NovelToon NovelToon
Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Popularitas:136
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."

​Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.

​Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.

​Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat dari Balik Kabut

Pagi itu, Panti Asuhan Kasih Bunda terasa lebih hidup dari biasanya. Suara gelak tawa anak-anak yang berlarian di halaman, bunyi piring yang beradu di dapur, dan aroma nasi uduk hangat menciptakan simfoni yang selalu kurindukan. Sejak konferensi pers minggu lalu, aku memang lebih banyak menghabiskan waktu di sini. Aku butuh "membumi" kembali sebelum benar-benar terjun mengelola yayasan raksasa yang Bimo berikan.

Bimo sendiri sedang berada di kantor lamanya, menyelesaikan proses serah terima jabatan terakhir kepada Panji. Katanya, dia ingin benar-benar "bersih" dari urusan korporat Wijaya Group sebelum kami memulai hidup baru.

"Nara, ada paket untukmu," suara Ibu Lastri, kepala panti, memecah lamunanku. Dia berjalan ke arahku sambil memegang sebuah amplop cokelat tua yang tebal. "Tadi ada kurir yang mengantarnya. Tidak ada nama pengirim, hanya tertulis namamu."

Aku mengerutkan kening. Alamat panti asuhan ini seharusnya sudah tidak diketahui publik sebagai domisiliku, demi alasan keamanan. Aku mengambil amplop itu. Terasa berat dan ada sesuatu yang keras di dalamnya.

"Terima kasih, Bu," kataku.

Aku berjalan menuju bangku taman yang agak sepi di pojok halaman. Perasaanku mulai tidak enak. Jari-jariku sedikit gemetar saat merobek segel amplop itu. Di dalamnya, aku menemukan sebuah buku harian kecil bersampul kulit yang sudah sangat usang, sebuah kunci tua, dan secarik surat.

Aku membuka surat itu terlebih dahulu. Tulisannya rapi, gaya tulisan tangan orang tua yang sangat terdidik.

Nara, kebenaran itu seperti bawang. Kamu mengupas satu lapis, kamu akan menangis, tapi masih ada lapisan lain di bawahnya. Kakekmu memang bersalah, tapi dia bukan satu-satunya arsitek di balik kehancuran ayahmu. Jika kamu ingin tahu siapa yang memberikan ide 'pembersihan' itu, gunakan kunci ini untuk membuka brankas di alamat yang tertulis di halaman terakhir buku ini. Jangan ajak Bimo. Ini adalah hutang masa lalu yang harus kamu tagih sendiri.

Tidak ada tanda tangan. Tapi aromanya... ada wangi parfum mawar yang samar, wangi yang sangat aku kenali dari pertemuan singkat di vila tempo hari.

Ratih Wijaya? Bukankah dia sedang dalam pengawasan medis yang ketat untuk dikirim ke Swiss?

Aku menatap buku harian itu dengan bimbang. Ingin sekali aku menelepon Bimo dan menceritakan semuanya. Tapi kalimat "Jangan ajak Bimo" itu terus berputar di kepalaku. Apakah ada rahasia lain tentang Bimo yang belum aku tahu? Atau ini hanya taktik ibunya untuk memecah belah kami lagi?

Sebagai penulis, rasa ingin tahuku seringkali mengalahkan rasa takutku. Aku membuka halaman terakhir buku itu. Tertera sebuah alamat gudang tua di daerah pelabuhan utara Jakarta. Tempat yang sunyi dan jarang dilewati orang.

Aku memutuskan untuk pergi. Namun, aku tidak sebodoh itu untuk pergi tanpa perlindungan. Aku mengirimkan pesan singkat pada Panji—bukan Bimo—beserta koordinat lokasiku. 'Panji, kalau aku tidak membalas pesanmu dalam satu jam, susul aku ke sini. Jangan beri tahu Bimo dulu.'

Aku memesan taksi daring dan berangkat. Sepanjang perjalanan, aku mencoba membaca isi buku harian itu. Ternyata, itu adalah buku harian milik Andra Wijaya—ayah Bimo. Isinya sangat mengejutkan. Andra mencatat setiap tekanan yang dia terima dari ayahnya (Kakek Wijaya) dan... dari istrinya sendiri, Ratih.

