POV:
Kamu jatuh cinta pada dosen dingin dan tampan… lalu berusaha keras mengejarnya.
Mulai dari cari perhatian, pura-pura kebetulan ketemu, sampai diam-diam cemburu pada perempuan lain di dekatnya.
Tapi plot twist-nya...
Dosen itu ternyata tunanganmu sendiri. 😭
Tunangan hasil perjodohan yang dulu kamu tolak sebelum sempat bertemu!
Sekarang siapa yang sebenarnya sedang mengejar siapa?
✨ Romance kampus
✨ Professor x mahasiswa
✨ Lucu, manis, bikin gemas
✨ Banyak momen salting & cemburu
Baca gratis di NovelToon:
Mr. Profesor�
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33
Apalagi ia teringat bagaimana Zoya tadi terus fokus pada ponselnya. Menurut perkataan Adelia, Zoya bahkan sempat bertengkar dengan pria itu. Berbagai kemungkinan buruk segera memenuhi pikiran Arlo.
Apakah terkait dengan dunia hiburan?
Dunia hiburan bukan tempat yang aman, terlebih bagi gadis muda seperti Zoya. Ia khawatir seseorang berniat mencelakainya.
Kebetulan sekali, Arlo tidak tahu bahwa hari ini Jaiden sengaja menggunakan mobil lamanya… mobil edisi terbatas hadiah ulang tahun kedelapan belas dari kakaknya… karena ingin tampil lebih low profile atas permintaan adiknya. Mobil itu sendiri sangat jarang ia kendarai, jadi wajar saja jika Arlo tidak mengenalinya.
Arlo segera menghubungi seorang kenalan untuk melacak pergerakan mobil tersebut melalui CCTV jalan di sekitar kampus. Saat mengetahui kendaraan itu berhenti di restoran milik perusahaannya sendiri, ia sedikit lega. Itu akan memudahkannya mencari tahu siapa pria tersebut…
Tanpa membuang waktu, ia langsung bergegas menuju tempat itu.
Itulah kenapa mengapa para penjaga tadi melihat Tuan Muda Sadjatmiko datang seperti orang yang hendak memergoki perselingkuhan.
Restoran itu adalah milik keluarga Sadjatmiko, bernama Restoran Lenghord. Tempat tersebut memang terkenal sangat menjaga privasi para pelanggannya. Tidak sembarang orang bisa meminta rekaman CCTV, tetapi tentu saja Arlo berbeda.
Meski begitu, kamera pengawas hanya dipasang di area luar ruang privat. Sementara bagian dalam ruangan sama sekali tidak dipasangi CCTV.
Namun untung saja ia sempat bertanya. Jika tidak, mungkin ia sudah terpaksa melanggar aturan restoran itu sendiri.
Sebelumnya, Arlo sempat menghubungi resepsionis untuk menanyakan tamu yang masuk dalam satu jam terakhir. Hari ini, kebetulan hanya ada dua ruang privat yang terisi sejam yang lalu: ruang 109 dan 111.
Ruang 111 ditempati oleh empat pria pengusaha, sehingga kemungkinan besar Zoya berada di ruang 109.
Ia juga sempat menanyakan siapa saja tamu di dalam ruangan tersebut. Namun resepsionis tetap bersikap profesional dan menolak membocorkan identitas pelanggan, meskipun yang bertanya adalah pemilik restoran itu sendiri.
Arlo tidak mempermasalahkannya. Ia tahu memang seperti itulah aturan restoran tersebut bekerja. Meski begitu, jika benar-benar dalam keadaan darurat, ia sudah berniat melanggar aturan itu.
Resepsionis itu hanya memberikan informasi singkat bahwa di dalam ruang 109 terdapat sepasang pria dan wanita tua, seorang pria muda seusia Arlo, serta seorang gadis.
Saat mendengar ada seorang pria muda dan seorang gadis, sorot mata Arlo sempat menegang. Namun ketika mengetahui disana juga ada pasangan lansia, ia sedikit merasa lega untuk saat ini. Setidaknya Zoya tidak sedang berduaan dengan seorang pria. Walaupun begitu, rasa khawatir di hati Arlo tetap tidak bisa hilang.
Entah sudah berapa lama ia menunggu, akhirnya pintu ruang 109 terbuka.
Orang pertama yang keluar adalah Jaiden.
Melihat itu, Arlo langsung menghela nafas lega… Ternyata pria itu memang Jaiden. Walaupun pria itu seorang bajingan, Arlo tahu Jaiden adalah orang yang tetap memegang prinsip.
Namun detik berikutnya, matanya melebar saat melihat sosok yang keluar setelahnya.
Tuan Tua Saksomo.
Belum selesai keterkejutannya, Zoya keluar sambil merangkul lengan Nyonya Tua Saksomo dengan begitu akrab.
Arlo terdiam.
