"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"
Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.
Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang itu Diki?
Di sepanjang perjalanan menuju kampus, ucapan Zhafran sejak tadi terus terngiang di kepala Aryan. Seharusnya tadi malam ia mencari tau lebih dulu sebelum memutuskan menemui Zaskia di kamar.
Kenapa ia bisa tidak kepikiran sampai ke sana? Hal sepenting itu justru luput dari pikirannya. Kalau Zaskia sampai hamil bagaimana? Padahal perempuan itu sudah bilang berkali-kali kalau dirinya belum siap memiliki anak. Ia masih ingin fokus kuliah dan mengejar cita-citanya menjadi reporter.
Memikirkan semua itu membuat kepala Aryan terasa panas. Ah, sudahlah. Nanti ia akan mencari jalan keluarnya, walaupun sampai sekarang ia sendiri tidak tau harus melakukan apa untuk mencegah sesuatu yang mungkin saja sudah terjadi.
"Kak!" Panggilan Zaskia dari belakang membuat Aryan sedikit terkejut.
Kini mereka tengah menuju kampus menggunakan motor matic milik Zaskia. Perempuan itu menolak dibonceng menggunakan motor sport Aryan karena merasa terlalu tinggi dan membuatnya tidak nyaman.
"Iya?" sahut Aryan sambil tetap fokus menatap jalan.
"Ayah bilang apa tadi?"
Zaskia sedikit berteriak agar suaranya terdengar jelas di tengah bising kendaraan yang berlalu lalang.
Aryan diam sesaat. Ia tampak ragu menjawab. Kalau ia mengatakan yang sebenarnya, Zaskia pasti akan ikut kepikiran. Aryan tidak ingin istrinya jadi overthinking sejak pagi.
"Gak ada. Kakak cuma diminta jagain kamu aja."
"Beneran cuma itu?"
"Iya, Kia."
Zaskia mengangguk pelan. Ia duduk menyamping di jok belakang dengan kedua tangan bertumpu di atas paha tanpa berpegangan pada Aryan sedikit pun.
Tak jauh di belakang mereka, sebuah mobil hitam melaju mengikuti. Di dalamnya ada Arshaf yang menyetir, sementara Kafa duduk di kursi penumpang.
Tatapan Kafa tampak sendu menatap punggung Zaskia yang kini berboncengan dengan Aryan. Dadanya terasa sesak melihat pemandangan itu.
Semua terasa begitu kacau baginya.
Saat malam pernikahan itu terjadi, pikirannya benar-benar kosong. Ia terlalu syok, terlalu takut, dan terlalu bingung untuk mengambil keputusan. Namun sekarang, setelah semuanya berlalu dan Aryan benar-benar menikahi Zaskia, barulah Kafa sadar bahwa keputusan yang ia ambil malam itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Kini ia justru tersiksa oleh rindunya sendiri.
"Kaf."
"Hm?" Kafa tersentak dari lamunannya.
"Mikirin apa lo? Pagi-pagi udah ngelamun aja."
"Gue cuma kepikiran tugas, Shaf. Santai lah."
"Tadi malam kenapa lo gak gabung? Beneran sakit perut? Gue kok gak yakin, ya."
"Iya, beneran sakit gue."
"Terus pas nikahan Aryan lo juga gak ikut foto. Parah banget lo, sahabat sendiri nikah malah lo tinggalin."
"Ada pas sesi pertama kan gue ikut, Shaf. Pas sesi berikutnya baru gue balik karena ada urusan mendadak. Aryan juga tau."
"Urusan apa memangnya?"
"Ya pokoknya ada deh. Kepo banget lo."
Kafa kembali memalingkan wajah ke arah jendela. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa memang ia dan Zaskia tidak berjodoh.
"Kaf."
"Hem, ape?"
"Lo tau gak?"
"Gak," jawab Kafa malas tanpa menoleh.
Arshaf malah terkekeh kecil. "Tadi malam si Aryan panik banget."
