NovelToon NovelToon
Hanya Bisnis, Sayang

Hanya Bisnis, Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Vanessa_Write

"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."

Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.

Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.

Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Abu dan Ancaman

Strategi merger besar-besaran yang baru saja mereka sepakati di meja kafe sore itu ternyata langsung mendapat balasan yang teramat kejam dari pihak musuh. Tampaknya, Syndicate memiliki mata dan telinga di mana-mana, mengawasi setiap gerak-gerik dari dua penguasa bisnis ini. Mereka jelas tidak mau membiarkan Adrian dan Elena melangkah lebih jauh untuk membongkar borok finansial mereka lewat jalur audit resmi yang sah. Bagi organisasi bayangan itu, menghancurkan aset adalah cara tercepat untuk memberikan shock therapy agar lawan mereka gemetar dan mengurungkan niat.

Tengah malam itu, sekitar pukul dua dini hari, suasana di dalam mansion mewah milik Adrian mendadak berubah mencekam. Sebuah panggilan darurat dari nomor ponsel Hendra memecah keheningan di kamar utama lantai atas. Adrian yang memang memiliki insting tajam dan selalu waspada dalam tidur, langsung terjaga. Ia meraih ponselnya dan mengangkat panggilan itu dalam hitungan detik tanpa suara serak sedikit pun. Namun, begitu mendengar laporan dari seberang telepon, rahang tegas pria itu seketika mengeras dengan sangat rapat.

Kabar buruk telah terjadi. Salah satu gudang distribusi logistik pangan terbesar milik Arsa Food Group yang terletak di wilayah pinggiran kota baru saja diserang dan dibakar habis oleh sekelompok orang tidak dikenal yang bergerak dengan sangat rapi dan terlatih dalam kegelapan malam.

Tanpa membuang waktu sepeser pun, Adrian langsung keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar Elena dengan ketukan yang tegas namun konstan. Kurang dari empat puluh lima menit kemudian, setelah berganti pakaian taktis yang lebih santai, mereka berdua sudah berada di dalam kabin mobil sedan hitam antipeluru. Mobil mewah itu melaju membelah jalanan kota yang sepi dengan kecepatan tinggi, dikawal ketat oleh tiga mobil taktis hitam yang berisi tim keamanan internal bentukan Adrian sendiri. Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Atmosfer di dalam mobil terasa begitu padat oleh amarah yang tertahan.

Saat iring-iringan mobil mereka akhirnya berhenti di perimeter luar lokasi, pemandangan di depan mereka benar-benar mengerikan. Bau gosong yang sangat tajam dari sisa-sisa bahan makanan kemasan, gandum, dan palet plastik yang terbakar langsung menyengat hidung, memicu rasa sesak yang luar biasa di tenggorokan. Garis pembatas kuning milik pihak kepolisian sudah terpasang melingkari area, membelah kegelapan malam yang dingin di bawah siraman lampu sorot darurat.

Di depan mata Elena, kompleks gudang logistik raksasa yang biasanya super sibuk menyuplai ratusan ribu ton produk pangan ke berbagai supermarket kini telah berubah menjadi lautan puing hitam yang hancur berantakan. Asap tebal berwarna abu-abu pekat masih terus membubung tinggi ke langit malam. Beberapa unit armada mobil pemadam kebakaran masih terlihat sibuk menyemprotkan sisa-sisa air ke arah sisa bara api yang menyala kecil di sudut bangunan yang runtuh. Kerugian materiil dari insiden sabotase ini jelas tidak main-main, nilainya dipastikan mencapai angka miliaran rupiah hanya dalam waktu beberapa jam saja.

Namun, yang membuat bulu kuduk Elena meremang malam itu bukanlah runtuhnya bangunan beton gudang tersebut. Di dekat pintu besi gerbang utama sisi barat yang kebetulan tidak hancur total oleh kobaran api, terdapat sebuah pemandangan yang sengaja ditinggalkan untuk menarik perhatian. Sebuah tanda teror yang sangat nyata.

Di dinding besi tebal yang sudah menghitam karena api, tertancap sebuah pisau komando militer bersisi ganda yang sangat tajam. Pisau itu ditancapkan dengan kekuatan luar biasa hingga menembus setangkai mawar hitam berukuran besar tepat di bagian tengah kelopaknya. Di bawah tusukan pisau tersebut, terdapat sepucuk surat kecil berbahan kertas linen yang ujung-ujungnya sudah agak hangus terkena hawa panas kebakaran.

"Mereka bergerak secepat itu, Adrian?" bisik Elena, suaranya terdengar sedikit bergetar karena syok berat melihat kehancuran total di depan matanya. "Baru kemarin sore kita membahas rencana merger di kafe privat itu, dan tengah malam ini mereka sudah menghancurkan aset logistik pangan besarmu. Mereka seperti tahu semua langkah kita. Ini benar-benar gila."

