seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lorong di bawah zenith
Gelap.
Hanya itu yang Alya rasakan saat tubuhnya jatuh menuruni lorong bawah tanah Zenith.
Udara dingin menghantam wajahnya keras. Suara ledakan dari markas tadi masih menggema samar di belakang mereka, bercampur suara logam runtuh dan alarm darurat yang memekakkan telinga.
“HAAAAAAAAA—!”
Jeritan Hana menggema sepanjang lorong.
“Aku belum mau mati—!”
BRAK!
Reno mendarat lebih dulu di lantai logam bawah sambil menahan tubuh Alya agar tidak menghantam keras. Hana jatuh beberapa detik kemudian tepat di samping mereka.
BUKK!
“Aduh… tulang ekorku resmi pensiun…” rintih Hana sambil telungkup.
Lampu darurat merah menyala samar di sepanjang lorong sempit itu.
Pipa-pipa tua memenuhi langit-langit.
Air menetes perlahan dari sela besi berkarat.
Tempat itu terasa sangat berbeda dibanding Zenith yang modern dan penuh teknologi.
Lebih tua.
Lebih… mati.
Alya masih mencoba mengatur napas.
Jantungnya belum tenang sejak ledakan tadi.
Dan yang lebih buruk—
suara-suara di kepalanya belum hilang.
Fragmen data masih berbisik pelan di telinganya.
> Jalur bawah aktif.
Area terlarang terdeteksi.
Akses level Omega.
Alya memegangi kepalanya pelan.
Reno langsung menyadarinya.
“Masih mendengar sistem?”
Alya mengangguk kecil.
“Sedikit…”
“Itu artinya sinkronisasi belum berhenti.”
Hana langsung duduk tegak panik.
“Kalau sinkronisasi itu terus naik, apa yang terjadi?”
Reno diam beberapa detik.
Dan itu justru membuat Hana makin takut.
“RENO.”
“…Aku tidak tahu pasti.”
“Jawabanmu selalu bikin stres!”
Reno berjalan menuju pintu logam tua di ujung lorong.
Jarinya menyentuh panel akses yang sudah berdebu.
Aneh.
Panel itu langsung menyala biru.
ACCESS ACCEPTED.
Hana melongo.
“Oke… jangan bilang tempat ini juga kenal kalian.”
“Tempat ini dibuat untuk proyek Elysium,” jawab Reno singkat.
Tubuh Alya sedikit menegang mendengar nama itu lagi.
Elysium.
Semakin lama, nama itu terasa semakin mengerikan.
Bukan sekadar proyek.
Melainkan sesuatu yang hidup.
Pintu logam terbuka perlahan dengan suara berat.
GRRRRKKK—
Di baliknya terbentang koridor panjang gelap dengan lampu putih redup.
Dan di dinding…
ada logo lama Zenith.
Namun berbeda.
Logo itu memiliki simbol lingkaran biru di tengahnya.
Simbol yang sama dengan kalung Alya.
“Ayah…” bisiknya pelan.
Reno menoleh sedikit.
“Arman sering menggunakan simbol itu.”
“Kenapa?”
“Karena dia percaya Elysium seharusnya menyelamatkan manusia.”
Tatapan Reno berubah suram.
“Bukan mengendalikan mereka.”
Mereka berjalan perlahan menyusuri koridor.
Suasana terasa sunyi menyesakkan.
Tidak ada suara siswa.
Tidak ada drone.
Tidak ada sistem AI modern.
Hanya langkah kaki mereka sendiri.
Hana memeluk dirinya sendiri.
“Aku benci tempat seperti ini…”
“Kenapa?”
“Karena di film-film horor biasanya monster muncul dari lorong beginian.”
Reno menjawab datar:
“Monster di Zenith biasanya memakai jas formal.”
Hana terdiam.
“…itu jauh lebih menyeramkan.”
Alya memperhatikan dinding sekitar.