20 Oktober 2005 Ratih terus mendesakku untuk menyingkirkan Hendra. Dia bilang Hendra tahu terlalu banyak soal skema investasi pribadinya. Aku tidak ingin melakukannya, tapi Ratih mengancam akan membawa Bimo pergi jika aku tidak membereskan masalah ini. Aku terjepit di antara moralitas dan keluargaku.

Mataku membelalak. Jadi, Ratih-lah yang sebenarnya mendesak agar ayahku dijebak? Kakek Wijaya hanya mengeksekusinya untuk melindungi aset keluarga, tapi pemicu utamanya adalah ambisi pribadi Ratih. Dan yang lebih mengerikan, Andra Wijaya menuliskan bahwa ada "pihak ketiga" yang mendanai pelarian Ratih selama ini—seorang rekan bisnis lama yang punya dendam pribadi pada keluarga Wijaya.

Taksi berhenti di depan sebuah gudang tua yang tampak tak terawat. Bau garam dan karat menyengat hidungku. Aku melangkah keluar, menggenggam kunci tua itu erat-erat. Di depan pintu kecil gudang, aku melihat seorang pria berdiri membelakangiku. Tubuhnya tegap, memakai jaket kulit hitam.

"Kamu datang tepat waktu, Nara," suaranya berat.

Saat pria itu berbalik, jantungku nyaris berhenti. Itu bukan orang asing. Dia adalah pria yang sering kulihat di foto-foto lama di kantor Wijaya Group, orang yang selama ini dianggap sudah meninggal dalam kecelakaan yang sama dengan ayah Bimo.

"Om... Hendra?" bukan, itu bukan ayahku. Itu adalah Bram Wijaya, adik bungsu Kakek Wijaya yang dikabarkan tewas belasan tahun lalu.

"Banyak orang yang lebih suka dianggap mati agar bisa bekerja lebih leluasa di balik bayang-bayang," kata Bram sambil tersenyum dingin. "Aku yang mengirimkan paket itu. Aku bosan melihat drama keluarga ini tidak kunjung selesai."

"Apa mau Om?" tanyaku, mencoba tetap tenang meski kakiku terasa lemas.

"Aku mau kamu memberikan dokumen asli Aethelred yang Bimo berikan padamu. Bimo pikir dia sudah memberikan segalanya padamu, tapi ada satu kode akses yang hanya bisa diaktifkan jika dokumen fisik itu diserahkan pada wali amanat yang sah. Dan wali itu... adalah aku."

"Bimo bilang dia adalah pemegang tunggalnya!" seruku.

Bram tertawa. "Bimo itu anak baik, tapi dia terlalu naif. Dia tidak tahu kalau ayahnya—Andra—membuat perjanjian tambahan denganku sebelum dia kecelakaan. Uang itu bukan untuk panti asuhan, Nara. Uang itu adalah modal untuk membangun kembali kejayaan Wijaya yang sesungguhnya, tanpa campur tangan polisi atau hukum."

Aku mundur selangkah. "Aku nggak akan memberikannya. Uang itu milik anak-anak yatim piatu. Milik keadilan bagi ayahku!"

Bram melangkah maju, wajahnya tampak mengancam. "Jangan egois, Nara. Kamu punya pilihan. Berikan kodenya, atau aku akan pastikan panti asuhan tempatmu tinggal sekarang menjadi abu dalam waktu singkat."

Di saat kritis itu, suara derit ban mobil yang mengerem mendadak terdengar dari luar gudang. Pintu gudang terbuka dengan keras.

"Jangan sentuh dia!"

Itu suara Bimo. Dia masuk dengan napas tersengal-sengal, di belakangnya ada Panji dan beberapa petugas keamanan. Bimo langsung berlari ke depanku, menjadikannya tameng hidup bagiku.

"Bram?" Bimo tampak sangat terkejut melihat pamannya yang seharusnya sudah mati. "Jadi benar... rumor itu benar. Kamu masih hidup dan menjadi parasit di perusahaan kami selama ini."

"Bimo, keponakanku yang cerdas," Bram mengangkat tangannya. "Kamu membawa polisi? Berani sekali kamu mengkhianati darahmu sendiri demi seorang penulis?"

