Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.
Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.
Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.
Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: SIASAT PEMBATALAN REUNI
Anaya masih bisa merasakan sisa kehangatan napas Bima yang menggelitik kulit lehernya, bahkan setelah pria itu akhirnya melepaskan cengkeraman di pinggangnya dengan senyuman yang kelewat puas. Begitu kakinya berhasil melangkah keluar dari ruangan CEO, Anaya langsung bersandar pada meja kubikelnya sendiri, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya seolah baru saja lolos dari kejaran singa kelaparan.
"Gila. Itu bos narsis kalau dibiarin lama-lama bisa merusak iman dan takwa," bisik Anaya sambil mengipas-ngipas wajahnya yang masih terasa panas.
Dia melirik jam di sudut monitor komputernya. Pukul empat sore lewat empat puluh lima menit. Tinggal lima belas menit lagi menuju bel kebebasan, dan Anaya sudah tidak sabar untuk segera memesan taksi daring menuju Senopati. Pikiran tentang sepiring pasta enak dan obrolan seru bersama teman-teman kuliahnya menjadi motivasi terbesar Anaya untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya dengan kecepatan kilat.
Namun, Anaya sepertinya lupa satu hukum alam yang berlaku di kantor ini: Bimantara tidak akan pernah membiarkan hidup sekretarisnya berjalan dengan tenang, terutama jika itu melibatkan acara sosial tanpa dirinya.
Di dalam ruangan CEO, Bima sedang mondar-mandir di balik meja marmernya seperti setrikaan rusak. Otak superkomputernya yang biasa dipakai untuk menganalisis pergerakan saham global, kini dikerahkan seratus persen hanya untuk memikirkan satu hal: cara menggagalkan acara reuni Anaya.
"Reuni D3... pasti ada mantan pacarnya di sana. Atau minimal cowok-cowok spek buaya darat yang bakal kegatelan mencium wangi Black Opium itu," gumam Bima, wajahnya langsung berkerut masam. Rasa cemburu yang membakar dadanya membuat pria itu mendadak kehilangan seluruh akal sehatnya sebagai seorang lulusan terbaik universitas luar negeri.
Mata elang Bima mendadak tertuju pada cangkir porselen putih di sudut mejanya yang masih berisi setengah kopi hitam pekat tanpa gula kesukaannya. Sebuah ide licik, picik, dan sangat tidak mencerminkan perilaku seorang CEO terhormat tiba-tiba muncul di kepalanya.
Bima menyeringai tipis. "Maaf ya, laptop kesayangan. Ini demi aset masa depan perusahaan."
Dengan gerakan yang sengaja dibuat dramatis, Bima menyenggol cangkir kopi tersebut menggunakan siku lengannya.
Prang! Sreeet!
Cairan hitam pekat itu langsung tumpah ruah, mengalir deras membanjiri permukaan meja marmer, mengenai tumpukan dokumen draf IPO, dan puncaknya: sukses merendam sebagian bodi laptop Macbook Pro terbaru milik Bima yang harganya setara motor matik baru.
Bima langsung menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak dengan nada panik yang dibuat-buat hingga suaranya terdengar sampai ke luar ruangan. "Anaya! Emergency! Ke ruangan saya sekarang!"
Di luar kubikel, Anaya yang baru saja mau memasukkan dompetnya ke dalam tas langsung tersentak kaget. Mendengar teriakan melengking dari bosnya, wanita itu refleks berdiri dan berlari masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu lagi.
"Ada apa, Pak?! Ada kebakaran?!" tanya Anaya panik.
Namun, begitu melangkah masuk, pemandangan di depan matanya sukses membuat Anaya mematung. Bima sedang berdiri di balik meja dengan kedua tangan terbuka di udara, memasang wajah syok yang sangat teatrikal, sementara kopi hitam tampak menggenang di mana-mana, mengotori dokumen penting dan membuat laptop mahalnya basah kuyup.
"Aduh, Anaya... lihat ini. Saya gak sengaja kesenggol cangkir kopi saya sendiri," ujar Bima, nadanya dibuat sefrustrasi mungkin, meski matanya diam-diam melirik reaksi Anaya. "Laptop saya basah semua. Ini bencana nasional! Semua data genius saya, strategi ekspansi kuartal depan, dan dokumen rahasia perusahaan bisa hilang kalau sirkuitnya korsleting!"
Anaya menepuk dahinya keras-keras. "Gusti... Pak Bima! Kok bisa teledor banget sih?! Itu laptop kenapa gak langsung diangkat?!"