Kafa akhirnya sedikit tertarik. Ia menoleh pelan. "Panik kenapa?"
"Dia bingung gimana mulai malam pertamanya. Ya gue kasih tau aja. Walaupun gue belum pengalaman, tapi kan gue udah khatam kitab-kitab beginian."
Tubuh Kafa langsung menegang.
Jadi... tadi malam Aryan dan Zaskia benar-benar....
Bahkan Kafa sendiri tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
Ia menelan ludah pahit.
"Kenapa harus buru-buru?" gumamnya lirih. "Kan bisa diundur kalau mereka belum siap."
"Karena itu syaratnya, Kaf. Kata Ustadz Mansyur, jin yang ngikutin Kia bakal pergi kalau dia udah jadi istri sepenuhnya."
Mata Kafa langsung melebar.
Dadanya seperti diremas kuat-kuat.
Berarti tadi malam Aryan benar-benar sudah menyentuh Zaskia.
Pikiran itu membuat napasnya terasa berat. Ia buru-buru kembali menatap keluar jendela sambil mengusap wajah kasar.
"Lo bisa bayangin gak gimana lucunya Aryan pas—"
"Udah, stop, Shaf! Jangan diterusin!"
Arshaf langsung mengernyit mendengar nada tinggi Kafa.
Kafa berulang kali menghela napas, mencoba membuang sesak yang terus menekan dadanya.
"Kenapa lo?" tanya Arshaf bingung.
"Memangnya penting bahas begituan?" sentak Kafa. "Lo juga tau sendiri gimana hukumnya ngebahas hal kayak gitu."
Arshaf sedikit kaget. "Ya udah, santai kali." Ia terkekeh kecil. "Aneh banget sih lo."
Kafa memilih diam.
Tatapannya kembali jatuh pada motor di depan sana.
Pada Aryan. Dan Zaskia.
"Jangan-jangan..." Arshaf menyipitkan mata jahil. "Lo naksir sama Kia, ya?"
Kafa terdiam.
Ia tidak menjawab apa pun.
Namun diamnya itu justru membuat Arshaf semakin yakin kalau tebakannya benar.
Beberapa menit kemudian, motor yang dikendarai Aryan memasuki pelataran kampus. Kendaraan roda dua itu terus melaju hingga akhirnya berhenti di depan gedung Fakultas Ilmu Komunikasi.
Sementara itu, mobil Arshaf berbelok ke arah lain karena fakultas mereka berbeda dengan Zaskia.
Aryan mematikan mesin motornya. Zaskia lalu turun perlahan sambil melepas helm yang dikenakannya, kemudian menyodorkannya pada Aryan.
"Hari ini kakak ngajar. Siangnya kakak lanjut kuliah. Nanti kalau kamu udah selesai, chat atau telepon aja."
Aryan menerima helm itu sambil menatap Zaskia yang berdiri di hadapannya.
"Kakak masih ngajar privat? Enggak jadi asdos lagi?" tanya Zaskia.
"Asdos masih. Tapi enggak sering. Paling kalau dosennya berhalangan hadir aja." Aryan memasang helm di spion motornya. "Yaudah, kamu masuk gih."
Zaskia mengangguk pelan. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
Namun tiba-tiba, tanpa diduga, gadis itu meraih tangan Aryan lalu mengecup punggung tangannya dengan takzim.
Aryan langsung tertegun.
Kedua alisnya sampai terangkat karena kaget.
"Assalamu'alaikum, Kak."
"Wa'alaikumussalam..." Suara Aryan bahkan terdengar sedikit terlambat karena ia masih syok.
Zaskia buru-buru melepaskan tangan Aryan lalu berjalan cepat memasuki gedung kampus. Langkahnya terlihat agak tergesa, seolah malu dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Sementara Aryan...Laki-laki itu membeku beberapa detik di tempat.
Tatapannya jatuh pada punggung tangannya yang baru saja dikecup Zaskia. Dadanya langsung dipenuhi debaran tak karuan.
