Jalur mature book, yang masih piyik jangan masuk 📌🙏🏻
Kenzo yang di khianati kekasih di masa lalu membuat dia tak mau dekat dengan wanita manapun. mantan kekasihnya adalah ibu tirinya saat ini.
Bagi Kenzo cinta adalah omong kosong, cinta cuma bisa di buktikan di atas ranjang, setelah itu tak ada ikatan apapun.
Kenzo Eko Armanta saat ini adalah sosok dingin, arogan, cuek, semaunya dan kejam.
Tiba-tiba saat seorang gadis bernama Vinda yang menjadi sekretaris baru masuk ke lingkungan hidupnya, gadis itu bisa memporak-porandakan kebekuan Hati Kenzo, saat itu lah dia baru sadar jika cinta itu masih ada.
Kenzo bisa kembali bersikap manusiawi dan mempercayai cinta lagi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Dia menyelamatkan aku!
"Vinda?! Ya Tuhan, Vinda, bangunlah!"
Gadis itu sudah tak sanggup membuka mata, dia pingsan seketika. Kenzo segera membuka jas hitamnya untuk menutupi tubuh yang hampir telanjang itu, lalu menoleh dengan pandangan penuh amarah ke arah kedua penjahat itu. "Berani‑beraninya kalian menyentuh wanitaku! Kalian akan menyesal seumur hidup!"
Kenzo langsung menghajar mereka dengan pukulan dan tendangan bertubi‑tubi, seolah menjadi kuda yang mengamuk, sampai kedua pria mabuk itu tergeletak tak berdaya penuh luka di aspal.
"Sekali lagi kalian berani berkeliaran di sini, aku pastikan kalian takkan bisa berjalan lagi! Ingat itu!"
"Maaf… ampuni kami…" Rintih mereka.
"Bersiaplah membusuk di penjara, sampah!"
Kenzo mengangkat salah satu pria itu lewat kerah bajunya sampai hampir kehabisan napas. Pemegang sabuk hitam taekwondo—begitu marah, tak ada yang bisa menahannya.
"Berani menyentuh tubuh Vinda‑ku?! Ini balasannya!"
Plak! Plak! Plak!
Kenzo menampar berkali‑kali sampai wajah pria itu penuh darah dan sobekan, lalu mencekik dan membantingnya kembali ke tanah sampai pria itu pun pingsan seperti temannya. Kenzo lalu mengambil ponselnya dan menelepon Adrian, jaksa yang berdinas di kejaksaan kantor pusat.
"Halo bang, ada apa?"
"Yan, ke lokasi yang akan kukirimkan lewat pesan sekarang. Ada dua orang yang harus kamu bawa ke kantor malam ini juga."
"Baik, ada apa? Kamu di mana bang? Ada masalah apa?" Tanya Minho yang kaget karena Kenzo menelepon di jam seperti itu.
"Ada masalah besar. Aku hampir saja membunuh dua penjahat yang berbuat onar di sini," Jawab Kenzo sambil melonggarkan dasinya yang terasa mencekik.
"Apa?! Ya ampun Astaga…kok bisa bang?!"
"Cepatlah ke sini sebelum aku gantung mereka hidup‑hidup di tiang listrik!
Klik.
"Sialan… aku hampir saja membunuh orang tadi," Gumamnya setelah sambungan teleponnya mati.
Dia kembali menghampiri Vinda yang masih pingsan, mengambil barang‑barang gadis itu yang berserakan, tas, sepatu, jaket yang koyak—lalu menggendongnya keluar dari gang gelap itu menuju mobilnya yang tak jauh dari sana.
Sebelumnya Kenzo sudah hampir putus asa mencari ke mana saja, dari satu halte busway ke halte lain di sekitar Tous Les Jours, sampai ke taman‑taman kota yang mulai sepi. Saat hendak pulang dan memarkir mobilnya sebentar, dia tak sengaja melihat Vinda duduk sendirian di halte seberang jalan agak jauh dari lokasi outletnya. Dia sempat lega dan hanya mengawasi dari jauh, tapi saat sedang berbicara lewat telepon dengan Kenan, dia menoleh kembali dan gadis itu sudah hilang.
Perasaan tak enak mulai muncul, Kenzo segera menyusuri jalanan sekitar halte sampai akhirnya mendengar teriakan minta tolong yang nyaring. Suara itulah yang menuntunnya ke gang sempit itu, tepat saat keadaan Vinda sudah sangat bahaya. "Maafkan aku… hampir saja aku terlambat. Maafkan aku, Vinda…" Bisiknya parau hampir menangis.
Wajah gadis itu masih pucat, sudut bibirnya berdarah, rambutnya yang biasanya harum dan rapi kini berantakan. Kenzo mengusap pipi pucat itu dengan lembut lalu mengecup keningnya sekilas. Dia makin menyesali keputusannya mengusir gadis itu tadi siang.
