NovelToon NovelToon
Terjerat Hati Adik Ipar

Terjerat Hati Adik Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.

Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.

Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.

Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18•Perlahan Semua Rasa Sirna

Cahaya rumah sakit terlalu putih. Memantul di dinding, menampar mata Naya yang masih berat.

Bara duduk di samping ranjang. Telapak tangannya masih dingin sejak mengangkat tubuh Naya pagi tadi. Dingin itu menempel, mengingatkannya bahwa yang ia sentuh bukan miliknya. Di luar, Ibu Desy duduk di kursi tunggu. Punggung tegak. Wajah tanpa cemas.

Pintu terbuka.

Arkan masuk. Jas rapi, dasi lurus, sepatu mengkilap. Ia mampir sebentar sebelum ke kantor. Cukup untuk bertanya, tidak cukup untuk tinggal.

“Naya gimana, Dok?” tanyanya ke dokter yang baru keluar.

“Kelelahan dan kurang tidur. Perlu istirahat. Besok bisa pulang kalau stabil,” jawab dokter singkat.

Arkan mengangguk. Ia melangkah ke ranjang. Menatap Naya yang terpejam. Wajah pucat, bibir kering, infus menancap di tangan kanan. Tatapannya seperti membaca laporan. Perlu dicek, tidak perlu disentuh.

Ia tidak menyentuh. Tidak duduk. Hanya berdiri beberapa detik.

“Kalau sudah sadar, bilang sama gue, Bar,” ucapnya. Nada datar, seperti memberi instruksi ke staf.

Lalu ia berbalik dan pergi. Langkah cepat. Tidak menoleh.

Bara menatap punggung itu sampai pintu tertutup. Tenggorokannya mengencang. Sesuatu menyumbat di sana. Amarah, malu, bercampur jadi satu.

Di depan ruangan, Ibu Desy berdiri. Ia merapikan dasi Arkan yang miring.

“Gak usah dipikirin. Biar aja dia istirahat. Jadi istri kok lemah banget,” ujarnya sambil menepuk bahu Arkan.

Arkan tidak menjawab. Ia menyalami tangan ibunya, lalu pergi. Kata-kata itu tidak melukai dia. Yang terluka ada di dalam kamar. Dan ia memilih tidak mendengar.

...---...

Setengah jam kemudian Arkan sampai di kantor. Gedung ramai seperti biasa. Suara telepon, langkah cepat, tawa dari pantry. Tapi kepalanya kosong.

Ia baru tiba ketika melihat Dewi di lobi. Dua gelas kopi di tangan Dewi. Senyumnya lebar saat Arkan mendekat.

“Pagi, Mas. Aku beliin kopi. Biar nggak ngantuk,” kata Dewi, menyodorkan salah satu gelas.

“Makasih.”

Tapi pikirannya tidak di situ. Matanya menatap uap kopi yang naik lalu hilang. Di kepalanya hanya ada wajah Naya yang pucat di ranjang.

“Mas Arkan cuti aja hari ini,” kata Dewi pelan sambil jalan ke lift. “Mukanya capek.”

“Nggak bisa. Aku udah cuti sebulan penuh bulan lalu.”

Lift terbuka. Mereka masuk. Dewi cerita soal meeting siang, klien baru, hal yang biasanya Arkan tanggapin cepat.

Pagi ini Arkan diam. Ia menatap angka lantai yang naik. Pikirannya melayang ke ruang rawat Naya. Ke infus yang menancap. Ke bibir kering yang tidak ia sentuh.

“Naya sakit,” ucapnya tiba-tiba.

Dewi terdiam. Senyumnya pudar. Ekspresinya berubah datar.

“Oh.” Ia menatap ponselnya. Tidak bertanya lagi.

Lift berhenti. Pintu terbuka.

Arkan keluar lebih dulu, meninggalkan Dewi dan kopi yang belum disentuh.

...---...

Di ruang rawat, Naya sudah siuman. Bara duduk di depan, seperti penjaga. Ruangan kosong. Hanya suara mesin infus yang berdetak pelan.

“Makan dulu buburnya,” ujar Bara sambil menyendok.

“Aku bisa makan sendiri, Bar,” potong Naya, langsung merebut mangkuk.

Tapi tangannya terikat infus. Ia kesulitan. Bara tertawa pelan. Suara itu membuat Naya menunduk. Canggung. Mengingat kejadian tadi malam. Sesuatu yang tidak seharusnya terjadi antara mereka yang hanya berstatus ipar.

“Mama baru pulang tadi,” kata Bara tanpa diminta. “Katanya ada arisan sama teman-temannya.”

“Mas Arkan?” tanya Naya.

Bara berhenti mengaduk. Ia menatap Naya beberapa detik.

“Dia pergi kerja.”

“Apa sudah boleh pulang? Aku nggak nyaman cuma berdua sama kamu di sini,” gumam Naya. Ia tidak sanggup lagi menatap Bara.

Bara tidak menjawab. Ia menyuapi Naya. Perlahan, hati-hati. Berbeda dari suaminya yang tidak pernah menunjukkan kepedulian setelah menikah.

