Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Di dalam kamar, suasana mendadak berubah hening. Lani berjalan mendahului Afrain, lalu berbalik sambil melipat kedua tangannya di dada.
Ia memicingkan matanya dengan tajam dan mengerucutkan bibirnya dalam-dalam, menatap sang suami dengan raut wajah yang murni menunjukkan rasa kesal.
Afrain yang sedang bersandar pada tiang infusnya tidak bisa menahan diri.
Ia tertawa kecil, suara kekehannya yang renyah terdengar begitu gemas melihat tingkah laku istrinya yang sedang dilanda cemburu buta.
"Kenapa mukanya ditekuk begitu, hmm? Cantiknya hilang lho," goda Afrain sembari melangkah perlahan mendekati Lani.
"Lagian Mas Afrain , kenapa pakai keluar kamar segala dengan tiang infus begitu. Sengaja ya, mau pamer ketampanan di depan mantan istri?" ketus Lani, membuang muka ke arah lain walau pipinya sebenarnya merona merah karena digoda.
Afrain menghentikan langkahnya tepat di depan Lani.
Dengan gemas, ia mengabaikan rasa lemas di tubuhnya dan menggunakan tangan yang bebas untuk mencubit lembut dagu Lani, memaksa sang istri untuk kembali menatap matanya.
"Astaga, Sayang, yang tadi itu murni karena aku ingin melindungi istriku yang pemberani ini. Tapi jujur, aku tidak menyangka kalau istri pemaluku ini bisa se-agresif itu di depan orang lain," bisik Afrain dengan kerlingan mata jahil, sengaja mengingatkan Lani tentang kecupan nekat di depan pintu tadi.
"Dulu aku diam saja, Mas, saat mereka memperlakukan aku seenaknya. Tapi sekarang tidak akan lagi," ucap Lani dengan binar mata yang tegas dan penuh tekad.
"Aku yang akan menjaga suamiku sekarang. Jadi, ayo Mas, naik ke atas tempat tidur lagi. Aku mau ke dapur buat bubur."
Afrain tersenyum takzim, hatinya menghangat mendengar kalimat protektif dari wanita yang kini sah menjadi pelindung hatinya.
"Siap, Sayang," ucap Afrain patuh.
Ia perlahan merebahkan kembali tubuhnya di atas ranjang yang nyaman, membiarkan Lani menyelimutinya dengan penuh kasih sayang.
Lani kemudian melangkah keluar dari kamar menuju dapur.
Saat melewati jendela ruang tamu, ia sengaja menyibak sedikit tirai dan mengintip ke luar.
Benar saja, Sisil masih berdiri di depan pagar
dengan wajah bersungut-sungut, tampaknya masih tidak rela menerima kekalahannya siang ini.
Sebuah ide jahil mendadak melintas di kepala Lani. Ia berjalan cepat ke dapur dan mendapati Mbok Mar yang sedang merapikan peralatan makan.
"Mbok Mar," panggil Lani setengah berbisik dengan senyum penuh arti.
"Iya, Non Lani? Ada yang bisa Mbok bantu?"
Lani mendekat lalu membisikkan rencananya untuk sedikit memberi pelajaran pada Sisil yang masih bertengger di depan rumah.
Mendengar ide tersebut, Mbok Mar langsung menahan tawa dan mengacungkan jempolnya.
"Siap, Non Lani! Serahkan sama Mbok, ya. Kebetulan air bekas cucian beras yang di ember belakang belum Mbok buang. Pas sekali buat menyiram tanaman di depan pagar," sahut Mbok Mar dengan kedipan mata jenaka.
Mbok Mar berjalan dengan langkah tenang ke halaman depan, menjinjing sebuah ember plastik besar yang penuh berisi air keruh bekas cucian beras bercampur sisa rendaman sayur.
Wajahnya sengaja dibuat sedatar mungkin seolah-olah tidak melihat keberadaan tamu tak diundang di dekat pagar.
Tepat saat posisi Sisil sedang membelakangi halaman karena sibuk mengomel pada ponselnya...
Byurrr!
Dengan satu sentakan kuat, Mbok Mar menyiramkan seluruh isi ember itu ke arah tanaman yang merambat di pagar, yang otomatis sisa cipratan airnya yang deras langsung mengguyur tubuh Sisil dari atas sampai bawah.
Sisil kegelagapan.
Ia terlonjak kaget setengah mati, ponselnya hampir saja meluncur dari genggaman.
"Aaaaa! Apa-apaan ini?!" jerit Sisil histeris, menyapu wajah dandanannya yang kini luntur total terkena air beras yang bau dan keruh.
Baju modisnya kini basah kuyup dan menempel ketat di tubuhnya.
Mbok Mar langsung menutup mulutnya dengan pura-pura terkejut, meskipun matanya berkilat puas.
"Aduh! Astaga, Mbak Sisil toh? Maaf ya Mbak, Mbok ndak lihat ada orang di situ. Lagian Mbak Sisil ngapain masih berdiri di depan pagar rumah orang siang-siang begini? Dikira patung selamat datang tadi," ucap Mbok Mar dengan logat jawanya yang kental, sama sekali tidak ada nada bersalah dalam suaranya.
"Kalian semua gila!!" jerit Sisil histeris dengan suara melengking.
Ia menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, mencoba mengibas air cucian beras yang membasahi gaun dan rambutnya.
Wajah dandanannya kini benar-benar luntur total mirip badut kesiram air.
Dari balik jendela ruang tamu, Lani yang menyaksikan pemandangan itu dari balik tirai langsung tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya.
