Anisa adalah gadis yang gendut dan juga pendek, beda jauh dengan sang adik yang bertubuh langsing serta berkulit putih.
siapa yang tidak tertarik bila melihat Arumi, bahkan mulut para tetangga juga tak segan mencemooh Anisa yang beda jauh dengan sang adik.
Hingga suatu hari Anisa di temukan tewas tergantung di dalam kamar, membuat seluruh keluarga menjadi berduka, namun mereka menutupi kematian Anisa yang gantung diri itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Dunia mimpi
Suasana desa pandan Arum memang tidak seperti biasa dan mereka memilih untuk tetap diam di dalam rumah ketika tidak ada keperluan mendesak, sudah dua orang yang meninggal dunia dalam keadaan yang sama sehingga mereka ada rasa ngeri juga di dalam hati ketika untuk keluar rumah saat sedang sepi seperti sekarang.
Purnama memang sudah kembali dan kemungkinan besar desa mereka telah terjaga dengan baik juga, namun tetap tidak ada yang boleh bersikap sembrono ataupun sesuka hati karena nanti yang ada mereka bisa menemui nasib sial sehingga harus bertemu dengan hal yang tidak biasa, tentu itu membawa kemalangan untuk hidup mereka sendiri.
Mau bagaimana juga ini adalah hal yang sangat tidak biasa dan kemungkinan besar ada sesuatu yang sedang mengincar mereka semua, terlebih lagi Amir dan juga Ridwan ketika Arya sudah memberi kode kepada mereka bahwa jangan sampai keluar sendirian ketika sedang tidak ada keperluan mendesak yang sangat dibutuhkan oleh para warga atau diri mereka sendiri.
Arya sudah menyimpulkan bahwa kematian Joko dan juga Thamrin itu ketika mereka tidak sengaja membicarakan tentang Anisa, saat ini Anisa saja sudah divonis meninggal dunia walau mereka yang tinggal di desa ini masih belum menyadari tentang kematian gadis itu, mayat sang gadis juga masih entah di mana sehingga purnama dan Arya akan bekerja keras untuk menemukan mayat tersebut.
Arumi memang mengatakan bahwa Anisa meninggal dunia dan diletakkan di dalam freezer es hingga beberapa hari sampai kemudian Ningsih pergi ke kota, lalu sekarang mayat itu menghilang begitu saja sehingga mereka masih belum bisa menebak di mana saat ini mayat Anisa.
Purnama yang akan mengurus itu semua dan mereka hanya tinggal berpangku tangan menunggu kabar dari ratu ular, sebab ratu ular ini bila sudah mengambil tindakan maka dia akan mengurus sampai selesai dan tidak ada satu hal saja yang ketinggalan, jadi bisa dikatakan saat ini Ningsih juga sedang dalam bahaya bila dia memang melakukan kesalahan besar.
"Jadi sebenarnya Anisa itu sudah meninggal dunia dan kata Mas Arya mayat dia menghilang begitu saja." Amir berbicara serius kepada sang istri.
"Ah kapan pula Anisa ini meninggal? kok malah mendadak saja seperti ini." Kinan seolah tidak percaya mendengar kabar tersebut.
"Ya kan tidak mungkin Mas Arya membohongi kita." sahut Amir kembali.
"Benar, Mas Arya tidak mungkin berbohong kepada kita bahwa Anisa meninggal dunia." Kinan juga setuju dengan hal itu.
"Tapi Kenapa terasa begitu aneh dan mendadak saja, berarti memang benar bahwa kami malam itu membicarakan Anisa dan dia datang untuk balas dendam kepada Joko." Amir juga kepikiran tentang hal itu.
"Ah sudah tidak usah membicarakan dia lagi karena aku jadi merinding!" Kinan tidak mau terus membicarakan masalah tersebut.
"Aku memang baru sempat kepikiran bahwa malam itu tidak ada pembicaraan aneh dan hanya tentang Anisa saja." Amir teringat ketika malam itu mereka sedang bersama.
"Udah, kamu tahu kalau membicarakan Anisa dalam bahaya tapi sekarang kamu malah terus membahas dia!" bentak Kinan yang sudah ketakutan sendiri.
"Ini aku sedang memberitahu bukan karena ingin menceritakan dia." Amir berusaha meralat ucapan ini.