Tapi di hati Naya ada bagian yang menolak percaya. Arkan tidak mungkin memperlakukannya seperti ini. Nyatanya, ia sudah merasakannya. Arkan yang lembut, yang selalu tersenyum, yang tidak pernah marah, ternyata hanya topeng. Dan topeng itu kini retak di tengah.

“Aku udah kenyang. Bisakah kamu tanya dokter kalau aku boleh pulang sekarang?” ulang Naya. Ia tidak sanggup lagi berada di ruangan itu dengan Bara.

Bara menghela napas.

“Baiklah,” ujarnya singkat, lalu keluar.

Mereka pulang siang itu. Naya menyuruh Bara mengabari Arkan. Bara menolak sebentar, lalu menurut dan menelepon.

Arkan menjemput Naya di rumah sakit. Mobil berhenti di depan rumah, mesin belum dimatikan saat Naya turun. Langkahnya pelan, masih goyah. Bara di belakang, membawa tas kecil berisi obat dan surat kontrol.

Arkan membuka pintu. “Masuk.”

Di dalam, rumah terlalu sepi. Tidak ada Ibu Desy. Tidak ada suara televisi. Hanya bau lantai baru dipel dan hawa dingin AC.

Arkan membantu Naya duduk di sofa. Gerakannya hati-hati, tidak seperti semalam. Ia mengambil bantal, menyandarkannya ke punggung Naya.

“Kamu istirahat. Aku pesen bubur lagi buat sore,” ucapnya.

Naya menatapnya. Suara itu lembut. Tatapannya tidak dingin. Untuk sesaat, Naya hampir percaya suaminya pulang.

Tapi ia sudah terlalu sering percaya.

Sore itu Arkan kembali ke kantor. Katanya ada pekerjaan.

Malamnya, Arkan tidak pulang.

Jam sepuluh, Naya masih duduk di tepi ranjang, menunggu suara mobil di halaman. Jam sebelas, ponselnya diam. Jam dua belas, pintu depan terbuka dengan suara berat.

Arkan masuk ke kamar. Bau alkohol langsung mengisi ruangan. Langkahnya tidak stabil. Jasnya dilempar sembarangan, dasinya ditarik kasar sampai kancing atas terbuka.

Naya tidak bertanya. Ia menutup buku yang sejak tadi tidak ia baca.

“Kamu belum tidur?” suara Arkan serak.

“Belum.”

Arkan tertawa kecil. “Bagus. Jadi kamu lihat aku pulang.”

Ia ke kamar mandi. Air menyala lama. Saat keluar, rambutnya basah, baju sudah ganti. Ia jatuh ke ranjang. Tidak menyentuh Naya. Tidak bicara lagi.

Besok paginya, ia pergi sebelum matahari naik.

Tidak ada bubur. Tidak ada maaf. Hanya ranjang dingin di sisi Naya dan bantal yang tidak pernah ia sentuh.

Siangnya, Naya turun ke dapur. Ibu Desy sedang menyusun buah di meja. Pelayan yang sudah kembali bekerja sedang memasak.

“Arkan mana?” tanya Ibu Desy tanpa menoleh.

“Kerja.”

“Bagus. Laki-laki harus kerja. Jangan kayak kamu, sakit dikit langsung heboh,” ujar Ibu Desy sambil menyusun apel.

Naya diam. Ia mengambil gelas, mengisi air, lalu naik ke kamar.

Di dalam, ia membuka lemari. Mengambil koper kecil yang sudah lama tidak dipakai. Ia tidak mengisi apa-apa. Hanya membuka, lalu menutup lagi.

Sore itu Arkan pulang lebih awal. Wajah bersih, baju rapi. Ia membawa sekotak kue.

“Aku beli ini buat kamu,” katanya, meletakkan kotak di meja.

Naya menatap kue itu, lalu menatap Arkan.

“Besok kamu pulang jam berapa?” tanyanya.

Arkan terdiam.

“Aku nggak tahu. Ada kerjaan.”

Naya mengangguk. Ia membuka kotak itu, lalu membuang isinya ke tempat sampah tanpa menyentuh.

1
azzura faradiva
terlalu berbelit²,tinggal bilang aku ga jadi nikah aja kok susah....🙄
azzura faradiva
dasar si Arkan bunglon semoga saja pasangan gila itu mendapatkan karma,mereka tertawa bahagia diatas penderitaan dan luka hati si naya
azzura faradiva
seharusnya Naya menghilang dan pergi yg jauh,biar ga pernah bertemu lagi dgn kluarga gila itu lagi
azzura faradiva
pergi aja, ngapain juga masih bertahan di rumah syetan itu.udah di tindas harga diri di injak² masih aja mau di jadikan budak🙄
azzura faradiva
lagian jadi perempuan ga ada harga dirinya sama sekali,udah tau di budakin dan di khianati masih saja bertahan tinggal disitu
Raden Saleh
💪 semangat terus berupaya, karena cinta tak selalu mulus, dan perlu di perjuangkan. 👍
senjani jingga: benar sekali😁💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!