Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.
Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.
Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.
Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.
Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.
Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Kaki Tangan Sang Ketos
Vyan memijat keningnya sendiri. Cowok di depannya itu terkadang punya pemikiran yang terlalu ekstrem, seolah kehidupan nyata sama dengan panggung anime.
"Zaki, temen-temen jalanan gue enggak ada yang main narkoba. Jangan terlalu heboh sampai melibatkan polisi. Kita main aman aja, oke? Biar enggak perlu mengotori tangan kita sendiri. Biarkan dia yang masuk perangkap dan enggak ada orang yang bisa dia salahkan."
Zaki Nurrahman adalah "hantu" yang keberadaannya nyaris tak disadari orang, seolah-olah dia hanyalah udara kosong yang kebetulan mengenakan seragam SMA Tunas Bangsa. Dia adalah tipe murid yang selalu duduk di baris paling belakang, menyembunyikan wajah di balik poni yang terlalu panjang, dan tidak akan dicari oleh guru bahkan jika namanya alpa di daftar absen berhari-hari. Dunia luar, bagi Zaki yang tumbuh dengan trauma perundungan, adalah tempat yang terlalu berbahaya.
Namun di rumah, di depan Vyan, di kamar remang yang dipenuhi deru mesin ini, Zaki bisa nyerocos lancar seolah Vyan adalah bagian paling penting dari hidupnya. Lidahnya yang biasa kelu mendadak lincah melontarkan kata-kata, memuntahkan semua isi kepala yang biasanya hanya ia bagi dengan karakter anime atau forum diskusi bawah tanah. Vyan adalah satu-satunya jangkar sosialnya—satu-satunya orang yang melihat eksistensinya bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai seorang bibit jenius yang berdaya.
Meskipun begitu, besok pagi di koridor sekolah, mereka akan kembali bergerak seperti dua orang asing yang tidak pernah saling kenal. Bukan Vyan yang meminta sandiwara ini, melainkan Zaki sendiri yang memilihnya karena didera ketakutan.
Zaki tahu betul siapa Vyan—pemuda itu adalah matahari di Tunas Bangsa yang terlalu terang, magnet bagi popularitas, drama, dan sorotan kamera. Zaki takut jika orang-orang menyadari kedekatan mereka, Vyan akan menyeretnya keluar dari dunianya yang sunyi dan tenang, lalu melemparnya kembali ke dalam kebisingan yang paling ia benci.
Vyan sangat memahami ketakutan itu. Itulah mengapa ia selalu membiarkan Zaki tetap nyaman di dalam kegelapan, sementara dirinya berjalan di bawah lampu panggung.
"Oke, Bos. Jadi, gimana selanjutnya?" ucap Zaki ringan, tampak antusias.
Vyan tersenyum sebelum membeberkan rencananya.
...****************...
Langit sudah sepenuhnya gelap. Ray mengembuskan napas berat, merasakan otot-ototnya kaku dan letih setelah berjam-jam memeras keringat. Mang Somad menghampirinya, lalu mengulurkan selembar uang dua puluh ribu yang sudah lecek. Ray tertegun sejenak menatap uang di telapak tangannya—hasil jerih payahnya hari ini.
"Ray, karena kamu kerja cuma dari sore, bayarannya ga penuh, ya."
Ray yang masih menatap uang lecek itu sedikit terkejut. Dia menatap Mang Somad yang tampak khawatir.
"Iya, gak apa-apa, Mang," jawab Ray lesu.
Padahal dia kesal tenaganya hanya dihargai dua puluh ribu. Sepertinya Vyan benar-benar ingin menjatuhkan citranya.
"Ya, udah. Besok datang lagi di jam yang sama."
Ray hanya mengangguk lemah. Mang Somad menatap Ray dengan wajah sedikit simpatik sebelum meninggalkan Ray. Dia memang tidak tahu kenapa Vyan menerima anak orang kaya itu bekerja padanya. Namun, ia memilih tidak bertanya karena sering kali jalan pikiran anak mantan bosnya itu, tidak bisa dipahaminya.
Dulu, Mang Somad adalah salah satu orang kepercayaan di departemen logistik perusahaan keluarga Hadyanata. Ia adalah mandor bertangan besi yang mengatur puluhan truk dan ratusan pekerja gudang dengan presisi. Namun, tiga tahun lalu, ia memilih untuk mengundurkan diri secara terhormat. Bukan karena ada masalah atau tindakan tercela, melainkan karena ia merasa terlalu "sesak" oleh aturan birokrasi dan seragam kantor yang kaku. Ia adalah orang lapangan sejati; baginya, debu pasar dan keringat nyata jauh lebih menghidupkan daripada pendingin ruangan yang membuatnya jenuh.
Keputusannya pindah ke pasar sempat dianggap gila oleh rekan-rekan sekantornya, namun tidak oleh Vyan. Saat itu, Vyan yang masih sangat muda justru datang padanya, membawakannya kopi saset di lapak kumuhnya, dan menyatakan dukungannya tanpa sedikit pun memandang rendah. Bagi Mang Somad, Vyan bukan sekadar anak dari atasannya dulu, melainkan sosok yang memanusiakannya saat orang lain menganggapnya "turun kasta". Itulah sebabnya, apapun permintaan Vyan, dia akan berusaha mematuhinya.
