NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Trauma masa lalu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: HaluBerkarya

Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.

Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.

Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Bocah

"Mama, ini bocah dari ma—"

​"Hais, bocah-bocah! Tidak sopan kamu sama kakak ipar!" potong Mama Amanda dengan isyarat tangan agar putrinya tidak terlalu heboh.

​Aurin yang mendengarnya langsung tidak bisa menelan makanannya. Wajahnya memerah dengan sangat cepat. Kakak ipar? Astaga, lelucon macam apa ini? Bagaimana bisa dalam sehari dia sudah disebut menantu dan kakak ipar bagi seorang gadis di depannya yang umurnya jelas jauh lebih tua darinya.

​Oh Tuhan, tidak. Ini seperti mimpi buruk baginya. Aurin menggelengkan kepalanya dengan cepat.

​Tidak hanya dia, Ayuna pun sama terkejutnya. Namun gadis itu lebih ke arah syok. Tatapannya benar-benar meneliti Aurin yang berbaring di depannya hingga Aurin merasa tatapan itu seolah sedang menelanjangi dirinya.

​Tiba-tiba Ayuna menutup mulutnya menahan tawa. Tawa itu tidak benar-benar bisa dia tahan karena setelahnya suara tawa Ayuna menggema di setiap sudut ruangan tersebut.

​"Ah, Ya ampun... Ma, ini tidak lucu, sungguh!" ujarnya mulai melangkah mendekat.

​Sedangkan Anet yang mengekorinya terus bersembunyi di balik punggung sang bibi. Dia tidak berani melihat rupa dari mami barunya itu.

​"Tidak lucu apa, emang tampang mama sekarang sedang ngelawak?" sahut Mama Amanda.

​Dia berhenti menyuapi Aurin karena gadis itu menggeleng meminta berhenti. Mama Amanda kini fokus sepenuhnya pada putrinya.

​"Bagaimana bisa... ini... ini bocah, Ma! Bagaimana bisa dia menjadi kakak ipar? Dia..." Ayuna mulai berani. Tidak hanya melihat, tapi dia memegang beberapa bagian tubuh Aurin, melihat lebih dekat dan teliti.

​"Hei, Cil! Kamu umur berapa? Astaga, kakakku pedofil! Bagaimana bisa anak SMP dia nikahi? Mama juga, masa depan anak orang, Ma... dia belum pantas jadi istri ataupun menantu. Pasti umurnya masih empat belas tahun, iya kan?" todongnya pada Aurin dengan tatapan penuh selidik dan menanti jawaban.

Aurin meringis tertahan mendengar berondongan pertanyaan itu. Reaksi dari gadis cantik di depannya ini entah harus dia syukuri atau justru dianggap sebagai penghinaan terhadap tubuh mungilnya. Aurin sadar fisiknya memang terlihat jauh lebih muda dibanding usia aslinya, tapi dia tidak pernah menganggap dirinya sendiri seperti bocah empat belas tahun.

​Yang benar saja. Meski kecil, setidaknya orang yang waras pasti bisa menilai lebih baik. Kalau dibilang enam belas tahun, mungkin dia masih bisa menerima, tapi usianya sekarang sudah delapan belas tahun. Dia sudah memiliki KTP dan sudah masuk usia legal.

​Namun Aurin tetap tidak bisa membuka mulutnya untuk melayangkan protes. Dia hanya menunduk dalam dengan wajah yang semakin tertekan dengan segala cecaran itu.

​"Jangan menunduk, jawab!" ujar Ayuna. "Cil, begini ya, aku mungkin akan bicara jujur. Kamu tidak perlu takut karena aku ada di pihak kamu. Jadi bagaimana awal mulanya? Kakakku memaksa atau..."

​Ayuna menjeda kalimatnya sejenak. "Tapi dari reaksi kakakku semalam, dia tidak terlihat seperti orang yang memaksa. Apa jangan-jangan kamu yang kecentilan? Hais, tapi kamu masih terlalu kecil dan itu juga tidak mungkin!" lanjut Ayuna yang mulai berperang dengan spekulasinya sendiri.

​"Gadis empat belas tahun mana yang sudah menikah? Kamu masih harus dalam pengawasan orang tua. Bagaimana pendapat mereka? Kamu butuh sesuatu tidak? Mau lepas dari kakak aku? Aku bisa bantu," lanjut Ayuna tanpa memberi Aurin waktu untuk bicara sedikit pun.

​Gadis itu terus mencerocos dengan kehebohannya sendiri. "Bahkan ya—"

​"Ayuna! Kamu tidak sopan banget. Pertama-tama kenalan dulu, bukan nyerocos seperti itu!" potong Mama Amanda sambil mengurut keningnya sendiri karena merasa pusing mendengar ocehan Ayuna yang tidak ada habisnya.

