NovelToon NovelToon
Lagu Yang Tenggelam

Lagu Yang Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Cinta Seiring Waktu / Dark Romance
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Keivanya Huang

Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.

Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.

Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Air Kenangan

Ketika Nana dan Jeno akhirnya tiba di gerbang Aequoria, langit laut di atas mereka sedang berwarna ungu keemasan — waktu antara fajar dan matahari terbit, saat para Siren biasanya mulai beraktivitas.

Kabarnya sudah tersebar lebih dulu.

Entah bagaimana, mungkin melalui arus laut yang membawa getaran, para Siren Aequoria sudah tahu bahwa Ratu mereka kembali. Mereka berkerumun di gerbang kota — bukan dengan sorak-sorai, tapi dengan hening.

Hening yang sama seperti di Lembah Bisu.

Tapi hening ini berbeda. Ini adalah hening karena hormat.

Nana berenang masuk melewati gerbang, botol batu kaca berisi air Sumur Kenangan tergenggam erat di tangannya. Jeno mengikuti di belakangnya, matanya waspada, sisiknya berkilau di bawah cahaya ubur-ubur raksasa yang mulai bangun.

Seorang Siren perempuan tua — yang sama yang dulu memeluk Nana saat pertama kali tiba di Aequoria — berenang mendekat.

"Yang Mulia," bisiknya, matanya berkaca-kaca. "Kami mendengar... kami mendengar bahwa kau..."

Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Matanya tertuju pada tenggorokan Nana — pada insang yang masih terbuka normal, tapi pada pita suara yang tidak bisa dilihat, tapi terasa ketiadaannya.

Nana tersenyum.

Ia mengangkat botol di tangannya.

"Aku berhasil," bentuk bibirnya. "Aku membawanya."

Para Siren mulai berbisik. Beberapa menangis. Beberapa berlutut. Beberapa hanya terdiam, menatap Nana dengan mata yang tidak bisa menyembunyikan kekaguman.

"Yang Mulia," kata seorang Siren laki-laki muda dengan suara bergetar. "Kau mengorbankan suaramu... untuk kami?"

Nana mengangguk.

"Untuk kalian. Untuk Lira. Untuk semua yang membatu. Karena tidak ada yang pantas menderita seperti itu."

Diam.

Kemudian, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Aequoria bersorak.

Bukan sorak-sorai yang keras dan riuh. Tapi sorakan yang pecah dari dada yang sesak — suara-suara yang terbata, tangis yang tertahan, dan tepuk tangan yang menggetarkan air.

Nana merasa matanya panas. Ia tidak bisa menangis dengan suara — suaranya sudah tidak ada — tapi air matanya tetap bisa jatuh. Dan air mata itu, di dalam air laut, mengambang seperti mutiara kecil yang bercahaya.

Di belakangnya, Jeno tersenyum — senyum yang tidak bisa ia sembunyikan meski ia berusaha.

"Kau hebat, Putriku," bisiknya dalam hati. "Kau selalu hebat."

 

Nana tidak menunggu upacara. Ia tidak mau.

Ia berenang langsung ke gerbang kota, ke tempat patung Lira berdiri — masih membatu, masih menangis, masih menunggu.

Sepuluh tahun Lira menunggu.

Sepuluh tahun air mata batu mengalir di pipinya.

Hari ini, penantian itu berakhir.

Nana berdiri di depan patung Lira. Ia membuka botol batu kaca di tangannya — botol berisi air Sumur Kenangan, cairan keemasan yang berdenyut dengan cahaya hangat.

Ia menuangkannya ke kepala patung Lira.

Setetes.

Dua tetes.

Tiga tetes.

Cairan keemasan itu meresap ke dalam batu — bukan mengalir di permukaan, tapi terserap, seperti air yang diserap oleh tanah kering.

Diam.

Tidak ada yang terjadi.

Nana merasakan jantungnya berdetak kencang — Jantung Aequoria di dadanya berdenyut nyeri, seolah sedang menahan napas.

Dan kemudian —

Retak.

Garis tipis muncul di pipi batu Lira.

Retak. Retak. Retak.

Seluruh tubuh patung itu dipenuhi retakan, seperti porselen yang pecah. Cahaya keemasan keluar dari celah-celah itu — terang, hangat, hidup.

Batu itu runtuh.

Bukan hancur berkeping-keping, tapi terkelupas — seperti kulit ular yang berganti kulit. Lembaran-lembaran batu jatuh ke pasir, dan di dalamnya...

