NovelToon NovelToon
Sekretaris Palsu

Sekretaris Palsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: REZ Zha

Demi memastikan calon tunangan yang akan dijodohkan orang tuanya, Bella terpaksa menyamar bekerja di perusahaan milik Gilang, pria yang dipilih oleh sang papa untuk menjadi suaminya.

Satria Wijaya,, papa Bella adalah seorang pengusaha kaya raya dan Bella adalah anak semata wayang pasangan Satria dan Hani. Bella tentu tidak ingin calon suaminya, bersedia menikah dengannya hanya karena harta dan ia pun ingin memastikan jika pria yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pria setia.

Namun, kesalahpahaman terjadi. Gilang justru menganggap Bella adalah wanita simpanan Satria karena Satria lah yang meminta Gilang untuk mempekerjakan Bella sebagai sekretaris Gilang tanpa melalui proses pengrekrutan karyawan pada umumnya.

Lantas, bagaimana perjalanan kisah mereka selanjutnya? Ikuti saja kisah Bella dan Gilang dalam novel Sekretaris Palsu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Investor

Pengenalan tokoh :

Isabella Anjani (25 tahun)

Anak semata wayang Satria dan Hani diberi nama Isabella Anjani, mirip nama artis cantik Perancis tempo dulu, karena Satria mengidolakan artis tersebut.

Mesti anak tunggal dan seorang wanita, Isabella bukanlah wanita manja yang selalu bergantung pada orang tua. Setelah menyelesaikan kuliahnya di Amerika, dia tak langsung kembali ke Indonesia, tapi membuka bisnis di bidang advertising dengan teman-teman kuliahnya di sana.

Gilang Mahesa Pratama (30 tahun)

CEO dari PT. Mahesa Persada, perusahaan warisan mendiang papanya yang terpaksa menerima tawaran Satria untuk dijodohkan dengan Bella, demi membantu krisis yang di hadapi perusahaan karena sebagian modal usaha ditarik oleh saudara tirinya.

Jimmy Antony (30 tahun)

Sahabat juga asisten Gilang. Ketika Satria meninggal, Jimmy dipekerjakan Gilang menjadi orang kepercayaannya dan ikut membantu Gilang mengurus perusahaan Mahesa Persada.

Prolog :

Demi memastikan calon tunangan yang akan dijodohkan orang tuanya, Bella terpaksa menyamar bekerja di perusahaan milik Gilang, pria yang dipilih oleh sang papa untuk menjadi suaminya.

Satria Wijaya, papa Bella adalah seorang pengusaha kaya raya dan Bella adalah anak semata wayang pasangan Satria dan Hani. Bella tidak ingin calon suaminya, bersedia menikah dengan dirinya hanya karena harta dan kekayaan yang dimiliki orang tuanya. Karena itu, ia ingin memastikan jika pria yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pria setia dan betanggung jawab, bukan ingin memanfaatkan harta papanya.

Namun, kesalahpahaman terjadi. Gilang justru menganggap Bella adalah wanita simpanan Satria, karena Satria meminta Gilang untuk mempekerjakan Bella sebagai sekretaris Gilang, tanpa melalui proses pengrekrutan karyawan pada umumnya. Apalagi dia sempat memergoki Bella terlihat bergelayut manja pada Satria di apartemen Bella. Sedangkan dalam intern perusahaan, gosip pun berhembus. Karyawan di sana menyebarkan menuduh jika Bella memanfaatkan kecantikannya untuk memikat Gilang hingga mendapat posisi di perusahaan itu sebagai sekretaris Gilang padahal Bella adalah orang baru di sana.

Lantas, bagaimana perjalanan kisah mereka selanjutnya?

❤❤❤

Dalam ruangan berukuran 60m², Gilang Mahesa Pratama, CEO PT. Mahesa Persada, tampak memijat keningnya. Sementara pandangan matanya masih terfokus pada laptop di hadapannya. Wajahnya tampak kusut dan rambut sedikit acak.

Laporan keuangan tiga bulan terakhir seketika membuat kepalanya serasa mau meledak. Penjualan yang makin menurun dan kerugian yang dialami perusahaannya adalah masalah serius yang harus segera ia atasi.