Dalam sekejap, hanya ada satu pikiran di kepalanya.
Kenapa Jaiden membawa Zoya menemui kakek dan neneknya?
Ia tiba-tiba teringat bahwa Jaiden pernah berkata dirinya sudah mengenal Zoya sejak lama. Karena terlalu tenggelam dalam pikirannya, Arlo bahkan tidak menyadari kemiripan samar antara Zoya dan Nyonya Tua Saksomo.
Kalau saja ia lebih memperhatikan..
Melihat kedekatan Zoya dengan mereka, Arlo tiba-tiba merasa pemandangan itu sangat tidak enak dipandang.
Nyonya Tua Saksomo menatap Zoya dengan senyum penuh kasih sayang, seolah sedang memandangi harta paling berharga. Bahkan Tuan Tua Saksomo yang biasanya menjaga jarak pun terlihat begitu perhatian pada gadis itu.
Orang dengan status seperti keluarga Saksomo bukan tipe yang mudah dekat dengan orang lain, apalagi dengan seorang gadis muda.
Lalu mengapa mereka memperlakukan Zoya sedemikian istimewa?
Tatapan lembut dan perhatian yang diberikan pasangan tua itu terasa terlalu dalam untuk sekadar hubungan biasa. Terutama Nyonya Tua Saksomo… wanita itu tampak seolah ingin memanjakan Zoya sepenuh hati, seperti seorang nenek yang sangat mencintai cucunya sendiri.
Bahkan Jaiden, yang biasanya dikenal cuek dan memberontak, kini menatap Zoya dengan sorot mata yang hangat. Saat melihat neneknya terus berbicara akrab dengan gadis itu, pria itu hanya tersenyum lembut, seolah tanpa sadar sudah mengakui keberadaan Zoya di tengah keluarganya.
Arlo memandang mereka secara bergantian. Jaiden… lalu Tuan Tua Saksomo. Kemudian Nyonya Tua Saksomo.
Dan Zoya yang berada di tengah-tengah mereka.
Sebuah kemungkinan perlahan muncul di benaknya. Mungkinkah keluarga Saksomo benar-benar menyukai Zoya… dan sudah menganggapnya sebagai calon cucu menantu mereka?
Memikirkan hal itu, Arlo segera berdiri dari kursinya. Ia berjalan dengan cepat, membuka pintu ruang pemantauan dengan kasar lalu melangkah keluar tanpa mempedulikan apa pun.
Dua pria yang berjaga di depan pintu langsung terkejut melihat kemunculannya yang tiba-tiba. Mereka buru-buru menyingkir memberi jalan.
Setelah Arlo pergi, keduanya saling pandang dengan bingung. Salah satu dari mereka merentangkan tangan dan mengangkat bahu, seolah berkata, Mana aku tahu...
Sementara itu, Arlo yang berjalan terburu-buru baru tersadar saat dirinya memasuki lift. Ia memijat pangkal hidungnya pelan, lalu menatap pantulan wajahnya sendiri di dinding lift yang mengkilap.
Ada apa sebenarnya dengannya akhir-akhir ini?
Perasaan asing itu kembali muncul, dan seperti biasa, Zoya selalu menjadi penyebabnya. Arlo terdiam cukup lama menatap angka merah lift yang terus bergerak turun sebelum akhirnya menemukan jawaban yang dapat ia terima.
Mungkin karena Zoya berbeda dari wanita-wanita yang pernah ia temui.
Gadis itu ceria, tidak munafik, dan terlihat tulus. Tanpa sadar, hal itu membuat Arlo lebih memperhatikan segala sesuatu yang berhubungan dengannya… terutama untung dan rugi yang mungkin akan diterima gadis itu.
Lagipula, Zoya adalah mahasiswinya. Jadi perasaan ingin memastikan gadis itu baik-baik saja tentu masih masuk akal… kan?
Setelah pintu lift terbuka, Arlo langsung melihat Zoya berdiri bersama Tuan Tua dan Nyonya Tua Saksomo. Dari posisi mereka berdiri, ia menduga ketiganya sedang menunggu mobil Jaiden.
Tatapan Arlo tanpa sadar tertuju pada pasangan lansia itu.
Ia benar-benar tidak mengerti.
Mengapa Tuan Tua Saksomo yang terkenal dingin dan angkuh bisa tiba-tiba begitu menyukai Zoya? Bahkan memperlakukannya seperti cucunya sendiri.
Padahal pasangan itu bukan orang biasa.
Salah satunya adalah mantan jenderal besar negara, sedangkan yang lain merupakan dokter militer berpangkat tinggi. Orang-orang yang sudah berdiri di puncak kekuasaan seperti mereka tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan.
Jika mereka memperlakukan Zoya dengan begitu baik, pasti ada sesuatu yang mereka inginkan.
Dan kemungkinan itu adalah...