau Brant tergoda? Bagaimana kalau wanita secantik Vania jauh lebih pantas di sisi Brant daripada dirinya?
Rose yang menyadari keterdiaman Luca langsung tanggap.tahu kalau sahabatnya itu sedang tenggelam dalam berbagai pikiran rumit tentang Brant.
"Tenang aja, Ca," Rose merangkul Luca. "Kalau dia berani goda Brant, gue hapus make-up-nya di depan umum biar kelihatan jeleknya!"
"Gue gunting rambutnya biar sekalian parah," tambah Elena sadis.
Vin menepuk bahu Luca kuat-kuat. "Gue laki-laki, gue nggak bakal mukul cewek. Tapi kalau Brant sampai tergoda, gue yang bakal nonjok wajah tampannya itu sampai babak belur."
Luca tersenyum terharu, matanya berkaca-kaca. "Makasih ya... kalian baik banget."
Setelah Vin, Rose, dan Elena kembali sibuk dengan urusan mereka sendiri di meja kantin. Luca kembali terdiam di kursinya. Ia menghela napas panjang, lalu perlahan membuka kunci ponselnya. Layar itu menampilkan foto wallpaper dirinya dan Brant yang sedang tersenyum lebar ke arah kamera—sebuah kebahagiaan sederhana.
Tanpa ada yang tahu, Luca benar-benar ketakutan. Kabar tentang Vania yang mencoba mendekati Brant bukan hanya soal cemburu biasa, tapi itu membangkitkan memori yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam.
Beberapa bulan lalu, mama luca mengajaknya ke acara bakti sosial sekaligus reuni akbar SMA-nya. Di sana, suasana sangat meriah, tapi perhatian semua orang tertuju pada satu sosok berwibawa di atas podium.
Sebagai ketua alumni, pria itu berdiri dengan angkuh, memegang mikrofon sambil menceritakan keberhasilannya.
"Saya hanya punya satu putra," ucapnya dengan suara berat yang memenuhi ruangan. "Dialah satu-satunya harapan saya. Saya sudah menyiapkan segalanya agar dia meneruskan bisnis keluarga dan tentu saja, memberikan penerus yang sepadan untuk klan kami di masa depan."
saat acara usai. Luca melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan lobi, dan yang keluar dari kursi kemudi adalah Brant.
Jantung Luca serasa jatuh ke aspal. Ia melihat Brant berdiri tegak dengan wajah datar, membukakan pintu mobil untuk pria yang tadi berdiri di podium. Pria itu menepuk bahu Brant dengan bangga, sebuah gestur kepemilikan yang sangat kuat.
Luca hanya bisa mematung. Kepalanya berputar. Sosok pria yang baru saja secara tidak langsung menolak eksistensi hubungan "seperti mereka" di depan ratusan orang itu... adalah ayah dari laki-laki yang paling ia cintai.
•••
"Dengerin gue, Luca. jangan dengerin apa kata bokap gue. Selama gue masih ada di sini, kita berdua akan baik-baik saja. Gue yang akan hadapi dia, bukan lo. Paham?"
Luca mengusap layar ponselnya, tepat di wajah Brant yang tersenyum.
"Kakak bilang kita bakal baik-baik saja kan..." gumam Luca pelan,
Seolah semesta menjawab kegelisahan hati Luca, tepat saat ia menatap foto mereka, layar ponselnya berkedip menampilkan nama Brant. Jantung Luca melonjak.
"Halo, Kak?" sapa Luca pelan.
"Lo di mana? Gue di kelas lo, tapi sepi," suara berat Brant terdengar di seberang sana.
"Lagi di kantin sama anak-anak, . Baru selesai makan burger."
"Tunggu di situ. Jangan ke mana-mana."
Tak butuh waktu lama, sosok tinggi dengan jaket tim basketnya muncul di pintu kantin, membuat suasana yang tadinya bising mendadak hening sejenak karena pesona dan auranya . Brant langsung berjalan lurus ke arah meja mereka, mengabaikan tatapan mata dari meja-meja lain.
