Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.
Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"
Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.
Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Katalog Calon Mantu
Senin pagi biasanya menjadi medan perang bagi Arkananta Dewangga. Namun, Senin kali ini terasa seperti misi spionase tingkat tinggi. Seminggu setelah insiden makan malam dengan vendor Korea, suasana di lantai 42 Dewangga Group masih diliputi ketegangan yang manis sekaligus berbahaya.
Sia sedang fokus menata agenda mingguan Arkan di tabletnya ketika ia merasakan sepasang mata mengamatinya dari kejauhan. Bukan Arkan, melainkan Gibran. Sahabat Arkan sekaligus Direktur Operasional itu sedang berdiri di dekat dispenser, menyesap kopi sambil menyipitkan mata ke arah Sia dengan gaya detektif amatir.
"Pagi, Pak Gibran," sapa Sia sesopan mungkin, berusaha mengabaikan tatapan itu.
"Pagi, Sia. Sehat?" tanya Gibran dengan nada menyelidik yang tidak biasa. "Gue perhatiin, belakangan ini lo rajin banget pakai parfum yang wanginya mirip-mirip sama aroma cedarwood di ruangan Arkan. Kebetulan?"
Sia berdeham, jemarinya sedikit kaku di atas layar tablet. "Mungkin karena saya terlalu sering keluar masuk ruangan Pak Arkan untuk laporan, Pak. Baunya jadi nempel."
Gibran hanya bergumam pelan dengan senyum penuh arti, lalu berjalan masuk ke ruangan Arkan tanpa mengetuk pintu—sebuah kebiasaan buruk yang membuat Arkan hampir menjatuhkan ponselnya ke dalam tempat sampah.
"Wohooo! Santai, Bos!" seru Gibran sambil tertawa melihat reaksi panik Arkan yang langsung menyembunyikan layar ponselnya. Ia lalu duduk di kursi seberang meja Arkan, kakinya diangkat satu ke atas lutut. "Gue punya teori baru, Kan. Dan teori gue ini lebih seru daripada laporan keuangan yang lagi lo pelototin itu."
Arkan mencoba tetap tenang, meski ia tahu Gibran paling hobi mencari masalah. "Teori apa lagi? Kalau enggak penting, silakan keluar."
"Tentang 'proyek rahasia' yang lagi lo jalanin," Gibran mengecilkan suara, meski seringai lebarnya tidak hilang. "Gue liat cara lo natap Sia tadi pagi. Itu bukan tatapan bos ke asisten yang minta laporan bulanan, Kan. Itu tatapan singa yang lagi jagain mangsanya biar nggak diambil orang lain. Terus kemarin, gue liat lo naruh cokelat di laci meja dia pas dia lagi ke toilet. Sejak kapan CEO Dewangga Group yang kaku kayak kanebo kering ini jadi peri cokelat?"
Arkan mengembuskan napas panjang, sadar bahwa berbohong pada Gibran hanya akan memperpanjang ejekan pria itu. "Gibran, please. Jangan bocor ke siapa pun di kantor. Gue serius sama dia."
Gibran langsung memukul meja dengan girang, tapi tetap menjaga volumenya. "Kena lo! Akhirnya ngaku juga! Tenang, mulut gue terkunci rapat kalau urusan keamanan negara. Tapi gue nggak janji kalau buat ngeledek lo setiap hari." Gibran berdiri, menepuk bahu Arkan keras-keras. "Gue setuju sih. Sia itu keren. Tapi siap-siap aja, gue bakal jadi penonton paling depan kalau kalian lagi akting kaku di depan staf lain. Lucu banget soalnya, kalian berdua itu payah banget kalau urusan pura-pura!"
Gibran keluar ruangan sambil bersiul, sempat-sempatnya mengedipkan mata pada Sia yang masih tegang di mejanya. Sia hanya bisa mengurut dada, tahu bahwa mulai sekarang, ia harus menghadapi ledekan Gibran sebagai "pajak" atas hubungan rahasia mereka.
Ketegangan dengan Gibran ternyata hanyalah menu pembuka. Menu utamanya datang tepat sebelum jam makan siang dimulai.