Ada banyak bekas goresan tua.
Beberapa pintu laboratorium tampak rusak.
Dan di kaca salah satu ruangan…
ia melihat bekas tulisan tangan samar.
HELP US.
Tubuh Alya merinding.
“Apa yang sebenarnya mereka lakukan di sini…?”
Reno berhenti berjalan beberapa detik.
Seolah memikirkan apakah ia harus menjawab.
Lalu akhirnya berkata pelan:
“Eksperimen manusia.”
Hana langsung memucat.
“Kau bercanda, kan?”
“Tidak.”
Alya menatap Reno.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai memahami kenapa Reno membenci Zenith.
Bukan sekadar karena masa lalunya.
Tapi karena tempat ini memang menyimpan sesuatu yang busuk.
Mereka melanjutkan langkah hingga tiba di ruangan besar berbentuk bundar.
Di tengah ruangan berdiri tabung kaca raksasa.
Kosong.
Namun kabel-kabel neural masih menggantung di sekitarnya.
Lampu biru redup berkedip dari bawah lantai.
Alya melangkah mendekat perlahan.
Entah kenapa…
dadanya terasa sesak melihat tempat itu.
Reno berdiri beberapa meter di belakangnya.
“Itu ruang sinkronisasi.”
Alya menoleh.
“Tempat eksperimen?”
Reno mengangguk kecil.
“Dulu.”
Tatapannya jatuh pada tabung kaca itu.
“Aku dibesarkan di sana.”
Hening.
Bahkan Hana tidak bercanda kali ini.
Alya menatap tabung itu lagi.
Membayangkan Reno kecil sendirian di tempat dingin seperti ini.
Tanpa keluarga.
Tanpa kebebasan.
Hanya dijadikan objek penelitian.
Dan tiba-tiba—
bayangan yang tadi muncul di kepalanya kembali.
Reno kecil.
Duduk sendirian.
Menangis pelan.
“Ayah…”
Suara kecil itu menggema lagi.
Alya memegang dadanya.
Rasa sakit aneh muncul di sana.
“Alya?” Hana mendekat khawatir.
“Aku tidak apa…”
Namun sebelum ia selesai bicara—
Lampu ruangan mendadak menyala terang.
BZTTT—
Seluruh terminal tua aktif bersamaan.
Layar hologram biru muncul di udara.
Reno langsung siaga.
“Ada seseorang mengakses sistem.”
Namun bukan alarm yang muncul.
Melainkan rekaman lama.
Wajah seorang pria tampil di layar.
Arman.
Ayah Alya.
Tubuh Alya langsung membeku.
“AYAH!”
Rekaman itu tampak tua dan rusak.
Garis-garis statis memenuhi layar.
Namun wajah Arman masih jelas.
Ia terlihat lebih muda.
Dan sangat lelah.
Kalung biru yang sama tergantung di lehernya.
“Jika seseorang menemukan rekaman ini…” suara Arman terdengar pelan.
“…berarti proyek Elysium telah gagal.”
Alya menutup mulutnya perlahan.
Air matanya mulai jatuh.
Reno juga terdiam.
Tatapannya tak lepas dari layar.
“Ayah…” bisik Alya lirih.
Dalam rekaman, Arman terlihat menoleh ke belakang beberapa kali seperti takut diawasi.
“Zenith sudah berubah,” lanjutnya.
“Mereka tidak lagi mencari cara menyelamatkan manusia.”
Layar berkedip.
“Mereka ingin menciptakan kendali.”
Hana menatap layar tanpa suara.
Bahkan ekspresinya yang biasanya santai kini berubah serius.
Arman melanjutkan:
“Elysium bukan senjata.”
“Itu adalah jembatan.”
Alya mengernyit pelan.
“Jembatan?”
Reno juga tampak berpikir.
“Kesadaran manusia dan jaringan digital bisa hidup berdampingan,” kata Arman di rekaman. “Namun Kaizer percaya manusia harus berevolusi dengan cara paksa.”
