NovelToon NovelToon
Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Terlarang
Popularitas:24.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wandhansari

Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : Retak Yang Disengaja

Pagi itu datang terlalu cepat.

Di Mansion Kaelric, Ibu Gerard ikut menyiapkan sarapan dengan dibantu Bik Isa memasak di dapur besar. Veliora pun ikut nimbrung disana.

Kaelric turun dari lantai atas, dia baru saja bangun tidur. Tersentuh dia melihat pemandangan di dapur pagi itu.

Dia berdehem... Semua yang di dapur otomatis menoleh ke sumber suara.

"Hay Dad.... Morning! "

Veliora menyapa dirinya dengan sumringah.

Lalu menghampiri Daddynya yang tampan. Dipeluk cium Daddy gantengnya itu.

"Morning juga, honey...!" Kaelric sekarang sudah gak canggung lagi balas memeluk Veliora, bahkan di hadapan Ibu Gerard ataupun di hadapan asisten rumahnya.

"Coffee, Dad?"

Kaelric mengangguk lalu menuju teras belakang.

Veliora menyusul dari belakang dengan secangkir kopi hitam tanpa gula dan beberapa roti panggang buat sarapan.

Diletakkan kopi dan roti di meja dekat Kaelric. Tapi, sebelum kaki Veliora beranjak ke belakang. Kaelric sudah menyambar pinggang Veliora.

"Eeiit mau kemana, hmm?"

"Balik ke Belakang-lah, Dad!"

Veliora kembali lalu duduk di pangkuan Kaelric. Duduknya yang tadi menyamping, kini mereka berhadapan.

"Sarapan dulu, Vel!"

Kaelric mengedipkan sebelah matanya. Veliora menunduk untuk sampai ke telinga Kaelric.

"Daddy mau sarapan apa?"

Veliora berbisik manja.

"Aku mau sesuatu yang istimewa pagi ini."

Kata Kaelric.

"Yah masak disini, Dad. Gak malu dilihat banyak orang?"

"Ke kamarku. Only one hour."

"Cuma satu jam?. Tumben?"

"Hari ini aku harus segera ke kantor, Veliora. Banyak urusan."

"Oke!"

Akhirnya, Veliora di gendong Kaelric ala bridesmaid menuju kamar Kaelric.

Diturunkannya Veliora perlahan diatas ranjang.

Pagi itu, gairah Kaelric seperti membuncah. Melihat Veliora yang masih bugar di pagi hari seperti itu.

Veliora mendesah... Menuntaskan hasrat liar bersama Kaelric, ayah tirinya. Yang membawa dirinya melayang tinggi ke udara.

###########

Sementara itu, di tempat lain. Hari juga masih pagi. Matahari belum terlalu tinggi.

Langit Jakarta masih berwarna abu pucat ketika lantai utama Adiwinata Corporation sudah hidup dengan ritme yang tidak biasa.

Biasanya semua berjalan rapi. Lebih terstruktur rapi dan yerukur.

Namun pagi ini ada sesuatu yang terasa berbeda.

“Data laporan kuartal sudah tidak sinkron.”

Suara seorang analis terdengar sedikit lebih keras dari seharusnya.

“Bagian mana?”

“Angka distribusi regional. Tidak cocok dengan sistem pusat.”

Satu kalimat saja, namun cukup untuk membuat beberapa kepala menoleh. Situasi agak menegang di pagi hari itu.

“Cek ulang kembali, aku tidak ingin ada kesalahan data. ”

“Sudah, Tuan. Sudah tiga kali kami melakukannya.”

Suasana berubah hening.

Di layar, angka-angka itu terlihat normal. Namun bagi mereka yang terbiasa membaca,

ketidaksesuaian sekecil apa pun adalah tanda bahaya.

Dan ini bukan tanda yang relatif kecil.

“Panggil tim IT, segera!. Sebelum semuanya menjadi hancur.”

Perintah itu langsung bergerak. Namun masalah itu tidak hanya berhenti di sana.

Sepuluh menit kemudian ada berita baru lagi yang bisa membuat jantung berdegup kencang.

“Server cadangan mulai bergerak lambat.”

“Seberapa lambat?”

“Delay hampir dua menit.”

Kali ini, suasana berubah menjadi ketegangan tingkat tinggi.

Dua menit dalam sistem sebesar ini. Kekacauan ini bukan sekadar gangguan. Hal itu adalah suatu celah.

Dan celah seperti itu selalu berbahaya jika dibiarkan terlalu lama.

Sementara itu di lantai atas di ruang yang jauh lebih tenang, Ravian berdiri di depan layar besar.

Tatapannya tidak berkedip sama sekali.

“Ini bukan kebetulan.”

Suara itu sangat pelan. Namun pasti. Seseorang di belakangnya mengangguk.

“Apakah itu serangan, Tuan?'

Ravian tidak langsung menjawab.

“Belum.”

Ia menyipitkan mata.

“Ini baru pembukaan.”

Di tempat lain Bismantaka duduk di kursinya. Satu laporan terbuka di hadapannya. Pergerakan mulai terlihat.

