Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Cahaya lampu-lampu kecil di luar balkon memantul samar di langit-langit kamar saat aku membuka mata untuk kesekian kalinya malam itu. Sudah hampir satu jam aku berbaring di atas ranjang besar hotel ini tanpa benar-benar bisa memejamkan mata. Di sisi lain ruangan, Mason masih duduk di sofa dekat jendela sambil membaca sesuatu di tabletnya. Sesekali cahaya layar itu memantul di wajahnya yang tenang dan sulit ditebak.
Santorini begitu indah. Bahkan terlalu indah untuk menjadi nyata. Namun anehnya, semakin romantis tempat ini terasa, semakin canggung pula aku memikirkan keberadaanku di dekat Mason. Kami datang ke sini sebagai pasangan yang sedang berbulan madu. Tapi sejak tiba tadi siang, hubungan kami masih terasa seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di kamar yang sama.
Aku memiringkan tubuh pelan dan kembali melirik ke arahnya. Mason tampak begitu tenang dengan dunianya sendiri. Ia tidak mengabaikanku, tapi juga tidak benar-benar mendekat. Sikapnya masih sama seperti biasanya. Tidak sedingin dulu, namun tetap ada jarak yang tidak bisa kusentuh. Dan justru itu yang membuatku semakin gugup.
Aku menghela napas pelan sebelum akhirnya duduk di tepi ranjang. “Aku keluar sebentar,” kataku hati-hati.
Mason mengangkat pandangannya sekilas. “Jangan terlalu jauh.”
Hanya itu. Namun entah kenapa, kalimat sederhana itu tetap berhasil membuat dadaku terasa hangat.
Aku keluar menuju balkon luar hotel sambil membawa ponselku. Udara malam Santorini terasa sejuk dengan aroma laut yang samar terbawa angin. Lampu-lampu dari bangunan putih di sepanjang tebing terlihat cantik dari kejauhan, menciptakan suasana yang seharusnya romantis. Tapi di kepalaku sekarang hanya ada satu hal—aku sama sekali tidak tahu bagaimana harus bersikap sebagai istri Mason.
Dengan gugup aku melakukan panggilan grup bersama Linda, Brie, dan Amber. Tidak sampai satu menit, wajah mereka langsung memenuhi layar.
“Akhirnya!” seru Amber dramatis. “Bagaimana honeymoon pertamanya?!”
Aku langsung tersipu. “Jangan berteriak seperti itu…”
Brie menyipitkan mata curiga. “Tunggu. Kenapa wajahmu terlihat tegang?”
Aku menggigit bibir bawahku pelan sebelum akhirnya berkata jujur, “Aku tidak tahu harus bagaimana.”
“Maksudmu?” Linda bertanya lembut.
Aku menghela napas panjang. “Kami canggung sekali. Mason masih seperti biasanya. Tidak dingin, tapi… tetap jauh.” Aku menunduk pelan. “Dan aku juga tidak tahu harus melakukan apa.”
Amber langsung membulatkan mata. “Hazel! Jangan bilang kalian hanya duduk saling diam sejak tiba di Santorini.”
Aku terdiam beberapa detik.
Brie langsung tertawa keras. “Astaga. Jadi benar begitu?”
“Aku tidak punya pengalaman soal ini…” gumamku malu. “Mason adalah cinta pertamaku.”
Amber langsung menopang dagunya penuh semangat. “Kalau begitu kau harus sedikit lebih berani.”
“Berani bagaimana?”
“Menggodanya.”
Aku hampir tersedak mendengar jawabannya. “Amber!” pekikku pelan sambil memastikan pintu balkon tertutup rapat.
“Apa?” Amber mengangkat bahu santai. “Kalian sedang pergi honeymoon. Ini kesempatan terbaik.”
Linda yang biasanya paling tenang justru ikut mengangguk kecil. “Aku setuju. Tidak ada salahnya mencoba mendekatinya sedikit lebih dulu.”
“Tapi… bagaimana caranya?”
Amber langsung tersenyum licik. Dan entah kenapa, senyum itu membuatku mulai merasa takut.
“Dengar baik-baik.” Ia mendekat ke kamera. “Pakai lingerie yang seksi. Datangi Mason. Dan jangan terlalu banyak berpikir dan bicara.” Ia menunjuk layar seolah sedang memberikan instruksi rahasia. “Pria setampan dan sedingin apa pun pasti akan luluh.”