Lira.

Bukan patung lagi. Tapi Siren sungguhan. Perempuan dengan rambut biru kehijauan, mata cokelat keemasan, dan ekor berwarna perak mengkilap.

Ia terbatuk — air laut masuk ke paru-parunya untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun.

"Lira!" teriak seorang Siren laki-laki dari kerumunan — mungkin suaminya, mungkin saudaranya, Nana tidak tahu. Ia berenang mendekat, meraih Lira, memeluknya erat.

Lira membuka mata.

Matanya sayu, bingung, tapi hidup.

"Apa... apa yang terjadi...?" bisik Lira, suaranya serak seperti orang yang baru bangun dari tidur panjang.

"Kau dibebaskan, Lira," kata Siren laki-laki itu sambil terisak. "Ratu kita... Ratu Nanara... dia mengorbankan suaranya untuk membebaskanmu."

Lira menoleh.

Ia menatap Nana — gadis muda dengan rambut hitam panjang, mata gelap, senyum tipis, dan tenggorokan yang kosong.

Lira tidak bisa berkata apa-apa.

Ia hanya berlutut — di atas pasir, di depan Nana — dan menundukkan kepalanya.

Terima kasih, Yang Mulia.

Bibirnya membentuk kata itu tanpa suara.

Tapi Nana mengerti.

 

Satu per satu, para Siren yang membatu di gerbang Aequoria — dan di seluruh penjuru kota — mulai terbangun.

Setiap tetes air Sumur Kenangan yang Nana taburkan membebaskan satu Siren. Dan karena air dalam botol itu hanya cukup untuk dua puluh tetes, Nana harus memilih dengan bijak. Ia tidak bisa membebaskan semua sekaligus.

Tapi cukup.

Cukup untuk memulai.

Cukup untuk memberi harapan.

Para Siren yang terbangun — ada yang menangis, ada yang tertawa, ada yang langsung mencari keluarganya yang juga membatu di tempat lain. Suara tangis dan tawa bercampur menjadi kekacauan yang indah — kekacauan yang sudah sepuluh tahun tidak terdengar di Aequoria.

Nana duduk di atas batu karang di pinggir alun-alun, botol air Sumur Kenangan kini kosong di tangannya. Tubuhnya terasa lelah — bukan hanya fisik, tapi jiwa.

Jeno duduk di sampingnya. Diam. Menemani.

"Kau menangis," bentuk Jeno dengan bibirnya.

Nana menyentuh pipinya. Basah. Ia bahkan tidak menyadarinya.

"Apa ini?" tanya Nana dengan bibir, tersenyum getir. "Aku tidak bisa bicara, tapi masih bisa menangis?"

Jeno tersenyum.

"Kau bisa melakukan apa pun, Nana. Bahkan tanpa suara."

Ia meraih tangan Nana, menggenggamnya erat.

"Dan aku akan selalu di sini. Untuk menerjemahkan air matamu, jika perlu."

Nana menyandarkan kepalanya di bahu Jeno. Di kejauhan, matahari laut — ubur-ubur raksasa yang menjadi sumber cahaya Aequoria — mulai bersinar lebih terang, menandakan pagi telah tiba.

Fajar di Aequoria.

Fajar setelah sepuluh tahun gelap.

 

Malam harinya — atau apa yang dianggap malam di bawah laut, saat ubur-ubur raksasa meredupkan cahayanya — Nana duduk sendirian di ruang singgasana.

Singgasana sejati belum selesai diperbaiki. Tapi para Siren sudah membuatkan tempat duduk khusus untuknya — sebuah batu karang yang dilapisi rumput laut biru lembut, dihiasi mutiara-mutiara kecil yang dikumpulkan dari seluruh Aequoria.

Nana duduk di sana, botol kosong di pangkuannya, Jantung Aequoria berdenyut pelan di dadanya.

Lelah.

Bukan lelah karena berenang jauh. Tapi lelah karena memberi.

Ia sudah memberikan suaranya. Ia sudah memberikan hatinya. Ia sudah memberikan dirinya untuk kerajaan yang bahkan belum ia kenal setahun yang lalu.

Apakah ini yang disebut menjadi ratu?

Apakah menjadi ratu berarti kehilangan?

Pintu ruang singgasana terbuka. Jeno masuk, membawa sesuatu di tangannya — sebuah mangkuk dari cangkang kerang berisi sup rumput laut hangat.

