Arvand Pratama hanyalah seorang guru honorer santai yang menjunjung tinggi prinsip "kerja minimal, damai maksimal". Namun, hidupnya yang tenang mendadak hancur ketika ia dijebak untuk menjadi wali kelas 12 F—kelas buangan paling brutal, berisi sekumpulan murid bermasalah yang dicap sebagai parasit sekolah tanpa masa depan.
Saat Arvand berniat melarikan diri dan mengundurkan diri, sebuah Sistem Mengajar Mutlak misterius mendadak aktif di kepalanya. Sistem ini memberinya pilihan ekstrem: terima misi menjinakkan kelas 12 F dengan imbalan uang melimpah dan kemampuan guru supranatural, atau menolak dan mati mendadak karena serangan jantung!
Terjebak di antara ancaman kematian sistem, janji manis kepala sekolah untuk dinikahkan dengan guru matematika yang cantik, dan keliaran murid-murid 12 F yang siap menguji kewarasannya, petualangan Arvand pun dimulai. Mampukah guru honorer bermodal sistem ini mengubah kumpulan "produk gagal" menjadi barisan murid terbaik, atau justru ia yang akan mati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Sorot Mata Selidik di Balik Kilau Lampu Kristal
Suasana di lorong utama Restoran Nusantara Royale yang sempat membeku akibat insiden hampir tumpahnya sup buntut premium kini perlahan-lahan mulai mencair. Pelayan muda bernama Rian telah melangkah mundur dengan tubuh yang masih membungkuk khidmat, mendekap nampan peraknya laksana memeluk harta karun paling berharga dalam hidupnya setelah mendapatkan pengampunan dan perlindungan langsung dari sosok Arvand Pratama.
Namun, tepat ketika Tuan Gunawan—sang manajer operasional sekaligus salah satu pemilik saham minoritas restoran bintang lima tersebut—hendak membalikkan badannya untuk memandu jalan, langkah kaki Arvand mendadak terhenti kembali.
Sepasang mata tajam milik sang dewa finansial baru itu tiba-tiba menyipit, memancarkan seberkas sorot mata selidik yang sangat intens dan terarah lurus ke arah wajah Tuan Gunawan. Atribut karisma dan kecerdasan sosiologis yang tertanam di dalam diri Arvand berkat intervensi Sistem Mengajar Mutlak mendadak bergejolak, menciptakan sebuah tekanan udara yang entah kenapa terasa sangat berat namun dipenuhi misteri di koridor mewah berlantai marmer Italia tersebut.
Arvand memiringkan sedikit kepalanya, menatap postur tubuh Tuan Gunawan dari ujung rambut hingga ujung sepatu pantofel nya dengan gaya seorang kurator seni yang sedang menilai sebuah mahakarya kuno.
"Tunggu sebentar, Tuan Gunawan..." panggil Arvand dengan nada suara yang sengaja diberatkan, bergaung rendah di antara pilar-pilar jati besar yang kokoh.
"Saya baru saja mengingat sesuatu tentang nama Anda. Izinkan saya menyelidiki ini secara saksama. Apakah Anda ini... sebenarnya adalah Tom Gunawan? Sosok desainer muda jenius kebanggaan Indonesia yang karya-karya busana haute couture tradisionalnya telah berhasil menembus dan mengguncang panggung mode internasional di Paris dan New York Fashion Week beberapa waktu lalu?"
Deg!
Mendengar pertanyaan menyelidik yang keluar dari mulut seorang penguasa tertinggi pemegang seratus persen saham Titan Artha Group, jantung Tuan Gunawan laksana dihantam oleh palu gada raksasa. Wajah pria pria muda yang biasanya selalu tenang dalam menghadapi para pejabat tinggi negara itu seketika berubah menjadi sangat kaku, pucat, dan dipenuhi oleh kepanikan psikologis yang luar biasa dahsyat.
Di dalam benak Tuan Gunawan yang sedang didera ketakutan, ia mengira bahwa Arvand sedang melakukan interogasi latar belakang atau sedang menyindir dirinya atas sebuah kesalahan birokrasi yang tidak ia ketahui. Tubuhnya yang terbalut setelan jas abu-abu mahal itu mendadak membungkuk lebih dalam, sementara kedua belah telapak tangannya merapat dengan sangat kencang hingga buku-buku jarinya memutih.
"B-Bukan... b-bukan saya, Tuan Muda Arvand!" jawab Tuan Gunawan dengan nada suara yang sangat gemetaran, terbata-bata laksana seorang terdakwa di depan meja hijau pengadilan militer.
