NovelToon NovelToon
HUSH, LITTLE BIRD

HUSH, LITTLE BIRD

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Konflik etika
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."

Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.

Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.

Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.

"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20. Sarapan Tepi Jurang

Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang makan dengan begitu cerah, seolah-olah tidak tahu bahwa di rumah ini, garis moral baru saja dilanggar dengan cara yang paling manis sekaligus berdosa. Alea berdiri di depan cermin kamarnya, menatap pantulan dirinya dengan napas yang masih terasa berat. Di lehernya, tepat di bawah garis rambut, terdapat sebuah lebam kemerahan kecil, tanda kepemilikan yang ditinggalkan Bima semalam.

Dengan tangan gemetar, ia menyapukan concealer tebal untuk menutupinya, lalu mengenakan sweater dengan kerah tinggi meskipun cuaca pagi ini cukup gerah. Ia harus terlihat normal. Ia harus bersikap seolah ia masihlah putri kecil Baskara yang polos.

Saat Alea menuruni tangga, aroma kopi dan roti panggang menyambutnya. Di meja makan, Baskara sudah duduk dengan koran paginya, tampak sangat segar dan bahagia karena sahabatnya telah kembali. Dan di sana, di kursi seberang ayahnya, duduk Bima.

Pria itu tampak sangat berwibawa dalam balutan kemeja kerja berwarna abu-abu gelap. Tidak ada jejak pria liar yang semalam melumat bibirnya di sana. Bima sedang menyesap kopinya dengan tenang, namun saat mata mereka bertemu selama satu detik, Alea merasakan setruman listrik yang membuat lututnya lemas. Kilat di mata Bima seolah sedang mengulang setiap detik kejadian semalam di kepala Alea.

"Selamat pagi, Sayang. Tidurmu nyenyak?" sapa Baskara dengan senyum lebar.

Alea menelan ludah, berusaha menstabilkan suaranya. "Pagi, Dad. Nyenyak sekali."

Ia duduk di kursi di sebelah ayahnya, yang berarti ia tepat berada di hadapan Bima. Alea tidak berani menatap pria itu. Ia fokus pada piringnya, mencoba memotong omelet dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Kau tampak pucat, Alea. Dan kenapa pakai baju tertutup begitu? Kau sakit?" tanya Baskara cemas, tangannya terulur ingin menyentuh dahi putrinya.

"Hanya... sedikit kedinginan karena AC semalam, Dad. Tidak apa-apa," sahut Alea cepat, melirik Bima yang kini sedang menyeringai tipis di balik cangkir kopinya.

Bima meletakkan cangkirnya, lalu bersuara dengan nada yang sangat tenang namun penuh makna ganda. "Mungkin Alea terlalu lelah merayakan ulang tahunnya, Baskara. Dia butuh banyak asupan protein pagi ini."

Baskara tertawa. "Kau benar, Bima. Kau memang selalu tahu apa yang dia butuhkan."

Di bawah meja jati yang besar itu, Alea tiba-tiba merasakan sesuatu yang hangat menyentuh betisnya. Ia tersentak kecil, nyaris menjatuhkan garpunya. Bima. Pria itu melepaskan sepatunya dan kini menggunakan jemari kakinya untuk mengusap perlahan sepanjang tulang kering Alea, naik menuju lututnya.

Alea berusaha mati-matian mempertahankan ekspresi datarnya. Wajahnya mulai memanas. Punggungnya menegak kaku. Ia menatap Bima dengan tatapan memohon agar pria itu berhenti, namun Bima justru menatapnya balik dengan tatapan menantang yang sangat berani.

"Bima, bagaimana rencana proyek kita di Singapura? Kau bilang ada masalah darurat kemarin?" tanya Baskara, kembali fokus pada urusan bisnis.

"Semuanya sudah terkendali, Baskara," jawab Bima lancar, sementara kakinya kini mulai merayap lebih tinggi di balik rok pendek yang dikenakan Alea di bawah meja. "Masalahnya sudah kupadamkan sampai ke akar-akarnya. Sekarang, aku bisa fokus sepenuhnya pada apa yang ada di depanku."

Bima memberikan penekanan pada kata "di depanku" sembari memberikan tekanan halus pada paha Alea. Alea menggigit bibir bawahnya, tangannya mencengkeram pinggiran meja hingga buku jarinya memutih. Euforia dan ketakutan bercampur aduk. Di depannya ada ayahnya yang sedang berbicara dengan santai, sementara di bawah meja, pria yang merupakan sahabat ayahnya sedang melakukan hal yang sangat lancang padanya.

