Di tengah kemegahan Klan Naga Api, Ren hanyalah aib dan sampah masyarakat. Dilahirkan dengan meridian yang tertutup rapat, ia dianggap tidak memiliki bakat sama sekali. Hinaan, pukulan, dan pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya, hingga akhirnya ia diusir dengan kejam dari klannya sendiri, dibiarkan mati di alam liar.
Namun, takdir memiliki rencana lain. Di ambang kematian, darah nenek moyang yang terpendam di dalam tubuhnya akhirnya berdenyut. Meridian yang dianggap cacat itu ternyata adalah Ruang Suci Naga, tempat bersemayamnya kekuatan purba yang telah tertidur ribuan tahun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Jantung yang Berdebar Awal Mula Rasa Sayang
Sosok terakhir dari kelompok pengejar itu terlempar jauh, menghantam dinding batu dan langsung pingsan tak berdaya. Hening menyelimuti Lembah Api Neraka. Hanya suara gemuruh rendah dari dalam kawah yang terdengar, seolah ikut menghormati kemenangan pemuda di tengah lapangan.
Ren berdiri tegak, napasnya sedikit memburu namun tetap terkontrol sempurna. Ia menurunkan tangannya perlahan, membiarkan sisa energi merah keemasan di telapak tangannya mereda perlahan.
"Itu... terlalu mudah," bisik Ren pada dirinya sendiri. Kekuatan barunya benar-benar di luar dugaan. Lima orang yang dulu bisa menginjak-injaknya dengan mudah, kini tumbang hanya dalam hitungan detik.
"Ren!!"
Suara jeritan khawatir memecah keheningan. Bayangan putih melesat cepat dari arah pintu masuk lembah. Xue Ying berlari secepat angin, pedangnya masih terhunus siap bertarung, namun saat melihat pemandangan di hadapannya, langkah kakinya terhenti mendadak.
Mata indahnya membelalak lebar melihat lima orang pria besar yang tergeletak tak bergerak di tanah, dan di tengah mereka berdiri sosok kecil yang ia kenal baik.
"Kau... kau mengalahkan mereka semua sendirian?" tanya Xue Ying tak percaya, matanya mengerjap-ngerjap takjub.
Ren menoleh, dan saat melihat wajah cantik itu yang penuh kekhawatiran, aura ganas yang baru saja ia pancarkan seketika luluh lenyap. Wajahnya yang tadi sedingin es kini langsung memerah padam, dan ia menjadi canggung kembali seperti anak kecil.
"Aku... aku hanya... membalas serangan mereka. Mereka jahat, mereka mau mencarimu," jawab Ren terbata-bata, tangannya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Xue Ying tidak berkata apa-apa. Gadis itu langsung berlari mendekat, lalu memutar tubuh Ren ke kiri dan ke kanan, memeriksa seluruh badannya dengan cemas.
"Luka? Kau terluka di mana? Katakan padaku!" tangannya yang halus menyentuh lengan Ren, memeriksa setiap inci kulit.
Sentuhan itu... begitu lembut, begitu hangat.
Jantung Ren seakan berhenti berdetak sejenak, lalu meledak berdegup kencang! DUG DUG... DUG DUG... Suara detak jantungnya terdengar begitu keras di telinganya sendiri, ia yakin Xue Ying pasti bisa mendengarnya.
Wajah Ren semakin panas, bukan karena suhu lembah, tapi karena rasa malu dan bahagia yang bercampur menjadi satu.
"Aku... aku tidak apa-apa, Xue Ying. Lihat, aku kuat sekarang. Tidak ada yang bisa menyakitiku," kata Ren cepat, berusaha menenangkan gadis itu sekaligus menenangkan dirinya sendiri.
Xue Ying berhenti memeriksa. Ia menatap mata Ren lekat-lekat. Mencari kepalsuan, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan dan kekuatan baru yang memancar dari dalam mata hitam pekat itu.
Perlahan, senyum indah terbit di wajah Xue Ying. Senyum yang begitu cerah, seolah mampu mengalahkan cahaya api kawah di sekitar mereka.
"Aku tahu... aku tahu kau bukan orang biasa," bisik Xue Ying, matanya mulai berkaca-kaca. "Dari pertama kali aku melihatmu berani maju melawan perampok itu, aku sudah tahu. Kau memiliki sesuatu yang sangat istimewa di dalam dirimu."
Xue Ying melangkah lebih dekat, jarak mereka kini hanya tinggal beberapa jengkal. Aroma tubuh gadis itu yang harum seperti bunga melati di pagi hari masuk ke hidung Ren, membuat kepalanya terasa ringan dan mabuk kepayang.
"Aku bangga padamu, Ren. Sungguh," lanjut Xue Ying lembut. "Mereka yang membuangmu pasti akan menyesal suatu hari nanti. Mereka tidak tahu bahwa mereka telah melepaskan naga yang sedang tidur."
Kata-kata itu... kata-kata yang persis seperti yang sering dikatakan oleh Leluhur Naga di dalam kepalanya. Namun mendengarnya keluar dari mulut Xue Ying, rasanya seribu kali lebih hangat, seribu kali lebih menyentuh hati.
