Selly, gadis berusia 19 tahun, adalah putri kesayangan keluarga terkaya nomor dua di negara ini. Sejak kecil ia hidup dalam pelukan kasih sayang yang luar biasa—dimanja ayah, disayang ibu, dan dijaga mati-matian oleh kakak laki-lakinya, Rian, yang posesifnya level dewa.
Namun, ada satu hal yang selalu Selly inginkan namun sulit ia dapatkan: Hati seorang Darren Wijaya.
Darren, pria dingin berusia 32 tahun yang merupakan raja bisnis dan orang terkaya nomor satu. Luka masa lalu akibat pengkhianatan mantan kekasihnya, Natasha, membuat pria itu menutup hatinya rapat-rapat. Selama bertahun-tahun Selly mengejar, memberi perhatian, dan mencoba menembus tembok dingin itu, namun yang ia dapatkan hanyalah sikap acuh tak acuh dan penolakan.
Hingga suatu hari, rasa lelah dan sakit hati membuat Selly sadar. Ia tidak bisa terus memaksakan diri.
"Cukup, Om... Aku menyerah."
Selly memutuskan berhenti. Ia mulai fokus kuliah, bergaya lebih dewasa, dan mencoba membuka hati untuk Aron
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Hari berganti hari, minggu pun berlalu. Namun bagi Selly, waktu seakan berjalan sangat lambat dan penuh dengan penantian. Meskipun kejadian memalukan di pesta gala beberapa waktu lalu masih terasa perih di hati dan pikiran, rasa sayang yang tertanam bertahun-tahun ternyata tidak bisa hilang begitu saja.
Selly masih berusaha. Masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin saat itu Darren hanya sedang sibuk atau sedang bad mood. Pria itu pasti tidak bermaksud menyakitinya secara terang-terangan.
'Mungkin aku harus lebih sabar lagi. Pria sebesar Darren pasti punya banyak beban pikiran,' batin Selly selalu mencari alasan untuk membenarkan sikap dingin kekasih idamannya itu.
Dan hari ini, Selly kembali hadir di markas besar Darren Wijaya Group.
Berbeda dengan biasanya yang langsung masuk ke ruangan pribadi, kali ini Selly memilih duduk menunggu di lobby area eksekutif lantai paling atas. Darren memberitahu asistennya bahwa ia akan memimpin rapat penting yang diperkirakan memakan waktu cukup lama, mungkin sampai sore hari.
Tanpa ragu, Selly berkata dia mau menunggu.
"Gapapa kok, biar nanti pas rapat selesai Selly bisa langsung kasih ini ke dia," kata Selly ceria sambil mengangkat kotak bekal makan siang dan juga sebungkus kopi panas favorit Darren.
Gadis itu duduk dengan rapi di sofa tunggu yang empuk. Ia mengenakan outfit kasual namun tetap terlihat modis dan cantik—kemeja oversize berwarna biru muda dipadukan dengan rok pendek yang menawan. Rambutnya dikuncir kuda tinggi, membuatnya terlihat lebih muda dan segar.
Awalnya Selly menghabiskan waktu dengan bermain game di ponsel, lalu berganti membaca e-book, dan kemudian hanya duduk diam menatap pintu ruang rapat yang tertutup rapat itu.
Jam dinding terus berputar.
Satu jam... dua jam... tiga jam... bahkan sudah hampir empat jam berlalu.
Kaki kecil Selly mulai terasa pegal, dan pantatnya pun terasa ngilu karena duduk terlalu lama. Perutnya juga sudah keroncongan, tapi ia tak peduli. Ia tidak mau makan dulu sebelum melihat Darren makan. Baginya, melihat pria itu menghabiskan makanan yang ia buat adalah kebahagiaan tersendiri, meski hanya untuk sesaat.
Beberapa karyawan dan staf yang lewat sempat menatapnya dengan pandangan iba. Mereka semua tahu siapa gadis ini. Nona Selly yang setia menunggu sang bos yang dingin. Tapi tak ada yang berani menyapa terlalu lama atau mengajak mengobrol, takut kalau-kalau bos mereka marah.
Selly hanya tersenyum tipis pada mereka, mencoba terlihat kuat dan bahagia.
"Ayo semangat Sel, sebentar lagi pasti selesai kok," bisiknya pada diri sendiri sambil memijat pelan betisnya yang kram.
Hingga akhirnya, suara pintu ruang rapat yang terbuka terdengar memecah keheningan sore itu.