Dengan sigap, Anaya langsung menyambar kotak tisu di atas meja, lalu bergerak cepat mengelap sisa kopi yang merembes ke sela-sela kibor laptop Bima. Wajahnya tampak sangat panik karena dia tahu betul seberapa berharganya data di dalam laptop tersebut.
Bima memperhatikan gerakan cekatan Anaya dari jarak dekat, kembali menikmati aroma Black Opium yang menguar dari tubuh wanita itu. Namun, detik berikutnya, dia buru-buru memasang kembali mode bos yang sedang tertimpa musibah.
"Gak bisa, Anaya. Laptop ini mendadak mati total, sistem operasinya jebol tampaknya," dusta Bima enteng, padahal laptop itu sengaja dia matikan paksa sedetik setelah terkena tumpahan air. Pria itu kemudian menunjuk ke arah tumpukan map tebal di pojok meja yang untungnya tidak terkena kopi sama sekali. "Masalahnya, draf fisik laporan keuangan prapublikasi itu harus dicocokkan ulang secara manual sore ini juga karena data digitalnya gak bisa diakses."
Anaya langsung menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengelap meja. Perasaan tidak enak mendadak menyergap hatinya. Dia menatap Bima dengan pandangan penuh selidik. "Maksud Bapak... dicocokkan manual sekarang?"
"Iya, sekarang. Saya gak mau ambil risiko data kita bocor atau ada angka yang selisih satu rupiah pun," jawab Bima dengan nada absolut yang tidak bisa diganggu gugat. Pria itu bersandar pada meja, menatap Anaya dengan senyuman tipis yang sarat akan kemenangan terselubung. "Jadi, sebagai sekretaris saya yang sangat berdedikasi... saya melarang kamu pulang tenggo (teng -bunyi bel pulang- langsung go) hari ini. Kamu gak boleh pulang sampai seluruh dokumen fisik ini selesai diperiksa ulang dari halaman pertama sampai terakhir. Sendirian. Di ruangan ini."
Anaya melongo. Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna kalimat kejam yang baru saja meluncur dari bibir seksi bos narsisnya. Dia melirik map-map tebal di pojok meja yang ketebalannya mirip bantal tidur berukuran jumbo. Memeriksa itu semua secara manual setidaknya butuh waktu minimal empat sampai lima jam!
Itu artinya... reuni D3-nya malam ini resmi hancur lebur menjadi abu.
Di dalam benak kepalanya, Anaya sudah berteriak histeris, mengutuk Bimantara sampai tujuh turunan, delapan tanjakan, dan sembilan belokan.
Sialan! Ini pasti murni sabotase! Sengaja banget ini manusia purba numpahin kopi biar saya gak bisa pergi reuni! Ya Tuhan, kenapa kesombongan dan kelicikan pria ini bisa berkolaborasi seindah ini sih?!
"Tapi, Pak Bima..." Anaya mencoba melakukan perlawanan terakhir, suaranya dibuat semelas mungkin. "Ini draf kan bisa saya kerjakan besok subuh. Saya beneran udah janji sama temen-temen kuliah saya, Pak. Gak enak kalau batalin mendadak."
"Dunia bisnis gak kenal kata besok, Anaya," potong Bima ketus, membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju kursi kebesarannya dengan gaya angkuh yang minta ditampol. "Investor Singapura gak mau nunggu kamu selesai makan pasta sama mantan pacar kamu itu. Sekarang, ambil dokumennya, duduk di sofa sana, dan mulai bekerja. Saya akan menemani kamu di sini... sebagai bentuk solidaritas atasan yang baik hati."
Anaya mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, menahan diri sekuat tenaga agar tidak melempar draf laporan keuangan itu tepat ke wajah tampan Bima. Dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan sebagai bentuk protes, Anaya berjalan mengambil tumpukan map tebal tersebut.
"Baik, Pak Bima yang terhormat dan paling genius sedunia," desis Anaya, menekan setiap kata dengan tingkat sarkasme tertinggi. "Saya kerjakan sekarang."
Bima yang melihat punggung Anaya bergerak menuju sofa hanya bisa menyembunyikan senyuman kemenangannya di balik telapak tangan. Biarlah sekretarisnya itu mengutuknya semalaman, yang penting malam ini, wangi Black Opium yang menggoda itu hanya akan menjadi konsumsi pribadi di dalam ruangannya, bukan untuk dinikmati oleh lelaki lain di luar sana.
Tunggu kelanjutannya besok, bakal rilis 2 bab tiap harinya jam 08.00 dan 11.00. Stay tune ya kakak, boleh juga kasih hadiah dan dukungannya juga kalau berkenan. Thank uuu
-
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...