NovelToon NovelToon
Melody Cinta Yang Salah

Melody Cinta Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jjamiyuu09

Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 09

Saat jam istirahat, Jolina memilih berdiam di toilet bersama Audrey dan Zoya. Bukan untuk merapikan diri, bukan juga untuk menghindari guru piket—melainkan untuk menelepon mamanya. Tangannya gemetar menahan kesal saat panggilan akhirnya tersambung.

“Mama kenapa Jeremy bisa ada di sekolah aku?” sergap Jolina tanpa basa-basi.

“Kenapa satu kelas sama aku? Kenapa mama nggak bilang apa-apa?”

“Kenapa kamu malah marah-marah?” suara Maya terdengar santai, terlalu santai. “Ya bagus dong satu sekolah sama Jeremy. Jadi mama bisa tahu apa aja yang kamu lakukan di sekolah. Kalau bolos atau nggak, Jeremy bisa kasih tahu mama.”

“Ma?” Jolina menahan napas. “Please, aku bukan anak kecil. Jadi mama sengaja masukin Jeremy ke sekolah ini?”

“Bukan sengaja sih. Itu sudah keputusan papa kamu,” jawab Maya ringan. “Jeremy kan selama ini di luar negeri. Daripada jauh-jauh, mending satu sekolah sama kamu. Kalian sekarang sudah jadi saudara, jadi harus akur.”

“Tapi maa…” Jolina menekan pelipisnya. “Apa nggak ada sekolah lain? Oke, satu sekolah sama aku. Tapi kenapa harus satu kelas? Kenapa?”

“Terus Jeremy harus di kelas mana?” potong Maya. “Aduh, kamu itu kebanyakan nanya. Mama pusing.”

“Aku nggak mau tahu,” Jolina meninggi. “Pokoknya aku mau pindah sekolah sekarang juga.”

“Oh nggak bisa,” balas Maya cepat. “Sekolah kamu sudah bagus. Yaudah ya, mama mau lanjut yoga. Jangan ganggu mama.”

“Yoga?” Jolina mendengus. “Sejak kapan mama ikut yoga?”

“Bye, sweety. Love you… muah.”

“Ma? Mama? Jangan dimatiin—”

Klik. Sambungan terputus.

Jolina menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. “Dih… mama gayaan banget sekarang. Ikut yoga segala.”

Zoya menyengir miring. “Ya namanya juga jadi istri orang kaya. Harus memanfaatkan uangnya dengan baik.”

Audrey menyikut Jolina pelan. “Lo juga harus memanfaatkan status lo dengan baik, Jo.”

“Caranya?” Jolina mendesah.

“Ya nikmatin hidup lo yang sekarang,” jawab Audrey santai. “Nggak usah mikirin si Jeremy. Mending pikirin tuh isi perut lo—udah bunyi dari tadi.”

Perut Jolina seolah menjawab dengan keroncongan pelan. Ia menghela napas panjang. Mau tak mau, untuk sekarang, ia harus bertahan.

***

Di kantin sekolah, Jeremy dikerubungi banyak siswi. Wajar saja—siapa yang tidak mengenalnya? Anggota band terkenal, lagu-lagunya sering diputar di mana-mana. Ia pintar, berbakat, ramah, dan punya senyum yang dengan mudah membuat orang jatuh hati. Gadis mana yang tidak tergila-gila padanya?

Mungkin hanya satu. Jolina.

Saat ini, Jolina benar-benar muak melihat pemandangan itu. Bukan karena cemburu—ia sudah terlalu lelah untuk merasa seperti itu—melainkan karena tak satu pun dari mereka tahu sifat asli Jeremy. Mereka hanya melihat sosok sempurna di permukaan. Padahal, Jolina tahu betul bagaimana Jeremy setelah kejadian malam itu. Dan pengetahuan itu membuat dadanya sesak.

“Kak Jeremy keren banget…”

“Kakak main gitar dari umur berapa sih?”

“Jeremy, kamu udah punya pacar belum?”

Pertanyaan-pertanyaan itu datang bertubi-tubi, saling tumpang tindih, seolah Jeremy adalah pusat semesta kecil di tengah kantin.

“Eh, cewek-cewek, kalian ngapain sih di sini?” tegur Bagas sambil menyibak kerumunan.

“Ya mau lihat Jeremy lah!” sahut salah satu dari mereka.

