Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.
Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: LONGSONG DI LEMBAH PEMBEKUAN
Angin di Lembah Pembekuan tidak sekadar dingin. Ia memiliki karakter yang menusuk, seolah-olah udara itu sendiri adalah bilah belati mikroskopis yang siap merobek kulit siapa pun yang berani melangkah masuk tanpa perlindungan.
Di bawah langit malam yang ditutupi awan kelabu tebal, ribuan obor tentara Kerajaan Zephyr tampak seperti kunang-kunang yang tersesat di tengah hamparan es yang luas.
Lima puluh lima ribu pasukan.
Angka yang fantastis, sebuah armada yang cukup untuk meratakan ibu kota kekaisaran dalam hitungan hari. Mereka bergerak dalam barisan yang rapi, membelah lembah, tidak menyadari bahwa di puncak tebing yang tertutup kabut, empat pasang mata sedang menatap mereka dengan tatapan yang lebih dingin dari salju di bawah kaki mereka.
Axel berdiri tegak di ambang tebing, jubah hitamnya berkibar keras ditiup angin kencang. Di depan matanya, interface transparan AI miliknya terus memperbarui data secara real-time.
"Host, deteksi radar mengonfirmasi posisi unit komando Zephyr berada tepat di pusat formasi. Kepadatan mana di lembah ini mencapai ambang batas kritis. Struktur es di tebing ini memiliki keretakan alami yang tersembunyi di bawah lapisan salju. Jika Anda memicu gelombang resonansi sihir di titik koordinat 47.9-22.1, lembah ini akan kehilangan integritas strukturnya."
Axel tidak bergeming. "Elysia, kau dengar itu? Fokuskan seluruh kemampuan manipulasi aliran udaramu ke titik koordinat yang dikirimkan AI."
Elysia, yang berdiri tepat di samping Axel, memejamkan mata. Tangannya terangkat, jari-jarinya menari dengan gerakan lembut namun pasti.
Di sekelilingnya, partikel es mulai bergetar, beresonansi dengan detak jantungnya. "Resonansi sudah siap. Aku hanya menunggu aba-aba darimu, Axel."
Di samping mereka, Reynarda berdiri dalam posisi siap tempur. Pedang hitam-emasnya sudah terhunus, auranya meluap, menciptakan semacam zona nyaman yang menghalangi udara dingin mendekati Axel.
Ia tidak melihat ke arah musuh. Ia hanya melihat ke arah punggung Axel, siap untuk menerjang apa pun yang berani mencoba mengganggu konsentrasi pemimpinnya.
Valeria tidak terlihat.
Ratu Dunia Bawah itu telah melebur ke dalam kegelapan di balik bebatuan, siap memberikan kejutan bagi siapa pun yang mencoba mendaki tebing untuk mencapai posisi mereka.
"Sekarang," perintah Axel dingin.
Elysia menghantamkan telapak tangannya ke permukaan tebing.
BLAAARR!
Bukan ledakan api yang muncul, melainkan getaran frekuensi rendah yang merambat melalui bebatuan purba. Seluruh lembah bergetar hebat. Retakan-retakan besar mulai menjalar di sepanjang tebing es, persis seperti jaring laba-laba raksasa.
Pasukan Zephyr di bawah sana tiba-tiba berhenti bergerak. Mereka menatap ke atas dengan panik, melihat bagaimana dinding es setinggi seratus meter mulai terlepas dari fondasinya.
"Jenderal! Tebingnya runtuh!" teriak seorang perwira Zephyr, namun suaranya tenggelam oleh gemuruh longsoran salju yang maha dahsyat.
Dalam hitungan detik, jutaan ton es dan bebatuan meluncur turun seperti air terjun putih yang mematikan.
Pasukan Zephyr, yang terjebak di tengah lembah sempit, tidak memiliki ruang untuk bermanuver. Mereka terperangkap dalam kepungan dinding es yang menghantam mereka dari kedua sisi.
Jeritan ribuan orang berubah menjadi sunyi saat salju setebal puluhan meter menimbun mereka dalam sekejap.
Namun, drama belum berakhir.
"Reynarda!" seru Axel.
Reynarda melompat turun dari tebing, tubuhnya meluncur di antara bongkahan es yang berjatuhan.
Dengan satu ayunan pedang yang digerakkan oleh aura suci, dia menciptakan jalur pembersihan, memastikan tidak ada unit sihir musuh yang selamat dari longsoran awal. Dia bergerak dengan keanggunan seorang tarian kematian, memenggal setiap perwira Zephyr yang mencoba bangkit dari tumpukan salju.
Di belakangnya, Valeria muncul dari bayang-bayang es, belatinya bekerja dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia. Dia menargetkan titik-titik vital, memutus komunikasi dan menumpas siapa pun yang mencoba mengarahkan sisa pasukan.