Aku langsung membeku. SementaraBrie tertawa sambil menepuk meja di depannya. “Aku mendukung ide itu.”
“Aku juga,” sahut Linda sambil tersenyum geli.
“Kalian serius?” tanyaku tidak percaya.
Amber justru terlihat semakin bersemangat. “Hazel, dengarkan aku. Kalian sudah menikah. Dan Mason itu pria normal.” Ia menaikkan sebelah alisnya. “Tidak mungkin dia tetap dingin kalau kau mendatanginya tengah malam memakai lingerie.”
Wajahku terasa panas seketika. “Aku bahkan belum pernah mencium pria…” gumamku pelan.
Mereka semua langsung terdiam sesaat.
“Baiklah,” ujar Amber akhirnya. “Kalau begitu kita mulai dari level dasar.”
Beberapa menit kemudian, Amber benar-benar mulai mengirimkan cuplikan adegan romantis dari film-film yang pernah ia tonton. Aku nyaris menjatuhkan ponselku sendiri saat membuka video pertama. Seorang wanita dalam gaun satin tipis duduk di pangkuan pria sambil mencium lehernya perlahan.
“Amber!” bisikku panik.
Di seberang sana Amber malah tertawa puas. “Kau bisa belajar dari itu.”
Aku menutup wajahku dengan tangan karena malu. Bahkan hanya menontonnya saja sudah membuat tubuhku merinding gugup. Bagaimana mungkin aku melakukan hal seperti itu langsung pada Mason? Namun di saat yang sama, aku juga tidak ingin terus seperti ini. Aku tidak ingin selalu menjadi istrinya hanya di atas kertas.
Setelah panggilan berakhir, aku berdiri cukup lama sendirian di balkon sambil mencoba menenangkan diriku sendiri. Angin malam menerbangkan rambutku pelan, sementara suara ombak samar terdengar dari bawah tebing. Jantungku berdetak tidak karuan hanya karena memikirkan apa yang akan kulakukan setelah ini. Tapi aku tidak ingin mundur.
Aku pun kembali masuk ke dalam kamar perlahan. Mason masih berada di sofa yang sama, kali ini sambil menatap layar ponselnya. Ia sempat melirik ke arahku sekilas sebelum kembali fokus pada pekerjaannya.
Aku berjalan menuju koperku dengan jantung yang semakin kacau. Tanganku gemetar kecil saat membuka bagian dalam koper hingga akhirnya menemukan kotak kecil berwarna hitam di sudut bawah. Aku langsung mengenalinya. Itu hadiah dari Sarah.
Waktu itu aku bahkan terlalu malu untuk membukanya. Dengan napas tertahan, aku membuka kotak itu perlahan. Dan di dalamnya terdapat lingerie satin merah dengan potongan yang membuat wajahku langsung panas.
“Ya Tuhan…” gumamku pelan.
Beberapa menit berikutnya terasa seperti mimpi aneh yang memalukan. Aku membersihkan diri di kamar mandi lebih lama dari biasanya hanya untuk mengumpulkan keberanian. Setelah itu, dengan tangan gemetar, aku mengenakan lingerie tersebut sambil menghindari tatapanku sendiri di cermin.
Aku bahkan nyaris berubah pikiran tiga kali. Namun akhirnya aku berdiri di depan cermin sambil menarik napas panjang berkali-kali.
“Kau bisa melakukan ini, Hazel,” bisikku pelan pada diriku sendiri. Meski sebenarnya aku sama sekali tidak yakin.
Dengan langkah pelan aku keluar dari kamar mandi. Dan seketika itu juga Mason mengangkat kepalanya. Untuk pertama kalinya malam itu, pria itu benar-benar diam menatapku cukup lama. Tatapannya membuat seluruh tubuhku menegang.
Aku menggenggam sisi kain satin di pinggangku erat-erat sambil berusaha tetap berdiri tegak. Jantungku terasa seperti ingin meloncat keluar dari dada.
Mason akhirnya meletakkan ponselnya perlahan. “Apa yang sedang kau lakukan?”
Aku tidak langsung menjawab. Jika aku membuka mulut sekarang, aku takut suaraku akan bergetar terlalu parah. Jadi aku hanya berjalan mendekatinya perlahan. Satu langkah, lalu dua langkah. Hingga akhirnya aku berdiri tepat di depannya.