...----------------...

"Oh iya, lupa. Hai, aku Ayuna Alastar, adiknya Kak Gallelio Alastar. Umur dua puluh tiga tahun, belum bersuami karena berpikir aku masih terlalu muda. Akan tetapi melihat anak umur empat belas tahun sudah menikah, sepertinya..."

​"Delapan belas, Kak. Aurin Josephine, usia delapan belas tahun, kelas dua belas," ralat Aurin cepat.

​Gadis itu tidak mau dikira bocah empat belas tahun terus-menerus. Dia memberanikan diri menatap Ayuna meski suaranya masih terdengar sedikit bergetar.

​Mama Amanda menahan tawa begitu melihat wajah putrinya kembali syok. Kali ini mata Ayuna melotot tajam menatap Aurin seolah sedang mengukur ulang setiap inci tubuh gadis di atas ranjang itu.

​"Ba... bagaimana bisa? Kamu gizi buruk atau bagaimana? Waktu kecil mama mu pasti terlambat terus datang menerima bantuan untuk bayi kekurangan gizi, iya? Delapan belas tapi bodynya seperti itu?" tanyanya keceplosan.

​Pertanyaan itu membuat Aurin meringis mendengarnya. Dia hanya bisa meremas tangannya yang berkeringat dingin di bawah tatapan Ayuna. Memang selama tinggal di rumah bibinya, makanan bergizi adalah hal yang mewah baginya, namun mendengar itu diucapkan secara blak-blakan tetap saja membuat hatinya sedikit mencelos.

​"Ayuna! Mulut kamu itu tolong disaring!" tegur Mama Amanda sambil menepuk lengan putrinya dengan cukup keras.

​Ayuna mengerjap, baru menyadari kalimatnya mungkin menyinggung perasaan kakak ipar kecilnya itu. "Ah, maaf, maksudku... astaga, delapan belas tahun? Itu artinya kamu sudah punya KTP? Dan kamu kelas dua belas? Jadi kamu masih sekolah?"

​Ayuna memegang kepalanya sendiri, merasa dunianya sedikit berputar. Dia membayangkan bagaimana Gallelio yang kaku dan dingin itu harus berhadapan dengan gadis yang bahkan masih mengenakan seragam putih abu-abu.

​"Iya, Kak," jawab Aurin lirih.

​Tiba-tiba, Ayuna teringat sesuatu. Dia menarik sosok kecil yang sejak tadi bersembunyi di balik punggungnya.

​"Anet, ayo sini. Lihat, ini mami kamu."

​Anet masih mematung, mencengkeram ujung baju Ayuna dengan kuat. Dia mendongak perlahan, menatap Aurin dengan mata bulatnya yang penuh rasa ingin tahu sekaligus ketakutan yang dalam.

Aurin juga menatap bocah itu yang terlihat ragu-ragu melihatnya. Gadis itu mengernyitkan kening, baru menyadari ada sosok mungil lain di ruangan tersebut.

​"Dia..." lirihnya kepada dirinya sendiri.

​"Geanetta Putri Alastar, anaknya Kak Gallel. Berarti anak kamu juga mulai sekarang!" ujar Ayuna dengan cepat.

​Gadis itu segera menggendong Anet untuk diperlihatkan lebih dekat kepada Aurin.

​Deg!

​Anak? batin Aurin berteriak kencang.

​Jadi... aku semalam menikah dengan pria yang sudah punya anak? batinnya lagi. Dia mulai menangis dalam hati, meratapi nasib malangnya yang mendadak menjadi istri dari pria yang sudah berkeluarga. Bagaimana bisa dia berakhir menjadi istri kedua? Bagaimana perasaan istri pria itu nanti jika tahu suaminya membawa pulang gadis asing.

​"Bu... bukan... saya tidak bermaksud merebut... pernikahan itu dipaksa oleh warga. Saya... saya akan pergi..." ujar Aurin cepat dengan suara yang terbata-bata.

​Dia menggeleng kecil dengan air mata yang mulai berlinang. Aurin menunduk dalam, memutuskan pandangannya dari Geanetta. Tindakan itu seketika disalahartikan oleh gadis kecil tersebut. Anet merasa ditolak lagi, persis seperti ayahnya yang tidak pernah mau melihatnya.

​"Tolong jangan beritahu mami kamu... saya tidak berniat menyakiti wanita mana pun. Kalau saya ditalak sekarang, saya bersedia..." lanjut Aurin yang mulai sesenggukan.