“Jeremy juga butuh privasi, jangan dikerubungi kayak gini. Emangnya dia pameran?”

Jeremy terkekeh kecil, sama sekali tidak terlihat terganggu. Dengan santai ia menanggapi satu per satu, menyelipkan candaan ringan, membuat suasana semakin cair.

Baru masuk sekolah, Jeremy sudah mendapatkan banyak teman. Bukan hanya karena wajahnya yang menarik, tapi juga karena caranya bersikap—mudah bergaul, tidak sombong, dan tahu bagaimana membuat orang merasa dihargai. Ia bahkan tak segan berbagi cerita, mengajari hal-hal kecil, seolah mereka sudah lama berteman.

Dari kejauhan, Jolina memalingkan wajah.

Bagi dunia, Jeremy adalah sosok yang sempurna. Dan mungkin… hanya Jolina yang tahu sisi lain dari laki-laki itu.

***

Di dalam kelas, Jeremy terlihat sangat aktif. Setiap penjelasan yang diberikan guru seolah langsung tertangkap olehnya. Tangannya sigap mencatat, sesekali ia mengangguk kecil tanda paham. Berbanding terbalik dengan Jolina.

Padahal Jolina punya banyak guru les, tapi tetap saja—pelajaran sering terasa lambat masuk ke kepalanya. Terlebih lagi jika sudah berhadapan dengan matematika. Mata pelajaran yang paling ia benci, ditambah gurunya terkenal killer. Kombinasi sempurna untuk membuat Jolina kehilangan semangat.

Di tengah jam pelajaran, Jolina justru sibuk mengerjakan hal lain di bukunya. Coretan-coretan tak penting, bahkan pikirannya melayang entah ke mana.

“Jolina.”

Satu panggilan itu membuat tubuh Jolina menegang.

“Iya, Bu?” sahutnya gugup.

“Tolong maju ke depan. Kerjakan soal di papan tulis.”

Darah Jolina serasa surut.

Mampus…

Ia berdiri pelan, langkahnya berat. Otaknya kosong. Soalnya saja belum ia pahami, apalagi cara mengerjakannya.

Belum sempat ia menghela napas lebih panjang, Bu Riska kembali bersuara,

“Jeremy, kamu juga maju ke depan.”

Jeremy langsung berdiri tanpa ragu. Wajahnya tenang, langkahnya mantap. Begitu sampai di depan, ia langsung membaca soal dan mulai menulis di papan tulis.

Sementara itu, Jolina hanya berdiri mematung. Spidol di tangannya terasa berat. Papan tulis putih di depannya seperti mengejek.

Jeremy melirik ke arahnya. Tangannya berhenti sejenak, lalu tanpa berkata apa-apa—dan tanpa meminta izin—ia menuliskan rumus di sisi papan milik Jolina.

“Kerjain,” ucapnya singkat, pelan tapi tegas.

Jolina menoleh, menatap tulisan itu, lalu menatap Jeremy dengan kesal bercampur panik.

“Gak bisa juga?” bisik Jeremy.

“Bisa… gue bisa,” jawab Jolina cepat, gengsi.

Dengan tangan sedikit gemetar, Jolina melanjutkan perhitungan dari rumus yang ditulis Jeremy. Ajaibnya, langkah demi langkah mulai terasa masuk akal. Ia fokus, mengabaikan tatapan kelas.

“Sudah siap?” tanya Bu Riska.

“Sudah, Bu,” jawab Jeremy dan Jolina hampir bersamaan.

Bu Riska mengangguk puas.

“Nah, bagus. Silakan kembali ke tempat duduk. Selanjutnya, Nia dan Rara, maju.”

Jolina menurunkan spidol, napasnya lega. Ia berjalan kembali ke bangkunya tanpa menoleh. Jeremy menyusul di sampingnya, santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun di dalam hati Jolina, ada satu hal yang mengganggu pikirannya.

Ia benci harus mengakui ini… tapi tanpa Jeremy, ia pasti sudah dipermalukan di depan kelas.

***

Bel pulang menggema di seluruh penjuru sekolah. Suasana kelas yang tadi riuh perlahan kosong, satu per satu siswa keluar sambil bercanda dan berteriak lega.

“Jolin? Masih lama?” suara Audrey terdengar dari depan pintu.