"Kau belum makan sejak kembali," bentuk Jeno dengan bibirnya. "Aku tahu kau tidak lapar. Tapi makanlah. Untukku."

Nana tersenyum lelah. Ia menerima mangkuk itu, menyeruput sup hangat — rasanya aneh di tenggorokannya yang kosong, tapi hangat.

Jeno duduk di lantai di samping singgasana — bukan di atas singgasana, karena ia tidak merasa pantas — dan menatap Nana dengan mata biru pucat yang lembut.

"Kau sedih," katanya tanpa suara.

Nana menggeleng. Lalu mengangguk. Lalu mengangkat bahu.

"Aku tidak tahu," bentuk bibirnya. "Aku berhasil. Lira bebas. Yang lain menyusul. Tapi... kenapa aku merasa kehilangan sesuatu yang lebih besar dari suaraku?"

Jeno terdiam.

Ia meraih tangan Nana — tangan yang dingin, karena tanpa suara, api di dalam tubuh Nana ikut meredup.

"Kau kehilangan suaramu," bentuk Jeno. "Tapi kau tidak kehilangan dirimu. Ingat itu."

Nana menatap mata Jeno.

Di dalam mata biru pucat itu, ia melihat segalanya — sepuluh tahun penantian, pertempuran di Aequoria, pelukan di taman laut, ciuman di ruang latihan, dan janji yang tidak pernah diucapkan tapi selalu terasa.

"Jeno," bentuk Nana. "Aku takut."

"Takut apa?"

"Takut bahwa setelah semua ini... setelah Aramis benar-benar kalah... kau akan pergi."

Jeno terkejut.

"Pergi ke mana?"

"Aku tidak tahu. Tapi kau... kau selalu menjadi penjagaku. Tugasmu. Jika suatu hari tidak ada lagi yang perlu dijaga... apa kau akan tetap di sini?"

Jeno tidak menjawab dengan bibir.

Ia bangkit dari lantai, berlutut di depan Nana, dan meraih kedua tangan Nana.

Lalu ia mencium punggung tangan Nana — lembut, sekali di tangan kiri, sekali di tangan kanan.

"Aku tidak akan pergi, Nana," bentuk bibirnya, perlahan, jelas, agar Nana bisa membaca setiap katanya. "Bukan karena tugas. Bukan karena janji pada ibumu. Tapi karena... aku tidak bisa pergi."

Ia menatap Nana lurus ke mata.

"Kau rumahku, Nana. Dan aku tidak pernah punya rumah sebelum kau."

Air mata Nana jatuh lagi.

Tapi kali ini, air matanya tidak pahit.

Air matanya manis.

 

Di Palung Hitam, ratusan mil dari Aequoria, Ratu Aramis duduk di singgasananya dari tulang paus.

Ia tidak lagi cantik.

Setelah kekalahannya di Aequoria, sihir hitam yang selama ini menjadi sumber kecantikan dan kekuatannya mulai memakan dirinya sendiri. Rambut merah darahnya kini kusut dan rontok. Kulitnya yang dulu pucat mulus kini mengkerut dan penuh bintik hitam. Matanya yang merah menyala kini redup — tapi masih menyala. Masih lapar.

"Aramis," bisik seorang Siren Hitam yang berlutut di depannya, suaranya gemetar. "Kami mendapat kabar dari mata-mata di Aequoria."

"Katakan."

"Nana... Ratu baru itu... dia berhasil mendapatkan air Sumur Kenangan. Dia membebaskan para Siren yang membatu di gerbang kota."

Aramis terdiam.

Tangannya — yang sekarang seperti cakar burung pemangsa — meremas lengan singgasananya sampai tulang paus itu retak.

"Lembah Bisu...?" bisik Aramis. "Dia berani masuk ke Lembah Bisu?"

"Ya, Yang Mulia. Dan dia... dia mengorbankan suaranya untuk mengambil air itu."

Aramis tertawa.

Tawanya pahit, pecah, dan gila.

"Dia mengorbankan suaranya... untuk menyelamatkan patung-patung tak berguna itu... Gadis bodoh. Dasar gadis bodoh!"

Aramis berdiri. Tubuhnya terhuyung, tapi ia tetap berdiri.

"Dia tidak akan bisa bernyanyi lagi. Itu berarti... dia tidak punya senjata. Lagu adalah satu-satunya kekuatan Siren sejati. Tanpa suara... dia hanya ikan biasa."

Ia menatap para Siren Hitam yang berlutut di hadapannya — yang tersisa dari pasukannya, hanya beberapa puluh, bukan ratusan lagi.