“Saham Aditama sudah mulai goyah…”

Gumamnya pelan. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

“Bagus.”

Namun ia belum merasa puas.

“Lanjutkan.”

Nada suaranya tenang. Namun terkesan dingin.

“Tekanan internal juga?”

“Terutama itu.”

Jawaban itu tanpa ragu dari mulut Bismantaka. Jika dari luar tidak cukup maka dari dalam harus dipaksa.

Kembali ke Adiwinata, kerusakan mulai terlihat lebih jelas.

Beberapa sistem mengalami delay. Laporan sudah tidak sinkron lagi. Komunikasi antar divisi mulai terhambat.

Namun yang lebih berbahaya bukan itu.

“Pak… ada akses tidak dikenal di sistem keuangan.”

Suara itu membuat seluruh ruangan diam.

Ravian langsung menoleh.

“Lokasi?”

“Internal.”

Cukup satu kata. Dan itu jauh lebih buruk dari apapun.

“Siapa yang melakukannya?”

Beberapa detik berlalu. Tak ada jawaban yang pasti.

Lalu.....

“Belum teridentifikasi.”

Suasana menjadi hening. Untuk pertama kalinya situasi benar-benar terasa retak.

Di ruangan lain seorang pria berdiri di depan komputer.Tangannya bergerak cepat.

Wajahnya terlihat tenang. Namun keringat tipis mulai terlihat di pelipisnya.

Ia bukan orang luar. Ia bagian dari sistem itu sendiri. Dan sekarang ia sedang merusaknya.

“Cepat…”

Gumamnya pelan nyaris tak terdengar.

“Cepat sebelum mereka sadar…”

Namun jauh di atas, di ruang yang bahkan lebih sunyi Alessandro Vorneti berdiri sendirian.

Tidak ada layar besar. Tidak ada suara panik. Yang ada hanya keheningan di sekelilingnya.

Seolah semua yang terjadi di bawah sana tidak bisa menyentuhnya.

Ponselnya bergetar. Satu laporan masuk ke pesan aplikasi hijau di ponselnya.

Ia membacanya sekilas. Lalu tersenyum tipis.

“Data sudah mulai masuk.”

Suaranya hampir tidak terdengar. Langkahnya pelan menuju jendela. Kota masih bergerak seperti biasa.

Namun di dalam permainan sudah berubah.

Di bawah Ravian mulai bergerak cepat.

“Kunci semua akses eksternal.”

“Sudah.”

“Internal?”

Beberapa detik hening.

“Itu masalahnya.”

Ravian menarik napas pelan.

“Siapa pun dia… dia tahu sistem ini.”

Di sisi lain Bismantaka berdiri. Ia telah menerima update terbaru.

“Ada pergerakan internal.”

Matanya menyipit.

“Bagus.”

Senyumnya muncul lagi. Akhirnya retakan itu mulai muncul. Dan kali ini dari dalam.

Namun yang tidak ia tahu retakan itu tidak sepenuhnya miliknya.

Kembali ke ruang atas Alessandro menutup ponselnya. Langkahnya berhenti.

“Sudah cukup.”

Satu kalimat. Namun artinya sangat jelas.

Di bawah tiba-tiba.. ..

“Pak akses itu berhenti sendiri!”

Semua orang menoleh.

“Berhenti?”

“Iya. Seperti… diputus.”

Ravian terdiam. Tatapannya berubah. Bukan perasaan lega. Namun curiga seseorang telah melakukannya.

“Trace?”

“Gagal.”

Suasana hening.

“Dia masuk dan keluar dengan sengaja.”

Gumam Ravian. Kalimat itu terkesan menggantung.

Dan itu lebih berbahaya dari sekadar serangan.

Di sisi lain kota Bismantaka sedang membaca laporan terbaru. Alisnya sedikit berkerut.

“Berhenti?”

“Ya, Pak.”

Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Ia tidak menyukai itu. Serangan itu tidak seharusnya berhenti.

“Rupanya dia sedang bermain…”

Tatapannya berubah menjadi lebih tajam. Untuk pertama kalinya ia mulai merasakan sesuatu yang tidak ia sukai.

Bukan kekalahan namun ketidakpastian.

Sementara itu di ruang paling atas Alessandro berdiri diam. Tatapannya begitu tenang.

Seolah semuanya sudah sesuai rencana.

“Langkah berikutnya…”

Ia bergumam pelan.

“…dia akan memaksa lebih dalam.”

Senyum tipis muncul di bibirnya. Dan kali ini

itu bukan tebakan.

Itu adalah kepastian.

Permainan tidak lagi tentang tekanan. Namun tentang siapa yang mengendalikan arah retakan itu.

Dan saat ini retakan itu sudah berada di tangan yang tepat. Sunyi tanpa suara. Tanpa peringatan.

Namun perlahan mengarah ke satu titik akhir. Yang hanya dilihat oleh satu orang.

Dan orang itu tidak pernah terburu-buru. Karena ia yang pertama jatuh bukan yang diserang. Namun yang terlalu yakin, itulah yang akan menang.

1
rasdi fajar
baik
rasdi fajar
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!