Perlahan, bibir Aryan tersungging membentuk senyum manis yang sulit ia tahan. Jemari tangan kirinya bahkan tanpa sadar mengusap punggung tangan kanannya sendiri.
Aryan salah tingkah.
Sampai-sampai ia tidak sadar beberapa mahasiswi yang baru melintas memperhatikannya dengan tatapan penasaran.
"Itu bukannya kakak tingkat yang beberapa hari lalu nolongin Kia, ya?"
"Eh iya! Ngapain dia di sini?"
"Kayaknya habis nganterin Kia deh."
"Mereka udah jadian?"
"Kemungkinan sih iya."
"Tapi bukannya Kia bilang gak mau pacaran?"
"Halah, kayak gak tau aja zaman sekarang. Siapa coba yang nolak kalau cowok model begitu ngajak pacaran? Gue mah mau banget."
"Berarti Kia munafik dong. Setiap dideketin cowok bilangnya gak mau pacaran, eh sekarang malah pacaran."
"Biarin aja kali. Terserah dia."
"Gue cuma gak habis pikir. Percuma pakai pakaian tertutup kalau masih pacaran."
Begitulah suara-suara sumbang yang terdengar samar dari para mahasiswi itu sambil memasuki gedung fakultas.
Aryan sama sekali tidak memperdulikannya.
Laki-laki itu justru masih sibuk dengan perasaannya sendiri.
Ia menunduk kecil sambil tersenyum tipis, lalu memeluk kedua lengannya sendiri seolah sedang menahan sesuatu yang menghangat di dadanya.
Zaskia...
Baru kali ini perempuan itu bersikap seperti seorang istri padanya.
Dan hal sesederhana itu saja sudah cukup membuat Aryan merasa bahagia setengah mati.
***
Tiba di kelas, Zaskia tidak mendapati Diki duduk di kursinya seperti biasanya. Ada sedikit rasa lega menyelinap di dadanya karena hari ini ia tidak perlu bertemu dengan laki-laki aneh itu.
Ia pun segera duduk sambil meletakkan tas di atas meja.
Tak lama kemudian, Rena datang bersama seorang temannya. Gadis itu langsung menghampiri Zaskia dengan wajah heboh.
"Kia, lo udah denger kabar tentang Diki belum?" Rena buru-buru duduk di kursi sebelah Zaskia.
Zaskia menggeleng pelan. "Belum. Kenapa emang?"
"Dia kayak orang linglung, Kia. Kayak orang kena gangguan mental gitu." Rena berbicara setengah berbisik. "Mamanya sampai nangis-nangis tadi pagi. Katanya Diki gak ngerespon pas ditanya. Terus tiba-tiba ketakutan sendiri. Pokoknya aneh banget deh."
Rena memang tetangga Diki. Sejak pagi tadi, komplek rumah mereka ramai membicarakan kejadian itu. Semua bermula ketika ibu Diki berteriak histeris saat menemukan anaknya tergeletak di lantai kamar dengan mata merah melotot.
Zaskia langsung terdiam.
"Serius?" tanyanya pelan. "Padahal beberapa hari lalu gue lihat dia baik-baik aja."
"Gue juga gak ngerti kenapa bisa kayak gitu." Rena mengusap lengannya sendiri seolah merinding. "Diki kayak kehilangan dirinya sendiri. Kayak orang habis diganggu makhluk halus."
Zaskia tercenung.
Perkataan itu langsung menghubungkan pikirannya pada kejadian semalam.
Setelah ia dan Aryan melakukan hubungan suami istri, untuk pertama kalinya ia bisa tidur nyenyak tanpa mimpi buruk. Tidak ada lagi sosok menyeramkan. Tidak ada lagi suara-suara aneh yang mengganggu kepalanya.
Mungkinkah...
"Oh iya," Zaskia kembali bertanya, "kejadiannya kapan?"
"Pagi tadi. Tapi mungkin dari semalam udah ada yang aneh sama dia. Cuma baru ketahuan pas pagi."
Zaskia semakin terdiam.