"Kita masih punya kesempatan. Selama dia tidak bisa bernyanyi... dia tidak bisa melawanku. Kita serang sekarang. Sebelum dia sempat memulihkan kekuatannya."

Tapi seorang Siren Hitam — yang paling tua, paling berani — mengangkat kepalanya.

"Yang Mulia... pasukan kita tinggal sedikit. Ratu Nanara... meski tanpa suara... dia masih memiliki Jantung Aequoria. Dan dia memiliki Jeno. Jeno sendirian sudah bisa mengalahkan sepuluh Siren Hitam sekaligus."

Aramis menatap Siren Hitam itu dengan mata merah yang menyala.

"Kau meragukanku?"

"Tidak, Yang Mulia. Tapi aku—"

"DIAM!"

Aramis mengangkat tangannya. Sihir hitam melesat dari ujung jarinya, mengenai dada Siren Hitam itu. Ia terpental, jatuh ke lantai, tidak bergerak.

Aramis menurunkan tangannya, napasnya terengah-engah.

"Kita serang dalam tiga hari," katanya. "Persiapkan semuanya. Aku akan menghabisi keponakanku itu... dengan tanganku sendiri."

Para Siren Hitam berlutut lebih dalam.

"Baik, Yang Mulia."

Tapi di antara mereka, ada yang saling berpandangan. Ada keraguan. Ada ketakutan.

Dan di sudut ruangan, seorang Siren Hitam dengan mata yang sedikit lebih terang dari yang lain — matanya hampir biru, bukan merah — diam-diam menyelinap keluar.

Ia akan pergi ke Aequoria.

Ia akan memberi tahu Ratu Nanara.

Karena ia sudah muak dengan Aramis.

 

Dini hari — saat ubur-ubur raksasa Aequoria meredupkan cahayanya ke tingkat terendah — seorang Siren Hitam menyusup masuk ke kota.

Ia tidak dikenal. Wajahnya tertutup topeng dari sisik hitam. Tapi matanya — dua titik terang di tengah gelap — bukan merah.

Ia tidak mencari istana. Ia mencari rumah sakit — tempat para Siren yang terluka dirawat.

Karena di sanalah Nana berada malam itu.

Nana tidak bisa tidur. Ia duduk di samping Lira — Siren yang pertama ia bebaskan — yang masih dalam masa pemulihan. Lira belum bisa bicara banyak, tapi matanya sudah bisa tersenyum.

Pintu rumah sakit terbuka pelan.

Nana menoleh.

Seorang Siren Hitam berdiri di ambang pintu. Jubah hitamnya basah — ia baru saja berenang cepat.

Nana tidak takut.

Ia sudah terlalu lelah untuk takut.

"Ada apa?" bentuk bibirnya.

Siren Hitam itu berlutut. Ketika ia mengangkat kepalanya, ia membuka topengnya.

Perempuan. Muda. Dengan mata biru keabu-abuan — bukan merah.

"Aku Zara," bisiknya. "Dulu aku Siren Aequoria. Tapi Aramis merekrutku sepuluh tahun lalu, saat aku masih remaja. Aku... aku tidak punya pilihan."

Nana menatapnya dengan mata tenang.

"Kenapa kau ke sini?"

Zara menarik napas.

"Aramis akan menyerang. Tiga hari lagi. Dengan sisa pasukannya — mungkin dua puluh Siren Hitam yang masih setia padanya. Tapi dia... dia sendiri sudah lemah. Sihir hitamnya mulai memakannya hidup-hidup."

Zara meraih tangan Nana — berani, tapi putus asa.

"Aku tidak ingin bertarung lagi, Yang Mulia. Aku tidak ingin membunuh saudaraku sendiri. Tolong... terima aku kembali. Aku akan membantu. Aku akan memberi semua informasi yang aku punya. Tapi jangan biarkan aku kembali ke Palung Hitam. Aku tidak akan selamat."

Nana menatap Zara lama.

Ia melihat ketakutan di mata perempuan itu. Ketakutan yang sama seperti yang ia lihat di mata Mira, saat Mira melarangnya mendekati laut.

Ketakutan karena terjebak.

Nana mengangguk.

"Kau bisa tinggal," bentuk bibirnya. "Kami akan melindungimu."

Zara menangis. Ia mencium punggung tangan Nana — seperti yang dilakukan Jeno malam itu — dan berbisik, "Terima kasih, Yang Mulia. Terima kasih."