Nama itu membuat suasana langsung dingin.
“Kaizer…” gumam Reno.
“Aku mencoba menghentikannya,” lanjut Arman.
“Tapi sudah terlambat.”
Rekaman tiba-tiba terganggu statis.
Lalu muncul suara alarm lama di latar.
Arman terlihat panik sesaat.
“Jika Alya mendengar ini…”
Tubuh Alya menegang.
“…maafkan Ayah.”
Air mata Alya jatuh semakin deras.
“Ayah…”
“Aku tidak punya banyak waktu.”
Tatapan Arman berubah sangat lembut.
“Elysium memilihmu karena satu alasan.”
“Karena kau mampu merasakan manusia lain.”
Hening memenuhi ruangan.
Reno sedikit membeku mendengar itu.
Sementara Alya hanya menatap layar dengan mata basah.
“Jangan biarkan mereka mengubahmu menjadi monster.”
Suara langkah terdengar samar dalam rekaman.
Arman menoleh cepat ke belakang.
Wajahnya berubah tegang.
“Mereka datang.”
Lalu ia berkata cepat:
“Cari pusat inti Zenith.”
Reno langsung fokus.
“Pusat inti…”
“Di sanalah jawaban sebenarnya berada.”
Rekaman mulai rusak.
Namun sebelum menghilang—
Arman tersenyum kecil.
Senyum hangat yang sangat mirip dengan Alya.
“Dan Reno…”
Tubuh Reno menegang.
“Terima kasih sudah bertahan hidup.”
Lalu—
Layar mati total.
Ruangan kembali sunyi.
Tidak ada yang bicara selama beberapa detik.
Hanya suara mesin tua berdengung pelan.
Alya menunduk sambil menangis diam-diam.
Semua emosinya bercampur.
Rindu.
Marah.
Sedih.
Bingung.
Reno berdiri mematung di tempatnya.
Kalimat terakhir Arman masih terngiang di kepalanya.
Terima kasih sudah bertahan hidup.
Entah kenapa…
itu terasa lebih menyakitkan daripada apa pun.
Hana menatap keduanya perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai…
ia benar-benar sadar bahwa semuanya jauh lebih besar daripada sekadar pelarian biasa.
Zenith.
Elysium.
Kaizer.
Semuanya terhubung sejak lama.
Dan Alya ada tepat di tengahnya.
Tiba-tiba—
Sistem ruangan berbunyi.
WARNING.
INTRUDER DETECTED.
Reno langsung tersadar.
“Mereka menemukan kita lagi.”
Hana langsung frustrasi.
“Bagaimana mereka CEPAT sekali?!”
Namun kali ini berbeda.
Bukan pasukan Fenrir.
Layar terminal menunjukkan satu identitas akses.
KAIZER – PRIORITY ACCESS.
Seketika seluruh ruangan berubah dingin.
Lampu biru perlahan berubah merah.
Dan suara Kaizer terdengar dari speaker tua.
“Rekaman yang menyentuh.”
Alya langsung mengepalkan tangan.
“Berhenti mengawasi kami!”
Kaizer tertawa kecil.
“Sayangnya aku tidak bisa melakukan itu.”
Lalu layar utama menyala sendiri.
Wajah Kaizer muncul perlahan.
Namun kali ini…
ekspresinya lebih serius.
“Alya,” katanya pelan.
“Ayahmu berbohong padamu.”
Tubuh Alya langsung membeku.
“Apa?”
Reno menyipitkan mata tajam.
“Jangan dengarkan dia.”
Namun Kaizer tetap menatap Alya.
“Arman tidak menyelamatkanmu.”
Senyumnya perlahan menghilang.
“Dia menciptakanmu untuk Elysium.”
Hening.
Kalimat itu menghantam ruangan seperti ledakan.
Dan untuk pertama kalinya—
Alya benar-benar kehilangan napasnya.