Ucapan Ustadz Mansyur tiba-tiba terngiang lagi di kepalanya. Tentang seseorang yang diam-diam menyukainya dan mengirimkan gangguan itu padanya.
Apa mungkin orang itu Diki?
Ah, tidak.
Zaskia buru-buru menggeleng kecil dalam hati. Ia tidak mau berprasangka buruk dulu. Tapi semua kejadian ini terasa terlalu bertepatan.
"Kia!"
"Hem?" Zaskia tersentak dari lamunannya.
"Lo enggak apa-apa?" tanya Rena hati-hati. Tatapannya tampak waspada. "Tenang aja, Ren. Gue gak bakal kesurupan lagi kayak hari itu."
Rena langsung menghela napas lega. "Syukur deh kalau gitu."
Zaskia tersenyum tipis sambil mengangguk.
Namun belum sempat obrolan mereka berlanjut, suara seseorang tiba-tiba terdengar menyela.
"Rena, ngapain lo deket-deket sama Kia? Nanti kalau dia kesurupan lagi gimana?"
Zaskia menoleh.
Tiga mahasiswi yang tadi melihat Aryan di depan gedung kini berjalan menghampiri mereka dengan wajah sinis.
"Gue pikir ilmu agamanya dalem," sindir salah satunya sambil melipat tangan di dada. "Eh ternyata dangkal juga."
"Enggak heran sih kenapa dia bisa kesurupan."
Zaskia langsung mengernyit tidak suka. "Maksud lo apa nyindir-nyindir gue begitu?" sentaknya.
"Eh, ngerasa?" balas gadis itu santai. "Bagus deh."
"Kalian kenapa sih datang-datang bikin ribut?" Rena ikut membela.
"Jangan mau temenan sama cewek munafik kayak dia, Ren."
"Maksud lo apa?" emosi Zaskia mulai naik.
"Jangan pura-pura polos deh, Kia. Katanya gak mau pacaran, eh ternyata diem-diem jalan sama cowok juga."
Zaskia tertegun.
Pikirannya langsung tertuju pada Aryan.
Jadi mereka tadi melihatnya?
"Lo pacaran kan sama kakak tingkat yang kemarin nolongin lo?"
Zaskia membuka mulut hendak membantah, namun mendadak bingung harus menjelaskan apa.
"Gue enggak pacaran!"
"Karena gue udah nikah." Kalimat itu hanya bisa ia tahan di dalam hati.
"Munafik banget sumpah," celetuk salah satu dari mereka.
"Ya terus hubungannya sama lo apa?" Rena langsung berdiri. "Emangnya hidup lo rugi kalau Kia deket sama siapa pun? Enggak kan? Udah deh, bubar sana!"
Ketiga gadis itu tampak sebal sesaat sebelum akhirnya memilih pergi sambil masih menggerutu kecil.
Setelah mereka menjauh, Zaskia menghela napas panjang.
Sejak kejadian kesurupan itu, banyak teman satu prodinya mulai menjaga jarak. Tatapan mereka berubah. Beberapa bahkan terlihat takut saat berpapasan dengannya.
Hanya Rena yang masih memperlakukannya sama seperti dulu.
"Enggak usah dipikirin," ujar Rena lembut.
Zaskia menoleh lalu tersenyum kecil. "Makasih ya udah belain gue."
Rena ikut tersenyum hangat. "Santai aja kali."
***
"Oke semuanya, materi hari ini selesai. Catatannya tolong langsung ditulis sekarang juga, ya. Kalau ada yang belum ngerti, kalian boleh tanya."
"Iya, Pak!" sahut seluruh murid kelas tiga serempak.
Aryan tersenyum kecil. Ia mengusap kepala salah satu murid laki-laki yang duduk paling depan sebelum akhirnya kembali berjalan menuju meja guru.
Laki-laki itu duduk sambil meneguk air mineral dari botolnya. Suasana kelas mendadak dipenuhi suara gesekan pensil dan obrolan kecil anak-anak yang sibuk menyalin catatan.
