SINOPSIS
Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.
Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 ARAH JAM PULANG
Jarum jam mula menuju angka delapan malam. Suasana di luar sana sudah mulai dihiasi oleh paduan suara jangkrik dan embusan angin malam yang membawa hawa dingin. Bagi Gian, waktu sudah menunjukkan batas maksimal kesopanannya bertamu. Ia melirik Reo, sahabatnya yang masih asyik mengunyah sisa keripik kentang di toples dengan wajah tanpa dosa, seolah rumah ini adalah panti asuhan tempatnya dibesarkan. Merasa tak enak hati jika harus terus mengganggu waktu istirahat sang pemilik rumah, Gian akhirnya menyikut rusuk Reo, memberikan kode keras bahwa ini adalah saatnya mereka angkat kaki dari tempat itu.
"Gree, kita pamit pulang dulu, ya. Udah malam, takutnya malah jadi pajangan ruang tamu kalau kelamaan di sini," ujar Gian setengah bercanda, berusaha terdengar sesopan mungkin kepada Gretta—atau yang juga disapa Alesia.
Mereka kini sedang melangkah menuruni anak tangga, bersiap melewati area lantai bawah yang kebetulan menyatu dengan toko kue milik Tante Lesa, ibunda Gretta. Wangi mentega yang dipanggang, ekstrak vanila, dan lelehan cokklat masih menguar dengan sangat kuat, menguji iman siapa pun yang melewatinya, terutama perut Reo.
"Hee, tunggu dulu kalian berdua! Ini kuenya dibawa sekalian," seru sebuah suara lembut dari arah pintu kasir. Tante Lesa, wanita paruh baya yang selalu tampil modis dengan celemek berenda andalannya, berjalan menghampiri mereka. Tangannya dengan lincah menyodorkan dua bungkus kotak karton berwarna pastel yang dari aromanya saja sudah bisa dipastikan berisi potongan-potongan kue cokklat.
Gian, yang urat malunya masih berfungsi dengan sangat baik dan menjunjung tinggi harkat martabat sebagai tamu yang tahu diri, langsung tersentak kaget. "Eh, Tante... aduh, tidak usah repot-repot, Tante!" tolak Gian tersenyum sungkan, mengangkat kedua tangannya. Ia merasa sangat tidak enak karena sudah menghabiskan banyak sekali camilan di lantai atas tadi. "Kita ini sudah terlalu banyak makan di rumah Tante. Nggak enak, beneran."
Namun, Tante Lesa hanya tertawa renyah, mengibaskan tangannya seolah penolakan Gian hanyalah angin lalu. "Alah, tidak apa-apa, Gian. Toko Tante juga sudah tutup jam segini. Makanya itu sisanya kalian ambil saja, daripada nanti kebuang dan mubazir. Lumayan kan buat cemilan kalian di rumah."
Mendengar kata 'cemilan' dan 'gratis', antena radar di kepala Reo mendadak berdiri tegak. Mata pemuda itu berbinar terang benderang bagaikan melihat harta karun bajak laut yang telah lama hilang. Dengan wajah tengil yang tingkat ketidak tahu malunya melampaui batas normal, Reo maju selangkah dan meraih kedua kotak itu tanpa ragu.
"Wah, Tante ini memang bidadari tak bersayap! Baik sekali sih sama kita," puji Reo dengan cengiran lebar yang dibuat-buat, memeluk kotak kue itu layaknya anak kucing. "Ngomong-ngomong, Tante... kalau besok-besok ada sisa kue lagi, jangan sungkan-sungkan hubungi aku yah, Tante! Aku siaga dua puluh empat jam!"
Bugh!
Sebuah sikutan tajam dan tanpa ampun mendarat telak di lengan Reo. "Ihh, kamu ini bisa diam tidak sih! Malu-maluin!" desis Gian melalui sela-sela giginya, menatap Reo dengan tatapan membunuh sambil menyenggol lengannya dengan keras.
Tante Lesa malah terkekeh melihat tingkah laku Tom dan Jerry di hadapannya ini. "Hahaha, kalian ini lucu sekali. Tidak apa-apa kok, Gian. Santai saja. Setiap toko tutup pasti kadang ada saja sisanya, walaupun kadang juga habis terjual semuanya," ujar Tante Lesa dengan senyum ramahnya yang khas.
Gian menghela napas pasrah, berusaha menata kembali sisa-sisa wibawanya yang baru saja dihancurkan oleh temannya itu. "Ya sudah, Tante. Terima kasih banyak yah untuk kuenya. Merepotkan sekali. Kita pamit pulang dulu, Tante," pekik Gian tersenyum, membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda hormat.
