NovelToon NovelToon
Aku Pergi Dan Tak Kembali

Aku Pergi Dan Tak Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 5- Jejak yang tidak pernah selesai

Jejak yang Tidak Pernah Selesai

Hujan turun pelan malam itu, seperti sengaja meredam suara kota yang biasanya bising. Lampu-lampu gedung Aditama Group masih menyala, meski sebagian besar lantai sudah mulai sepi. Hanya beberapa ruang yang tetap hidup dan salah satunya adalah ruang kerja Mona.

Ia masih di sana, jam di layar laptop menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, tapi Mona belum juga bergerak dari kursinya. Matanya lelah, tapi pikirannya tidak berhenti bekerja. File kontrak itu masih terbuka, baris demi baris ia baca ulang, seolah berharap menemukan sesuatu yang selama ini terlewat, tapi semakin ia membaca, semakin jelas satu hal, ada sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana dan itu bukan kesalahan ketik, itu perubahan yang disengaja.

Mona menarik napas panjang, lalu bersandar di kursi. “Siapa yang mengubahnya…?” gumamnya pelan.

Di saat yang sama, ponselnya bergetar. Satu pesan masuk, tanpa nama pengirim.

“Hentikan apa yang kamu lakukan sebelum kamu benar-benar terlihat.” Jantung Mona langsung jatuh.

Ia menatap layar lama sekali, memastikan itu bukan halusinasi karena kelelahan. Tapi pesan itu tetap ada, dingkat, dingin, Mengancam.

Tangannya sedikit gemetar saat ia mencoba membuka riwayat pesan. Tidak ada nomor, tidak ada identitas, hanya satu pesan itu saja. Seolah tidak pernah meninggalkan jejak.

Mona menutup laptopnya perlahan. Untuk pertama kalinya sejak bekerja di Aditama Group, ia merasa diawasi.

Di lantai atas gedung itu, Wira berdiri di ruangannya, masih belum pulang. Ia memegang map hitam yang sama sejak tadi sore. Dokumen internal, data pergerakan file sistem, emua jejak digital yang seharusnya tidak bisa dimanipulasi oleh sembarang orang, namun kenyataannya berbeda.

Ada akses yang tidak sah dan itu terjadi tepat di file yang dikerjakan Mona. Wira menghela napas pelan, lalu melempar map itu ke meja.

“Aku sudah bilang jangan sentuh dia…” gumamnya pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri.

Pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. Seorang pria masuk rapi, tenang, dengan senyum yang terlalu terkontrol.

“Masih begadang juga, Wira?” suaranya ringan, tapi dingin di baliknya.

Wira tidak menoleh. “Keluar, Raka.”

Raka justru tersenyum kecil dan duduk tanpa izin di kursi depan meja Wira.

“Kasihan sekali sekretarismu itu,” katanya santai. “Baru masuk dunia perusahaan besar, sudah kena permainan kotor.”

Mata Wira mengeras. “Jangan bawa-bawa dia.”

Raka mengangkat kedua tangan, pura-pura menyerah. “Aku cuma bilang fakta.”

Hening sesaat, hujan terdengar lebih keras di luar, lalu Raka bersandar menatap Wira lebih dalam.

“Kamu tahu kan, semakin kamu melindunginya, semakin dia jadi target.” Wira akhirnya menatapnya.

Tatapan itu tajam, dingin, tapi ada sesuatu yang lebih berbahaya di dalamnya.

“Kalau kamu yang menyentuhnya,” suara Wira pelan, “aku tidak akan anggap ini permainan lagi.”

Raka tersenyum tipis. “Sudah terlambat, Wira.”

*******

Keesokan paginya, Mona datang ke kantor dengan mata yang tidak benar-benar tidur. Ia mencoba bersikap normal. Menyapa resepsionis, tersenyum kecil pada beberapa staf, lalu masuk ke ruang kerjanya seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari caranya berjalan lebih hati-hati, lebih waspada.

Seolah setiap sudut ruangan bisa berubah menjadi ancaman. Belum sempat ia duduk, telepon meja berbunyi.

“Masuk ke ruang Pak Wira sekarang,” suara asisten direktur terdengar singkat. Mona menutup mata sejenak. Hari baru, masalah baru.

Ruang Wira kali ini tidak seperti biasanya. Tidak ada ketegangan dingin seperti kemarin. Yang ada justru suasana lebih berat lebih serius.

Wira berdiri di dekat jendela, tidak langsung menoleh saat Mona masuk.

“Duduk,” katanya singkat.

Mona menurut, beberapa detik berlalu dalam diam. Lalu Wira meletakkan sebuah flash drive di atas meja.

“Ini log akses file kontrak,” katanya.

Mona menatapnya bingung. “Saya tidak mengerti, Pak…”

Wira akhirnya menoleh. “Semua perubahan di file itu bukan berasal dari sistem internal biasa.”

Mona menegang. “Lalu dari mana?”

Wira menatapnya lama, terlalu lama lagi.

“Dari seseorang yang punya akses tingkat tinggi.” Mona menelan ludah.

“Dan itu berarti… ada orang dalam?”

Wira tidak langsung menjawab, namun diamnya sudah cukup menjadi jawaban. Mona merasa dadanya sesak.

“Kenapa saya yang terkena imbasnya?” suaranya hampir berbisik.

Wira berjalan mendekat, lalu berhenti di sisi meja.

“Karena kamu yang pertama menyadarinya.”

Kalimat itu tidak menenangkan, justru membuat semuanya terasa lebih buruk.

Mona mengangkat wajahnya. “Jadi saya harus bagaimana?”

Wira menatapnya tajam, lalu berkata pelan, “Mulai hari ini, kamu tidak sendirian.”

Hening.

Mona tidak langsung mengerti maksudnya. Sampai Wira menambahkan satu kalimat lagi.

“Dan kamu akan selalu berada dalam pengawasanku.”

Jantung Mona kembali berdebar tidak normal.

“Pengawasan… atau perlindungan, Pak?” tanyanya hati-hati.

Wira tidak langsung menjawab, tapi untuk sesaat, ekspresinya melembut sedikit.

“Dua-duanya.”

Di luar ruang itu, seseorang berdiri di balik kaca buram koridor.

Raka, melihat ke arah pintu ruang Wira yang tertutup, lalu tersenyum kecil.

“Semakin menarik,” gumamnya pelan.

Dan di tangannya, ada salinan akses sistem yang seharusnya hanya dimiliki oleh satu orang saja.

Wira Aditama dan di titik itu, Mona belum sadar satu hal penting, masalah yang ia hadapi bukan lagi tentang kontrak perusahaan.

Tapi tentang dirinya sendiri… yang sudah terlanjur masuk terlalu dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!