Mason masih diam memperhatikanku dengan tatapan sulit dibaca. Dan sebelum keberanianku benar-benar hilang, aku memberanikan diri duduk di atas pangkuannya sambil menghadap ke arahnya. Tubuh Mason langsung sedikit menegang.
Napasku mulai kacau. “Malam ini…” suaraku bahkan hampir tidak terdengar, “aku ingin melakukan tugasku sebagai istri.”
Wajahku terasa sangat panas saat mengucapkan kalimat itu. Dengan gugup aku menyentuh dada bidangnya perlahan. Rasanya begitu hangat, keras, dan terlalu dekat hingga membuat pikiranku kosong. Aku mencoba mengingat adegan-adegan yang dikirim Amber tadi sambil memberanikan diri mencium pipi Mason pelan. Setelah itu rahangnya, lalu sudut bibirnya dengan gerakan canggung yang membuatku sendiri malu.
Namun Mason tetap diam. Ia tidak membalas, tidak bergerak, dan tidak menyentuhku sama sekali. Dan perlahan, perasaan takut mulai muncul di dalam dadaku.
Aku kembali mencium wajahnya dengan gugup. “Mason…”
Namun beberapa detik kemudian, kedua tangan pria itu akhirnya menahan lenganku perlahan. Bukan untuk mendekapku. Tapi untuk menghentikanku. Ia menurunkanku pelan dari pangkuannya sebelum akhirnya berdiri. Dan aku pun langsung membeku.
Mason mengusap wajahnya sebentar sebelum berkata pelan, “Jangan lakukan ini lagi.”
Dadaku terasa jatuh seketika.
“Apa…?” suaraku terdengar kecil bahkan di telingaku sendiri.
Mason memalingkan wajah sebentar sebelum kembali menatapku. “Aku tidak akan melakukan hal seperti ini denganmu.”
Kalimat itu menghantamku jauh lebih keras dari yang seharusnya.
Aku menatapnya tidak percaya. “Kenapa?”
Mason terdiam.
Aku menggigit bibirku kuat-kuat karena mulai merasakan mataku memanas. “Apa aku melakukan sesuatu yang salah?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa kau menolakku seperti ini?”
Suaraku mulai bergetar tanpa bisa kutahan lagi.
Mason menghela napas pelan. “Hazel… kita sudah membuat aturan sejak awal.”
Aku langsung merasa sesak.
“Kita memang menikah,” lanjutnya tenang, “dan kita memang hidup bersama. Tapi bukan berarti kita akan melakukan hal-hal seperti ini.”
Untuk beberapa detik aku bahkan tidak bisa bernapas dengan benar. “Jadi…” aku tertawa kecil dengan suara yang nyaris pecah, “aku bahkan tidak boleh berharap sebagai istrimu?”
Tatapan Mason sedikit berubah. Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat sesuatu seperti rasa bersalah di matanya. Namun itu tidak cukup untuk menghentikan rasa sakitku.
“Aku hanya tidak bisa melakukannya,” katanya lirih.
Setelah itu ia mengambil jaketnya tanpa mengatakan apa-apa lagi. Dan beberapa detik kemudian, pintu kamar hotel itu tertutup pelan meninggalkanku sendirian.
Aku masih berdiri di tempat yang sama cukup lama. Tubuhku terasa dingin meski udara kamar hangat. Lingerie merah yang tadi sempat membuatku gugup kini justru terasa memalukan. Aku perlahan duduk di tepi ranjang sambil menunduk. Dan akhirnya air mataku jatuh.
Malam pertama honeymoon kami berakhir dengan aku menangis sendirian di kamar hotel Santorini.
lebih baik di cinta dari pada mencintai mencintai seorang diri tuh cape ya kalau kamu ikhlas di madu ya ga papa sih zel cinta level dewa
kalau bisa jangan kembali ke rumah itu biarkan mereka bahagia cinta level dewa kalau kembali cintamu level kacrut 🤭
betul" nih kamu zel muka tembok hati bebal orang ga cinta kamu paksa
gumussss aku
mungkin suatu saat nanti mason ada hati ke kamu untuk sekarang mundur lah ihhhj ga ada harga diri memaksa