Sinopsis: Kembalinya Sang Dewa (Zeus Is Back)
Tiga tahun lalu, dunia siber internasional diguncang oleh kematian mendadak "Zeus", sang Raja Hacker legendaris yang mampu membobol sistem keamanan Pentagon dan bank dunia dalam hitungan detik. Tak ada yang tahu bahwa Zeus dikhianati oleh rekannya sendiri demi uang dan kekuasaan.
Demi bertahan hidup, Zeus memalsukan kematiannya dan menyamar sebagai Kenji, seorang pemuda biasa yang bekerja di toko servis komputer kecil yang kumuh. Dia hidup miskin, dihina oleh tetangga, dan diremehkan oleh semua orang. Kenji rela mengubur masa lalu kelamnya demi kehidupan yang tenang bersama adik perempuan satu-satunya, Hana.
Namun, ketenangan itu hancur saat Hana dijebak oleh Megacorp—korporasi raksasa yang korup—atas tuduhan pencurian data rahasia. Hana diancam hukuman seumur hidup dan denda miliaran rupiah yang tak masuk akal hingga membuatnya jatuh koma karena tekanan mental. Saat hukum bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan, Kenji sadar bahwa dunia tidak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Dermaga Logistik
Sisa kabut pagi menggantung rendah di atas Teluk Jakarta, bercampur dengan bau karat, solar, dan garam yang menyengat hidung. Dermaga Logistik 21 di Pelabuhan Tanjung Priok terlihat seperti kuburan besi raksasa yang tertidur. Ratusan kontainer jingga dan hijau
tersusun egois, menghalangi cahaya matahari terbit yang berjuang menembus awan kelabu. Di ujung beton yang menjorok ke laut, sebuah kapal kargo berbendera Panama bersandar sunyi, mesinnya mendengung rendah seperti erangan binatang buas yang sekarat.
Di dalam kabin kontrol kontainer yang gelap, Viper berdiri mematung di balik kaca jendela yang buram oleh debu industri. Pria berkebangsaan Prancis itu tidak lagi
mengenakan setelan jas taktisnya yang rapi. Rompi anti-pelurunya robek di bagian bahu, menyisakan noda darah kering yang mulai menghitam. Tatapan matanya yang biasanya sedingin reptil kini dipenuhi oleh sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan: ketakutan yang murni.
Di atas meja besi di depannya, tiga laptop militer berspesifikasi tinggi berkedip-kedip tak berdaya. Layarnya tidak lagi menampilkan diagram
pelacakan GPS atau arus lalu lintas pelabuhan. Semuanya mati, menyisakan satu baris kalimat pendek berwarna merah darah yang berkedip pelan, seperti detak jantung yang menghitung mundur sisa usianya.
“The King is Home.”
"Bagaimana mungkin..." Viper berbisik, suaranya parau dan bergetar. Dia mencengkeram tepi meja besi hingga jemarinya memutih.
"Sinyal itu... itu prototipe enkripsi yang menghancurkan pangkalan siber kita di Washington tiga tahun lalu. Kenapa iblis itu bisa ada di kota kumuh ini?"
Pintu kabin tiba-tiba berderit terbuka, menampakkan seorang agen lapangan dengan
napas terengah-engah dan wajah pucat pasi.
"Tuan Viper! Seluruh jaringan komunikasi enkripsi lokal kita terputus. Ponsel satelit, radio frekuensi rendah, bahkan modem darurat kita tidak bisa menangkap sinyal sama sekali. Kita... kita terisolasi total."
Viper tidak menjawab. Dia tahu ini bukan sekadar gangguan jaringan biasa. Ini adalah eksekusi mati digital. Ketika Zeus menyalakan lenteranya, seluruh dunia siber di sekitarnya akan dipaksa tunduk menjadi kegelapan.
Sementara itu, beberapa kilometer dari pelabuhan, Toyota Alphard hitam yang membawa Kenji masih melaju membelah jalanan tol lingkar luar yang mulai merayap padat. Di dalam kabin tengah yang sunyi, aroma rokok murah milik Kenji mengambang tipis, menari-nari di bawah pendaran cahaya biru layar laptop titaniumnya.
Kenji tidak lagi mengetik dengan terburu-buru. Jari-jarinya bergerak dengan ritme yang lambat namun pasti, seolah-olah dia sedang memainkan piano tua yang akrab di jemarinya. Di layar
monitornya, ruang obrolan The Olympus Forum mulai bergetar hebat. Empat ikon dewa yang telah meredup selama seribu hari kini menyala satu per satu, memancarkan aura dominasi yang sanggup menggetarkan jagat maya.
Sebuah pesan teks muncul di bagian atas ruang obrolan, dikirim oleh akun dengan logo jangkar besi yang berkarat.
[Poseidon]: “Zeus! Kau bajingan tua! Tiga tahun aku harus pura-pura jadi investor saham bodoh di laut Kaspia hanya untuk membunuh bosan! Katakan, tikus mana yang harus aku tenggelamkan hari ini? Bursa efek London? Atau jaringan perbankan Zurich?”
Detik berikutnya, sebuah balasan pendek masuk dari akun berlogo tengkorak perak. Kalimatnya dingin, tanpa emotikon, membawa atmosfer liang lahat yang pekat.
[Hades]: “Jangan berisik, Poseidon. Biarkan Zeus bicara. Tanah makam di server pusat Aliansi Hitam sudah aku gali sejak tiga puluh detik yang lalu. Aku hanya butuh koordinat untuk mengubur mereka.”