Vinda perlahan membuka mata, pandangannya masih kabur. Dia sempat berpikir apakah sudah mati dan sudah ada di surga, lalu bisa bertemu ibunya lagi. Namun saat merasakan ada yang menyentuh bibirnya, dia tersentak.
"Kya! Lepaskan! Siapa kamu?!" Vinda beringsut mundur, meronta hebat tak karuan saat seseorang memeluknya erat. Dia memukuli dada orang itu dengan panik.
"Lepaskan aku! Tolong!"
"Hei, ini aku! Vin, buka matamu baik‑baik, ini aku!" Seru Kenzo.
Begitu mengenali suara itu, tangis Vinda pecah. Dia baru sadar sosok yang memeluknya adalah pak Kenzo.
"Pak huhu pak Kenzo… saya takut sekali…" Isaknya sesenggukan.
"Iya, nggak apa-apa ada aku. Sudah aman sekarang, jangan menangis lagi," Hibur Kenzo sambil tetap memeluknya. Vinda makin terisak lega, bersyukur masih selamat dan hidup.
"Tenanglah, mereka sudah aku bereskan. Tak ada yang bisa menyakitimu lagi," Ujar Kenzo sambil mengusap rambutnya dan memeluknya hangat.
Hati Kenzo sangat lega bisa menemukan Vinda tepat waktu. Bahkan tanpa sadar dia tadi menyebut gadis itu sebagai miliknya. Kalau saja penjahat itu berhasil memperkosa Vinda, mungkin dia takkan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri seumur hidup.
Tok… tok… tok…
Seseorang mengetuk kaca jendela mobil. Kenzo segera melepaskan pelukan dan membuka kacanya.
"Bang, tadi kedua orang itu sudah diserahkan ke petugas kepolisian Polsek area sini. Besok pagi ajak Nona Vinda membuat keterangan di kantor polisi," kata Adrian dari luar.
"Baik, terima kasih banyak bantuannya Yan. Kalau begitu aku pergi dulu," Jawab Kenzo.
"Sama‑sama. Jaga baik‑baik pacarmu itu ya, jangan sampai di ganggu orang jahat lagi, hahaha… sampai besok bang" Canda Adrian lalu pergi.
Vinda yang mendengar itu tersipu malu. Kenzo pun hanya terkekeh pelan lalu menyalakan mesin mobil Maybach Mercedes Benz‑nya, melambaikan tangan sebelum kendaraan mewah itu perlahan melaju menjauh.
"Aku akan mengantarmu pulang sekarang, karena ini juga sudah larut malam."
Vinda duduk diam di kursi penumpang sejak tadi, merapatkan jas hitam Kenzo yang dipakainya, lalu kembali memejamkan mata.
Kenzo melirik sekilas, mengira gadis itu sudah tertidur karena kelelahan. Namun saat hampir sampai di kontrakan Vinda, dia jadi ragu, pantaskah membawa gadis itu pulang dalam keadaan penuh luka dan kacau begini. Apa kata ayahnya Vinda nanti? Padahal Vinda sempat bilang akan pulang larut karena lembur kantor.
Jam tangan Vacheron Constantine di lengannya sudah menunjukkan hampir pukul dua, sudah lewat tengah malam. Mustahil rasanya membiarkan Vinda masuk ke rumahnya sekarang.
"Vinda, bangunlah… kamu tidur?" Vinda tersentak kaget seolah bangun dari mimpi buruk, sempat meronta karena takut dan panik. "Sst… tenang, ini aku. Kamu aman bersamaku."
"Pak, saya takut…" isaknya kembali. Kenzo terpaksa memeluknya lagi, mengusap punggung pelan sampai gadis itu mulai tenang.
"Sudah jangan menangis. Kita sudah sampai di depan rumahmu. Mau turun nggak?"
"Tidak… saya takut ayah akan kaget melihat keadaan saya begini… penyakit jantungnya bisa kambuh."
"Baiklah kalau begitu, kita cari tempat lain yang aman. Besok pagi baru aku antar kamu pulang, bagaimana?" Vinda mengangguk pelan. Dia yakin bosnya takkan berbuat jahat—lagipula Kenzo baru saja menyelamatkan nyawanya.
Kenzo menyetir dengan fokus, tapi sesekali cemas melihat bahu Vinda yang bergetar menahan tangis. "Kamu baik‑baik saja? Apa ada yang sakit?" Vinda mengusap air mata, menggeleng, tapi isakannya makin keras. Kenzo akhirnya meminggirkan mobil.
"Sst… sudah jangan menangis. Semua akan baik‑baik saja, penjahat itu sudah diamankan di kantor polisi. Kamu aman sekarang, kumohon jangan menangis lagi."
Vinda terisak dalam pelukannya, sementara Kenzo masih merasa bersalah—semua kejadian buruk ini bermula dari pertengkaran mereka tadi siang.
"Maafkan aku… karena pertengkaran kita itu kamu hampir saja celaka."
"Bukan salahmu pak… aku yang bodoh, masih keluyuran sampai malam, ini salahku," rintih Vinda.