Seorang wanita paruh baya dengan gaya elegan—mengenakan setelan tweed berwarna pastel dan tas tangan bermerek—melangkah masuk ke lobi lantai 42. Langkah kakinya yang anggun namun tegas membuat beberapa staf menoleh. Itu adalah Mama Arkan—Ratna.
"Sia! Sayang sekali baru bertemu kamu lagi!" seru Ratna dengan suara ceria begitu melihat Sia.
Sia langsung berdiri tegak, jantungnya berdegup kencang. "Selamat siang, Bu. Pak Arkan sedang di dalam, apa perlu saya panggilkan?"
"Nggak usah, nanti saja. Mama mau bicara sama kamu dulu," ujar Ratna sambil menarik kursi di samping meja Sia dan duduk dengan santai. "Arkan itu makin lama makin kaku, ya? Mama pusing. Makanya Mama ke sini sengaja mau minta bantuan kamu."
Arkan yang mendengar suara mamanya dari dalam, langsung keluar dengan wajah pucat. "Ma? Kok nggak bilang-bilang kalau mau ke sini?"
"Kalau bilang nanti kamu kabur," sahut Mamanya ketus, lalu kembali menatap Sia. Mama Arkan mengeluarkan ponselnya, membuka galeri foto yang sudah dikategorikan dengan sangat rapi. "Sia, kamu sekretaris Arkan yang paling tahu jadwal dan seleranya. Bantu Mama pilihkan calon mantu buat Arkan, ya? Mama sudah kumpulkan beberapa kandidat dari teman arisan Mama."
Sia menelan ludah. Ia merasa seperti ada batu besar yang menghimpit dadanya. Namun, di depan Ratna, ia harus tetap tersenyum.
"Ini lihat, Sia," Ratna menunjukkan foto seorang wanita berambut panjang. "Ini Tasya, dokter gigi lulusan luar negeri. Anaknya kalem, pasti bisa ngadepin Arkan yang emosian. Terus ini Elena, dia model sekaligus punya bisnis katering sehat. Cocok kan buat Arkan yang suka lupa makan?"
Sia menatap foto-foto wanita cantik dan berprestasi itu satu per satu. Rasanya pedih, apalagi saat ia harus memberikan komentar. "Semuanya... cantik sekali, Bu. Sangat berkelas."
"Iya kan? Tapi Mama bingung mana yang bakal bikin Arkan langsung mau nikah. Menurut kamu gimana, Sia? Apa Arkan lebih suka yang mandiri banget kayak Elena, atau yang lembut kayak Tasya?"
Sia melirik Arkan yang berdiri mematung di ambang pintu ruangannya dengan wajah frustrasi. Sia merasa kesal, bukan pada Mama Arkan, tapi pada situasi di mana ia harus menjadi "kurator" untuk calon istri kekasihnya sendiri.
"Mungkin... Bapak lebih suka yang seleranya seperti... karyawan, Bu?" celetuk Sia pelan, mencoba menyelipkan kode yang sangat halus meski hatinya panas.
"Ah, masa sih," Ratna terkekeh, tidak menangkap maksud Sia. "Kamu kan sudah seperti keluarga. Makanya Mama percaya sama penilaian kamu. Ayo, pilihkan satu yang paling oke menurut kamu, nanti Mama atur makan malamnya."
Sia menutup matanya sejenak, menahan sesak. "Saya rasa... Ibu yang lebih tahu mana yang terbaik untuk Pak Arkan. Saya permisi dulu ke pantri."
Sia berjalan cepat menuju pantri, meninggalkan Arkan dan mamanya yang masih sibuk dengan ponsel itu. Di pantri, Sia hanya berdiri diam menatap dispenser, hatinya dongkol luar biasa. Rasanya seperti disuruh menjual barang milik sendiri kepada orang lain.
Setelah Mama Arkan menyeret Arkan keluar untuk makan siang paksa (yang pastinya diisi dengan presentasi calon mantu lagi), Sia kembali ke mejanya dengan suasana hati yang buruk. Ia bekerja dengan gerakan yang lebih berisik dari biasanya—menutup folder dengan keras dan mengetik keyboard seolah sedang memukulnya.