Rasa puas dan geli bercampur menjadi satu melihat mantan kakak iparnya yang angkuh itu akhirnya kena batunya.
Sisil yang masih tidak tahu diri itu kemudian berteriak ke arah pintu rumah dengan sisa-sisa urat malunya.
"Mas Afrain! Tolong aku, Mas! Lihat kelakuan pembantu dan istri barumu ini! Mas!!"
Sementara itu di dalam kamar, Afrain yang sedang bersandar di ranjang hanya diam membisu mendengarkan teriakan melengking dari luar.
Ia sama sekali tidak berniat bangkit, apalagi menolong mantan istrinya yang keras kepala itu.
Namun, mendengar sayup-sayup suara tawa Lani yang begitu renyah dari arah depan, seulas senyum geli justru terbit di bibir pucat Afrain.
"Apa yang kamu lakukan, Sayang..." gumam Afrain pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ia tahu betul, istri manisnya yang biasa tenang itu pasti sedang menyusun rencana jahil di luar sana bersama Mbok Mar.
Sambil terus mengumpat dan menangis karena malu, Sisil akhirnya menghentakkan kakinya menjauh dari pagar rumah.
Dengan tubuh basah kuyup dan bau air cucian beras, ia terpaksa berlari ke tepi jalan raya untuk mencegat taksi yang kebetulan sedang lewat.
Begitu mobil itu berhenti, Sisil langsung masuk dan membanting pintunya dengan kasar.
Lani yang mengintip dari balik jendela tersenyum puas.
"Selamat tinggal, kuman!" ucap Lani lirih dengan nada mengejek, melambaikan tangan ke arah taksi yang mulai melaju menjauh.
Merasa urusannya dengan pengganggu sudah selesai, Lani melangkah kembali ke dapur dengan perasaan yang jauh lebih riang.
Ia melanjutkan kegiatannya mengaduk bubur ayam yang harum di atas kompor.
Setelah bubur itu matang dan mendingin sedikit, Lani menuangkannya ke dalam mangkuk kecil, lalu membawanya masuk ke dalam kamar bersama segelas air putih dan obat sore milik suaminya.
Begitu Lani melangkah masuk, Afrain langsung menoleh ke arah istrinya dengan tatapan penuh rasa penasaran yang sedari tadi ditahannya.
"Sisil kenapa, Sayang? Kok di luar tadi ribut-ribut sekali, sampai ada suara jeritan segala?" tanya Afrain, menatap mangkuk bubur di tangan Lani lalu beralih ke wajah istrinya yang tampak sangat ceria.
Mendengar pertanyaan polos dari suaminya, Lani tidak bisa lagi menahan diri.
Ia meletakkan nampan makanan di atas nakas, lalu langsung tertawa terbahak-bahak hingga bahunya terguncang hebat, mengingat kembali wajah Sisil yang kegelapan akibat siraman maut Mbok Mar.
"Mbok Mar menyiram Sisil pakai air bekas cucian beras, Mas. Salah sendiri dari tadi disuruh pergi nggak mau pulang," cerita Lani di sela-sela tawanya, membayangkan kembali wajah mantan kakak iparnya yang basah kuyup.
Afrain ikut terkekeh mendengar kejahilan istrinya. Namun, sedetik kemudian ia menatap Lani dengan tatapan menyelidik yang jahil.
"Jadi, istriku sekarang ini sedang cemburu besar, ya?"
Lani seketika menghentikan tawanya. Ia menunduk, lalu menganggukkan kepalanya perlahan dengan raut wajah yang mendadak berubah sendu.
"Iya, Mas. Aku takut, kalau Mas Afrain nanti berubah seperti Mas Alex," bisik Lani lirih, trauma masa lalunya bersama sang mantan suami mendadak berputar kembali di benaknya.
Cletak!
"Aduh!" Lani mengaduh pelan sambil memegangi dahinya.
Afrain baru saja menyentil dahi istrinya dengan gemas, namun tatapan matanya kini memancarkan keseriusan dan ketulusan yang mendalam.
Ia meraih tangan Lani, menggenggamnya erat-erat.
"Aku tidak seperti mantan suamimu, Sayang," ucap Afrain dengan nada suara yang berat dan menenangkan.
"Pria itu bodoh karena telah menyia-nyiakan wanita sepertimu. Sementara aku, aku sudah berjanji di hadapan Tuhan untuk menjaga dan memuliakanmu seumur hidupku. Jadi, tolong jangan pernah samakan aku dengan dia lagi, ya?"
Lani menganggukkan kepalanya pelan, hatinya seketika menghangat dan rasa cemas yang sempat membayangnya menguap begitu saja setelah mendengar untaian kalimat tulus dari Afrain.
Air matanya hampir saja menetes karena haru, namun ia segera menguasai diri dan tersenyum manis.
"Iya, Mas. Maaf ya, aku tidak akan menyamakan Mas lagi dengan dia," ucap Lani lembut.
Ia kemudian meraih mangkuk bubur yang masih hangat dari atas nakas.
Lani meniup sesendok bubur dengan hati-hati sebelum mengarahkannya ke depan bibir Afrain.
"Sekarang, Mas harus makan dulu ya supaya bisa minum obat."
Afrain tersenyum lebar, memandangi wajah ayu istrinya dengan tatapan penuh cinta.
Ia membuka mulutnya dengan patuh, menerima suapan demi suapan bubur dari tangan Lani dengan perasaan bahagia yang membuncah.
Sakit lemas di tubuhnya mendadak terasa hilang, digantikan oleh kehangatan dari perhatian penuh wanita yang kini telah resmi menjadi belahan jiwanya.