"Ray-Ray... ayo makan dulu di warung ambo," tawar seorang wanita pedagang di dekatnya, ramah.
"Ah, enggak, Bu. Aku mau langsung pulang saja," tolak Ray sambil bergegas pergi, berusaha menyembunyikan rasa lelahnya.
"Ray!"
Langkah Ray terhenti. Ia sangat mengenali suara lembut itu. Di depannya, Yasmin muncul ditemani oleh Vyan. Vyan berdiri di sana, menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan saat melihat penampilan Ray yang berantakan.
"Gimana kerjanya hari ini?" tanya Vyan, nadanya terdengar seperti ejekan halus.
Ray mendengus, "Yah, lu boleh ketawa kalau mau..."
"Ray hebat ya! Masih sekolah tapi sudah mau kerja keras begini!" puji Yasmin tulus. Mata gadis itu berbinar kagum.
Seketika, rasa letih Ray seolah menguap. Ia langsung menegakkan punggung, berusaha tampak tangguh di depan Yasmin. "Yang kayak gini sih kecil buatku. Kerja apa aja juga aku bisa. Lihat, Yasmin... ini gajiku hari ini. Buat kamu ya?"
Ray mengulurkan uang dua puluh ribu tadi dengan bangga. Yasmin mengerutkan kening, tampak bingung. "Eh? Kenapa dikasih ke aku?"
Vyan yang berdiri di sampingnya hanya menatap datar. Dasar cari perhatian, batin Vyan sinis.
"E-anu... karena ayah kamu sudah baik banget dan banyak membantu aku di sini," jawab Ray, sedikit terbata mencari alasan.
"Oh..."
"Jangan sembarangan menerima uang dari cowok, Cantik. Pasti ada maksud di baliknya," sela Vyan dengan suara rendah yang protektif.
Ray melotot tajam ke arah Vyan, namun Yasmin justru mengangguk pelan. "Iya sih. Ibu juga pernah bilang begitu," ucap Yasmin. Ia menarik kembali tangannya, batal mengambil uang tersebut.
Bahu Ray merosot seketika. Dengan lesu, ia menyimpan kembali uangnya ke dalam saku.
"Ayo Ray, kita pulang!" ajak Vyan tiba-tiba.
Ray terperanjat. "Eh? Pulang bareng lo?"
"Iya. Yasmin pulang sama ayahnya sebentar lagi. Ayo cepat, jangan buang waktu."
Ray tidak punya celah untuk menolak. Ia hanya bisa melambai lemah. "Sampai ketemu besok, Cantik!"
"Jangan nyontek kata-kata gue!" ketus Vyan.
Ray menggerutu sepanjang jalan mengikuti langkah Vyan menuju motornya. Begitu mereka sudah agak menjauh dari Yasmin, Ray mendengus. "Gue tahu lu sengaja mau nganter gue biar gue nggak pulang bareng Yasmin, kan?"
Vyan menghidupkan mesin motornya. "Tumben otak lu berfungsi."
"Dasar siluman!" umpat Ray kesal.
"Otak udang," balas Vyan tenang.
Ray akhirnya naik ke jok belakang. Vyan langsung menggeber motornya, meninggalkan area pasar yang mulai sepi. Angin malam menerpa wajah mereka saat motor melaju keluar menuju jalan raya.
"Lu sudah punya SIM ya? Berarti sudah tujuh belas tahun. Kalau gitu, gue manggil lu 'Kakak' dong? Gue kan adik lu," celetuk Ray, mencoba memancing reaksi.
Tiba-tiba, Vyan mengarahkan motornya ke pinggir jalan dan mengerem mendadak.
"Cepat turun!" perintah Vyan dingin. Ray kebingungan tapi tetap turun dari motor.
"Jadi lu nggak berniat nganter gue sampai rumah?"
"Jangan mimpi!" sahut Vyan tajam. Tatapannya menusuk. "Dan satu hal yang harus lu ingat; kita nggak akan pernah jadi kakak-adik."
Ray terdiam. Ia bisa merasakan kebencian yang nyata dari sorot mata Vyan. "Gue mengerti."
"Kalau lu mengerti, lebih baik lu secepatnya kembali ke Prancis!"
Kalimat itu menghantam dada Ray. Padahal, belakangan ini ia merasa sangat bahagia bisa mengenal Pak Rizal dan menganggapnya sebagai sosok ayah—sesuatu yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.
"Enggak," jawab Ray pendek. Gue nggak mau kehilangan Papa, batinnya teguh.
"Kenapa lu nggak cari ayah lu sendiri? Kenapa lu harus merebut ayah orang lain?" tanya Vyan dengan nada sinis yang menyakitkan.
Ray terpaku. Memorinya kembali pada ibunya yang selalu menutup rapat identitas ayahnya. Namun sejak bertemu Pak Rizal, rasa ingin tahu itu padam, digantikan oleh rasa nyaman yang baru ia temukan. Ray tidak mampu menjawab.
Vyan menatapnya penuh kebencian untuk terakhir kali sebelum menarik gas dalam-dalam, meninggalkan Ray sendirian di pinggir jalan yang gelap. Ray menghela napas panjang, menatap lampu belakang motor Vyan yang menjauh.
Maaf, Vyan. Lu boleh benci gue. Gue nggak apa-apa, selama Mama bahagia dan Papa tetap ada bareng kita.
...----------------...
Yasmin Aulia