Adrian tidak langsung menjawab kalimat Elena. Langkah kakinya yang panjang, tegap, dan tegas membawa tubuh besarnya berjalan mendekati gerbang besi tersebut. Pria itu sama sekali tidak memedulikan larangan atau seruan dari petugas polisi dan tim forensik yang sedang sibuk mengumpulkan bukti di lapangan. Tatapan mata Adrian terkunci lurus pada objek yang menempel di dinding. Dengan satu gerakan tangan kosongnya yang kuat dan tanpa ragu sedikit pun, Adrian langsung mencengkeram gagang pisau komando tersebut dan mencabutnya dengan paksa dari dinding besi.

Karena gerakan yang terlalu bertenaga, duri-duri tajam yang berada di batang mawar hitam itu sempat menggores telapak tangan kanan Adrian hingga mengeluarkan tetesan darah segar yang berwarna merah pekat. Namun, cowok itu sama sekali tidak meringis, tidak mengaduh, atau mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun. Wajah tampannya tampak begitu kaku, dingin, dan sedingin es di bawah sorotan lampu darurat mobil petugas. Dengan ekspresi yang teramat tenang namun mematikan, ia membuka lipatan surat kecil yang setengah hangus itu dan membaca barisan tulisan tangan di dalamnya.

Satu gudang besar untuk satu peringatan awal yang manis. Batalkan rencana merger itu besok pagi, Tuan Arsa, atau kami akan memastikan seluruh rantai pasokan makanan milik perusahaanmu berubah menjadi abu, bersama dengan wanita muda yang sedang mencoba kamu lindungi di dalam mansionmu.

"Mereka sengaja melakukan sabotase rendahan ini karena mereka pikir aku adalah tipe pria yang bisa ditakut-takuti oleh kobaran api dan gertakan kain hangus," desis Adrian, suaranya terdengar sangat rendah dan dalam, namun dipenuhi oleh getaran amarah yang mengerikan dari seorang predator yang wilayah kekuasaannya baru saja diusik oleh kawanan serigala.

Adrian meremas surat berdarah itu di dalam kepalan tangannya yang kuat hingga kertas tersebut hancur menjadi serpihan kecil tak berbentuk. Ia kemudian berbalik lambat, menatap Elena yang berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan wajah yang diselimuti kecemasan. Adrian berjalan mendekati istrinya di atas kertas tersebut, lalu tanpa ragu menggenggam erat kedua bahu Elena dengan tangan kanannya yang masih menyisakan bekas noda darah akibat goresan duri mawar tadi. Pria itu seolah sama sekali tidak memedulikan rasa sakit fisik pada telapak tangannya sendiri. Baginya, luka kecil itu tidak ada artinya dibanding harga diri keluarganya yang diinjak-injak.

"Bajingan-bajingan dari Syndicate itu sudah salah memilih lawan sejak awal, Elena," kata Adrian, sepasang mata gelapnya menyala-nyala di balik kegelapan malam, memancarkan determinasi yang sangat mengerikan. "Mereka membakar gudang makananku dengan harapan aku bakal panik, ketakutan, lalu buru-buru mundur dari rencana merger bisnis kita dan menyerahkan kamu ke tangan mereka secara sukarela seperti yang dilakukan oleh pamanku yang pengecut sepuluh tahun lalu."

Adrian menggunakan tangan kirinya yang bersih untuk mengusap pipi Elena yang terasa sedingin es karena hawa malam dan rasa syok. Gerakan jemarinya terasa sangat lembut, kontras dengan aura membunuh yang keluar dari tubuhnya, seolah ia sedang mencoba menyalurkan seluruh rasa aman yang ia miliki di tengah kepulan asap yang menyesakkan dada tersebut.

"Tapi tindakan bodoh yang mereka lakukan malam ini justru bikin aku makin nekat. Aku tidak akan pernah melepaskan kamu dari sisiku, apa pun yang terjadi di depan nanti," ucap Adrian dengan nada suara yang teramat posesif, mengunci pandangan mata Elena agar wanita itu fokus hanya padanya. "Mereka ingin menyalakan api peperangan? Kita kasih mereka perang yang sesungguhnya di dunia bisnis. Besok pagi, aku bakal pakai seluruh sisa kekuatan, modal finansial, dan pengaruh absolut dari Arsa Group buat membakar balik siapa saja yang berada di balik organisasi sialan itu sampai mereka semua hancur berubah jadi abu tanpa sisa."

Elena menatap telapak tangan Adrian yang terluka dan berdarah, lalu perlahan meraih tangan besar suaminya itu. Ia menggenggamnya dengan kedua tangan kecilnya, meremasnya pelan sebagai bentuk dukungan moral yang nyata. Di tengah bau hangus sisa kebakaran gudang logistik yang mengerikan ini, Elena sadar sepenuhnya bahwa aliansi kontrak mereka sudah melangkah terlalu jauh dan tidak akan bisa ditarik mundur lagi. Musuh sudah berani melempar api pertama ke arah mereka, dan sekarang giliran Adrian Arsa yang akan menyalakan badai pembalasan yang jauh lebih besar, kejam, dan mematikan tepat di lantai bursa efek besok pagi saat pasar saham dibuka.

......BERSAMBUNG......

1
Bu Dewi
seru kak alur ceritanya😍😍😍👍
VanessaJournal: terima kasih atas support nya kak! 😊🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!