Tak lama setelah jam makan siang berakhir, Arkan kembali. Ia langsung masuk ke ruangannya, tapi tak lama kemudian ponsel Sia bergetar di atas meja.
Arkan: Kamu marah?
Sia hanya melirik layar tanpa berniat membalas. Ia kembali sibuk dengan tabel Excel yang sebenarnya sudah selesai sejak satu jam lalu.
Arkan: Sia, aku tahu itu tadi canggung banget. Aku sudah bilang ke Mama kalau aku nggak tertarik sama pilihan dia.
Sia mendengus pelan, jemarinya mengetik balasan dengan cepat.
Sia: Terus kenapa Bapak biarin Bu Ratna minta saya yang pilihin? Bapak tahu nggak rasanya kayak apa? Kayak jadi makelar untuk pacar sendiri.
Arkan: Maaf. Tadi aku benar-benar kaget. Sia, tolong masuk sebentar. Aku mau bicara.
Sia menghela napas, merapikan rambutnya sebentar, lalu berjalan masuk ke ruangan Arkan. Begitu pintu tertutup, Arkan langsung berdiri dari kursinya. Ia mendekat ke arah Sia dengan wajah yang tampak sangat menyesal.
"Sayang, jangan ngambek gitu dong," bisik Arkan pelan, mencoba meraih ujung jari Sia yang sedang memegang tablet. "Aku tadi sudah bilang ke Mama kalau aku sudah punya seseorang yang berharga."
Sia menarik tangannya pelan, matanya sedikit berkaca-kaca karena kombinasi antara rasa lelah, kesal, dan cemburu. "Ya sudah, kalau gitu tunjukin aja siapa orangnya! Kenapa harus sembunyi-sembunyi sampai aku harus disuruh milih cewek lain buat kamu? Rasanya kayak disuruh jual barang milik sendiri, Arkan. Aku nggak suka!"
Arkan terdiam seribu bahasa melihat kilatan marah dan sedih di mata Sia. Namun, perlahan sebuah senyum geli dan lembut muncul di wajahnya. Ia menarik kursi di samping meja kerjanya, menyuruh Sia duduk di sana, sementara ia sendiri berlutut kecil agar mata mereka sejajar.
"Jadi, kamu cemburu ya?" tanya Arkan dengan nada menggoda yang sangat tipis.
"Aku nggak cemburu," bantah Sia cepat, meski suaranya sedikit bergetar dan ia memalingkan wajah ke arah jendela. "Aku cuma... mencoba bersikap profesional sebagai asisten yang membantu kebutuhan bosnya, termasuk kebutuhan mencari istri."
"Oke, kalau kamu mau bicara soal profesionalitas," Arkan mendekat, menangkup wajah Sia dengan kedua tangan agar wanita itu menatapnya kembali. Posisi mereka sekarang begitu dekat hingga Sia bisa mencium aroma parfum kayu dari tubuh Arkan. "Mungkin setelah ini, aku harus riset satu hal lagi di naskah Nightshade: gimana caranya mengakui hubungan di depan keluarga tanpa harus membuat asistennya resign karena kesal."
Sia mendengus, mencoba menahan senyum yang hampir pecah karena perlakuan manis itu. "Emangnya kamu berani?"
"Kenapa nggak?" Arkan mengecup kening Sia dengan lama, membuat amarah Sia menguap seketika. "Besok aku ajak kamu makan malam sama Mama. Dinner resmi. Kamu siap?"
Sia membelalak, jantungnya seolah melompat ke tenggorokan. "Hah? Sekarang? Maksudnya besok banget?"
Arkan tertawa kecil, suara tawa rendah yang selalu berhasil membuat Sia luluh. Ia mengacak rambut Sia dengan sayang sebelum berdiri kembali. "Iya, besok. Biar nggak ada lagi yang berani nawarin katalog model atau dokter ke aku. Cukup asisten galakku ini saja yang jadi masa depanku."
Sia tertawa kecil, memukul lengan Arkan pelan. Rasa kesalnya hilang, berganti dengan debaran debar jantung yang lebih dahsyat karena rahasia mereka akan segera naik ke level selanjutnya.