"Oh ya, Alea," Baskara menoleh pada putrinya. "Tadi Revan menelepon. Dia ingin mengajakmu ke perpustakaan siang ini untuk mencari referensi tugas. Daddy bilang silakan saja, kau pasti bosan di rumah terus."

Mendengar nama Revan, gerakan kaki Bima di bawah meja berhenti seketika. Atmosfer di ruang makan itu mendadak mendingin. Alea bisa melihat rahang Bima mengeras, matanya yang tadi penuh godaan kini berubah menjadi gelap dan tajam.

"Aku tidak yakin Alea bisa pergi hari ini, Baskara," potong Bima, suaranya kini terdengar lebih dingin. "Kondisinya sedang tidak fit, bukan? Lebih baik dia istirahat di rumah. Aku bisa membantunya mencari referensi buku dari perpustakaan pribadiku jika dia mau."

Baskara tampak berpikir. "Benar juga. Kau mau di rumah saja, Alea?"

Alea menatap Bima. Ia tahu ini adalah perintah terselubung. Janji kepatuhannya semalam sedang ditagih. Jika ia setuju pergi dengan Revan, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Bima saat mereka hanya berdua nanti.

"I-iya, Dad. Aku di rumah saja. Kepalaku memang sedikit pening," dusta Alea, merasa sangat bersalah pada ayahnya.

Bima tersenyum puas. Ia menarik kakinya kembali, lalu berdiri dari kursi. "Keputusan yang bagus, little bird."

Bima berjalan memutari meja, berhenti tepat di belakang kursi Alea. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Alea, memberikan pijatan ringan yang terasa sangat posesif. Baskara hanya melihatnya sebagai bentuk perhatian seorang paman, namun Alea merasakan setiap inci tekanan jari Bima sebagai pengingat bahwa ia kini adalah tawanan pria itu.

Bima menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Alea hingga napas hangatnya yang beraroma mint menyentuh kulit Alea. "Istirahatlah di kamarmu. Aku akan membawakan 'buku referensi'-nya ke sana sebentar lagi," bisiknya dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Alea.

Bima mengecup puncak kepala Alea sekilas di depan Baskara, sebuah kecupan yang tampak suci namun terasa sangat kotor di benak Alea. "Aku berangkat ke kantor dulu, Baskara. Alea, jaga dirimu baik-baik."

Setelah Bima pergi, Alea hanya bisa terpaku di kursinya dengan jantung yang berdegup kencang. Ia menyadari bahwa hidupnya kini telah berubah total. Di depan ayahnya, ia harus tetap menjadi putri yang manis, sementara di balik pintu kamar, ia adalah milik Bima sepenuhnya.

Pagi itu, di meja makan tersebut, Alea menyadari bahwa ia bukan hanya sedang bermain api, ia sedang membakar seluruh dunianya demi pria yang kini memegang kendali atas setiap helai napasnya. Dan yang paling mengerikan adalah, ia menyukai rasa terbakar itu.

Alea berdiri dan bergegas menuju kamarnya, menunggu Bima yang katanya akan membawakan "buku" untuknya. Ia tahu, babak baru dalam hubungan rahasia mereka baru saja dimulai, dan kali ini, tidak ada lagi jalan untuk berbalik.

1
Niaja
anjr serius baskara bilang cinta ke cowo? /Sweat/
Senja_Puan: Kalau ga baca lanjutannya, aku yang buat juga geli kak🤣but, yang dicintai Baskara kan kepintarannya 🤭
total 1 replies
Niaja
sukaa sama ceritanya
Senja_Puan: jangan lupa di like kakak😍
total 1 replies
Anom
Tumpengan Bima
Anom
akhirnya pecah telor 🤭
Anom
kaya ABG anjir🤣
Anom
Good Alea
Yasa
Kak, aku jujur aja ya. kayanya kamu lebih cocok garap novel yang hot/dark gini deh😄 lebih ngena dari pada yang komedi🤣
Yasa
Bima, U bener2 ya. Ini masih hari pertama kah???
Yasa
Gila kak, baru episode pertama udah sat set.
Senja_Puan: thanks kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!