 

Pagi harinya, untuk pertama kalinya, Nana mengadakan rapat perang.

Bukan di ruang singgasana yang megah. Tapi di taman laut — di samping mawar biru yang masih hidup, tempat Nana dan Jeno pernah berpelukan.

Para Siren yang hadir: Jeno (Kepala Penjaga), Lira (yang baru pulih, tapi bersikeras ikut), Zara (mantan Siren Hitam yang kini membelot), dan tiga komandan Siren Aequoria yang selamat.

Zara berbicara pertama.

"Aramis hanya punya sekitar dua puluh Siren Hitam tersisa. Tapi mereka yang paling fanatik — tidak akan terpengaruh oleh lagu apa pun, bahkan lagu Ratu Nanara sekalipun."

Jeno mengernyit. "Kenapa tidak terpengaruh?"

Zara menunduk. "Karena mereka... mereka sudah bukan Siren lagi. Aramis mengubah mereka menjadi mesin perang. Mereka tidak punya perasaan. Tidak punya ingatan. Hanya haus darah."

Lira menggigit bibirnya. "Bagaimana kita bisa melawan mereka?"

Zara mengangkat bahu. "Dengan kekuatan fisik. Trisula. Gigi. Kuku. Tidak ada jalan lain."

Jeno menatap Nana.

"Apa perintahmu, Yang Mulia?" bentuk bibirnya.

Nana terdiam.

Ia memandang satu per satu wajah di hadapannya. Jeno yang setia. Lira yang baru bebas tapi sudah siap mati. Zara yang ketakutan tapi berani membelot. Dan para komandan yang sudah sepuluh tahun bertahan dalam ketakutan.

"Kita tidak akan menyerang," bentuk Nana dengan bibir, perlahan. "Kita akan bertahan. Aequoria adalah rumah kita. Biar Aramis yang datang kepada kita."

Jeno mengangguk. "Kita bisa memasang jebakan di sekitar kota. Memanfaatkan medan karang yang sempit untuk memecah pasukan mereka."

Lira mengangkat tangannya. "Aku bisa membantu. Suaraku mungkin belum pulih sepenuhnya, tapi aku masih bisa bernyanyi. Lagu pertahanan."

Zara juga mengangkat tangan. "Aku tahu kebiasaan mereka. Kelemahan mereka. Aku bisa membantu merancang jebakan."

Para komandan mengangguk setuju.

Nana tersenyum — lelah, tapi tulus.

"Kita punya tiga hari. Manfaatkan waktu sebaik-baiknya."

 

Malam kedua — malam sebelum Aramis menyerang — Nana tidak bisa tidur.

Ia berenang sendirian ke taman laut, duduk di samping mawar biru. Bunga kecil itu masih berdenyut dengan cahaya lembut — seperti jantung Aequoria versi mini.

Jeno menemukannya di sana, seperti yang selalu ia lakukan.

"Kau tidak tidur lagi," bentuk Jeno dengan bibirnya.

"Kau juga," balas Nana.

Jeno duduk di sampingnya. Jarak mereka hanya sejengkal.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Jeno.

Nana menatap mawar biru itu.

"Ibu," bentuk bibirnya. "Aku ingin tahu... apakah dia bangga padaku? Apakah dia akan bangga melihat apa yang aku lakukan untuk kerajaannya?"

Jeno terdiam sejenak.

"Ratu Ruenna," bentuk Jeno perlahan, "adalah Siren paling baik yang pernah aku kenal. Dia tidak pernah ingin menjadi ratu. Tapi dia menerimanya karena tidak ada yang lain yang bisa. Dan dia melakukan yang terbaik — meski pada akhirnya, dia mati karena kebaikannya."

Ia menatap Nana.

"Kau mirip dengannya, Nana. Kau juga tidak pernah ingin menjadi ratu. Tapi kau menerimanya. Dan kau melakukan yang terbaik — bahkan mengorbankan suaramu untuk rakyat yang baru kau kenal."

Jeno tersenyum.

"Dia pasti bangga padamu. Setiap ibu akan bangga."

Nana tidak bisa berkata apa-apa.

Ia hanya bersandar pada Jeno, menempelkan kepalanya di dada pemuda itu, dan mendengarkan detak jantungnya.

Thump. Thump. Thump.

Suara yang tidak perlu ia dengar dengan telinga.

Suara yang cukup ia rasakan.

1
hrarou
seruuu!! Lanjut yaaa 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!