Baru saja sebelah kaki mereka bersiap melangkah ke arah pintu keluar, Tante Lesa kembali menyeletuk dengan santai. "Eh, kalian udah mau pulang sekarang banget? Kenapa nggak sekalian makan malem aja di sini? Biar Tante masak banyak nanti"
Mendengar kata 'makan malam', pupil mata Reo langsung membesar. Tubuhnya seolah tersengat aliran listrik kebahagiaan. Mulutnya perlahan terbuka lebar, bersiap untuk merangkai sebuah kalimat persetujuan. "Wah, kebetul....."
SLAP!
Belum sempat Reo menyelesaikan satu kata, tangan Gian dengan kecepatan kilat menyambar dan membekap mulut Reo dengan sangat kuat. Gian, dengan refleks bertahan hidup dari rasa malu, langsung mengunci pergerakan temannya itu. Reo memberontak, mengeluarkan suara-suara teredam "Mmm! Mmphh!" dari balik tangan Gian.
"T-tidak terima kasih untuk ajakannya, Tante!" potong Gian dengan suara lantang demi menutupi suara rontaan Reo. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. "T-tapi sayangnya, aku dan Reo masih ada tugas sekolah yang menumpuk dan harus dikerjakan malam ini juga! Kita pamit dulu yah, Tante! Permisiii!"
Tanpa menunggu balasan, Gian langsung mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menarik kerah baju Reo. Ia menyeret temannya itu keluar dari toko dengan brutal, layaknya petugas keamanan yang mengusir penyusup. Reo yang terseret mundur hanya bisa meronta-ronta dramatis, namun apalah dayanya melawan kepanikan Gian.
Ketika mereka akhirnya berhasil keluar dari toko dan Gian melepaskan bekapannya, Reo dengan napas terengah-engah dan raut wajah tidak rela menolehkan kepalanya kembali ke arah pintu kaca yang terbuka.
"Tanteeee! Makasih buat kuenyaaa!" teriak Reo dari arah pintu dengan sisa-sisa tenaga, masih berusaha eksis.
"Iya, sama-sama!" pekik Tante Lesa dari dalam toko. Wanita paruh baya itu berdiri mematung sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia benar-benar heran sekaligus takjub dengan tingkah laku absurd dua anak remaja laki-laki tersebut.
Sementara itu, di ambang tangga, Alesia tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan mereka. Ia memegangi perutnya yang kram, menyaksikan adegan seret-menyeret tadi yang bagaikan film komedi.
"Temen-temenmu itu sungguh membingungkan ya," pekik Lesa pada putrinya, tawanya masih tersisa saat ia berbalik karena masih ada etalase yang harus segera dibereskan.
Sedangkan Alesia hanya bisa cengengesan membenarkan ucapan mamanya, masih mengusap sudut matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa.
Lima belas menit kemudian, di dalam kotak besi lift yang bergerak mulus naik menuju lantai apartemen mereka. Suasana hening sejenak menyelimuti, sebelum akhirnya dipecahkan oleh omelan protes dari Reo.
"Hee, Gian! Coba jelasin, kenapa kamu main tutup mulutku tadi?!" seru Reo dengan nada kesal yang meledak-ledak. Ia menatap temannya itu sambil memeluk dua kotak kue pemberian Tante Lesa erat-erat. "Kan kita bisa sekalian makan malam dengan keluarga Gretta! Makan gratis, Gian! Makanan rumahan!"
Gian menoleh perlahan, menatap Reo dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang sarat akan lelah mental.
"Kamu tuh ya, tolong sadar diri dan tahu tempat sedikit, dong," balas Gian dengan nada datar dan menusuk. "Tolong jangan seenaknya begitu. Masak kamu nggak malu sih? Kita udah disuguhi macam-macam makanan, pulangnya masih dibawain kue, terus kamu mau nambah numpang makan malam? Walaupun mama Gretta kelihatannya iya-iya aja dan ikhlas, kita yang numpang ini harus punya tata krama!"
"Tapi kan..." Reo mencoba membantah, bibirnya mengerucut ke depan.
Ting!
Pintu lift terbuka. Gian bahkan tidak mempedulikan alasan lanjutan dari Reo. Ia melangkah keluar begitu saja menelusuri lorong yang sepi menuju pintu apartemennya. Sesampainya di depan pintu, Gian membuka kunci pintu, lalu melenggang masuk tanpa menoleh ke belakang sedikit pun, langsung menuju ke kamarnya.
Brak!
Pintu kamar Gian tertutup rapat, seolah menjadi tanda titik dari perdebatan malam itu.
Di ruang tengah, Reo mendengus kesal. Ia meletakkan dua kotak kue itu di atas meja makan. Sambil bertolak pinggang, ia menatap pintu kamar Gian yang terkunci rapat itu dengan pandangan sebal.
"Ih, kenapa sih diaa? Sensian banget kayak bapak-bapak kurang tidur!" gumam Reo pada dirinya sendiri. Sambil melangkah masuk ke kamarnya.