Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.
Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.
Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.
"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
"Halo... dengan Tuan Hendrawan?" terdengar suara tegas, dingin, namun sopan dari seberang. "Saya Alvin, asisten pribadi Tuan Zeffrano Devandra Mahesa."
Tuan Hendrawan sangat terkejut, lalu matanya menatap tajam ke arah Rafael dan Tania, memberi isyarat agar mereka diam sejenak.
"Ya. Benar! Ini saya sendiri, Tuan Alvin." jawab Tuan Hendrawan sedikit keras, suaranya bergetar tak bisa disembunyikan. "Ada... ada apa ya, Tuan Alvin?"
"Saya menelepon atas perintah langsung dari Tuan Zeffrano, Tuan Hendrawan. Berdasarkan diskusi dan masukan yang disampaikan oleh Nona Aruna... Tuan Zeffrano telah meninjau usulan kerjasama yang anda ajukan. Beliau tertarik dengan konsep yang kalian tawarkan, dan bersedia membuka waktu khusus untuk mendengarkan presentasi lengkap serta rincian proyek secara langsung."
Jantung Tuan Hendrawan berpacu kencang, seolah mau melompat keluar dari dadanya. Mulutnya terbuka lebar, napasnya tersendat.
"Be... benar, Tuan Alvin? Tuan Zeffrano mau bertemu kami? Secara resmi?"
"Betul sekali, Tuan," jawab Alvin tenang. "Ini adalah undangan resmi. Tuan Zeffrano meminta Anda beserta rekan-rekan utama untuk hadir di kantor pusat Mahesa Group, lantai eksekutif besok pagi, tepat pukul sembilan. Beliau berharap persiapan kalian sudah matang, karena beliau ingin membahas kemungkinan kerjasama strategis yang besar dan jangka panjang. Jadi mohon persiapkan segalanya dengan sebaik-baiknya. Ini adalah kesempatan emas yang jarang diberikan kepada siapapun."
"Tentu saja! Tentu saja kami siap, Tuan Alvin!" seru Tuan Hendrawan dengan suara bergetar karena bahagia yang meluap. "Kami akan datang! Kami akan datang dengan persiapan terbaik."
"Baik. Sampai jumpa besok pagi, Tuan Hendrawan. Selamat siang."
Suara sambungan telepon terputus. Hening sepersekian detik, sebelum akhirnya pria tua itu meletakkan telepon itu perlahan, lalu berbalik menghadap Rafael dan Tania dengan senyum lebar.
Detik berikutnya... ruangan itu meledak.
"BERHASIL!! AKHIRNYA KITA BERHASIL!!" teriak Tuan Hendrawan sekuat tenaga, tangannya mengepal kuat di udara, wajahnya bersinar terang seolah baru saja memenangkan lotre miliaran rupiah. "Mereka menelepon! Undangan resmi! Tuan Zeffrano mau bertemu kita. Dia tertarik!"
"Kubilang juga apa. Aku tahu Aruna tidak akan mengecewakanku!" seru Rafael lantang, nadanya penuh kemenangan dan rasa puas yang tak terlukiskan. "Aruna benar-benar membujuk Zeffrano sampai pria itu mau menerima kita. Tapi... apakah hubungan mereka seistimewa itu sampai Tuan Zeffrano mau mendengarkannya? Aruna itu masih pacarku, apakah dia...?"
"Sudahlah. Itu tidak penting, Rafael." potong Tania cepat. "Yang terpenting sekarang, pintu kemenangan sudah terbuka lebar untuk kita,"
"Jangan lupa tujuan kita, Rafael. Aruna itu hanyalah alat, kamu tidak benar-benar mencintainya kan?" tanya Tania kemudian.
Rafael terdiam sejenak. Di sudut hatinya yang paling tersembunyi, ada rasa ganjil yang tak bisa dia sangkal. Dulu Aruna adalah wanita yang lembut, penurut, selalu menunduk malu saat berbicara dengannya, dan rela melakukan apa saja hanya demi senyumnya. Namun belakangan ini, wanita itu berubah drastis. Tatapannya lebih tajam, sikapnya lebih berwibawa, dan ada aura percaya diri yang membuat Rafael diam-diam merasa tersaingi, sekaligus merasa kehilangan sosok lembut yang dulu sepenuhnya menjadi miliknya.
Namun rasa itu hanya berlalu sekejap, segera digantikan oleh rasa sombong dan ambisi yang jauh lebih besar. Rafael tertawa kecil, tawa yang dingin dan penuh penghinaan.