Kenji menatap baris-baris pesan itu dengan senyuman tipis yang sarat akan kelelahan, namun juga kerinduan yang mendalam. Orang-orang ini adalah monster, jenius yang dikutuk dunia karena terlalu pintar, dan mereka hanya patuh pada satu orang.
Dia mendekatkan jemarinya ke kibor, lalu mengetik satu perintah sederhana.
[Zeus]: “Viper ada di Dermaga 21 Tanjung Priok. Dia mencoba membawa kabur data Hana yang sempat mereka curi semalam. Poseidon, tutup jalur lautnya. Hades, matikan matanya.”
Perintah itu dikirim tanpa embel-embel permohonan. Itu adalah titah mutlak seorang raja.
[Ares]: “Bagianku mana, Abang? Sialan, jangan bilang aku cuma jadi penonton!” Sebuah pesan berapi-api masuk dari Seoul, diiringi ikon ledakan yang berkedip cepat.
[Zeus]: “Ares, kau boleh menghancurkan apa saja yang bergerak di jaringan logistik mereka. Hermes, bersihkan jalurnya agar tidak ada otoritas lokal yang ikut campur.”
[Hermes]: “Dimengerti, My Lord. Dalam lima detik, pelabuhan itu akan hilang dari peta digital Indonesia.”
Kembali di Dermaga 21, malam seolah menolak untuk pergi, menyisakan kegelapan yang mendadak terasa mencekik. Viper melangkah keluar dari kabin kontrol dengan pistol SIG Sauer tertancap di pinggangnya. Dia berlari menyusuri koridor beton menuju ke dermaga tempat kapal kargo Panama itu berada. Dia harus pergi dari pulau ini sebelum badai yang sesungguhnya datang.
Namun, tepat saat kakinya menginjak tangga besi kapal, sebuah suara dengungan keras terdengar dari arah langit pagi yang temaram.
Bzzzzzt!
Seluruh lampu sorot pelabuhan yang berkekuatan ribuan watt mendadak berkedip merah secara serentak. Suara sirine darurat meraung membelah kesunyian, namun suaranya aneh—nada sirine itu meliuk-liuk, berputar, lalu pecah menjadi suara statis yang menyakitkan telinga.
"Apa yang terjadi?!" teriak kapten kapal dari atas dek, wajahnya panik melihat seluruh panel navigasi di ruang kemudi kapalnya mendadak memuntahkan percikan api.
Sistem kemudi otomatis kapal kargo itu berputar sendiri dengan liar ke arah kanan, mengunci poros kemudi hingga hidroliknya menjerit keras. Di bawah air laut yang hitam dan dingin,
baling-baling raksasa kapal itu berputar mundur dengan kecepatan penuh secara paksa, menghantam dinding dermaga beton dengan benturan yang memekakkan telinga.
BLAAAM!
Lambung kapal robek. Air laut pelabuhan yang kotor langsung merangsek masuk,
menenggelamkan ruang mesin dalam hitungan detik. Poseidon telah mengambil alih seluruh sistem kendali satelit maritim yang terhubung ke kapal tersebut. Kapal raksasa itu kini tak ubahnya seperti paus mati yang terdampar di atas lumpur.
"Tuan Viper! Lihat ke atas!" Agen lapangan di belakang Viper berteriak histeris sambil menunjuk ke arah deretan kontainer di sekeliling mereka.
Di atas jalur rel besi, tiga gantry crane—derek
raksasa pengangkut kontainer setinggi gedung lima lantai—mulai bergerak sendiri tanpa ada operator di dalamnya. Lengan-lengan besi raksasa itu menjulur ke bawah, mencengkeram kontainer baja seberat puluhan ton, lalu mengayunkannya dengan liar seperti gada raksasa di tangan monster tak terlihat.
CRASH! CRASH!
Kontainer-kontainer itu dijatuhkan bertubi-tubi, menutup seluruh akses jalan keluar dari Dermaga 21. Mereka terperangkap di dalam labirin besi yang sengaja dibangun oleh Ares untuk mengubur mereka hidup-hidup.
Viper jatuh terduduk di atas dek kapal yang miring. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi seluruh punggungnya. Dia melihat ke langit, di mana belasan drone pengawas pelabuhan kini terbang berputar-putar di atas kepalanya. Lampu kamera drone itu berkedip merah konstan, menatapnya seperti sepasang mata predator yang sedang menikmati ketakutan mangsanya.
Tiba-tiba, pengeras suara pelabuhan yang tadinya mati kembali menyala. Namun, yang keluar bukanlah suara operator wanita yang ramah, melainkan sebuah distorsi suara bariton yang berat dan bergaung, dikirim langsung melalui enkripsi kuantum milik Hades dari Berlin.
"Viper," suara itu menggema di antara runtuhan kontainer, terdengar puitis sekaligus mengerikan. "Kau menghabiskan seluruh hidupmu di dalam kegelapan untuk memburu informasi. Hari ini, kegelapan itu sendiri yang datang untuk menjemputmu. Selamat datang di Tartarus."
Detik berikutnya, seluruh aliran listrik di Dermaga 21 mati total. Totalitas kegelapan langsung menelan pelabuhan itu. Tidak ada lampu darurat, tidak ada pendaran layar ponsel, bahkan lampu indikator drone di langit pun padam.
Dalam kegelapan yang absolut itu, Viper hanya bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang berpacu melawan maut, dan suara langkah kaki yang mendekat dari kejauhan—langkah kaki yang tenang dari seseorang yang menguasai takdir di ujung jemarinya.