"Sial, kau, Dan!" umpatnya dalam hati pada Danny yang menarik sebanyak tiga puluh persen saham perusahaan, karena Danny berniat membuka usaha sendiri.

Danny adalah saudara tiri Gilang. Ketika ia berusaha lima tahun, papanya, Handy Mahesa Pratama menikah dengan Vira, ibu dari Danny. Sejak saat itu mereka tinggal bersama dan menjadi keluarga. Sebelum sang papa meninggal sepuluh tahun lalu, Handy menyerahkan lima puluh persen saham perusahaan pada Gilang dan lima puluh persen pada Vira dan Danny. Setelah Vira meninggal, dua puluh persen saham dijual ke publik dan tiga puluh persen masih menjadi milik Danny.

Hempasan nafas Gilang terdengar berat. Jika kondisi perusahaannya tetap seperti ini, bukan tidak mungkin perusahaan warisan sang papa bisa pailit dan itu akan membuat ratusan tenaga kerja kehilangan mata pencaharian. Dia mungkin masih bisa bertahan hidup, tapi, bagaimana dengan nasib para pegawainya? Sungguh, Gilang merasa bersalah jika itu sampai terjadi.

"Kita harus segera mengambil tindakan, Bos! Secepatnya kita harus bisa mencari investor, supaya perusahaan kembali stabil." Jimmy, sahabat Gilang sejak kecil dan dipekerjakan sebagai Executive Assistant, kini bersuara. Sejak tadi dia menunggu reaksi Gilang setelah meneliti laporan keuangan.

"Ya, aku tahu, Jim. Aku juga nggak bisa tinggal diam lihat perusahaan terpuruk seperti ini." Gilang merapatkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya. Terasa berat beban yang ia tanggung di pundaknya saat ini. Dia tak ingin usaha yang dibangun mendiang papanya sejak nol harus tumbang di tangannya.

"Saranku, sebaiknya jangan mengajukan pinjaman ke bank dulu, Bos! Karena kita akan terbebani dengan bunga." Jimmy menyarankan agar Gilang tidak mengambil keputusan yang keliru. Dia lalu menyodorkan map berisi nama-nama calon investor yang mungkin dapat membantu perusahaan keluar dari masalah.

"Aku sudah mencari beberapa calon investor yang mungkin bersedia membantu kita. Memang agak sulit mereka mau berinvestasi dengan kondisi perusahaan seperti ini, tapi, semoga kita bisa melobi mereka, sehingga mereka mau membantu," ujarnya kemudian.

Gilang menatap map yang disodorkan Jimmy lalu ia meraih dan membuka map itu. Dia melihat beberapa nama yang ada di kertas dalam map. Nama teratas yang diajukan Jimmy adalah Satria Wijaya, salah seorang pengusaha sukses dan kaya raya. Namanya tentu saja tidak asing lagi di telinganya.

Senyum pesimis tampak di sudut bibir Gilang. Orang setenar Satria Wijaya, mana mungkin mau menanamkan sahamnya di perusahan miliknya yang sedang bermasalah.

"Apa kau yakin, Pak Satria Wijaya mau bekerjasama dengan kita, Jim?" tanya Gilang tak yakin.

"Nggak ada salahnya dicoba, Bos! Siapa tahu nasib baik ada di tangan kita." Melihat sahabatnya pesimis, Jimmy berusaha menyemangati Gilang. Dalam kondisi krisis perusahaan seperti saat ini, mereka harus berusaha semaksimal mungkin, meskipun pada akhirnya akan dihadapkan pada penolakan. "Aku tinggal tunggu keputusanmu, kalau kau oke, aku coba buat appointment dengan mereka," sambungnya.

Jari-jari Gilang mengetuk-ngetuk meja. Otaknya berpikir, mempertimbangkan saran yang diberi sahabatnya itu.

"Oke, kau bisa buat coba hubungi pihak dari Star Gemilang Corporation." Akhirnya memilih menyetujui apa yang ditawarkan oleh Jimmy. Tak ada salahnya mencoba, apa pun hasilnya.

"Oke, Bos. Aku coba hubungi pihak Star Gemilang. Semoga ini berhasil." Jimmy kemudian berpamitan untuk menjalankan tugas yang diberi Gilang kepadanya.