"Aku tidak mengkhianati darahku, aku sedang membersihkannya dari kuman sepertimu," jawab Bimo dingin.

Panji bergerak cepat, memberikan isyarat pada timnya untuk mengepung Bram. Namun, Bram tampak tenang. Dia merogoh sakunya, bukan mengeluarkan senjata, melainkan sebuah pemantik api.

"Gudang ini penuh dengan sisa solar, Bimo. Satu percikan saja, dan kita semua akan menjadi legenda bersama sejarah Wijaya yang busuk ini."

Suasana mendadak tegang. Aku bisa merasakan keringat dingin mengucur di punggungku. Bimo menatapku sekilas, matanya seolah berkata 'percaya padaku'.

"Kamu nggak akan melakukannya, Bram," kata Bimo mantap. "Karena kamu terlalu mencintai uang itu untuk mati di sini. Kalau kamu mati, kode itu hilang selamanya. Nara sudah menghancurkan buku harian dan dokumen fisiknya semalam. Yang ada hanya di kepalanya."

Aku tertegun. Aku tidak menghancurkannya! Tapi aku mengerti taktik Bimo. Dia sedang menggertak.

Bram ragu sejenak. Matanya menatapku dengan liar. Di saat keraguan itu muncul, Panji menerjang Bram dengan gerakan bela diri yang sangat cepat. Pemantik itu terjatuh, dan dalam hitungan detik, Bram sudah dilumpuhkan di lantai.

Setelah situasi aman dan Bram dibawa oleh pihak berwajib, aku terduduk lemas di tumpukan palet kayu. Bimo langsung memelukku, tubuhnya masih gemetar karena amarah dan ketakutan.

"Maafin aku, Nara. Aku seharusnya nggak membiarkanmu pergi sendiri. Panji langsung meneleponku begitu dia menerima pesanmu."

"Aku cuma mau tahu kebenarannya, Bim," bisikku. "Ternyata ibumu... dia yang memulainya."

Bimo mengangguk sedih. "Aku sudah tahu tentang keterlibatan Ibu dari dokumen rahasia yang Panji temukan kemarin. Itu sebabnya aku ingin segera membawanya ke Swiss—bukan hanya untuk pengobatan, tapi untuk menjauhkannya dari orang-orang seperti Bram yang ingin memanfaatkannya."

Aku menatap Bimo. "Kenapa kamu nggak bilang dari awal?"

"Karena aku takut kamu akan membenciku, Nara. Aku takut kamu melihat darah yang sama mengalir di nadiku. Aku takut kamu berpikir bahwa mencintaiku berarti mencintai orang-orang yang menghancurkan hidupmu."

Aku menyentuh pipi Bimo, menghapus jejak debu di sana. "Darahmu mungkin sama dengan mereka, Bimo. Tapi hatimu adalah milikmu sendiri. Dan hati itu yang menyelamatkanku hari ini."

Kami keluar dari gudang itu saat matahari mulai terbenam di pelabuhan. Langit berwarna merah keunguan, memberikan kesan dramatis pada akhir bab yang penuh ketegangan ini.

"Jadi," kataku saat kami berada di dalam mobil. "Benar-benar tidak ada rahasia lagi?"

Bimo tersenyum, kali ini senyumnya terasa sangat ringan. "Tidak ada lagi. Hanya ada rencana pernikahan, yayasan, dan mungkin... sebuah plot baru untuk novelmu?"

Aku tertawa. "Oh, bab tentang Bram pasti akan masuk di bagian klimaks. Tapi aku akan mengubah namanya menjadi sesuatu yang lebih konyol."

Bimo menarikku dalam dekapannya saat mobil mulai melaju meninggalkan pelabuhan. Kami melewati gedung-gedung tinggi Jakarta yang kini tampak tidak lagi mengancam. Hari ini, satu lagi hantu masa lalu telah diusir. Dan meski aku tahu hidup tidak pernah benar-benar bebas dari konflik, setidaknya sekarang aku tahu siapa yang akan selalu berdiri di sampingku saat badai datang lagi.

Tinta di buku harianku mungkin sudah habis untuk hari ini, tapi bab-bab indah bersama Bimo baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!