"Mencintainya?" ulang Rafael pelan, seolah kata itu adalah sesuatu yang menjijikkan. Dia menggelengkan kepalanya tegas, senyum angkuh kembali merekah lebar di bibirnya. "Tania... aku hanya mencintaimu. Seperti yang kamu katakan, Aruna hanya alat bagiku, jadi aku tidak mungkin benar-benar mencintainya."
Tania tersenyum puas, matanya berkilat senang mendengar pengakuan itu. Dia melangkah mendekat, menyentuh lengan Rafael dengan lembut.
"Bagus. Itu jawaban yang ingin aku dengar. Ingat, Rafael... kamu hanya mencintaiku. Dan akan selalu begitu."
-
-
-
Pagi yang telah mereka nanti-nantikan akhirnya tiba. Matahari bersinar sangat terang, seolah menyinari jalan emas yang menurut mereka terbentang luas di depan mata. Pukul delapan lewat empat puluh lima pagi, mobil yang dikemudikan oleh Rafael berhenti mulus tepat di depan lobi utama gedung pencakar langit milik Mahesa Group.
Alvin berdiri dengan sikap yang sangat tegak, wajahnya dingin, datar, dan profesional seperti biasa. Tangannya tergenggam rapat di depan perut, dan begitu melihat kedatangan ketiga orang itu, Alvin sedikit menundukkan kepalanya sebagai tanda sambutan sopan.
"Selamat pagi, Tuan Hendrawan, Tuan Rafael, Nona Tania," sapa Alvin dengan suara tegas dan jelas. "Saya sudah menunggu kedatangan kalian. Silakan, mari ikut saya ke ruang rapat utama lantai eksekutif."
Mereka bertiga mengangguk antusias. Tuan Hendrawan berjalan paling depan, mengikuti langkah Alvin menuju ke arah lift. Alvin berhenti tepat di depan pintu lift kaca besar berpenanda emas yang bertuliskan AKSES EKSEKUTIF. Dia menekan tombol, lalu menoleh sebentar ke arah mereka bertiga.
"Silakan masuk. Lift ini khusus langsung menuju lantai teratas tanpa berhenti di lantai lain. Tuan Zeffrano sudah menunggu di atas," ucap Alvin datar, lalu ikut masuk bersama mereka ke dalam kotak besi yang dingin namun sangat mewah itu.
Saat angka di indikator sudah berada di nomor tertinggi, pintu lift terbuka perlahan, menampakkan lorong luas yang beralaskan karpet merah tebal. Dinding-dinding berpanel kayu berwarna cokelat tua berkilauan memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang menggantung anggun di langit-langit tinggi. Suasana begitu hening, berkelas, dan memancarkan kekuasaan mutlak.
"Silakan ikuti saya," ucap Alvin singkat, melangkah keluar lebih dulu.
Mereka bertiga berjalan mengikuti langkah panjang Alvin, napas mereka sedikit tertahan oleh suasana yang begitu agung itu. Di ujung lorong itu, tepat di depan pintu besar berdaun ganda yang terbuat dari kayu hitam kokoh dengan ukiran logo perusahaan berwarna emas yang menyala, Alvin kembali berhenti. Dia berbalik badan, menatap mereka satu per satu dengan tatapan tajam dan mengamati.
"Tuan Zeffrano berpesan, ada sedikit urusan mendadak yang harus beliau selesaikan sejenak. Kalian dimohon menunggu sebentar di Ruang Tunggu Eksekutif di sebelah sini. Beliau akan datang sendiri menemui kalian begitu selesai," jelas Alvin dengan nada profesional, lalu membuka pintu di sebelah kiri yang tak kalah megahnya.
Tuan Hendrawan tersenyum lebar, merasa diperlakukan seperti orang yang sangat penting. "Ah, tentu saja. Tidak masalah sama sekali, Tuan Alvin. Kami sangat mengerti kesibukan Tuan Zeffrano. Silakan sampaikan bahwa kami siap menunggu berapa pun lamanya. Sungguh suatu kehormatan menunggu di tempat seindah ini."
Mereka masuk ke ruangan yang luas itu, mata mereka seketika berkeliling takjub melihat segala kemewahan yang ada di hadapan mereka.
"Silakan duduk dan tunggulah sebentar," ucap Alvin singkat, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi sedikit pun. "Saya permisi sebentar untuk melanjutkan pekerjaan saya,"
"Baik, Tuan Alvin, terimakasih banyak." jawab Tuan Hendrawan dengan nada berapi-api, hampir saja menundukkan kepalanya berlebihan.