***

Kantor Star Gemilang Corporation

Tok tok tok

Pintu ruang kerja Pak Satria diketuk dari luar. Tak lama Gunawan, orang kepercayaan Pak Satria masuk setelah daun pintu terbuka.

"Permisi, Pak."

"Ada apa, Gun?" tanya Pak Satria saat melihat asistennya itu muncul di ruangannya.

"Ada perusahaan yang menawarkan sahamnya pada Bapak. PT. Mahesa Persada, perusahaan yang memproduksi alat berat, Pak." Gunawan menjelaskan alasannya menghadap pada Pak Satria.

"PT Mahesa Persada?" Pak Satria mengusap dagunya. Nama itu tidak familiar di telinganya.

"Benar, Pak." Gunawan membenarkan.

"Informasi apa yang kamu ketahui tentang perusahaan itu, Gun?" Pak Satria tentu tidak sembarangan menginvestasikan hartanya pada perusahaan orang lain. Dia perlu informasi lebih detail sebelum ia mengambil keputusan untuk menerima atau menolak.

"Perusahaan itu sedang menghadapi masalah keuangan, Pak. Menurut informasi yang saya dapat, sebagian modal usahanya ditarik oleh salah satu anak dari pemilik perusahaan tersebut." Sangat hapal dengan bosnya, Gunawan lebih dulu mencari informasi tentang perusahaan milik orang tua Gilang sebelum menghadap pada Pak Satria.

"Hmmm, begitu?" Pak Satria menganggukkan kepala tanda mengerti. "Bagaimana kredibilitas perusahaan itu selama ini?" tanyanya kemudian.

"Mereka mempunyai reputasi yang baik, apalagi perusahaan itu sudah berdiri cukup lama," jawab Gunawan.

"Baiklah, kamu cari jadwal kosong saya, Gun. Terima tawaran mereka untuk bertemu saya." Pak Satria menerima tawaran dari pihak perusahaan Mahesa Persada.

"Baik, Pak," sahut Gunawan.

Ddrrtt ddrrtt

Perhatian Pak Satria kini tertuju pada ponsel yang ada di mejanya ketika alat komunikasinya itu berbunyi.

My Girl, itulah nama yang muncul di ponselnya.

"Kamu boleh keluar, Gun!" ujarnya sambil meraih benda pipih itu.

"Baik, Pak. Permisi." pamit Gunawan lalu memutar tubuhnya dan melangkah meninggalkan ruangan kerja Pak Satria.

"Halo, Pih. Apa kabar?" Ketika panggilan telepon ia angkat, suara seorang wanita terdengar di telinganya.

"Halo, anak gadis, Papih. Kabar Papih baik, Sayang. Kamu menghubungi Papih, apa kamu ingin memberi kabar kalau kamu akan pulang ke Jakarta?" Setiap kali berkomunikasi via telepon, Pak Satria selalu bertanya, kapan putri semata wayangnya itu akan kembali ke Indonesia? Sebab, sejak lulus kuliah di salah satu universitas di Amerika, Bella memutuskan tetap berada di negeri Paman Sam dan membuka perusahaan advertising dengan teman-temannya di sana. Tentu saja itu membuat Pak Satria dan istrinya merasakan rindu pada putri semata wayang mereka.

"Hahaha, tebakan Papih kali ini tepat banget. Minggu depan Bella memang ada rencana pulang ke Jakarta, Pih," sahut Bella dengan tertawa kecil.

"Benar kamu akan pulang, Sayang?" Pak Satria sangat antusias mendengar putrinya akan pulang. Suatu hal yang selalu ia nanti-nanti.

"Benarlah, Pih. Masa Bella bohong sama Papih!? Kualat kalo bohong sama orang tua." Bella menegaskan jika dia tidak berbohong.

"Apa kamu akan membawa calon menantu Papih juga?" Usia Bella saat ini sudah menginjak dua puluh lima tahun, wajar jika Pak Satria berharap putrinya segera mencari pendamping hidup.

"Bella masih muda, Pih. Masih ingin menikmati kebebasan. nggak ingin dipusingkan dengan urusan suami dan anak." Bella selalu menolak ketika sang papa mendesaknya untuk segera mengakhiri status single-nya.