Tanpa basa-basi, Brant duduk di samping Luca, mengabaikan vin, Rose dan Elena yang juga duduk di situ . Ia langsung menarik kepala Luca pelan dan menempelkan telapak tangannya di dahi Luca, lalu beralih ke lehernya.
"Tadi habis makan apa?" Tanya brant.
"Burger, Kak. Tapi sekarang aku pengen boba... boleh ya?" Luca memasang wajah paling menggemaskan yang ia punya
Brant mendengus pelan, tapi tangannya merangkul bahu Luca erat. "Iya, pesan online aja, Buat temen-temen lo juga, pesenin sekalian. Gue yang bayar." Ucap Brant. Ia langsung memberikan ponselnya ke tangan Luca sekalian membayar pesanan menggunakan akunya.
"ASIK! HIDUP KAK BRANT!" seru Rose dan Elena kompak.
Vin cuma geleng-geleng kepala. "Sering-sering aja ya lo sibuk, biar pas muncul langsung traktir begini."
Menunggu sekitar sepuluh menit sambil berbincang, pesanan boba mereka akhirnya datang. Begitu kurir pengantar sampai di depan kantin, Rose langsung bergegas mengambilnya.
Selagi mereka menikmati boba, Elena diam-diam sudah menyiapkan kameranya. Ia mengambil foto candid saat Brant sedang mengusap sudut bibir Luca yang terkena krim, dengan latar belakang Vin yang sedang menatap tajam ke arah kamera seolah berkata 'jangan macam-macam sama temen gue'.
"Oke, masuk grup!" bisik Elena sambil jarinya lincah mengetik di ponsel.
Elena: (Mengunggah foto) "Buat yang merasa Princess, mending kacaan dulu. Pawangnya udah balik, dan jangan lupa... pawangnya punya bodyguard manja nan galak yang siap terkam siapa pun yang berani caper! #BrantLuca #TeamLucaSafe"
"Besok jam berapa berangkat, Kak?" tanya Luca sambil menyedot bobanya.
"Jam tujuh pagi dari depan gedung olahraga," jawab Brant. Matanya menatap Luca dalam. "Lo nggak perlu anter. Masuk kelas aja, biar nggak ketinggalan pelajaran lagi."
"Dih, aku kan mau dadah-dadah cantik di pinggir bus," canda Luca, meski hatinya sedikit perih.
Rose menyahut, "Tenang aja, Kak Brant. Luca aman sama kita. Kalau ada yang macem-macem di kampus... biar gue sama Elena yang urus 'hama'-nya."
Brant menoleh ke arah teman-teman Luca, lalu mengangguk tipis. " Jagain dia."
Luca tersenyum senang, meski di sudut hatinya ia masih teringat bayangan ayah Brant. Namun, melihat betapa besarnya perlindungan dari Brant dan teman-temannya, Luca merasa sedikit lebih berani.
Sementara itu hanya dalam hitungan menit unggahan di grup gosip kampus itu langsung di penuhi ratusan like dan komentar.
Sebagian besar komentar memang mendukung hubungan mereka. Banyak yang menuliskan
" betapa cocoknya si "Ice Prince" dengan "Malaikat Kecil" dari Gedung Ekonomi itu."
Komentar seperti 'Pawal real emang nggak pernah gagal!' atau 'Cuma Luca yang bisa bikin Brant jadi manusia,' mendominasi kolom teratas.
Namun, di antara banjir dukungan itu, terselip beberapa komentar pedas yang memancing emosi.
"Cuma modal imut doang mah lama-lama ngebosenin. Lagian sekarang kan udah ada yang lebih princess di lapangan" tulis salah satu akun yang dikenal sebagai teman dekat Vania.
Komentar lain menimpali, "Tim basket butuh penyemangat yang elegan, bukan yang ribet manja."
Untung saja Elena sedang sibuk, sehingga dia tidak terpancing dengan bunyi notif yang masuk dari postingannya itu.