"Udah, intinya aku tidak mau lagi ada pembicaraan tentang Anisa dan biar saja Purnama bersama Arya yang mengurus dia." tegas Kinan.
Amir terdiam karena dia sekarang baru menyadari bahwa Kinan memang sedang ketakutan sekali tentang masalah Annisa itu, mungkin selama ini karena Kinan juga kerap membicarakan tentang sikap Anisa yang begitu angkuh ketika lewat di depan mata para warga di desa ini dan bahkan dia menolak ketika mendapat teguran.
"Mati bunuh diri." Kinan bergumam sendirian karena ngeri juga.
"Kamu jangan langsung membicarakan hal itu dulu kepada para tetangga yang lain." pesan Amir kepada sang istri.
"Iya, aku tidak seperti Kopsah kok!" jawab Kinan.
"Takut nanti kalau kalian malah kebablasan membicarakan dia dan justru Anisa akan datang kembali." jelas Amir kepada Kinan.
"Kok bisa selama ini para warga tidak ada yang mengetahui bahwa Anisa sudah meninggal dunia." Kinan menggelengkan berulang kali karena dia tidak percaya.
"Keluarga dia pasti menutupi hal itu dengan sangat rapat sehingga kita tidak ada yang mengetahui." jawab Amir karena memang mereka tidak tahu.
Bahkan mereka juga sama sekali tidak menyangka kalau Anisa sudah meninggal dunia, emang belakangan ini mereka jarang melihat keberadaan Anisa tapi itu bukan membawa pengaruh besar karena selama ini Anisa juga jarang keluar dari rumah dan dia lebih banyak menghabiskan waktu sendirian di dalam kamar Karena rasa insecure yang tumbuh di dalam hati.
...****************...
"Hah aku di mana?!" Ningsih kaget bukan main ketika dia menemukan dirinya sedang berenang di sebuah danau.
"Kenapa mendadak saja aku ada di dalam danau seperti ini, apa yang sedang membelit kaki ku ini?!" Ningsih begitu geli dan juga ketakutan karena mendadak ada di sebuah danau yang begitu jernih.
Rasa nya tadi dia ada di dalam kamar dan berbaring dengan sangat nikmat, namun Kenapa mendadak saja ketika terbangun dia sudah ada di dalam sebuah danau dan sedang berenang bersama dengan rombongan para ular beleng, tentu saja itu menjadi pertanyaan sendiri dalam kepala Ningsih dan dia berusaha untuk mencapai tepian.
"Tidak, tidaaaaak!" Ningsih berteriak ketika salah satu ular membelit kaki dia.
"Aaah sialan, Kenapa kalian ini malah mengerumuni aku seperti ini?" Ningsih berusaha mengibaskan agar ular itu tidak mendekat.
Sreeeet.
Sreeeet.
Byuuurrr, Byuuurrr.
"Menjauh dariku, tolong jangan dekati aku." Ningsih sangat ketakutan sekali setiap para ular itu akan mematuk dia.
Wanita ini terus berusaha untuk mencapai tepian walau dia tahu bahwa saat ini kaki dia dari telapak kaki hingga mencapai paha telah dikelilingi oleh ribuan ular, entah dari mana ular tersebut tapi yang jelas danau ini dipenuhi dengan ular berwarna belang hitam dan juga kuning sehingga siapa saja yang berenang di dalam danau tersebut pasti akan sangat ketakutan.
"Rasakan saja dunia mimpi yang sedang aku ciptakan itu." Purnama berdiri menatap Ningsih yang tertidur namun terlihat sangat gelisah sekali.
"Tidak, jangan patuk aku!" Ningsih terus saja bergumam karena dia sedang mimpi di dalam sebuah danau.
"Tidak aku sangka bahwa kau adalah perempuan yang begitu licik sekali." Purnama memandang Ningsih dengan tatapan begitu sinis.
Ya Ningsih sudah masuk dalam dunia mimpi yang ratu ular ciptakan, wajar saja bila saat ini dia sangat ketakutan dan merasa tidak sanggup untuk terus berada di danau itu, ular terus saja berdatangan dan saat ini masih yang berbentuk kecil sehingga Ningsih berusaha untuk kabur dari dalam danau itu.
Selamat sore, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita autor Novita Jungkook ya.
ga nyangka si pocong patah hati bs gelut jg👻
calon mantu pangeran ular itu,
ada yg datang ngk sich nolong Digo bisa mampus tu anak orang