"Umurmu sudah dua puluh lima tahun, Sayang. Papih rasa, itu usia yang ideal untuk wanita berumah tangga." Sementara Pak Satria menganggap Bella sudah cukup umur untuk mencari pendamping hidup.

"Pih, Bella telepon untuk kasih kabar akan pulang ke Jakarta, jangan diusik dengan perdebatan kita soal ini, deh!" Bella enggan terus membahas soal pernikahan. "Ya udah, deh, Pih. Bella tutup teleponnya dulu, udah malam, mau istirahat. Bye, Pih." Selisih waktu yang cukup berbeda jauh antara waktu Jakarta dan Los Angeles membuat Bella tak berlama-lama berkomunikasi dan memutuskan mengakhiri percakapan mereka.

❤❤❤

Jangan lupa baca episode berikutnya ya! Makasih.

Biar lebih menarik beberapa adegan aku kasih ilustrasi gambar anime-nya. Gimana menurut readers?

1
Dest Cookies
bella makin berani meggoda gilang...bikin hati gilang cenat cenut...aku yakin bella juga udah jatuh cinta sama gilang..
Juwitae
🤣🤣🤣🤣
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ՇɧeeՐՏ🍻
di bikin sport jantung deh Gilang sama Bella.makin gak karuan hati Gilang kalau Bella semakin berani menggoda Gilang.pengen tau sampai kapan pertahanan Gilang akan goyah😄
ρυтяσ kang'typo✨
lagi kencan mala bahas boss🤣🤣🤣tapi q suka ko secara tidak langsung Jimmy memberi gambaran tentang Gilang pada Bella
ρυтяσ kang'typo✨
Jimmy gercep itu Lang... 🤣🤣🤣u mah fokus cemburu doang g ada misi apa pun 🤭🤭
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ՇɧeeՐՏ🍻
ada untungnya juga Bella pergi dinner sama Jimmy.rahasia tentang Gilang di umbar sama Jimmy tanpa perlu repot2 Bella mencari tau sendiri😄
bakal makin gencar gak nih Bella menggoda Gilang setelah dengar cerita Jimmy😁
Dest Cookies
secara tidak langsung jimmy sudah memberi gambaran tentang kepribadian gilang.. bella mulai kagum.. lama2 jatuh cinta...
Juwitae
Terbuka sedikit² supaya Bella tidak salah sangka terus sama Gilang
Esther
Jimmy gak sadar kalau Bela lagi cari informasi tentang Gilang😄
Juwitae
Dasar asisten ga ada akhlak🤣🤣
Dest Cookies
beneran cemburu nih gilang.. rasa yg belum disadari oleh gilang...
Esther
Tambah panas nih Gilang, asistennya selangkah lebih maju sudah berani mengajak Bella kencan🤭🤣
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ՇɧeeՐՏ🍻
panas pasti Gilang di ledek begitu sama asistennya sendiri. jangan2 Gilang ikut pergi memata-matai Jimmy sama Bella nih..
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ՇɧeeՐՏ🍻
sekarang ikuti dulu permainan Jimmy.setelah itu kasih dia shock terapi biar jantungnya kuat😂
Dest Cookies
waduh..gawat dong.. .. bella di dekitin sama jimy.. tp aku yakin bella bisa jaga diri.. jd tambah greget nih ..
.
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ՇɧeeՐՏ🍻
Bella yang gak mau kali Jim di goda sama kamu.dia bukan wanita yang mudah tergoda.tujuan dia di kantor Mahesa Persada kan untuk lebih tau Gilang seperti apa.kalau nanti pas tau Bella anak pak Satria,malu kamu seumur-umur Jim udah berani godain Bella😄
ρυтяσ kang'typo✨
eee ada yang g rela tuh kalo Jimmy mendekati Bella beneran, mana dia rela batal tunangan demi Bella 🤭🤭🤭
Juwitae
langsung di tembak kan. Ayo ngaku cemburu gak Gilang?🤭😄
ρυтяσ kang'typo✨
ciyeeeee cemburu... pasti mengelak tuh Gilang🤣🤣masa iya mau bilang cemburu g mungkin la ya
ρυтяσ kang'typo✨
waaaah.... makin seru ka, hayo loh u skakmat kan Lang🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!