Wajah Selly langsung bersinar kembali. Matanya berbinar cerah, ia buru-buru berdiri merapikan bajunya, merapikan rambutnya, dan menyunggingkan senyum terlebarnya.
"Om Darren!" serunya dalam hati, siap menyambut pria itu.
Pintu terbuka lebar, dan satu per satu orang keluar dari ruangan itu. Wajah-wajah para direktur dan manajer tampak serius namun terlihat lega. Dan di barisan paling belakang, keluarlah sosok yang paling dinantikan.
Darren Wijaya.
Pria itu tampak begitu gagah dengan kemeja putih yang sedikit terbuka di bagian kerah, lengan bajunya digulung rapi memperlihatkan otot lengannya yang maskulin. Wajahnya tampak sedikit lelah, rahangnya mengerat tegas, dan aura dominannya terasa begitu kuat setelah memimpin rapat berjam-jam.
Selly bisa melihat, ada keringat dingin yang membasahi pelipis pria itu. Pasti sangat melelahkan.
Tanpa membuang waktu, Selly langsung melangkah maju beberapa langkah, mengangkat kotak bekal dan kopi di tangannya tinggi-tinggi agar terlihat jelas.
"Om Darren! Selly udah nungguin lama banget nih! Pasti capek banget ya rapatnya? Selly bawain makanan sama kopi hangat nih, ayo makan dulu yuk!" celoteh Selly ramah, suaranya ceria menyapa di tengah suasana yang tegang.
Selly berharap, melihat ia sudah menunggu begitu lama, Darren akan setidaknya tersenyum, atau mengucapkan terima kasih, atau mungkin memintanya masuk ke ruangan.
Tapi... kenyataan selalu kejam.
Darren Wijaya melangkah keluar dengan langkah panjang dan cepat. Matanya menatap lurus ke depan, seolah sedang memikirkan strategi bisnis yang berat.
Pandangan matanya menyapu ke arah depan, dan jelas sekali ia melihat keberadaan Selly. Jelas sekali ia melihat gadis itu berdiri di sana dengan wajah berseri-seri menunggunya.
Namun... apa yang dilakukan Darren selanjutnya benar-benar membuat hati Selly hancur lebur.
Pria itu tidak berhenti. Tidak melambat. Tidak juga menoleh.
Wajahnya tetap datar, polos, tanpa ekspresi sedikitpun. Seolah-olah Selly yang berdiri di depannya itu hanyalah sebuah tiang penyangga, atau sekadar pajangan dekorasi di lobi itu.
Darren berjalan melewati Selly begitu saja.
Hanya ada angin yang berhembus tipis saat pria itu lewat di sampingnya. Tidak ada sapaan, tidak ada tatapan, apalagi senyuman.
Selly terpaku di tempatnya. Mulutnya yang tadi siap mengucapkan kalimat manis kini terkatup rapat. Tangannya yang mengangkat kotak bekal terasa berat dan kaku di udara.
"Om..." panggilnya lirih, nyaris tak terdengar.
Ia menoleh perlahan, menatap punggung lebar Darren yang semakin menjauh menuju lift pribadinya. Pria itu bahkan tidak pernah menoleh ke belakang sedikit pun. Seakan-akan gadis yang sudah menunggu selama berjam-jam demi dia itu, tidak ada harganya sama sekali.
Air mata Selly mulai menggenang lagi, kali ini rasanya jauh lebih perih daripada sebelumnya.
Rasa lelah menunggu berjam-jam, rasa lapar yang ditahan, dan harapan yang dibangun setinggi langit... runtuh seketika hanya dalam hitungan detik karena sikap acuh tak acuh itu.
'Jadi selama ini aku cuma memaksakan diri ya...' batin Selly berbicara getir.
'Dia sama sekali gak peduli aku nunggu berapa lama. Dia gak peduli aku capek atau nggak. Di mata dia, aku ini cuma angin lalu. Angin lalu yang nyebelin dan ngerepotin.'
Senyum di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh garis bibir yang mengepal kuat menahan isakan tangis. Rasa malu, kecewa, dan sakit hati bercampur menjadi satu, memenuhi rongga dadanya hingga terasa sesak sekali.
Dengan tangan gemetar, Selly menurunkan kotak bekal dan kopi itu. Kopi yang tadi masih mengepulkan asap hangat, kini perlahan suhunya mulai turun, sama dinginnya dengan hati pria yang ditunggunya.
(Bersambung...)