Alvin mengangguk kecil, lalu berbalik berjalan keluar ruangan dan menutup pintu besar itu. Begitu pintu tertutup rapat, senyum sopan di wajah Tuan Hendrawan langsung berubah menjadi senyum lebar penuh kemenangan.
-
Waktu pun berlalu. Awalnya mereka mengisi waktu dengan mengobrol riuh, membahas poin-poin presentasi yang sudah dihafal, dan membayangkan keuntungan miliaran rupiah yang akan segera mengalir ke kantong mereka. Namun, sepuluh menit berlalu... dua puluh menit... hingga jarum jam di dinding tepat berputar setengah lingkaran, genap tiga puluh menit mereka menunggu dalam keheningan yang mulai terasa berat.
Senyum lebar di wajah Tuan Hendrawan perlahan mulai memudar. Keringat dingin bermunculan di pelipisnya meski suhu ruangan sangat sejuk. Dia mulai sering melirik jam tangannya, jari-jarinya mengetuk-ngetuk lengan kursi dengan gelisah.
Rasa percaya diri Rafael pun sedikit terguncang, kakinya yang tadinya bersila santai kini berganti posisi berulang kali, matanya menatap pintu tertutup itu dengan ragu. Tania berhenti tersenyum, wajahnya mengeras, rasa cemas mulai merayap masuk ke hatinya.
"Sudah setengah jam..." gumam Tuan Hendrawan pelan, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Apa... apa mungkin ada yang salah? Apa mungkin Aruna tidak berhasil meyakinkan Tuan Zeffrano?"
"Tidak mungkin," potong Rafael cepat, meski nada suaranya tidak lagi sekuat sebelumnya. "Jika Aruna gagal, kita tidak mungkin diundang kesini oleh asisten kepercayaan Tuan Zeffrano. Mungkin Tuan Zeffrano ada urusan mendadak, urusan besar yang tidak bisa ditinggalkan. Kita harus sabar."
Baru saja kata-kata itu meluncur dari mulutnya, pintu ruangan dibuka dengan lebar. Zeffrano melangkah masuk dengan tenang, langkahnya berat, berirama, dan memancarkan wibawa yang begitu kuat. Wajahnya datar, sama sekali tidak ada sapaan hangat ataupun senyum ramah. Di belakangnya, Alvin mengikuti beberapa langkah di belakang, membawa berkas di tangannya, matanya tajam mengamati setiap perubahan kecil di wajah ketiga tamu itu.
Zeffrano berhenti tepat di tengah ruangan, beberapa langkah di depan mereka. Dia menatap mereka satu persatu dengan manik mata cokelat gelap yang tajam, menusuk, dan seolah bisa melihat sampai ke dasar jiwa, membaca setiap kebohongan, setiap niat jahat, dan setiap rencana kotor yang tersembunyi di balik pakaian rapi dan senyum palsu mereka.
"Maaf membuat kalian menunggu cukup lama," ucapnya pelan, namun sama sekali tidak terdengar seperti permintaan maaf yang tulus. "Ada beberapa hal yang harus saya pastikan terlebih dahulu sebelum saya duduk dan mendengarkan apa yang ingin kalian sampaikan."
"Ti... tidak apa-apa, Tuan Zeffrano. Kami sangat mengerti kesibukan Anda. Da... dan mengenai tujuan kami... tentu saja tujuan kami adalah menjalin kerjasama yang saling menguntungkan, Tuan."
Zeffrano mengangguk pelan, "Kalau begitu silakan duduk kembali. Kita akan menunggu sektretaris saya dulu sebelum membahas obrolan ini lebih lanjut."
Mereka bertiga buru-buru duduk kembali. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang berirama lembut namun tegas mendekat dari lorong luar. Semua mata di ruangan itu tertuju pada ambang pintu.
Sosok wanita melangkah masuk.
Jantung Rafael seolah berhenti berdetak seketika. Napasnya tertahan di tenggorokan, matanya membelalak lebar tak percaya, dan seketika itu juga, tanpa sadar, tubuhnya bangkit berdiri dengan gerakan refleks yang cepat dan kaku.
"Aruna, apa yang sedang kamu lakukan disini?!"
-
-
-
Bersambung...
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣
kisah balas dendam yang ditulis dengan apik. definisi wanita bisa melakukan apa saja setelah disakiti, bisa bangikit dan kuat dari rasa dakit yang sudah diterima.
kisah ini memang reinkarnasi, tapi mengajarkan jika kesempatan itu bisa datang dua kali,
karyamu luar biasa Kak..
semangat berkarya😍😍😍