"Elysia, kunci sisa area!" Axel memberi perintah lagi.
Elysia merentangkan tangannya, dan awan-awan hitam yang sedari tadi menggantung di langit menurunkan salju yang sangat lebat, menurunkan suhu lembah hingga ke titik di mana logam pun bisa retak.
Musuh yang selamat dari longsoran kini dipaksa menghadapi hipotermia instan.
"Analisis situasi: 90% pasukan Zephyr dinetralkan dalam waktu kurang dari 3 menit. Sisa 10% unit kavaleri sedang melarikan diri ke arah utara. Host, apakah Anda ingin mengejar?"
Axel menatap pemandangan kehancuran di bawah sana.
Dia tidak merasakan kegembiraan atau rasa kasihan. Dia hanya merasakan efisiensi. "Tidak perlu. Biarkan mereka kembali ke kerajaan mereka dan menceritakan apa yang mereka lihat. Biarkan mereka menjadi pembawa pesan bahwa Kerajaan ini bukanlah tempat yang bisa mereka injak-injak."
Axel menuruni tebing dengan tenang, diikuti oleh Elysia yang kini berjalan di sampingnya. Begitu mereka sampai di dasar lembah, Reynarda sudah berdiri menunggu dengan pedang yang sudah disarungkan. Valeria melompat turun dari bongkahan es terakhir, menyeka percikan darah di pipinya.
"Selesai," ucap Reynarda singkat, napasnya teratur, seolah baru saja menyelesaikan sesi latihan pagi yang ringan.
Axel berjalan melewati tumpukan salju yang kini menjadi kuburan bagi puluhan ribu prajurit Zephyr.
Dia berhenti tepat di depan bendera Kerajaan Zephyr yang tertancap di tanah es yang retak. Dengan satu gerakan santai, ia menginjak bendera itu hingga hancur ke dalam lumpur es.
"Ini adalah harga dari arogansi," gumam Axel.
"Host, tingkat reputasi Anda di mata Kekaisaran baru saja melonjak hingga level 'Mitologi'. Kaisar pasti akan terkejut saat menerima laporan bahwa 55.000 pasukan musuh musnah tanpa satu pun korban dari pihak kita."
"Bagus," jawab Axel. "Aku butuh reputasi itu untuk mengunci mulut para menteri yang masih berani mempertanyakan wewenangku."
Elysia mendekat, menyelimuti tubuh Axel dengan mantel sihir yang lebih tebal. "Kau kedinginan, Axel. Kita harus segera kembali."
"Benar," Axel membalikkan badan, meninggalkan lembah yang kini menjadi monumen bisu atas taktiknya.
"Tugas kita di perbatasan selesai. Sekarang, waktunya kembali ke ibu kota. Aku yakin Grand Inquisitor atau siapa pun sisa-sisa faksi pengkhianat di istana sudah menunggu kita dengan kejutan lain."
Valeria tertawa kecil, melangkah di samping Axel. "Kejutan? Aku harap mereka membawa sesuatu yang lebih menghibur daripada pembunuh bayaran tadi pagi."
Mereka berempat berjalan pergi meninggalkan Lembah Pembekuan, melintasi badai salju yang kini justru terasa lebih ramah bagi mereka. Di belakang mereka, lembah itu bukan lagi sekadar medan perang. Itu adalah bukti kekuasaan yang sesungguhnya.
Axel tahu, jalan di depan akan jauh lebih berbahaya, namun dengan "tiga monster" di sisinya, dia merasa tidak ada kekuatan di dunia ini yang mampu menghentikan langkah mereka.
Kembali ke ibu kota bukanlah sekadar perjalanan pulang bagi Axel. Itu adalah langkah menuju puncak kekuasaan. Dia telah membuktikan bahwa dia bukan lagi staf kebersihan yang memungut sampah di lorong-lorong akademi. Dia adalah orang yang menentukan siapa yang akan dibuang ke dalam sampah sejarah.
Dan malam ini, dia baru saja membuang satu kerajaan.
"Peringatan, Host. Panggilan masuk dari jalur rahasia istana. Kaisar ingin berbicara dengan Anda secara pribadi. Nada suaranya... sangat mendesak."
Axel berhenti sejenak, menatap ke arah selatan, ke arah ibu kota yang samar-samar terlihat lampunya di kejauhan. "Reynarda, Elysia, Valeria. Perjalanan kita belum usai. Sepertinya istana sedang mengalami krisis baru."
Ketiganya mengangguk tanpa kata, mata mereka berubah menjadi sorot tajam yang siap untuk kembali berperang.
Bagi mereka, apa pun yang terjadi, selama Axel ada di sana, tidak ada yang perlu ditakuti. Axel memimpin, dan mereka akan selalu mengikuti—ke dalam api, ke dalam es, atau ke dalam kehancuran itu sendiri.