“Kalian duluan aja. Gue masih rapiin buku,” jawab Jolina tanpa menoleh.

“Oke deh, kita tunggu di depan ya!”

“Iya.”

Begitu langkah kaki teman-temannya menjauh, Jolina bergerak cepat. Ia memasukkan buku ke dalam tas dengan sedikit kasar. Kepalanya masih panas, bukan karena pelajaran—tapi karena satu nama yang sejak pagi sukses merusak ketenangannya.

Dan seperti dipanggil oleh semesta…

“Ngapain lo?” suara itu muncul dari belakang.

Jolina menoleh tajam. Jeremy sudah berdiri di dekat mejanya. Kelas kini benar-benar sepi. Hanya ada mereka berdua, suara kipas angin, dan detak jantung Jolina yang entah kenapa jadi lebih cepat.

"Lo ga punya mata? Ga bisa lihat gue ngapain?"

“Oh iya, Lo ga ada mau bilang apa-apa ke gue gitu??” tanya Jeremy santai, menyandarkan pinggulnya ke meja.

“Bilang apaan?” Jolina mendengus, memasang tas di bahunya.

“Tau gitu gue gak bantu lo tadi.”

Jolina berhenti, dan menoleh.

“Aaaa… jadi lo gak ikhlas bantuin gue?”

Jeremy menyeringai tipis. “Sejak kapan ada yang gratis di dunia ini?”

“Terus lo maunya apa?” tantang Jolina, melipat tangan di dada.

Tanpa menjawab, Jeremy meletakkan sebuah paper bag ke atas meja. Bau menyengat langsung menyerang hidung Jolina.

“Apaan nih?” Jolina reflek memundurkan kursinya.

“Cuci in sepatu gue.”

“ANJIR—yang bener aja! Lo kira gue babu lo?” Jolina hampir berteriak.

Jeremy tertawa kecil. “Gue gak jadiin lo babu. Itu kejam banget. Ini namanya balas budi.”

“Lo udah gila ya, Jere? Gue gak mau nyuci sepatu busuk lo itu!”

Jeremy tiba-tiba mendekat. Jarak mereka menyempit. Jolina refleks menahan napas.

“Lihat deh gue dapet apa,” ucapnya pelan.

Jeremy mengeluarkan selembar kertas dan mengibaskannya di depan wajah Jolina.

Mata Jolina membelalak.

“Itu—dari mana lo dapet itu?! Balikin! BALIKIN!”

“Dari Bu Riska,” jawab Jeremy enteng.

“Kok bisa ada di lo? Balikin ke gue sekarang!”

Jeremy mengangkat alis. “Gue gak mau.”

“Lo ngeselin banget sih!”

Jeremy pura-pura berpikir. “Kalau mama tau nilai ulangan lo jelek… kira-kira reaksinya gimana ya?”

“Licik banget sih lo!” Jolina nyaris meledak.

Jeremy menyodorkan paper bag itu ke depan dada Jolina.

“Cuciin yaaa… harus mau.”

“JEREMY—!” Jolina berteriak kesal.

Namun terlambat.

Jeremy sudah tertawa sambil lari keluar kelas, meninggalkan Jolina berdiri sendiri dengan wajah merah padam dan bau sepatu yang menyiksa.

“SIAAAAL BANGET SIH HIDUP GUE!” teriak Jolina frustasi, menghentakkan kaki.

Di luar kelas, tawa Jeremy masih terdengar samar.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, Jolina benar-benar merasa—ini baru permulaan neraka kecilnya.

1
Sasya
Ditunggu crazy up nyaa thooooorrrr 😍😍
Sasya
Bisa langsung 5 part sekaligus ga Thor?? 🤣🤣
Chuyoung56
Lanjut author 💪💪💪
Parkhanayaa
lanjut min cepetan
Parkhanayaa
Jeremy tuh pelakunya, yakin gue
Cewenya Sunghoon
Wkwk makin kacauu ini masalah merek, dari gitar yg belum kelar, ini jaket orang juga jadi korban
Choiwonhee
Ini si Jeremy balas dendam nya, malah jaket orang yg di rusakin
Choiwonhee
Ada udang di balik batu, Jeremy pura-pura ga tauuuu
Rossa
Wkwk ga seruuu Thor kalau mereka berantem kek gini🤭
Rossa
Hahah kayaknya aku tau, siapa pelakunya 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!