​"Apa yang kamu pikirkan? Bagaimana bisa orang baru menikah langsung ditalak!" ujar Ayuna nyaris tertawa. "Lagipula, tidak perlu takut menyakiti hati siapa pun. Kakakku itu seorang duda. Dia duda tidak laku, tapi sekali laku malah menikahi bocah! Bagaimana bisa kamu menikah dengan pria tua seperti itu? Takut sekali nanti dia cepat meninggal dan—"

​"Ayuna, astaga! Kamu mendoakan kakakmu sendiri meninggal?" tanya Mama Amanda yang mulai merasa frustrasi.

​"Iya, seandainya saja, Ma. Dia masih sangat muda, sedangkan Kak Gallel sudah tua. Secara teori yang tua akan cepat meninggal, dan Aurin akan jadi janda di usia muda."

​"Ya Allah, mana lakban! Ingin sekali Mama lakban mulutmu, Ayuna!"

​"Hais, Ma. Ayuna bicara fakta! Dibanding dengan Kakak, bukankah Aurin lebih cocok dengan Eza? Mereka seumuran. Setidaknya biar aku tidak bingung memanggilnya kakak ipar, padahal umurnya masih jauh di bawahku!" lanjutnya protes karena mendadak merasa sangat tua di depan Aurin.

.

.

"Kita harus bicara, Ayuna!" ujar Mama Amanda akhirnya berdiri dari sana, meminta Ayuna mengikutinya keluar.

​"Sayang, Mama ke depan dulu ya!" pamitnya, sekalian memberi Aurin sedikit ruang agar tidak terus tertekan oleh mulut cerocos putrinya.

​Aurin mengangguk pelan, menatap dua perempuan itu yang kemudian hilang di balik pintu.

​Gadis itu mulai berperang dengan pikirannya sendiri. Apakah dia harus menerima semua ini? Menerima takdir baru serta status barunya itu? Apakah dia benar-benar siap? Aurin menggeleng pelan. Tidak, dia tidak siap sama sekali, dan memang tidak pernah mau.

​Fakta bahwa dia dipaksa menikah semalam saja sudah cukup mengguncang batinnya, apalagi ditambah fakta lain bahwa pria yang menikahinya adalah duda anak satu yang datang dari keluarga sangat kaya. Tidak perlu Aurin mencari tahu seluk-beluknya lebih dalam, dia bisa menilai dari cara mereka bicara, cara berpakaian, dan nama Alastar yang terasa sangat familiar di ingatannya.

​Dia meremas kepalanya sendiri dengan frustrasi. "Tidak... ini tidak benar. Aku harus segera pergi dari sini!" ujar Aurin sambil menggelengkan kepala.

​Mungkin kabur untuk kedua kalinya adalah pilihan yang jauh lebih tepat daripada terjebak dalam situasi rumit ini.

​"Aku harus pergi... pergi jauh—"

​"Kakak mau ke mana?"

​Dada Aurin berdesir mendengar suara pelan dan lembut dari anak kecil itu. Dia mengurungkan niatnya sejenak dan menatap ke arah pintu yang sedikit terbuka. Di sana, tampak kepala kecil Geanetta yang mengintip dengan tatapan waspada sekaligus takut ke arahnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Rosita Zaky
bagisss
ChaManda
😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
cih kesal
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
kan kan kan kocak ini si Gel... bilang aja aku minta no kamu biar kalau ada apa-apa gampang/Curse//Curse//Curse//Curse/ pke alesan sebagai terima kasih
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: gengsi kk🤣🤣😭
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
🤔 apa ini? kau mulai water? cihhh... dasar Gelooooooo/Curse//Curse//Curse//Curse//Curse/
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: 🤣🤣jangan lama2 dia dinginnya, ntar beku kak
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
huhuhuair mataku😭😭😭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
jeng jeng jeng jeng..... Gel... baik2 bini mu incaran adik lelaki mu
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: maca iya yuk lah buat Erza nyemek2
total 4 replies
ChaManda
aduhh kasian juga yaa si Clara
ChaManda
🫵🏻🫵🏻🫵🏻
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
ihhh msh kesel sama pak duda ngeselin😑
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
heh astagaaa keliarga gilaa ku penggal juga itu kepala kalian biar sekalian gk ounya otak😑
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
idih.... mulai nyaman dia natap yang belum tumbuh🤭
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Udah tumbuh tapi belum keliatan menarikknya🤣🤣
total 1 replies
ChaManda
buat istrimu atau buat kamu?☺️
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Gallelio: buat gadis itu, biar gak kuyuss krempeng
total 1 replies
ChaManda
🤣🤣🤣
ChaManda
🤣
ChaManda
🤣😭🫵🏻
ChaManda
🤣🤣🤣🤣 aku suka gayamuu
ChaManda
😭😭😭
ChaManda
🤣🤣🤣
ChaManda
heleh heleh🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!