Air mata yang selama ini berhasil ia tahan, akhirnya jatuh juga. Tapi ini bukan air mata kesedihan. Ini air mata kelegaan.
"Xue Ying..." Ren menelan ludah, suaranya parau. "Terima kasih. Kalau bukan karena kau... mungkin aku sudah mati membeku di bawah jembatan itu. Kalau bukan karena kau yang percaya padaku saat tidak ada satu pun orang lain yang mau... aku mungkin tidak akan pernah menemukan kekuatanku sekarang."
Ren mengangkat tangannya, gemetar, lalu dengan keberanian luar biasa, ia menggenggam kedua tangan Xue Ying yang halus.
"Kau adalah orang pertama yang memperlakukanku seperti manusia. Kau adalah cahaya di dalam kegelapanku. Aku..." Ren menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh nyalinya. "Aku menyukaimu, Xue Ying. Bukan sebagai teman. Tapi lebih dari itu!"
Dunia seakan berhenti berputar.
Angin pun seolah berhenti berhembus.
Xue Ying terpaku. Pipinya yang putih bersih perlahan memerah merona, seperti buah persik yang matang. Mata indahnya berkedip cepat, terlihat kaget namun juga... bahagia.
Ia tidak menarik tangannya. Ia membiarkan tangan kasar Ren menggenggam tangan mungilnya erat-erat.
"Ren..." Xue Ying menunduk sedikit, suaranya menjadi sangat kecil dan lembut. "Kau... kau tahu apa yang kau katakan?"
"Aku tahu!" jawab Ren tegas, matanya tak berkedip menatap wajah gadis pujaannya. "Aku tahu aku masih muda. Aku tahu aku masih lemah dibandingkan orang-orang hebat di luar sana. Tapi aku janji! Aku akan bekerja lebih keras dari siapa pun! Aku akan menjadi pendekar terhebat! Aku akan memiliki kekuatan yang cukup untuk melindungimu, untuk membahagiakanmu!"
"Aku tidak meminta kau menjawab sekarang. Aku hanya ingin kau tahu. Selama aku hidup, tidak ada satu pun orang yang boleh menyakiti mu. Bahkan jika harus melewati mayatku sendiri!"
Pernyataan Ren begitu tulus, begitu membara, seperti sumpah setia yang diucapkan di hadapan langit dan bumi.
Xue Ying mengangkat wajahnya kembali. Air mata bahagia kini mengalir di pipinya. Ia tersenyum, senyum paling indah yang pernah ada di dunia ini.
"Dungu... kau ini bocah pandai bicara ya," canda Xue Ying pelan, namun suaranya bergetar. "Aku juga... aku juga punya perasaan yang sama, Ren."
JLEB!
Seperti tersambar petir, tubuh Ren kaku total. Otaknya seakan blanko sesaat.
"Kau... kau juga...?"
"Ya," Xue Ying mengangguk pelan, lalu dengan berani ia melangkah maju, dan memeluk lengan Ren erat-erat, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh pemuda itu.
"Aku takut. Aku takut selama ini berjalan sendirian. Tapi sejak bertemu mu, aku tidak takut lagi. Kau adalah keajaiban yang dikirim langit untukku, Ren."
Saat tubuh mereka bersentuhan, sebuah getaran aneh dan hangat mengalir di seluruh tubuh Ren. Rasanya... damai. Sangat damai. Rasa sakit, rasa lapar, rasa dendam, semuanya hilang sejenak. Yang tersisa hanya kehangatan ini.
Di dalam alam bawah sadarnya, Naga Emas hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa geli.
Hahaha... dasar bocah muda. Cinta memang obat paling ampuh ya. Baiklah, Leluhur izinkan kalian berdua menikmati momen ini. Tapi ingat Ren, kekuatan ini kau dapatkan juga demi melindungi perasaan ini. Jangan pernah biarkan air mata itu jatuh lagi karena kesedihan.
Ren menutup matanya, menikmati detik-detik indah ini. Ia perlahan membalikkan tubuhnya, dan dengan sangat hati-hati, ia mengulurkan tangannya, memeluk bahu Xue Ying dengan penuh perlindungan.
"Tenanglah, Xue Ying. Mulai sekarang, kita tidak akan pernah berpisah. Kita hadapi dunia ini bersama-sama. Sampai tua, sampai rambut memutih, sampai napas terakhir."
"Mmm..." Xue Ying mengangguk setuju, semakin mempererat pelukannya.
Di tengah lembah yang panas dan mematikan itu, tumbuhlah sebuah benih cinta yang murni dan kuat. Cinta yang akan menjadi bahan bakar terhebat bagi Ren untuk melesat ke puncak kekuasaan, dan menjadi pendorong bagi Xue Ying untuk tidak pernah menyerah.
Matahari pagi mulai menyingsing, menyinari dua sosok yang saling berpelukan, menandakan awal dari sebuah legenda cinta yang akan mengguncang semesta.
.🙏🏾🙏🏾🙏🏾 maafkan saya sedikit sok tau🤭