Aryan memandangi mereka satu per satu.
Entah kenapa, pikirannya kembali melayang pada ucapan Zhafran pagi tadi.
Kalau Kia hamil gimana?
Aryan menghembuskan napas panjang.
Tatapannya jatuh pada seorang murid perempuan yang sedang sibuk menghapus tulisannya karena salah menulis huruf. Di sebelahnya, ada anak laki-laki yang diam-diam malah menggambar robot di buku catatan.
Pemandangan sederhana itu justru membuat Aryan semakin banyak berpikir.
Apa dia siap jadi ayah?
Bahkan dirinya sendiri masih kuliah. Masih sibuk membagi waktu antara mengajar, menjadi asdos, dan menyelesaikan tugas kampus. Sedangkan Zaskia... perempuan itu masih punya banyak mimpi yang ingin diraih.
Ia ingin jadi reporter.
Aryan memijat pelipis pelan.
Semalam semuanya terjadi begitu cepat. Saat itu yang ada di pikirannya hanya bagaimana caranya membuat Zaskia terbebas dari gangguan yang selama ini menyiksanya. Ia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan lain setelahnya.
Aryan tersenyum kecil seorang diri. Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja sembari pikirannya terus dipenuhi bayangan-bayangan yang bahkan belum tentu akan terjadi dalam waktu dekat.
Kalau punya anak laki-laki, mungkin dia akan mengajaknya main bola di halaman rumah setiap sore. Mengajarinya naik motor, belajar ngaji, atau sekadar duduk berdua sambil mendengarkan cerita-cerita absurd dari anak kecil yang kadang tidak masuk akal tapi selalu berhasil membuat orang tua tertawa. Aryan membayangkan anak itu akan memanggilnya sambil berlari kecil, lalu memeluk kakinya sepulang mengajar.
“Abi!”
Hanya membayangkannya saja sudah cukup membuat dada Aryan terasa hangat.
Lalu bagaimana kalau anak perempuan?
Seketika senyum Aryan berubah semakin lembut.
Mungkin wajahnya akan secantik Zaskia. Bermata bulat dengan pipi lembut dan bibir mungil yang suka manyun kalau keinginannya tidak dituruti. Aryan merasa dirinya pasti akan kalah telak jika nanti memiliki anak perempuan. Ia membayangkan gadis kecil itu duduk di pangkuannya sambil minta dikepang rambutnya, lalu mengadu kalau ada teman yang mengganggunya di sekolah.
Dan Aryan tau... dia pasti akan memanjakan putrinya habis-habisan.
Ia ingin memperlakukannya seperti princess kecil yang harus dijaga sepenuh hati.
Lamunan itu membuat Aryan tak sadar tersenyum sendiri cukup lama sampai salah satu muridnya memperhatikan.
“Pak Aryan senyum-senyum sendiri kenapa?” tanya seorang anak polos.
Aryan terkesiap kecil lalu berdeham pelan guna menutupi rasa malunya. “Enggak kenapa-kenapa.”
“Bohong! Pasti lagi mikirin pacar ya!”
Sontak satu kelas langsung ribut menggoda.
"Pacar! Pacar! Pacar!”
Aryan menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya kasar. Wajahnya bahkan ikut memerah mengingat statusnya sekarang bukan lagi punya pacar, melainkan sudah punya istri.
“Ih, kalian tuh ya,” gumamnya pelan sambil geleng-geleng kepala.
Namun setelah itu, tanpa sadar senyum Aryan kembali terbit.
Benar kata orang, setelah menikah ternyata banyak hal berubah. Bahkan laki-laki setenang dirinya kini mulai membayangkan masa depan kecil yang hangat bersama seseorang yang masih berusaha belajar mencintainya.
Dan Aryan tidak keberatan untuk menunggu.
Selama itu adalah Zaskia, selama perempuan itu tetap berada di sampingnya, Aryan rasa semua penantian akan terasa layak untuk diperjuangkan.