"Demi Allah, Tuan Muda... nama saya memang Gunawan, tapi saya sama sekali bukan Tom Gunawan sang desainer internasional yang agung itu! Saya hanyalah seorang pengelola restoran rendahan yang kebetulan memiliki sedikit saham minoritas di tempat ini untuk melayani tamu-tamu agung seperti Tuan Muda! Saya tidak berani melompati batas takdir untuk mengaku-ngaku sebagai tokoh besar seperti itu di hadapan Tuan Muda!"
Arvand tidak langsung melepaskan pandangannya. Ia justru melangkah maju satu langkah, memperpendek jarak di antara mereka, lalu mengetuk-ngetuk kan jari telunjuk tangan kirinya ke atas permukaan casing logam titanium dari Rolex Daytona yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ah, masa bukan?" ucap Arvand lagi, kali ini dengan intonasi suara yang ditekan sedemikian rupa seolah-olah ia sedang memegang sebuah bukti hukum yang tidak terbantahkan.
"Kamu pasti Tom Gunawan. Coba pikirkan logika sosiologisnya secara sederhana. Nama kamu adalah Gunawan, dan desainer internasional itu namanya juga Tom Gunawan. Ada kesamaan nama yang sangat mutlak di sana, dan kalian berdua sama-sama menggunakan marga atau nama keluarga Gunawan. Secara hukum probabilitas struktural, bukankah itu berarti kalian berdua adalah orang yang sama atau setidaknya berada di dalam satu silsilah keturunan yang sama?"
Mendengar penjelasan dan argumen logika "nama keluarga" yang disampaikan oleh Arvand Pratama dengan ekspresi wajah yang bener-bener lempeng, serius, dan tanpa dosa tersebut, atmosfer di dalam ruangan utama Restoran Nusantara Royale mendadak berubah menjadi sangat aneh dan menggelikan.
Dua orang wanita resepsionis di balik meja marmer lobi depan yang sejak tadi menguping percakapan langsung menutup mulut mereka menggunakan kedua belah tangan. Sepasang mata mereka berkedip-kedip menahan gejolak tawa yang hampir saja meledak di tenggorokan mereka. Beberapa tamu konglomerat tua dan pejabat daerah di meja VIP terdekat yang ikut mendengarkan ucapan Arvand juga tampak langsung batuk-batuk kecil, meminum air putih mereka dengan tergesa-gesa demi menutupi rasa ingin tertawa yang teramat sangat.
Pikiran massal yang sangat kocak dan serempak mendadak melintas di dalam benak setiap orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
‘Ya Tuhan... ini Tuan Muda Arvand logika macam apa yang dipakai?!’ batin salah satu pengusaha properti di sudut meja dengan bahu yang naik turun menahan tawa. ‘Berarti... kalau di dunia ini ada orang yang namanya ada unsur 'Pratama'-nya, misalnya Joko Pratama, Budi Pratama, atau bahkan preman jalanan yang namanya Pratama... itu artinya mereka semua berada dalam satu marga, satu silsilah keluarga luhur, dan berkerabat dekat dengan sang dewa finansial pemilik Titan Artha Group ini?! Ini bener-bener teori sosiologi paling ajaib dan paling ngawur yang pernah keluar dari mulut seorang miliarder!’
Tuan Gunawan sendiri yang menjadi objek interogasi hanya bisa berdiri kaku dengan dahi yang dibanjiri oleh keringat dingin. Ia tidak tahu harus menjawab apa lagi untuk membantah logika unik dari bos besarnya itu tanpa harus menyinggung perasaan sang penguasa rahasia.
Melihat wajah Tuan Gunawan yang sudah hampir menangis karena ketakutan psikologis yang luar biasa, Arvand Pratama mendadak melepaskan seluruh ketegangan otot wajahnya. Ia menarik kembali tubuh tegapnya, lalu meledak dalam sebuah tawa kecil yang sangat renyah, hangat, dan dipenuhi oleh pesona keramahan tradisional Wonosobo yang bener-bener menyejukkan hati.
“Hahaha... Mboten usah tegang begitu, Tuan Gunawan. Saya hanya bercanda santai saja nggih,” ucap Arvand sambil menepuk-nepuk pundak Tuan Gunawan dengan gestur tangan yang sangat ramah dan penuh keakraban seorang kawan lama, seketika meluruhkan seluruh dinding intimidasi yang tadi sempat mengurung ruangan tersebut.
"Jangan dimasukkan ke dalam hati. Saya tahu Anda bukan desainer internasional itu. Saya sengaja melempar guyonan kecil ini supaya otot-otot wajah Anda mboten kaku dan mboten terlalu tegang dalam melayani saya malam ini. Di mata saya, semua manusia itu sama saja posisinya, yang membedakan hanyalah bagaimana cara kita menjaga adab dan kesopanan di hadapan sesama."
Mendengar pengakuan jujur dari Arvand bahwa itu semua hanyalah sebuah candaan segar di penghujung malam, Tuan Gunawan seketika mengembuskan napas panjang yang sangat lega dari dadanya. Jantungnya yang tadi berdegup kencang laksana genderang perang kini perlahan kembali ke ritme normalnya. Ia menyeka keringat di pelipisnya dengan saputangan sambil memaksakan sebuah senyuman hormat.
"A-Aduh, Tuan Muda Arvand... jenengan bener-bener membuat nyawa saya hampir saja terbang ke langit tadi," ucap Tuan Gunawan dengan nada suara yang sudah jauh lebih santai namun tetap menjaga rasa takzim yang setinggi-tingginya. "Saya mboten mengira kalau seorang pemilik tunggal Titan Artha Group yang menggetarkan pusat bisnis kota malam ini, ternyata memiliki selera humor yang sangat merakyat dan suka bercanda seperti ini."
Arvand terkekeh pelan, melirik ke arah arloji Rolex Daytona-nya yang menunjukkan waktu telah bergeser semakin mendekati angka pukul sepuluh malam. Ia kemudian membetulkan posisi jas hitamnya dengan gerakan yang sangat rapi.
"Nggih pun, Tuan Gunawan. Guyonannya kita sudahi dulu nggih," tutur Arvand, beralih kembali ke dalam mode serius yang penuh wibawa namun tetap menjaga kelembutan bahasa. "Sekarang, tolong beri tahu saya. Di mana sebenarnya tempat meja atau ruangan yang sudah dipesan oleh Bapak Drs. Hadi Wicaksana bersama keluarganya? Apakah posisi koordinat ruangannya terhubung langsung di dekat meja resepsionis utama yang mana?"
Tuan Gunawan langsung menegakkan posisi tubuhnya, beralih ke mode pelayanan profesional nomor satu institusi Nusantara Royale. Ia melangkah satu langkah ke arah samping, lalu mengulurkan lengan kanannya yang terbalut lengan jas dengan gerakan lurus yang sangat anggun memandu arah pandangan mata Arvand ke arah area koridor VIP eksklusif yang berada tepat di balik dinding partisi ukiran kayu jati meja resepsionis depan.
"Mari saya tunjukkan secara langsung, Tuan Muda Arvand," jelas Tuan Gunawan dengan intonasi suara yang sangat tertata raki dan jelas.
"Bapak Drs. Hadi Wicaksana selaku Kepala Sekolah beserta putri dan keluarganya... tidak duduk di area aula umum. Beliau telah memesan tempat paling premium di dalam restoran kami, yaitu 'Ruang Privat VIP Singgasana Kencana 01'. Lokasinya berada tepat di koridor sebelah kanan, berjalan lurus melewati meja resepsionis utama nomor dua yang ber marmer hitam itu, Tuan Muda. Di sana suasananya sangat sunyi, aman dari sorotan kamera, dan memiliki pemandangan langsung ke arah taman air mancur buatan yang sangat indah di halaman belakang."
Tuan Gunawan menjeda kalimatnya sejenak, memberikan sebuah bungkukan hormat lanjutan. "Mari, Tuan Muda Arvand... saya sendiri bersama para kepala pelayan yang akan mengantarkan dan membukakan pintu singgasana kencana itu untuk Tuan Muda malam ini."
Arvand Pratama mengangguk-angguk kecil mendengarkan penjelasan terperinci dari Tuan Gunawan. Sepasang pupil matanya berkilat tajam, menatap ke arah lorong remang-remang yang berada di balik meja resepsionis tersebut. Di dalam kedalaman jiwanya, sebuah riak antisipasi dari Sistem Mengajar Mutlak kembali bergetar lembut, menandakan bahwa di balik pintu kayu jati ruangan privat tersebut... sebuah lembaran takdir baru yang melibatkan masa depan asmaranya bersama Yasmin Adiba—putri kepala sekolah yang terkenal akan kecantikan budi pekertinya—akan segera dimulai dengan sangat terhormat dan penuh kemuliaan adab nusantara yang agung.
Saya selalu baca komentar kalian, dan siapa tahu ada ide yang bisa menginspirasi jalan cerita ke depannya. Terima kasih sudah mendukung novel ini! 🙏🔥